Kecurigaan Pangeran Kemayu

1070 Kata
“Si Kemayu itu sedang apa di dapur? Tunggulah! Aku akan memergokinya,” desis Angkie.   Angkie yang sudah kembali dari kegiatan memanahnya itu segera menuju kamarnya. Membersihkan diri dan berganti baju.   Lantas, pria itu menuju dapur. Tempat Adjie berada, seperti yang diceritakan oleh orang kepercayaannya.   Dilihatnya, saudaranya itu tengah duduk mengamati para koki yang memasak. Angkie melongo, karena pangeran lembut ini tidak pernah seserius itu, jika mengikuti rapat istana.   Lantas lelaki tampan itu berdiri, mengambil alih salah satu pekerjaan koki karena merasa tak puas dengan apa yang diperintahkannya itu. Ya, dia adalah saudara dari Angkie Barata, putra mahkota Adjie Pangestu.   Angkie berdecih, dia menghampiri Adjie dan mulai melakukan penghinaan. Tangannya melipat di depan dadanya.   “Pantaskah seorang putra mahkota berada di dapur begini? Seharusnya kau belajar bagaimana caranya berperang, wahai saudaraku,” ejeknya.   [Kamu akan menghadapiku, kelak. Sayangnya, itu tidak kau lakukan.]   Putra mahkota masih diam, tak meladeni saudaranya yang selalu merendahkannya itu.   “Kau seperti perempuan, tak pantas putra mahkota berbuat demikian!” ejek Angkie lagi, geram tak mendapat respon Adjie.   Adjie berbalik, dia tersenyum di depan Angkie. Pangeran dari selir ini menoleh ke samping. Tatapan Adjie kerap meluluhkan siapapun. Seolah ada mantera terkandung di dalamnya.   “Kelak, di masa depan, bisa saja laki-laki memasak dan akan terlihat seksi bagi perempuan, menggoda dan begitu dipuja, wahai saudaraku,” balasnya dengan tersenyum.   Angkie tak terima. Dia berdecih kembali.   “Apa?! Kau bukanlah pria yang diberi wahyu seperti para penasihat kerajaan sok lembut itu, Adjie!”   Adjie seolah tak mendengar. Dia mengaduk-aduk masakan, yang mendidih di atas tungku. Lalu, menyesapi aroma nikmatnya dengan sakral.    “Apa kau dengar, wahai Putra Mahkota? Tidak ada laki-laki yang melakukan pekerjaan perempuan. Mereka lemah. Jika pun begitu, maka laki-laki yang menyukai dunia perempuan akan menjadi kemayu!”   “Ketika istrimu melahirkan, memasakkan untuknya akan menjadi hal paling menyenangkan hatinya,” kata Adjie.   “Hah! Sampai kucing bertanduk, tidak akan pernah ada, jaman seperti itu!” balas Angkie tak kalah sengitnya saat ini.   “Hahaha! Begitukah? Kalau begitu, aku ingin menyaksikan bagaimana kucing itu, barangkali saudaraku ini sudah ahli karena mengawinkan kucing dengan kambing,”   “Kau tak bi—”   Hap! Adjie dengan cepat menyuapi Angkie dengan masakannya, sebelum Angkie berkata sengit lagi.   Tanpa canggung, Adjie menyuapi saudaranya. Meskipun terlahir dari selir, saingan ibunya, dia tak pernah sungkan untuk melakukannya.   Dia tidak mempedulikan pemikiran-pemikiran dari saudara tirinya itu. Baginya, saudara adalah saudara.   ‘Enak juga,’ ucap Angkie dalam hatinya. Dia tak bisa melepeh makanannya, terlanjur lidah manjanya merasakan lezat dari masakan Adjie saat ini.   Angkie mengajak Adjie pergi ke Balairung Hartal. Dia ingin meyakinkan sekali lagi, terkait rencananya untuk menghabisi Adjie. Apakah itu benar.   Kedua saudara itu tengah duduk di Balairung Hartal, ruang para pangeran untuk mengobrol. Mereka saling duduk berhadapan dan menikmati minuman mereka. Angkie memancing dengan obrolan politik.   “Bagaimana dengan pemberontakan Tumenggung di daerah Dewangga? Bukankah itu akan meluas? Daerah itu juga salah satu pusat keuangan kita, di kerajaan Nilamsuryo.”   Adjie nampak serius meminum tehnya.   “Aku akan berunding Tumenggung Pinandito, agar tidak melakukan pemberontakan,” jawabnya diplomatis penuh rasa tenang.   “Seharusnya kita tumpas habis pemberontakan itu dengan perang!” usul Angkie.   Namun, Adjie tak setuju. “Perang di dalam wilayah kerajaan sendiri bukanlah suatu hal baik, wahai saudaraku. Akan banyak yang mati jika terjadi pertumpahan darah seperti itu!” tolak Adjie dengan tegasnya.   “Perang menjadi solusi efektif bagi pemberontak! Itu akan memperlihatkan pada mereka bagaimana kerajaan Nilamsuryo berkuasa!”   “Maka itu tidak akan pernah terjadi selama aku menjadi putra mahkota!” tandas Adjie meninggalkan Angkie. Dia memilih untuk tak melanjutkan pembicaraan itu saat ini.   Angkie semakin geram, dia tak percaya kalau saudaranya itu lemah dengan kelembutan hatinya. Matanya menyoroti Adjie yang semakin lama semakin mengecil, dan hilang dari pandangannya seiring dengan pintu balariung yang tertutup.   Tangan kanannya terangkat, telunjuknya bergerak menandakan kalau Mulawarman harus mendekat kepadanya. Pria itu memang selalu ada di mana pun Angkie berada.   “Siapkan jebakan untuk Adjie. Aku akan menyingkirkan pria yang tak layak menjadi raja itu!” titahnya kepada Mulawarman.   ‘Duhai lelembut, yang terlalu lembut. Tidurlah dengan lembut. Aku akan berjanji menaburkan sepuluh ribu kuntum bunga lembut, menutupi kuburmu kelak.’ Angkie membatin.   ‘Andai saja aku yang menjadi pewaris tahta sedari awal, mungkin beda cerita. Paling, pangeran suka memasak itu akan kukirim ke pengasingan, hingga dia menyadari kodratnya sebagai lelaki.’    Dengan segenap hati dipenuhi dendam dan juga ambisi yang membara itulah, membuat Angkie Barata membuat rencana bagi saudara tirinya. Dia sudah memilih prajurit yang akan mengeksekusi Adjie nantinya.   Pangeran Angkie pun sudah mengenakan pakaian berburunya. Dia mulai mendatangi kamar Adjie pagi itu.   Dengan wajah dipenuhi senyuman palsunya, dia menyapa para dayang dan ajudan yang berjaga di kamar Adjie Pangestu. ‘Cih, bahkan dia memilih ajudan yang suka tersenyum dan lembut. Sungguh menggenaskan!’   “Katakan pada Putra Mahkota, aku datang,” ucapnya pada salah satu dayang yang berdiri di samping pintu kamar Adjie.   “Baik Pangeran.”   Angkie pun memasuki kamar sang putra mahkota. Pria itu berdiri di depan Adjie yang masih terduduk dan tengah dipakaikan baju berburu seperti dirinya.   Tentu saja para dayang melayaninya dengan penuh kelembutan. Putra mahkota menjadi satu dari beberapa orang penting yang harus dilindungi oleh mereka dan juga tak bisa disakiti.   “Kau siap untuk berburu?” tanya Angkie sambil menyuapi dirinya dengan buah-buahan yang disediakan di kamar saudaranya.   “Tentu saja aku siap, kapan lagi bisa berburu dengan saudaraku yang sibuk ini,” Adjie terkekeh.   “Tentu saja, saudaraku tersayang,” balas Angkie yang tak kalah sumringahnya saat ini.   Dia semakin membayangkaan bagaimana nanti Adjie akan menghilang. Lalu, Raja akan mengangkatnya untuk meneruskan tahta kerajaannya nanti.   Mereka tengah berkeliling sambil menunggangi kuda kesayangan mereka masing-masing. Barisan prajurit sudah berjalan mengikuti mereka. Prajurit-prajurit yang dipilih oleh Angkie Barata tentu saja.   Mereka semakin memasuki pegunungan yang masih tak terjamah berbentuk hutan belantara yang sepi. Adjie terpana.   Sesekali, dia turun dari kuda. Mengambil tanaman hutan, yang bisa dijadikan bahan memasak.   Angkie sedikit kesal. Namun, dia biarkan saja.   “Bagaimana? Hutan ini cocok untuk mencari binatang buruan bukan?” tanya Angkie yang sudah berjalan dengan menarik tali kekang kudanya.   Mereka tengah berjalan menyusuri jalanan yang menanjak. Adjie mulai meraut kebingungan.   “Hah ... ya ..., tapi ... kenapa jalur perburuannya berbeda?” tanya Adjie yang mulai mengamati sekelilingnya.   Insting bahayanya mulai menerka-nerka. Menjadi putra mahkota sudah banyak dilaluinya dengan marabahaya yang mengintai. Membuat Adjie sudah terlatih instingnya saat ini.   “Kenapa? Kamu takut?” pancing Angkie.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN