"A..a..a..apa, Bu? Itu, tidak mungkin."
Tanganku seketika membekal mulut sendiri. Tampang dan sikap Rian, tidak mencerminkan kalau dia pernah menginap di pesantren besi itu. Tapi, tidak mungkin juga ibu memfitnah seseorang.
"Maaf, Bu. Rhe, mau ke kamar sebentar." Baru dua langkah, suara ibu menghentikan langkahku.
"Ibu hanya ingin kau bahagia dan tidak kekurangan apa pun. Jika kau disakiti oleh seseorang, maka ibulah yang paling sakit. Jika kau bahagia, maka ibu jugalah yang paling bahagia."
"Terima kasih, Bu." Kulanjutkan langkah menuju kamarku. Menghempaskan tubuh di sana. Saat kulihat ibu mulai melunak, masih ada batu sandungan yang datang. "Apakah kau bukan jodohku, Mas? Ya Allah, jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah kami. Jika aku memang tulang rusuknya, maka permudahkanlah jalan kami untuk bersatu." Aku menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan. Sungguh kenyataan ini di luar dugaanku.
Sebuah pesan masuk datang darinya, namun hatiku tak seriang biasanya. Wahai hati, mengapa cepat sekali berubah. Apa aku benaran sayang atau sekedar nyaman? Pesan itu tak kubuka, apalagi kubalas.
Setiap hari, aku menyibukkan diri dengan pekerjaan. Kecewa dengannya, yang tak pernah bicarakan hal sepenting itu. Pesan dan telponnya kuabaikan.
Di rumah pun, aku tak banyak bicara. Sering ibu mengajakku membahas hal-hal yang biasanya kusukai, namun kutanggapi sekedarnya saja. Nafsu makanku menurun, sehingga membuatku jatuh sakit.
Tiga hari izin kerja, membuat para rekan kantor datang membesuk ke rumah. Setelah mereka pergi, aku ingin kembali ke kamar. Ibu membantu memapahku, kepalaku sangat pusing. Baru dua langkah, tubuh ini terasa sangat lemas, ibu tak kuat memapahku.
Di saat itu, terdengar ucapan salam dari depan pintu. "Assalammualaikum." Suara orang yang kurindukan terdengar sekilas.
"Waalaikumsalam." Ibu menjawab salamnya.
Tanpa disuruh masuk, Rian melangkah mendekatiku. "Maaf, boleh saya bantu, tante?"
Ibu yang kesusahan dan cemas mengangguk. "Bisa tolong bawa ke kamar?"
"Baik, tante." Rian menggendongku ala bridal. Ibu menuntun Rian ke arah kamar. Lalu Rian membaringkan tubuhku dengan pelan.
"Apakah Rhea, sudah makan, tante?" Rian masih berdiri di samping pembaringanku.
"Dia, tidak mau makan. Tidak mau juga dibawa ke rumah sakit. Barusan teman kantornya datang, masih bisa senyum dan bicara. Tiba-tiba ngedrop begini." Ibu pindah ke sisi lain tempat tidur.
"Rhea, kita ke rumah sakit ya." Membelai kepala putrinya tapi Rhea menggeleng.
"Dek, kalau kamu nggak mau ke rumah sakit, kamu harus makan. Pilih makan?" Rhea mengangguk.
"Ibu mau hangatkan buburnya sebentar, tolong jaga Rhea, ya."
"Maaf, tante. Kebetulan, saya bawa bubur kesukaan Rhea. Sebentar, saya ambilkan dulu. Tidak baik, jika saya hanya berduaan di kamar, walau kondisinya sedang sakit."
Rian segera mengambil bungkusan di atas motornya, lalu membawa ke kamar. Ibu menerima bungkusan yang diserahkan Rian dan segera menyalinnya ke mangkuk.
"Nak, bukak mulutnya. Ibu suapin, ya." Ia membuka mulut, namun hanya sedikit makanan yang masuk.
"Sebentar, Nak Rian. Ibu mau ambilkan teh hangat dulu."
"Iya, Bu. Maaf, tapi bolehkah saya menyuapinya?" Tampak jelas kecemasan dari wajahnya.
Ibu mengangguk, lalu menyerahkan mangkuk ke tangan Rian, keluar perlahan menuju dapur.
"Dek, kalau Mas salah, tolong maafkan, Mas. Makanlah dulu agar cepat pulih." Rian berkata lembut, hatinya sedih melihat keadaan kekasihnya, dan juga merasa bersalah karena terlalu pengecut untuk datang lebih awal melihatnya.
