Bab 1. Terima Dia Sebagai Madumu
"Mah, kok Ayah belum pulang?"
"Ayah pasti pulang, tunggu sebentar lagi ya. Mungkin Ayah kena macet di jalan," jawab Astrid sambil mengusap pelan rambut Cila, anaknya yang sudah sangat merindukan Ayahnya.
"Iya, benar kata Mamah. Pasti Ayah lagi beli oleh-oleh, jadinya lama sampai," timpal Delia, anak pertama Astrid, yang mencoba membantu Mamahnya menenangkan Cila, adiknya.
Mendengar kata "oleh-oleh", Cila menjadi sangat antusias. Sudah 2 tahun dia tidak bertemu Ayahnya.
Melihat kedua anaknya yang begitu antusias menunggu kedatangan Ayahnya, hati Astrid jadi gelisah. Dia takut Farhan, suaminya, tidak jadi pulang seperti tahun-tahun kemarin.
"Kamu dimana, Mas? Anak-anak sudah sangat merindukanmu," lirih Astrid sambil menggenggam ponselnya. Sejak tadi dia tidak bisa menghubungi Farhan.
Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Delia dan Cila langsung membuka pintu.
"Ayah..." teriak keduanya dengan antusias sesaat melihat ayah mereka tiba.
Keduanya dengan sigap memeluk erat Farhan.
"Ayah kemana saja? Kami sudah sangat merindukanmu," ucap Delia yang sedikit kesal karena Ayahnya tidak kunjung pulang, seolah melupakan dirinya, Cila, dan Mamahnya.
Farhan tersenyum kecil lalu mengecup kedua kening putrinya. "Maafkan Ayah ya. Pekerjaan di luar kota sangat banyak, jadi Ayah harus menyelesaikannya terlebih dahulu," jelas Farhan mengapa dia baru bisa pulang.
Melihat kedatangan suaminya dan pemandangan indah di depannya, Astrid mengusap air mata kebahagiaannya. Sudah cukup lama dia menunggu momen seperti ini.
"Bagaimana diperjalanan tadi, mas?" tanya Astrid menghampiri suaminya.
"Baik," jawab Farhan dengan nada dingin.
Delia yang tengah duduk di bahu Ayahnya menarik kuping Farhan. "Ayah, Mamah sedang bertanya dengan baik, jadi jawab juga dengan baik dong."
"Iya. Ayah tahu nggak, Mamah lebih merindukan Ayah daripada kita. Sehari-hari Mamah menunggu kedatangan Ayah tau!" timpal Cila. Bocah berusia 7 tahun itu sudah sangat menyadari kesedihan dan kerinduan yang dirasakan Astrid, Mamahnya.
"Mamah sampai beli banyak daster loh, biar nanti pas ketemu Ayah nggak kesel badan Mamah yang besar. Tapi Mamah hebat tau Ayah, Mamah rela badannya seperti ini demi mengurus kita berdua."
Mendengar ucapan Delia, Astrid tersipu malu. Dia mencubit pelan hidung anaknya itu.
"Ak--"
Ucapan Astrid terhenti ketika melihat seorang wanita mendekat ke arah Farhan.
"Inayah?" Astrid mengerutkan kening saat melihat sahabatnya datang ke rumah.
Melihat kedatangan sahabatnya, Astrid sangat senang. Dia menarik lengan Inayah dan memeluknya. "Kamu datang kemari kenapa nggak kasih tau dulu sih? Aku bisa siapin makanan kesukaan kamu--" Astrid menghentikan ucapannya saat menatap perut Inayah yang tampak besar. "Loh, kamu lagi hamil?" tanya Astrid dengan terkejut.
"I-iya," jawab Inayah sambil mengangguk.
"Kenapa kamu nggak kasih tau kalau kamu lagi hamil? Bukannya kamu mau fokus mengurus pesantren Abah Usup?" kata Astrid dengan campuran kesal dan senang. "Tapi gapapa, aku seneng banget kamu lagi hamil. Jadi aku bisa dapat ponakan nih," lanjutnya.
Mendengar perkataan Astrid, Inayah tidak menjawab apa-apa dan hanya tersenyum.
"Kenapa kamu tidak menjawab? Siapa ayah anak yang sedang kamu kandung?"
Karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Inayah, Astrid sungguh khawatir sahabatnya mengalami perbuatan buruk. Dia menggenggam bahu Inayah, menatapnya dengan tajam. "Jangan takut, katakan kepadaku. Siapa ayah anak ini?" tanya Astrid kembali bertanya siapa Ayah anak itu.
