Diagnosa Dokter
Dokter mengeluarkan selembar kertas dan sebuah foto besar dari dalam sebuah amplop coklat kemudian meletakkannya di hadapan Aruna.
“Ini adalah kondisi lambung ibu saat ini. Ini adalah gambar perlukaan yang ada di dalam lambung ibu.” Dokter itu menghentikan ucapannya, seperti sedang berusaha merangkai kata yang baik untuk menyampaikan isi pikirannya agar dapat di terima dengan baik oleh pasien yang ada didepannya.
“Ini artinya apa, Dokter?” tanya Aruna dengan tatapan bingung.
“Perlukaan di lambung ibu sudah sangat parah. Dari hasil sampel yang kami ambil sebelumnya, saya mendiagnosa ibu menderita kanker lambung stadium empat karena kerusakan yang diakibatkannya sudah menjalar ke organ disekitarnya,” jelas Dokter itu dengan sangat hati-hati.
Bagaikan petir disiang bolong, Aruna terkulai lemas mendengar diagnosis dari dokter padanya. Matanya nanar dan panas karena luapan air di pelupuk matanya. Bibirnya tergetar menahan rasa kalut dan sedih dalam hati serta pikirannya yang membuncah.
“Stadium empat, Dokter?” tanya Aruna lagi terbata dengan suara serak menahan tangis.
“Iya Bu Aruna. Mohon maaf ibu, dari tingkat kerusahan yang terjadi, kemungkinan umur ibu tidak lebih dari sepuluh bulan,” ucap Dokter itu lagi dengan sangat lembut.
Aruna menggigit bibirnya. Bulir bening yang sedari tadi ditahannya akhirnya lolos jatuh membasahi kedua pipinya dengan begitu deras.
“Apakah masih ada jalan untuk mengobatinya, Dokter?” tanya Aruna setelah sekuat hati menenangkan diri.
“Kita bisa mencoba kemoterapi jika ibu berkenan. Namun tingkat keberhasilannya kurang dari 50 persen,” jawab dokter memberikan opsi lain yang mungkin bisa lebih menenangkan pasiennya.
“50%? Itu berarti nyawaku hanya tinggal setengah sekarang?” batin Aruna sambil memejamkan matanya.
Bulir air matanya itu benar-benar diluar kendalinya sekarang. Hatinya hancur. Aruna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan tergugu pelan.
Dokter yang ada dihadapannya dengan sabar menunggu Aruna sampai emosinya stabil kembali. Aruna membuka telapak tangan yang menutup wajah basahnya. Menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan, berusaha kembali meredam emosi dalam hati dan pikirannya.
“Baik Dokter, akan saya pikirkan dahulu,” ucap Aruna dengan suara parau.
“Baik ibu, bisa dibicarakan dengan keluarga terlebih dahulu.”
“Saya permisi dokter,” Aruna berdiri dan berjalan keluar dari ruangan dokter.
Aruna menarik napas dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan mencoba menguatkan dirinya. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya dan mencari kontak suaminya, Calvin.
Deringan ketiga, akhirnya Calvin mengangkat panggilan teleponnya.
“Kamu dimana, Calvin? Malam ini bisa makan malam di rumah? Aku masak makanan kesukaanmu,” ucap Aruni begitu suaminya mengangkat panggilan teleponnya.
Calvin terdiam cukup lama. Aruna mulai menggigit bibirnya yang kering, dan air mata tak terkendali mulai mengalir ke pipinya.
"Tidak bisa, aku malam ini ada acara. Lagi pula kamu juga tidak bisa memasak," jawab Calvin dingin
Calvin menutup panggilan telepon. Aruna menyeka air mata di pipinya. Sudah seharusnya dia tidak mengharapkan sikap baik dari Calvin. Lima tahun usia pernikahannyaa dengan Calvin sama sekali tidak mengubah sedikitpun sikap dingin Calvin padanya. Aruna selama ini sudah melakukan tugasnya menjadi sosok istri yang baik bagi Calvin, namun pikiran suaminya tidak pernah ada pada dirinya.
Selama lima tahun hidup bersama Calvin, Aruna tetap merasa senang walaupun tanpa cinta dari laki-laki yang sangat dicintainya itu. Menemani Calvin hingga akhir hidupnya bukanlah suatu penyesalan baginya.
Aruna melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Segera dilajukannya mobilnya kembali ke rumah. Aruna memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Rumahnya sunyi dan kosong. Asisten rumah tangganya sudah pulang. Dia memang sengaja mempekerjakan asisten rumah tangga yang bekerja setengah hari saja. Itu lebih baik dari pada ada yang tahu bagaimana situasi rumah tangganya.
Udara yang dingin membuat Aruna gemetaran. Dia masih seperti sebelumnya, selalu makan sendirian, menonton TV sendirian, tidur sendirian, Rumah besar ini adalah rumahnya bersama Calvin, tetapi sebagian besar waktu dia jalani sendirian. Hal ini sudah menjadi hal biasa bagi Aruna. Berteman dengan kesepian adalah kegiatan keseharian Aruna di rumah.
Aruna terduduk di atas sofa ruang santainya sambil bergulung di dalam selimut hangatnya dengan secangkir teh hangat di tangannya. Aruna memandang ke arah luar jendelanya. Pikirannya melayang. Aruna sangat takut. Dia takut jika setelah lewat sepuluh bulan, tidak ada lagi yang akan menjaga Calvin. Setelah mati ia takut, Calvin akan menikahi orang lain, dan akan ada seseorang yang akan menggantikan posisnya.
Air mata itu menetes kembali. Aruna menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran-pikiran menyakitkan. Diletakkannya cangkir teh yang ada di tangannya kemudian segera beranjak ke kamar tidurnya. Kepalanya sungguh berat.
Aruna merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Air mata dan pikirannya sangat sulit untuk dikendalikan. Setelah lelah, Aruna pun tertidur.
Hari sudah sangat gelap. Aruna terbangun dari tidurnya. dilihatnya ke samping, ada tubuh seseorang yang sangat dicintainya. Mata Calvin masih terjaga sambil terus menatap layar ponselnya sambil bersandar di sandaran tempat tidurnya.
“Jam berapa tadi kamu pulang?” tanya Aruna membangkitkan tubuhnya dan ikut bersandar di sandaran tempat tidur.
Calvin bergeming. Matanya sama sekali tidak bergerak dari layar ponselnya seolah-olah dia tidak mendengarkan apapun.
Aruna melihat ke arah jam yang tergantung di dinding kamarnya. Sudah pukul 1 malam.
“Kamu sudah makan, Calvin?” tanya Aruna lagi.
“Tidurlah. Jangan menggangguku,” ucap Calvin dingin.
Aruna memandang Calvin beberapa saat. Di rebahkannya kembali tubuhnya di atas tempat tidur menghadap ke arah Calvin.
“Calvin, aku ingin segera memiliki seorang anak,” ucap Aruna tiba-tiba.
Pikiran itu tiba-tiba saja tercetus. Aruna ingin ketika dia telah pergi, Calvin masih memiliki seseorang yang akan menemaninya, menggantikan Aruna disisi Calvin.
“Anak? Apa kamu sedang bercanda, Aruna? Apa kamu lupa perkataanku sejak awal kita menikah? Aku tidak menginginkan seorang anak pun darimu,” jawab Calvin penuh kebencian.
Aruna melihat ke arah Calvin dengan tatapan tajam dan tegas, “Tapi aku sangat menginginkannya!”
Calvin menurunkan tangannnya yang sedang memegang ponsel ke pangkuannya. Di helakan napasnya sebentar.
“Ingat Aruna, pernikahan kita ini hanya karena keinginan papamu. Aku sama sekali tidak mencintaimu. Berada di sisimu bahkan tidak ada dalam mimpiku. Jadi, jangan coba-coba meminta hal seperti itu lagi padaku. Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu sebagai Nyonya Calvin Dev, jangan buat aku semakin membencimu!” ucap Calvin dengan tegas sambil terus menatap ke arah Aruna.
Aruna hanya bisa terdiam, hatinya seperti tertusuk-tusuk. Aruna juga tahu dengan jelas bahwa Calvin tidak mencintainya, tapi dia mencintai Calvin selama tiga belas tahun, jauh sebelum mereka menikah.
“Jadi cinta yang seperti ini harus berakhir bagaimana?” batin Aruna.
Calvin turun dari ranjang tempat tidur dan berjalan menuju pintu.
"Apakah karena dia?" ucap Aruna tiba-tiba yang langsung menghentikan langkah Calvin yang ingin keluar dari kamar.
Calvin membalikkan badannya, “Apa maksudmu?” tanya Calvin dengan tatapan tajam
"Nora!" ucap Aruna dengan lantang. Didudukkannya tubuhnya di tepi tempat tidur menghadap Calvin, “Karena dia kan?” Aruna menatap Calvin dengan tajam.