Bab 10

2775 Kata
Reina! Dia, cewek centil yang bagi Disa benar-benar musuh bebuyutannya nomor satu di dunia. Sebenarnya dia tidak mau mempermasalahkan tentang Revan. Malu sebenarnya kalau bertengkar karena rebutan cowok. Tidak elegan. Malah justru menurunkan derajat dan martabat serta harga diri dan gengsi. Muka Disa mau ditaruh di mana kalo dunia tahu? Tapi, cewek itu makin hari makin membuat kesabaran Disa menipis. Pertama, dia bener-bener merampas Revan dari sisinya. Okelah, walaupun harus nangis tiga hari tiga malem, dia bisa ikhlas. Berusaha sabar. Berusaha pasang senyum walaupun masih pingin nekuk wajah. Yang kedua, sedang sabar-sabarnya Disa menghadapi perasaan kalutnya ditinggal pergi Revan, Reina malah pamer kemesraan di depan matanya. Disa tahu Reina sengaja. Gimana tidak? Setiap Reina melihat Disa, dia langsung menyambar tangan Revan, menggandengnya bahkan nempel terus kayak perangko. Bahkan mau-maunya ikut-ikutan masuk kelas. Dan yang paling membuat Disa harus mengelus d**a, cara bicara Reina ke Revan itu loh. Astagaaaa, amit-amiiiiit. Manjanya kayak sama baby sitternya sendiri. Dan kalo Disa ada di situ, cewek itu pasti meninggikan volume suaranya untuk memastikan Disa mendengarnya. Itupun Disa bisa sabar. Apalagi Revan selalu menghindar dan ngamuk-ngamuk kalo Reina sampai melewati batas dan menyebabkan dia ditertawakan teman-teman sekelas. Saat-saat itu yang bisa buat Disa tertawa lepas. Reina dan Revan tidak seromantis yang dibayangkannya ternyata. Dan yang ketiga… Disa sendiri tidak begitu yakin itu Reina. Tapi, setiap kali posisi mereka dekat, dia pasti s**l. Pernah di kantin, bakso yang dipesannya ada kecoaknya. Disa terlonjak kaget dan satu-satunya yang tertawa di sana hanya Reina. Disa mendengus dan memejamkan mata sekilas. “Hanya kebetulan…” katanya meyakinkan hatinya sendiri. Lalu dia duduk lagi. --- “Sekali lagi lo ngelakuin itu, lo berurusan sama gue!” Wajah Revan merah. Marah. Matanya melotot keluar bahkan tangannya mengepal. Kalo Reina cowok sebenernya ingin sekali dia hajar habis. Sayang, Reina cewek! Apalagi Reina nyaris menangis di hadapannya. “Bukan gue, Van. Beneraaan. Bukan gue yang naruh kecoak di baksonya Disa! Lagian ngapain sih nuduh gue? Gimana caranya coba. Buktinya apa? Bisa aja kan dari penjualnya!” Reina membela diri. Revan menatap tajam cewek itu. “Lo mau gue seret ke Bu Yanti?” Bu Yanti adalah penjual bakso di kantin sekolah. Reina diam. Dengan kesal, Revan mengeram. ”Lo itu bener-bener nggak ada kapok-kapoknya ya. Gue udah paksa Bu Yanti buat ngomong. Dia bilang lo bayar dia buat ngerjain Disa! Mau ngomong apa lagi lo?” Wajah Reina pias. ”Bohong! Bu Yanti bohong!” Revan berdecak. ”Cape gue ngadepin lo!” Lalu Revan pergi. Meninggalkan Reina sendirian. Bahkan saat bel pulang sekolah pun dia langsung pulang. Reina dia tinggal sendirian. Jujur, belum pernah Revan melihat sifat cewek yang semengerikan itu. Dan kalau cara Reina begini, jangan salahkan Revan kalo dia tidak bisa jatuh cinta. --- Sore ini kelas Disa ada jam olahraga. Dan karena sekolah mereka tidak mempunyai kolam renang sendiri, maka setiap pelajaran renang mereka harus ke kolam renang umum. Disa senang karena ada berbagai ukuran kolam renang di sana. Lagi pula pada hari biasa, kolam renang sepi. Tapi sialnya kelasnya dan kelas Reina berbarengan. Setelah ganti baju renang di kamar ganti, dia berjalan ke kolam renang. Dia memakai baju renang dan kemeja OSIS yang tanpa dikancing, sambil menenteng sepatu dan memanggul tas ranselnya cuek. Baru saja dia sedang melihat-lihat keadaan kolam renang di bibir kolam, satu tangan mendorongnya hingga jatuh! Disa tercebur ke kolam sedalam 2 meter. Bukan keceburnya yang jadi masalah. Dia jago renang. Disa langsung menyembulkan kepalanya ke arah tersangka. Dan itu benar-benar Reina!  