"Aku ayahnya," jawab Farhan dengan lantang menyatakan bahwa dia adalah ayah anak yang dikandung Inayah.
Astrid tertawa keras mengira itu candaan dari suaminya. Suaminya memang sangat mengenal sahabatnya dan sering bercanda padanya.
"Apa-apaan sih kamu, Mas? Bercandanya nggak lucu tau! Nanti kalau suami Inayah tahu, kamu bisa ditinju loh!" kata Astrid sambil tertawa.
"Aku adalah suami dan ayah anak yang sedang dikandung Inayah."
Sesaat kemudian tawa Astrid terhenti dan suasana menjadi sunyi.
Astrid menatap Farhan. "Apa maksudmu, Mas?"
Inayah meraih tangan Astrid, dengan hati hati menatap sahabatnya itu. "Astrid, Farhan sekarang adalah suami dan ayah dari anak yang sedang dikandungku," ujar Inayah.
"Jangan bercanda! Kalian nggak lucu!" bentak Astrid dengan keras.
Farhan memanggil pengasuh yang dibawanya untuk membawa anak-anak pergi, lalu menatap Astrid. "Aku sudah menikah dengan Inayah, dan saat ini dia sedang mengandung anakku."
Seketika tubuh Astrid lemas dan ponsel yang dia genggam terjatuh dari tangannya.
Astrid menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kalian pasti bohong, kan?"
Inayah mengeluarkan foto pernikahannya dengan Farhan. "Aku dan Farhan sudah menikah tahun lalu. Maafkan aku, Astrid. Aku tidak bermaksud merebut Farhan darimu, tapi aku juga mencintainya. Lagi pula kamu sudah sibuk mengurus anak-anak, jadi biarkan aku mengurus Farhan. Kita bisa berbagi suami, kan?"
Sebuah tamparan keras melintas ke wajah Inayah. "b******k! Berani sekali kamu berkata seperti itu!" ucap Astrid dengan keras sambil menarik rambut Inayah.
"Setan apa yang merasukimu, Inayah?! Farhan itu suamiku, ayah Delia dan Cila! Kenapa kamu tega melakukannya?"
Astrid menampar berkali-kali wajah Inayah sambil berteriak dan air mata mengalir deras di pipinya.
Farhan menarik Astrid. "Cukup, Astrid!"
Dengan mata berkaca-kaca, Astrid menatap suaminya. "Katakan padaku, yang kalian ucapkan pasti bohong dan foto itu pasti di-edit, kan?" kata Astrid sambil tersedu-sedu, berharap Farhan akan mengatakan semuanya bohongan.
"Aku tidak berbohong, Astrid. Kami berdua sudah menikah dan Inayah tengah mengandung anakku."
"Tidak! Kenapa?!" teriak Astrid yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Farhan sudah menikah dengan Inayah.
Inayah berlutut di depan Astrid. "Maafkan aku, Astrid. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu, tapi aku sungguh-sungguh mencin--"
"Diam!" Astrid mendorong tubuh Inayah menjauh darinya.
"Astrid!" teriak Farhan dan menampar wajah istrinya.
Wajah Astrid memerah panas. Dia memegangi pipinya yang baru saja ditampar Farhan. Selama 11 tahun mereka menjalani rumah tangga, ini baru kali pertama Astrid mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya.
"Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Farhan dengan cemas sambil menatap Inayah.
Inayah menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja."
Mendengar Farhan memanggil Inayah dengan kata "sayang", hati Astrid semakin hancur.
"Aku berharap ini hanya mimpi," ucap Astrid dengan harapan bahwa semua ini adalah mimpi buruk.
Tatapan Astrid membuat Inayah ingin meraih tangannya, namun tangannya langsung dihempaskan.
"Dari sekian banyak laki-laki di dunia ini, mengapa harus suamiku yang kamu rebut? Dia ayah anak-anakku, Inayah. Mereka membutuhkan ayahnya! Mengapa kamu tega menghancurkan rumah tangga sahabatmu?!" Tangis Astrid semakin pecah setelah mengatakannya.
Astrid menggelengkan kepalanya dan menampar wajahnya sendiri, berharap ini masih mimpi. "Ini pasti mimpi..."
"Cukup!" Farhan menghentikan perbuatannya. "Orangtuaku meminta seorang anak laki-laki, mereka membutuhkan penerus perusahaan. Aku tidak bisa memintanya kepadamu dengan penampilanmu yang seperti ini. Ditambah aku sebagai direktur akan sangat memalukan jika menampilkan dirimu di depan para mitra kerjaku. Terima dia sebagai madumu."