“Silahkan Dokter Keenan.” Profesor Hanif mempersilahkan Keenan untuk memeriksa keadaan Aruna dan bayinya terlebih dahulu sebelum memberikan suntikan kemoterapi pada Aruna. “Baik, Profesor.” Keenan mendekati Aruna yang sudah terbaring di atas tempat tidurnya sambil membawa alat periksa sederhananya. Setelah memeriksa keadaan Aruna, Keenan mulai memeriksa keadaan kandungannya. Tangannya mulai melakukan pemeriksaan dengan perabaan melalui perut Aruna. Setelah itu Keenan mengeluarkan doppler dari dalam tasnya. “Detak jantungnya sangat bagus. Dia begitu sehat,” ucap Keenan sambil menatap Aruna dengan tersenyum. “Itu detak jantungnya?” tanya Calvin yang datang mendekat dan mendengar setiap detakan jantung janin yang ada di dalam perut Aruna dengan penuh antusias. Wajah Calvin terlihat begitu