Dasaaaaaaar! Disa bisa terima, bisa sabar bisa diam saja kalau hanya dirinya saja yang tercebur ke dalam. Tapi tasnya, buku-buku pelajarannya, sepatunya, kaos kakinya, baju OSISnya, baju gantinya! Basah semua!! Disa berenang ke tepi. Dia tahu Reina sudah lari ngibrit entah kemana. “Reinaaaaaaaaaaaaaaaa!” terseok-seok Disa naik ke atas. Emosinya sudah memenuhi mukanya. Dia membanting semua barang-barangnya ke daybed. Teman-temannya yanga da di dekat situ segera menahan sebelum Disa benar-benar mengamuk. “Dis, sabar Dis!” Oh, Disa sudah tidak mungkin mendengar kata-kata nan bijak itu. “Kesabaran gue udah habis. Udah cukup!” katanya terengah-engah menahan marah. Dia emosi. Dia marah, dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Maka dari itu dia langsung berontak melepaskan cekalan teman-temannya dan langsung ke arah Reina pergi. “Minggir! Minggiiiiiir! Mingggiiiiiir!” raungnya kayak orang gila. Dan sialnya, Reina yang sedang ngantri di depan pintu ruang ganti langsung bisa Disa lihat. Saat melihat Reina pucat, Disa langsung menyeringai lebar mengerikan. Pelan-pelan, seperti petinggi pemegang kekuasaan sedang menghampiri orang yang akan dia vonis mati. Disa mencengkeram lengan Reina yang langsung melawan. “Lepaaaas!” Lepas, lepas. Enak aja lepas! Pikir Disa. Reina dia seret keluar. Tapi sebelum dia berhasil menyeretnya, satu tamparan mendarat di pipi Disa. Emosi Disa makin meningkat berkali-kali lipat. Disa tampar Reina balik. Tidak hanya sekali. Berkali-kali. Pipi kanan dan kiri. Sudah habis kesabarannya. Dia mengamuk sejadi-jadinya. Menunggu kekesalan yang menumpuk terlampiaskan semua! Sayangnya, Reina tidak akan mau ngalah. Dia ditampar, dia tampar balik. Mereka jambak-jambakan. Guling-gulingan saling adu. Semua yang melihat bukannya melerai malah saling memberi semangat kekeduanya. Baru saat penjaga kolam renang datang, mereka dilerai. Disa masih berontak, Reina juga. Keduanya saling tersulut. Maka dari itu keduanya diamankan oleh Pak Yuri, guru olahraga mereka sekaligus penanggung jawabnya. Mereka disidang. Dipisahkan dari yang lain. Pak Yuri membawa mereka ke meja yang sepi. Mendudukkan mereka berdua, lalu diam. Menunggu mereka angkat suara. --- Disa menunduk, malu tapi kemarahan masih menguasainya. Dia tidak mau mengangkat kepalanya. Tidak mau melihat Reina saking marahnya, dan tak mau melihat Pak Yuri saking malunya. “Ada apa?” Pak Yuri memasang tampang serius. Siap menginterogasi. Tapi kedua anak didiknya ini saling memunggungi satu sama lain dan sama sekali tidak tertarik untuk buka mulut. “Astaga! Masa begini, kelakuan anak SMA?! Bikin malu!” Keduanya masih tidak mau buka mulut. Pak Yuri makin geleng-geleng kepala melihat keduanya yang sama-sama keras kepala. Disa menunduk. Malunya semakin besar. Kemarahannya tadi yang lost control makin menipis. Makin samar berbanding terbalik dengan penyesalan yang datang. Kalau dipikirkan dengan kepala jernih ternyata kemarahannya tadi karena masalah sepele. Masalah yang bisa diselesaikan jika logikanya jalan. Semakin sadarnya dia akan kelakuannya yang memalukan membuat dia bungkam. Hidungnya perih, lalu dia juga menangis. Berulang kali menghapusnya cepat dengan tangannya. Dia malu…  “Udahlah. Gue minta maaf perlakuan gue tadi kasar.” kata Disa. Berharap masalah ini selesai. Tidak ada