Mantan Mafia

1123 Kata
Rian menarik nafas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Ia merasa tak enak hati jika suasana menjadi kurang nyaman. Ia benar-benar ingin memastikan sesuatu kepada kekasihnya. “Apa yang kamu rasakan seminggu ini, Dek?” "Rasakan tentang apa maksudnya, Mas?" "Tentang perasaanmu terhadap, Mas." "Kesal, Mas." "Kok, kesal?" "Siapa juga yang nggak kesal, habis di ajak nikah, besoknya menghilang nggak ada kabar." "Terus, Adek, kenapa nggak menghubungi, Mas?" "Mas, aja nggak balas pesan adek. Gimana mau nelpon." "Iya. Maaf, Mas, sengaja." Rian mengenggam jemari Rhea di atas meja. "Mas, kangen, dek." "Mas, Bohong ah, kalau kangen, mengapa malah jaga jarak?" "Beneran, Mas kangen banget. Adek, gimana? Apakah kangen juga?" "Nggak, Mas." "Yah, berarti cuma, Mas, yang sayang sama, Adek. Sementara, Adek enggak." "Aku nggak kangen, Mas. Tapi, sangat kangen, sampai kesal sendiri lihatin hp." "Alhamdulillah, makasi ya, sayang." "Bahkan, Mas, sebenarnya lebih tersiksa menahan rindu sama, Adek. Tapi, untuk menyadari perasaan ini, makanya, Mas menahan diri. Maafin, Mas ya." "Iya, Mas." "Sebenarnya, mama nanyain, Adek. Apakah, Adek sudah menanyakannya pada ibu, tentang hubungan kita?" Mulutku seketika terkunci, bibir pun susah digerakkan. "Adek, akan coba lagi bicara sama ibu, Mas, sabar dulu, ya." "Mas, akan sabar menunggu, Dek. Namun, mama selalu menanyakan tentang kita. Beliau takut, tidak diberi kesempatan untuk menggendong anak dari Mas. Sementara usia, Mas tidak muda lagi. Dan mama, dia juga mengalami penyakit dalam yang bisa kambuh kapan saja. Mas, mohon, Adek mengerti dengan kondisi, Mas. Mas, sayang Adek dan mama." "Maksud, Mas bagaimana sebenarnya?" "Maksudnya, Mas. Berapa bulan, Mas akan menunggu keputusan dari adek?" "Adek, tidak bisa menjanjikan, Mas. Tapi akan Adek usahakan segera." Aku menjawab sesuai perkiraanku saja. "Baiklah, Dek. Adek butuh waktu berapa bulan untuk meyakinkan ibu?" "Mungkin sekitar enam bulan." "Usia, Mas jadi dua puluh sembilan, Dek. Sementara, mama…" Aku merasa terdesak memperkirakan waktu. Antara cintaku, ibuku dan ibunya Mas Rian. Kupilih saja tiga bulan, karena tiga bulan dari sekarang, usiaku hampir dua puluh dua tahun "Tiga bulan. Jika dalam waktu tiga bulan, kita belum dapat restu dari ibu, Mas silahkan menikah dengan siapa pun." "Tapi, Mas, hanya mau nikah sama Adek. Apakah, Adek yakin akan berhasil dalam waktu tiga bulan? " "Ya, dan kita juga nggak boleh egois, Mas. Akan, Adek coba dalam waktu tiga bulan ini untuk meyakinkan ibu." "Terima kasih, sayang Mas, sangat sayang sama, adek. Mungkin jika dibandingkan lelaki lain, mereka lebih kaya dan lebih mapan. Tapi Mas, memiliki kasih kasih sayang tiada terhingga untuk, Adek. Semoga bisa berhasil ya, dek." "Semoga saja, Mas." Aku meragukan jawabanku sendiri, namun apa boleh buat, aku juga tak boleh egois dengan perasaanku. Hari-hari selanjutnya, kembali seperti biasa. Mas Rian dengan teratur menghubungi dan memberikan perhatiannya. *** Pada hari Minggu, setelah sholat Subuh, aku lari pagi di sekitar taman. Taman itu tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Hanya seorang diri, berlari mengeluarkan keringat sambil mencari ilham, bagaimana cara merayu sang ibu. Setelah lima kali mengelilingi taman, aku duduk di sebuah bangku kosong. Melepas dahaga, sambil mengamati setiap orang yang lewat di depanku. Tiba-tiba seorang pria menghampiriku. "Hai, boleh aku duduk di sini?" Menunjuk bagian kosong dari di sebelahku. "Silahkan." Melanjutkan meneguk air minum. Dari sudut mata kulihat pria itu juga melepaskan dahaganya. "Boleh, kenalan? Gue, Ilham." Sambil menyodorkan tangannya. "Eh...ya. Rhea." Terpaksa ku jabat tangannya karena tidak mau di bilang sombong. "Sendiri aja?" "Ya." "Anak mana?" "Anak Indonesia." Aku asal menjawab, merasa kurang senang dengan orang yang banyak tanya. "Bisa aja, lu. Gue