Rhea senang, Rian berani datang ke rumahnya. Dengan sabar menyuapinya, walau tubuhnya masih lemas. Namun, disisi lain hatinya sedih memperhatikan wajah kekasihnya lebih tirus dari biasanya. Tubuhnya sedikit kurus. Apakah yang kami rasakan sama?
Suapan demi suapan membuat isi mengkuk berkurang setengahnya. Ibu memperhatikan hal itu dari pintu kamar. Teh di tangan masih ia pegang, namun sengaja berdiri di dekat pintu. Sungguh pemandangan yang belum pernah ia lihat dan rasakan sebelumnya. Terlihat banyak cinta di antara keduanya.
Akhirnya, bubur itu habis di makan oleh Rhea. Rian mengambil tisu, lalu mengusap dengan pelan bibir kekasihnya yang berlepotan.
Ibu segera masuk lalu menyerahkan teh hangat ke tangan Rian. Rian yang paham, mengambil sesendok teh, lalu menyesapnya. Setelah ia rasakan tidak terlalu panas, Rian menyendokan air teh ke mulut Rhea. Rhea membuka mulutnya, menghabiskan setengah gelas teh.
Tidak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang, pertanda masuknya waktu sholat Ashar. Karena masjid agak jauh dari rumah Rhea, Rian mohon izin menunaikan sholat di rumah Rhea saja pada ibunya. Ibunya menyiapkan sajadah dan menunjukkan jalan kamar mandi.
"Sebentar ya, Dek. Mas, sholat dulu. Izin ke belakang ya, Bu." Pamitnya sopan.
"Ya, silahkan."
Hati sang Ibu, sedikit melunak terhadap Rian. Melihat putrinya yang mulai bersemangat dengan kehadiran Rian. Lalu menyaksikan Rian yang sedang sholat di ruang tengah. Hatinya menghangat.
Setelah Rian menunaikan kewajibannya, gantian ibu yang melaksanakan ibadah. Sementara Rian menemani bidadari yang lagi terbaring itu.
Tanpa sepengetahuan sang ibu, Rian mengecup kening kekasihnya. Mata mereka beradu pandang. "Cepatlah sembuh, dek, Mas akan datang kesini setiap hari sampai, adek sembuh. Maafkan Mas, karena nggak tau kalau, Adek lagi sakit." Ia meraih jemari gadis itu lalu mengecupnya.
Rhea menganggukan sedikit kepalanya, ia melihat kesungguhan di mata kekasihnya. Setelah sang ibu selesai sholat, Rian meminta izin untuk segera pulang. Segan, jika terlalu lama berada di rumah pujaan hati.
***
Esok paginya, sebelum berangkat kerja, Rian menyempatkan diri mengantarkan sarapan untuk Rhea dan ibunya. Meminta izin menemui Rhea, lalu berangkat kerja.
Sore hari, sepulang kerja, Rian datang lagi membawa makanan dan buah-buahan. Menyuapi kekasihnya makan dan bercerita hal-hal yang lucu. Senyum itu telah kembali ke wajah cantiknya, binar bahagia terpancar lagi di matanya. Ibu hanya memperhatikan interaksi ke duanya dari jauh. Memberi ruang untuk mereka berkomunikasi.
Tiga hari setelahnya, Rhea sudah kembali fit. Namun, yang jadi fikirannya adalah tentang masa lalu kekasihnya, yang tak pernah pria itu ungkapkan sebelumnya.
Ia ingin menanyakan langsung, tapi merasa tak enak hati. Rasanya tak pantas menanyakan hal itu, setelah pria itu membantu merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Esoknya, Rhea sudah mulai kerja. Wajahnya tampak lebih tirus dari biasanya, namun tak mengurangi kecantikan alami yang gadis itu miliki.
Sementara ibunya Rhea di rumah, beberapa kali mendapat telepon dari saudaranya yang menanyakan tentang keberadaan pemuda itu di rumah. Mereka mengingatkan ibu Rhea, agar jangan mudah menerima pria itu. Dan mengusulkan agar menikahkan Rhea segera dengan anak temannya. Namun, semua itu dijawab ibunya, semua akan ia serahkan pada Rhea sepenuhnya. Ia tak ingin memaksakan kehendak pada anaknya. Karena itu, keluarga besar Rhea tak melanjutkan niat mereka lagi untuk menjodohkan dengan anak temannya tersebut. Walau sang ibu menerima sedikit ucapan yang tidak mengenakkan hati, sindiran halus, namun ia lalui dengan sabar. Setelah sambungan telepon terputus, ibu Rhea bergumam.
"Huft, apakah benar calon menantuku mantan seorang napi? Belum apa-apa saja, semua orang terdekat mulai mencibirku, apalagi jika itu benaran terjadi. Oh Tuhan, tolong berikan jodoh terbaik untuk putriku."