gunanya. Hatinya akan makin terluka, belum lagi kalau Reina tahu keadaannya yang mengenaskan sekarang. Mau Tertawa seperti apa dia? Reina tersenyum sinis. ”Tapi gue nggak bakal minta maaf.” katanya. Disa menoleh ingin marah. Tapi saat bertatapan dengan mata Reina yang menantang dia tau masalah ini tidak akan berakhir. Disa semakin tidak mengerti. Apa yang Reina mau? “Kenapa lo sampai sebenci itu sama gue? Gue salah apa sama lo?!” “Nggak ada.” Reina menghapus air matanya lagi sambil tersenyum menang. ”Lo nggak pernah salah. Tapi gue nggak suka sama lo. Gue iri!” teriak Reina. ”Gue iri karena lo bisa ketawa tiap hari sama Revan. Nggak pernah sedih sama sekali. Gue nggak suka! Gue iri karena lo punya orang-orang yang selalu ada buat lo. Gue juga nggak suka lo punya segalanya yang gue nggak punya! Gue nggak suka!” “Tapi lo udah ngambil segalanya yang gue punya!!!!” teriak Disa. Semua terkesiap. Disa menangis lagi. ”Dengan ngambil Revan dari gue, lo udah ngambil banyak hal!” Disa marah. “Gue udah nggak bisa ketawa lepas, hidup gue kacau, konsentrasi gue ilang! Belum puas lo ngancurin hidup gue? Apalagi yang bikin lo iri sekarang? Hah? Gue udah nggak punya semangat lagi sekarang. Puas lo?” Disa sudah tak kuat lagi. Dia benar-benar lepas kontrol. Tak mau menambah masalah lagi, dia bangkit dan lari dari situ. Dia sudah tak tahan. Dia ingin pulang. Ingin nangis, ingin makan, ingin tidur, ingin istirahat. Pokoknya apa aja yang bisa membuat hatinya tenang! --- Setelah lagi jauh dari Reina dan Pak Yuri, dia berhenti. Dia baru ingat kalo dia tidak punya baju kering untuk kembali ke rumah… Dia makin nelangsa. “Diiiiiis!” Disa tak menoleh. Walaupun dia tahu, yang memanggilnya tadi Rora, dia tetap tak ingin menoleh. Pasti mukanya hancur sekali sekarang. Rora mendekat. Dia membalik tubuh sahabatnya. Lalu setelah melihat Disa dalam keadaan kacau begitu cewek itu menyeretnya ke ruang ganti. Diberinya baju gantinya ke Disa. Sedang dia ganti pakai baju OSIS. Setelah mereka ganti baju, Rora minta izin ke Pak Yuri untuk pulang. Dan saat berada di dalam mobil Rora, Disa tak bisa menyembunyikan apa-apa lagi. Tangisnya pecah.             Rora kaget. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menarik Disa ke bahunya. Biar bahunya kecil, tapi nyaman untuk melepas semua ganjalan. Dia mengusap ubun-ubun Disa lalu menepuk lengannya. Tangisan Disa statis. Keraaaas terus. Tidak ada penurunan. Maka dari itu Rora ikut menangis juga. Baru kali ini dia melihat Disa menangis sehebat ini. Baru pertama kali ini Disa tidak kuat menahan kesedihannya sampai dia menangis seperti ini. Dan baru kali ini pun Disa yang biasa selalu sabar dan tenang bisa lepas kontrol hingga menjadi sekacau sekarang.             Rora ikut menangis. Ikut mencoba merasakan kesedihannya. Ikut meraba sedalam apa luka hati sahabatnya. Dan mencoba menduga masih adakah kemarahan yang tersisa? Dan kemarahan ini tentang apa? Murni tentang masalah tadikah? Atau ada sebab yang lain?             “Kenapa siii Revan jahat banget sama gue! Salah gue apa sama dia? Kenapa dia ngelakuin ini ke gue, Ra? Gue piker dia tau apa yang gue rasa. Gue pikir perasaan kami sama. Tapi kenapa kayak gini akhirnya Ra? Kenapa???”             Rora mencengkeram lengan Disa yang meronta. “Dis…”             “Gue bener-bener kayak dikasih kutukan Imperius sampe gue nggak bisa berbuat apa-apa, tau nggak. Gue pikir kami udah saling ngerti. Walopun kami nggak punya status apa-apa, tapi gue pikir hati kami sama. Gue nggak pernah nuntut dia macem-macem, Ra. Nggak pernah ngerengek minta status. Karena gue pikir kami sama-sama tau kalo hubungan kami lebih deket dari sekedar pacaran. Apa gue salah ngartiin, Ra? Apa gue terlalu tinggi ngartiin hubungan gue sama dia?” Disa melepaskan pegangan Rora. Dia terduduk tertopang tangan yang mencengkeram kepalanya. “Gue nggak minta banyak kok. Gue cuma pingin sama dia. Nggak jadi pacar juga nggak papa. Yang penting gue bisa bareng dia. Tapi kenapa sekarang jadi kayak gini, siiiih?”             “Dis…mungkin Revan punya alasan.”             “Kalapun dia nggak bisa ngomong alesannya apa ke gue, paling nggak gue pingin dia nenangin gue, hibur gue, kasih gue harapan walaupun sedikit. Bisa kan? Bilang apa kek. Bohong juga nggak apa-apa. Tapi nyatanya dia nggak bilang apa-apa. Dia biarin gue mikir sendiri. Sakit sendiri.” Tubuh Disa bener-bener gemetar. Hidungnya perih. Dia menghapus kasar air matanya. Disa terisak keras. Rora makin mempererat pelukannya. Rora mengusap lengan Disa. ”Kenapa gue nggak bisa ikhlas… Kenapa gue harus semarah ini! Kenapa sih bisa sakit banget kayak gini?!” rintih Disa. Rora tak tahu harus berbuat apa-apa. Dia tetap menjadi pendengar yang baik. Disa masih menangis. Dengan kalimat-kalimat penyesalan yang benar-benar menguasainya kali ini. Dan Rora baru tahu kalau masalah Revan bisa membuat Disa se-down ini. Tidak, saat dia sudah memastikan bahwa Disa baik-baik saja saat bersamanya. Namun, sepertinya dia salah. Rora makin nelangsa. Akhirnya dia tahu Disa menangis untuk apa. Revan…             “Kalo Revan tahu lo seancur ini, dia pasti nyesel bikin lo nangis.”             Disa langsung menggeleng, masih menangis. ”Jangan sampai Revan tahu dia udah bikin gue kayak gini. Dia pasti ketawa!”             Rora menepuk bahu Disa. Sekedar menguatkan. “Terus, apa rencana lo?”             Disa makin menunduk lagi. Rencana? Selama ini, dia berjalan tanpa rencana. Oleng, kesana kemari tak jelas arahnya kemana. Kali ini pun dia tidak tahu harus bagaimana. Dia sayang Revan. Sesakit apa pun, perasaan ini tidak mungkin bisa hilang. Namun marah dan sayang jelas berbeda. Walau semarah apa pun dia pada Revan tapi kadar sayang yang dia punya untuk cowok itu juga tidak berkurang sama sekali.             Tapi dia juga tidak bisa terus begini. Ini justru membuatnya makin kalut. Dia harus mengambil keputusan. Satu-satunya jalan yang bisa dia tempuh hanya satu. Mengikhlaskan semuanya… Itu mungkin jalan terbaik untuk semua ini. --- Pelajaran olah raga hari  ini, Revan benar-benar tidak semangat sama sekali. Dia ingin bolos saja sebenarnya. Tapi karena teman-temannya memaksanya ikut, dia akhirnya ikut. Berbeda dengan teman-temannya, dia yang tidak antusias, memutuskan untuk mengatur waktu agar telat masuk ke kolam renang. Baru saja dia datang, semua mata mengarah padanya. Revan bingung. Biasanya mereka yang walaupun sudah SMA masih saja keasyikan main air. Berenang, loncat kesana kesini mirip kecebong. Tapi semuanya malah diam. Memilih bergerombol hanya untuk ngobrol. Cewek ngerumpi sudah biasa. Tapi cowoknya juga ikutan! Bahkan tak satupun dari mereka yang melakukan rutinitas selayaknya di kolam renang. Dia menghampiri Fikar. ”Ada apaan sih?” “Disa sama Reina gulat di kamar mandi cewek tadi.” “HAAAH?!” Revan terbelalak kaget. ”Gulat gimana maksudnya?” “Ya itu. Tadi waktu Disa lagi berdiri di tepi kolam, Reina nyenggol Disa sampe jatuh. Disa ngamuk. Soalnya baju, buku sekalian tasnya nyemplung ke air semua. Terus mereka berantem deh.” Revan kaget. ”Terus mereka sekarang di mana?” “Lagi di omelin kali, sama Pak Yuri. Tuh, di meja sana tuh.” Fikar menunjuk meja yang khusus di peruntukkan untuk guru. Dan dari kejauhan dia memang melihat Disa dan Reina bersama Pak Yuri. “Thanks.” kata Revan cepat. Dia berlari kecil ke arah mereka. Baru saja dia mau mendekat, Disa sudah berlari dari sana. Revan ingin mengejar. Tapi Rora sudah mendekati Disa dan mereka menghilang di kamar ganti. Revan menoleh dengan tajam ke arah Reina. Dan saat Pak Yuri melihat Revan, Pak Yuri justru memanggilnya. Revan kaget. Untuk apa Pak Yuri memanggilnya? Kecuali kalau Pak Yuri tau kalo dia ada sangkut pautnya dengan kejadian ini. Tanpa banyak pikir lagi, Revan mendekat. Dan duduk di kursi bekas Disa duduk. “Van, sepertinya kamu dan Reina perlu bicara.” kata Pak Yuri. Revan mengangguk. ”Memang. Kami harus bicara.” Nada dingin Revan yang tajam membuat Reina makin terisak lebih keras lagi. Namun Revan tidak peduli. Setelah Pak Yuri pergi, Revan menggebrak meja sekeras yang dia bisa. Reina gemetar ketakutan. “Berapa kali gue mesti bilang, jangan ganggu Disa lagi!” Nada marah luar biasa dalam nada bicara Revan sangat jelas. Bahkan dia tidak berusaha menutup-nutupinya sama sekali. Reina yang punya seribu cara untuk mengelak, bener-bener takhluk. menangis pun dia sudah tidak berani. “Disa duluan yang nyerang gueee! Dia yang narik gue kasar di kamar mandi!” Reina berhenti bicara saat Revan menghujamkan tatapan tajam ke arahnya. “Hati lo di mana si? Belum puas udah ngelakuin sejauh ini? Buat gue marah tiap hari, buat Disa nangis. Dari dulu, gue udah berusaha kasih pengertian sama lo. Plis bantu kami bikin keadaan yang sulit ini biar lebih mudah! Itu aja! Tapi Kenapa si elo selalu buat keadaan makin sulit??!” Reina menunduk. Revan sudah terlanjur marah. Dan dia bener-bener berniat menumpahkan unek-uneknya sekarang. “Jujur, Rei. Gue capek. Gue beneran capek ngeliat kelakuan lo. Sedikitpun elo nggak pernah bisa ngerasain, ato paling enggak ngertiin dikit aja apa yang gue sama Disa korbanin buat elo?” Reina terisak miris. ”Gue pacar elo Van. Kenapa si elo nggak pernah bela gue?” “Lo pikir sikap elo bagus apa? Sikap jahat begitu mau dibela apanya?!” “Disa pasti bakal ngelakuin hal yang sama kalo dia diposisi gue!” Revan mengernyit. “Kalo Disa diposisi elo sekarang, dia nggak akan balas dendam dengan jahatin elo. Dia nggak mungkin neror, kasih kecoak ke makanan elo, nggak mungkin nyeburin elo ke kolam renang. Karena, kalo Disa ada di posisi elo, dia pasti diem.” Bibir Reina mengatup. “Beda sama elo, Disa punya kesabaran yang nggak dimiliki sama siapapun yang pernah gue kenal. Walau sesakit apa, dia pasti bisa nerima dengan lapang d**a apapun kenyataannya. Tapi bukan berarti dia bakalan diem aja elo jahatin.” Reina membenamkan wajahnya di atas meja. Terisak sambil sesenggukan tidak karuan. Dia nyaris histeris berteriak menyemburkan sesaknya d**a. Tapi melihat sikap Revan, dia tidak berani. Dia takut membuat keadaan makin rumit. Revan menghela napas. Mukanya bener-bener serius dan kaku. ”Sekali lagi, gue minta sama elo. Jangan ganggu Disa. Dia udah cukup jadi korban. Dan kalo sampe kejadian kayak gini kejadian lagi, mendingan kita akhiri perjanjian kita saat itu juga.” Reina makin menangis. Menjerit tertahan sambil mendongakkan wajahnya menatap Revan tak percaya. “Elo mau ingkar janji?!” “Jangan dikira karena elo pacar gue, jadi elo bisa ngelakuin apa aja sama hidup gue. Gue berterima kasih karna elo udah nyelametin nyokap gue.” Reina mendongak dengan perasaan takut luar biasa. ”Satu minggu lagi, hutang gue lunas.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN