Bercinta Dikala Mabuk

1115 Kata
Aruna akhirnya menyebutkan nama gadis itu. Gadis yang sama sekali tidak di harapkan Aruna ada di dunia ini. Dia sebelumnya tidak pernah mengungkit nama itu di depan Calvin, karena dia tidak ingin nama Nora menghancurkan perasaan diantara mereka. Bagi Aruna nama perempuan itu bagaikan racun dalam hatinya, namun sebaliknya nama itu bagaikan detakan dalam jantung Calvin. Calvin selalu marah jika Aruna melibatkan Nora dalam pertengkaran mereka. Ditatapnya Aruna dengan tajam sambil mengepalkan kedua tangannya. “Kenapa kamu libatkan Nora disini? Kamu mau menyalahkan dia? Seharusnya dia yang paling berhak berkata begitu padamu!” teriak Calvin dengan wajah memerah. Aruna bergetar melihat kemarahan yang di tunjukkan Calvin di depannya. Air matanya tidak terbendung lagi dan jatuh dengan deras membasahi baju tidur yang sedang dipakai oleh Aruna. “Baiklah. Maafkan aku Calvin. Aku tidak akan menyebut nama itu lagi di depanmu,” Aruna mengatur napasnya kembali, “Besok pagi kamu ingin sarapan apa? Akan aku masakkan untukmu,” Aruna bingung harus bicara apa agar situasi dapat membaik kembali. “Cukup Aruna!” ucap Calvin, “Bertahun-tahun pernikahan ini kita jalani, entah sampai kapan, bagiku kamu tetap Aruna yang tidak akan mungkin mendapatkan cintaku.” Calvin membuka pintu kamarnnya dan hendak berjalan keluar dari kamar mereka. “Tunggu Calvin!” teriak Aruna dengan cepat. “Ada apa lagi?” Calvin membalikkan tubuhnya dan melihat ke Aruna dengan tatapan penuh kebencian. “Calvin, aku mohon bersikap baiklah padaku hanya 10 bulan kedepan. Aku berjanji hanya untuk 10 bulan. Setelah itu kita berpisah,” ucap Aruna memohon. Calvin menatap Aruna dengan tatapan bingung. “Ada apa dengan 10 bulan? Kenapa harus 10 bulan?” batin Calvin. “Apa kamu sedang mempermainkan aku? Trik apa yang sedang kamu rencanakan?” ucap Calvin. Ini benar-benar hal aneh bagi Calvin. Aruna yang dulu begitu menginginkan pernikahan ini dan hidup bersamanya meskipun Calvin sama sekali tidak mencintainya, sekarang malah berjanji akan menjalani pernikahan ini hanya sampai sepuluh bulan ke depan? “Aku tidak sedang mempermainkanmu, Calvin. Setelah 10 bulan kita akan berpisah. Aku hanya lelah dan ingin bebas,” jawab Aruna. Wajah dan bajunya telah basah dengan air mata yang sejak tadi mengalir dipipinya. Calvin melihat ke arah Aruna. Dulu saat menikah, Calvin terpaksa mengatakan bahwa dia kan menjaga Aruna dengan baik pada Ayah Aruna karena dulu Aruna setengah mati ingin menikah dengan Calvin. Hidupnya tanpa Calvin sama dengan tanpa nyawa. Hal itu yang membuat orangtua Aruna begitu berusaha agar pernikahan putri tunggal mereka dan Calvin terlaksana diakhir umur mereka. Calvin membalikkan kembali tubuhnya dan keluar dari ruangan kamarnya tanpa menanggapi lagi ucapan Aruna padanya kemudian menutup kembali pintu kamarnya. Calvin mengambil kunci mobilnya dan keluar dari rumah menuju mobilnya. Setelah itu dia pergi keluar entah kemana. Aruna melihat mobil Calvin keluar dari gerbang rumah mereka. Di hapuskannya air mata yang membasahi pipinya dan kembali duduk di tepi tempat tidurnya. “Apa dia pergi menemui perempuan itu?” batin Aruna. Aruna mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kemudian kembali membaringkan tubuhnya diatas kasurnya. Berjam-jam berlalu, Aruna sama sekali tidak bisa memejamkan matanya walaupun sebenarnya dia sudah sangat mengantuk karena begitu banyak menangis. Hatinya begitu gelisah. Calvin, walaupun dia tidak mencintai Aruna, dia akan selalu pulang setiap hari, entah itu tengah malam ataupun dini hari menjelang subuh. Belum pernah sekalipun dia meninggalkan Aruna sepanjang malam seperti ini. Aruna terduduk kembali di pinggir tempat tidurnya. Pikirannya gelisah. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Diambilnya segelas air putih dari atas meja nakas kamarnya yang selalu di sediakannya setiap malam, kemudian meneguknya hingga habis. Baru saja Aruna akan kembali membaringkan tubuhnya diatas kasur, tiba-tiba suara sebuah mobil yang sangat dikenal oleh Aruna masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Aruna segera bangkit dan melihat siapa yang sedang datang dari jendela kamarnya. Aruna tersenyum melihat mobil suaminya terparkir di pekarangan rumahnya. “Dia kembali,” batin Aruna lega. Aruna segera kembali ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya berpura-pura tidur. Calvin masuk ke dalam kamar dengan sempoyongan. Tubuhnya berjalan ke kiri dan ke kanan seperti tidak punya kekuatan untuk menstabilkan dirinya. Mulutnya menyeracau tidak jelas. Aruna membuka selimutnya dan melihat ke arah Calvin. “Kamu mabuk, Calvin!” ucap Aruna yang dengan segera berlari ke arah Calvin dan menuntunnya ke tempat tidur. Aruna membuka sepatu dan menaikan kaki Calvin ke atas tempat tidur. Ini pertama kalinya dia melihat Calvin mabuk. Ketika hendak membalikkan badannnya, tiba-tiba tangannya di tangkap dan ditarik oleh Calvin sehingga tubuh Aruna terjatuh tepat di atas tubuh Calvin. Calvin dan Aruna saling memandang. Aruna tersenyum bahagia. Baru kali ini dia melihat tatapan Calvin yang penuh cinta padanya. Calvin mengelus lembut pipi Aruna kemudian memiringkan tubuhnya sehingga Aruna jatuh tepat di sampingnya kemudian mencium bibir Aruna dengan penuh lembut dan penuh cinta. Aruna terbelalak melihat ke arah Calvin. Dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Calvin padanya sekarang. Calvin menyentuh Aruna malam itu dengan penuh kelembutan. Hal yang sejak lama diimpikan Aruna sebagai istri telah berhasil di kecapnya dengan sangat manis malam itu. Bahkan dalam lima tahun pernikahan mereka, baru malam itu Calvin memperlakukannya dengan layak sebagai seorang istri. Calvin terbaring di samping Aruna sambil terengah-engah kelelahan. Aruna tersenyum puas melihat ke arah Calvin kemudian memeluknya. “Terima kasih, Calvin,” ucap Aruna tersenyum dan menyandarkan kepalanya di d**a bidang Calvin. Calvin membalas pelukan Aruna, “I love you, Nora,” ucapnya sambil mencium puncak kepala Aruna, “Aku akan menikahimu setelah bercerai dari Aruna. Aku berjanji.” Calvin kemudian tertidur dalam mabuknya. Aruna tercekat. Hatinya bagaikan ditusuk oleh pedang. Ditatapnya wajah pria yang selalu di cintainya sepenuh hati itu namun pandangannya perlahan kabur tertutupi bendungan air yang semakin lama semakin deras dipelupuk matanya. Air matanya mengalir. “Dia mengingat Nora ketika dia sedang melakukan hal itu padaku?” batin Aruna yang kemudian menutup matanya beberapa saat, berusaha menguatkan diri. Dilihatnya kembali ke arah Calvin yang langsung lelap dalam tidurnya. Dengan perlahan, dipindahkannya tangan Calvin yang melingkar di pinggangnya dan segera beranjak turun dari tempat tidur. Aruna terduduk diam di pinggir tempat tidur dan mengusap pelan wajahnya dengan kedua tangannya. Baru saja dia merasakan kebahagiaan yang tidak terkira sebagai seorang istri yang utuh namun langsung patah berkeping-keping hanya dengan beberapa kalimat yang di ucapkan Calvin dalam mabuknya. Aruna menghelakan napas berat. Digigitnya bibirnya untuk melampiaskan kesesakan yang sedang di rasakan didalam hatinya sambil melihat ke arah Calvin. Dilangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Dihidupkannya shower kamar mandinya, kemudian terduduk di bawah guyuran air hangat yang memancar dari shower kamar mandinya itu. Aruna menangis tergugu. Air matanya bersatu dengan guyuran air shower yang membasahi tubuhnya. Hatinya pedih. Disandarkannya tubuhnya yang terasa bagai tak bertulang itu di dinding kamar mandi tepat di bawah guyuran air shower. Aruna terkulai lemah. Semangatnya hilang, batinnya hancur. “Apa arti hadirku di hidupmu, Calvin?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN