Sabrina menatap Gama, pria itu lantas menurunkan pandangan ke tangannya yang masih menempel di d**a. Alhasil dia buru-buru menurunkan tangan kemudian mengacak rambut Maha. Sabrina salah tingkah bahkan lagi-lagi pipinya merona, dia merasa bisa gila, perlakuan kecil dari Gama saja bisa membuat dadanya seperti yang Maha bilang tadi – sakit. “Aku tidak apa-apa, jantungku baik-baik saja, Maha,” jawab Sabrina, dia menoleh Gama yang tersenyum dan dadanya berdebar-debar kembali. “Astaga! kenapa aku jadi aneh begini?” gumam anak Mirna itu di dalam hati. Gama mengajak Sabrina masuk ke ruang kerja, gadis itu kembali tergagap saat mengiyakan sambil menggandeng tangan mungil Maha. Sabrina sadar tidak boleh berharap lebih ke Gama, hubungannya dengan pria itu hanya sekadar pekerja dan atasan, y