baru pindah kesini, tuh, gang pesona nomor 4." "Lu, dimana?" Ilham terus bertanya. Seseorang terus memperhatikan mereka dari seberang jalan. "Maaf, gue nggak pernah kasi alamat sama orang yang baru gue kenal. Permisi, gue duluan, ya." Rhea melanjutkan larinya mengitari lapangan, setelah itu langsung kembali pulang. "Mau nyari ilham, ketemu Ilham bertubuh manusia. Nggak ada pilihan lain, gue harus ngomong hari ini juga." "Assalammualaikum, Bu." "Waalaikumsalam, sama siapa larinya?" "Sendiri, Bu." "Teman kamu nggak ikut?" "Ketiduran, Bu." "Ya udah, dinginkan dulu tubuhnya. Habis itu, mandi. Batu sarapan." "Oke, Bu." Setelah mandi, sarapan dan membereskan rumah. Rhea mendekati ibunya. "Bu, Rhea boleh ngomong nggak?" Sambil memijat bahu ibunya. "Ngomong aja, pakai minta izin segala." "Dulu ibu menikah umur berapa?" "Sembilan belas tahun, jaman dulu, usia segitu udah disebut perawan tua. Karena perempuan dulu kan nggak boleh sekolah. Beda dengan jaman sekarang, anak perempuan bisa kuliah dan kerja dulu. Baru urusan nikah setelah ada pengalaman kerja." Ibu berkata sambil merem melek di depan jendela, karena pijatan anaknya. Ditambah angin sepoi-sepoi yang ikut meniup. "Kalau begitu, Rhea boleh nikah donk Bu, karena sudah dua puluh satu tahun." "Sama siapa? Si Rian itu?" "Mmhh." Gumamku. "Udah pijitannya, terima kasih ya. Mari kita bicara sekarang." Ibu mengajakku bicara empat mata. Dari hati ke hati, agar aku bisa merubah keputusanku. "Bu, sebenarnya Aku ingin menikah dengan Mas Rian." Aku menunduk malu. "Menikah? Apa kau sudah? Bukankah itu terlalu cepat?" Ibu terkejut mendengar permintaanku. "Ii..i..iya, Bu." Jawabku semakin gugup. "Nak, usiamu baru 21 tahun. Kau juga baru bekerja, nikmatilah dulu masa mudamu. Mengapa harus cepat menikah?" Nada Ibu jelas merasa tidak senang. "Tapi...tapi Rhea, ingin menikah dengan Mas Rian, Bu." Jawabku menundukkan kepala. "Rhea, apa kau...sudah…?" Ibu tidak melanjutkan pertanyaanya. Ibu mengambil nafas panjang dan menghembuskan perlahan "Rhea, kau anak ibu yang berparas cantik, sudah bekerja, dan tentu punya penghasilan sendiri. Banyak lelaki di luar sana yang lebih baik, daripada lelaki yang kau pilih. Tampangnya juga biasa saja. Dia juga jauh lebih tua darimu. Apakah sudah kau selidiki bagaimana hubungan dalam keluarganya?" "Yach…dia pria yang baik kok, Bu. Dia sangat santun kepada ibunya dan juga penyayang kepada adiknya." Jawabku jujur seperti yang pernah kusaksikan sendiri saat beberapa kali berkunjung ke rumahnya. "Apa pekerjaannya?" Jawab ibu yang selalu menatap mataku. "Seorang security di perusahaan XX, Bu." "Seorang security? Apakah itu sebanding dengan pekerjaanmu sekarang sebagai seorang pegawai kantoran?" Tanya ibu lagi yang geleng-geleng kepala mendengar jawabanku sebelumnya. "Bukankah kita tidak boleh membanding-bandingkan orang atau pekerjaannya, Bu? Yang pentingkan, pekerjaannya halal. Dan yang halal adalah pekerjaan mulia. Berapapun harus kita syukuri. Lagian kan Rhey juga kerja, Bu." Jelasku dengan lembut. "Mmmh...oke, yang namanya karyawan swasta. Pasti akan bergantung hidup pada perusahaan. Bagaimana jika besok saat menjadi suamimu, ia kena PHK besar-besaran? Apakah dia punya skil tertentu untuk melanjutkan hidup?" Pancing ibu lagi agar aku bisa berpikir lebih jauh. Aku terdiam, karena juga tidak tahu skil apa yang dimiliki Rian saat ini. "Ibu tidak mengizinkamu menikah dengannya. Pikiranmu masih terlalu kecil untuk menikah Rhea. Bahkan kau sebelumnya tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Kenalilah dulu siapa dia dan keluarganya Rhea, agar kau tak menyesal nantinya. Cinta yang kau rasakan, hanyalah cinta sesaat. Rasa itu akan hilang, jika kau bertemu dengan pria yang lebih mapan dan baik." "Apa kau tau, kalau Rian itu adalah mantan narapidana?" Tanya ibu yang membuatku shock.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN