“Bang, mau, nih!” kata Adjie, memberikan es lemon tea yang tinggal secuil di gelas. “Ti, tidak, terima kasih,” kata Ipan seraya mengerjap-ngerjapkan matanya. “Woi, Alma! Suamimu sakit, ya! Suamiku dikasih es lemon tea yang tinggal seupil! Gila dia!” Mareta mendamprat keras. “Aku tidak memberi upil di es Lele Emon Tea itu, Mbak Mareta,” kata Adjie dengan tenang. Tak pelak, gelak tawa segera pecah di pujasera. Baik Alma, maupun Mareta malu bukan kepalang dengan kata-kata Adjie ini. “U, upil katamu? Maksudku ....” “Iya, iya, tahu maksud Mbak Mareta. Ingin menuduhku memberi upil pada es Lele Emon Tea itu kan? Aku belum segila itu. Dia dan aku sama-sama menantu di keluarga Ayahanda Indro,” jelas Adjie lagi. “Sakit nih orang!” kata Mareta kesal. “Sakit-sakit, tapi bikin lidahmu bergoyan

