Tampan Kemayu

1329 Kata
Prak! Adjie Pangestu menggeprek sebuah jahe. Lalu, dia masukkan rimpang itu ke dalam dandang, yang sudah tertata di atas tungku.   Aroma wangi segera menyeruak. Para dayang menyesapi dengan sumringah.   Mereka bangga dengan pangeran mereka yang tampan, gagah, dengan bibir ranum menggoda, pintar masak lagi. Mereka tidak peduli, jika istana dan seluruh rakyat tidak suka dengan fakta terakhir tentang Adjie, pangeran yang mereka asuh.   Bagi dayang-dayang setia ini, Adjie adalah sosok sempurna sebagai pemimpin. Tidak peduli dengan gelar melambai, kelainan, yang disematkan padanya.   “Pangeran, wanginya sangat khas. Makanan ini rasanya akan sangat enak,” kata seorang dayang.   “Tentu saja. Selain jahe, aku memberinya sedikit bunga-bunga hutan, sebagai pewarna alami, dan bumbu rahasia,” kata Adjie tertawa.   “Kalau boleh tahu, pangeran hendak menghidangkannya untuk siapa?” tanya dayang itu lagi.   “Aku ingin memberikannya pada saudaraku. Tentu saja, semua dayang dan koki di sini boleh memakannya,” kata Adjie membuat para dayang yang menemani merasa gembira.   ***   Adjie tentu saja tidak tahu, bahwa saudara yang akan ia suguhkan makanan spesial itu sangat membencinya. Sosok itu sedang melakukan latihan beladiri untuk perang.   “Pangeran kemayu lenggak-lenggok itu harus lenyap dari muka Bumi ini!’ Seorang pria dengan tubuh kekar terus menggaungkan hal itu dalam sel kelabu otaknya.   Pria itu tersenyum. Lalu, sosok beralis tebal ini menggambar cerita lagi di dalam kepalanya.   ‘Kamu harusnya terlahir sebagai putri. Mungkin, aku akan mempertimbangkan untuk menjadikanmu tukang urutku, setelah aku naik tahta. Kamu bisa urut kakiku, jika aku keseleo, setelah berperang.’   Angkie mengguratkan senyum satir. Dia bayangkan, pangeran itu berpakaian perempuan, berlapis-lapis sutera, dengan konde bunga teratai yang menusuk gelung rambutnya.   “Tangannya lentik, kulitnya putih, wajahnya sayu. Aha! Memang pantas jadi putri! Tidak, pantasnya menjadi tukang urut,” ceracau Angkie.   Angkie memang sengaja mengaburkan lisannya. Dia tahu, di sekelilingnya sudah mengerti, apa yang ia maksud. Sepasang cicak saja mendukungnya, dengan bebunyian yang terdengar macam tawa sarkasme.   Tuan, Paduka Raja Sri Jayanaga memerintahkan Tuan menghadap Baginda,” tutur salah satu dayang yang tengah mengipasi Angkie.   Angkie, pria itu masih berbaring di sofa kayunya, sambil setengah tertidur usai melakukan latihan perang. Napasnya segera memburu.   Pria itu membuka matanya cepat. “Kenapa Raja memanggilku?!” geramnya sambil segera bangkit dan menuju satu ruangan besar, Balairung Sri, tempat Raja Sri Jayanaga bekerja dan memerintah.   “Paduka, Angkie Barata menghadap Paduka!” ucap Angkie Barata memberikan salam hormatnya pada Raja.   Raja Sri Jayanaga mengangkat satu tangannya sebagai bentuk menerima penghormatan salam dari Angkie Barata.   Para penasihat tengah berdiri berbaris memanjang di sisi kiri dan kanan Raja. Mereka masih mengunci mulutnya masing-masing, jika tak diperintahkan untuk berbicara oleh Yang Mulia.   Seorang pria dengan rambut yang tergerai sempurna, dengan ikat kepala peraknya menghias kepala itu tengah duduk. Dia satu lutut dan tangan terlipat satu.   Suasana di sana senyap, tidak ada suara apa pun selain suara degup jantung sendiri yang terdengar di telinga masing-masing. Ada berita besar, yang hendak mereka tumpahkan, tapi tertelan di tenggorokan masing-masing.   Angkie tahu itu. Para menteri, yang bersekutu dengannya, mengkode dengan lirikan mata. Namun, mereka tak berani bersuara di ruangan dengan nuansa emas yang dominan ini.   Di hadapannya, tengah duduk Raja Sri Jayanaga di singgasana mewah, dengan pakaian sutranya yang dihiasi oleh emas dan perak, yang menggambarkan posisi tertingginya saat ini. Wajah tua pesakitan itu berusaha pancarkan wibawa.   “Pangeran Angkie, kau siapkan pesta penobatan untuk putra mahkota kita!” perintah pria itu.   Rasanya, sepertiga bumi menimpa Angkie. Apa yang ia takutkan terjadi.   Pangeran keputri-putrian itu akan menjadi Raja. Bukan dia.   “Ta—tapi Paduka?!” Pria yang tadi masih setengah berjongkok itu terperanjat.   Dia adalah Angkie Barata, putra dari raja Sri Jayanaga dengan selir Shima yang tengah menunggu perintah dari ayahnya sendiri.   “Ada apa, Pangeran Anom?” Raja Sri menghunuskan pandangan tajamnya.   “Putra Mahkota belum siap untuk menjadi penerus Ayahanda, bagaimana bisa Ayahanda mengadakan pesta penobatan?” Angkie mencoba mencari-cari alasan agar bisa menunda penobatan dari saudara tirinya, bernama Adjie Pangestu.   Hatinya tak terima, jika pangeran, yang menurut Angkie kemayu ini, menjadi raja. Tapi, Angkie tak punya pilihan.   Adjie Pangestu adalah pangeran sah yang menjadi putra mahkota itu memang terlahir dari Raja Sri Jayanaga dan Ratu Dewi Jagat. Sementara dia, hanyalah anak selir.   “Apa kau angkuh, merasa yang pantas mewarisi tahtaku? Apa kau siap untuk menggantikannya, Pangeran Anom?!” bentak Raja.   Semua semakin bersitegang. Begitupun dengan Angkie Barata yang mengepalkan tangannya di pahanya. Dia ingin sekali menentang bagian rencana ayahnya itu.   “Ti—tidak Baginda! Hamba sama sekali tidak sanggup!”   Mau tak mau, itulah jawabannya. Meskipun dia ingin, dia tak bisa mendeklarasikannya saat ini.   “Kalau begitu, siapkan pesta penobatan Putra Mahkota tujuh hari lagi, Pangeran Anom,” tegas Raja yang kembali menurunkan suaranya saat ini.   “Baik, Paduka!” Angkie menundukkan kepalanya, menjadi satu bagian yang menandakan dirinya akan melaksanakan titah dari penguasa kerajaan Nilamsuryo itu.   ***   Jika tadi Angkie barata yang begitu penurut di hadapan raja, maka saat ini sudah menjadi berlawanan. Wajahnya diliputi amarah luar biasa besarnya.   Bibirnya merapat dan tangan terkepal sempurna. Sorot matanya berubah menindas dan pikirannya tengah panik.   BRAK!   Dia memasuki ruang peristirahatannya, mengusir para dayang yang mengikutinya dan juga menutup pintu dengan kasarnya.   “Cih! Bagaimana bisa orang bodoh itu akan menjadi raja?!” teriaknya melampiaskan rasa tak terimanya saat ini.   “Dasar Sialan!” Angkie murka.   Dia menjungkir balikkan meja dan kursi di sana. Membuat kamarnya sendiri berantakan dengan pelampiasan amarahnya yang tak kunjung reda.   Para dayang yang berada di luar ruangan hanya bisa berbisik saling menunduk. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, jika pangeran yang mereka layani itu tengah marah karena saudaranya.   Angkie memakai baju latihan perangnya, memasang pelindung di bagian tubuhnya. Dia memanggil seorang dayang, yang dengang segera tergopoh-gopoh.   Gedubrak! Dayang itu tersandung kaki kursi, wajah gembulnya sukses mendarat di lantai.   Namun, dengan perjuangan terhakiki, dia segera bangkit. Dayang itu cekatan menyisir dan merapikan rambut panjangnya serta mengikatnya dengan rapi.   Angkie Barata duduk dengan penuh wibawa, masih dengan wajahnya yang nampak bengis karena kekesalannya pada Adjie Pangestu. Dia lirik perempuan, yang sedari tadi menyisir rambutnya dengan gemetar.   “Apa aku mau memakanmu? Kenapa tanganmu gemetar begitu? Belum pernah menyisir pangaren tampan?” tanya Angkie.   “Jangan, Tuan! Saya masih terlalu kurus,” kata perempuan itu, tak kalah narsis dengan pangeran yang ia urus. Padahal, tiga kali sehari dia menyantap satu piring nasi, dua kali tambah.   “Tuan gagah sekali, paling tampan satu kerajaan. Maafkan, jika hamba bertanya, memangnya Tuan mau ke mana?” tanyanya. Hatinya berkata lain. ‘Lebih tampan Pangeran Adjie Pangestu, dibanding Anda, Tuan!’   “Bukan urusanmu! Tak patut pelayan biasa sepertimu bertanya!” kata Angkie seraya melemparkan sebuah sapu tangan. Tepat ke wajah dayang, yang dengan segera menciut nyalinya.   “Bersihkan! Hidungmu mimisan!”   ***   Pria itu menaiki kudanya, menyangkol wadah berisikan anak-anak panah dengan ujungnya yang terpasang logam tajam.   “Ha! Ha!” Angkie menghempaskan tali pengekang kudanya, guna membuat kudanya berlari kencang menuju sebuah tempat rahasia.   Di belakangnya diikuti oleh beberapa prajurit kepercayaannya dan juga tangan kanannya.   Crash!   Crash!   Crash!   Tiga anak panah telah melesat, menancap tajam di pelepah pisang, yang tertempel sebuah lukisan di sana. Bukan pelepah pisang yang menjadi targetnya, melainkan lukisan wajah sang putra mahkota yang dia incar. Berharap dengan anak panah itu dia bisa membunuh saudara tirinya dan mengambil posisi putra mahkota untuknya.   Prok!!   Prok!!   Para pengikutnya bertepuk tangan dengan penuh semangat.   “Pangeran Angkie selalu bisa memanah target dengan tepat!” puji Mulawarman penuh kemunafikan.   Berkali-kali Angkie memanah. Dia tak meladeni pujian-pujian itu dan terus berfokus melampiaskan rasa marahnya itu sendiri.   Baru juga pria itu selesai melampiaskan amarahnya, salah satu wanita datang berlarian menghampiri Mulawarman, pria tua beruban yang menjadi tangan kanan Angkie. Wanita itu berbisik kepadanya saat mereka sudah sampai kembali di area istana.   Ya. Angkie mengirimkan satu wanita sebagai dayang yang menjadi mata-mata untuk mendapatkan informasi yang tak dia tahu.   Mulawarman tergopoh-gopoh mendekati Angkie. Dia berbisik kepada Angkie.   “Begitukah?” Angkie menyeringai penuh muslihat dan permusuhan. Angkie segera kembali menuju istana.   “Tunggulah, Pangeran Lelembut! Aku akan mengusikmu!” Angkie tertawa penuh muslihat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN