Dibalas Hinaan Setimpal

1045 Kata
  Agam menjengit. “Ikan asin? Aku tidak jualan ikan asin. Aku jualan ikan filet.”   Alma mengendik bahu dan memecet hidungnya dengan dua jari tangannya yang mengenakan sarung tangan berenda dengan payet berkilauan. Lebih berkilau dari sisik ikan yang terkena sinar matahari sore hari.   Sungguh Agam mendapati sarung tangan Alma seperti sisik ikan. Kuduknya sedikit bergidik ngeri.   “Kalau habis memfilet ikan, dan tidak mandi, baunya jadi seperti ikan asin. Seperti kamu sekarang,” Mulut lantam Alma mulai memborbardir hinaan.   “A, apa?” Agam terpana. Dia merasakan jantung sudah sangat nyeri, kini dia malah mendapat hinaan yang membuat nyeri berlipat-lipat.   “Kamu pasti habis keliling jualan, terus ke sini. Gak sempat mandi, ah aku salah. Bukan gak sempat, tapi memang gak mandi dan gak punya parfum.”   “Kamu jangan mengejekku,” sergah Agam mulai terpancing kesal.   Pantatnya sudah panas menunggu, sudah mengubah posisi duduk berulang kali. Dan kini calon istrinya malah menambah panas telinganya.   “Hampir tiap hari ibumu memesan filet ikanku. Dan itu semua aku kerjakan dengan tanganku. Dia hanya mau membeli filet ikanku karena bersih dan tidak amis. Kau bilang aku bau ikan asin?”   “Memang,” ucap Alma sembari menggoyangkan kepalanya seperti penari India, cuek. Dia merasa puas sudah membangkitkan emosi Agam.    Agam berdecih. Dia tatap gadis sok yes ini.   Alma tak pernah setuju dengan perjodohan yang disepakati ayahnya dengan Bu Asih. Hanya karena ibunya sering membeli filet ikan Agam, lelaki itu kerap mengantarnya sendiri ke rumah, lalu serta merta ayah dan ibunya menaruh kepercayaan besar bahwa Agam adalah lelaki yang tepat untuknya.   Entah bagaimana pula promosi Bu Asih, si pengasuh Panti Asuhan, yang setiap tahun Indro selalu memberi santunan dan THR ke sana. Sampai-sampai, kedua orang tuanya sepakat menikahkan Alma dengan Agam.   Alma tak kuasa menolak lagi perintah ayahnya untuk kawin dengan Agam. Ayahnya mengancam akan mencoretnya dari daftar ahli waris, karena sudah berkali-kali membuat keluarga Indro Kusumo malu.   Setiap calon suaminya, hengkang begitu saja karena sifat Alma yang ketus. Seolah tidak ada lelaki satupun di dunia ini yang pantas menjadi suaminya.   “Pasti Bu Asih senang akhirnya dia bisa terbebas darimu, Ikan Asin.” Alma tersenyum mengejek.   Agam memutar separuh badan, hingga bisa melihat wajah Alma yang tersenyum sinis tanpa menatapnya.   “Dengar, Alma,” desis Agam berusaha tidak membuat emosinya tersulut lebih panas.   Dia hendak melontarkan kalimat yang lebih tajam lagi dari kalimat Alma. Bagaimanapun juga, dia tidak diterima dibully seperti ini, mending mati saja daripada setiap hari hidup bersama wanita ketus, menua bersama.   Bisa-bisa dia lebih cepat tua dari Alma. Padahal, dia enam tahun lebih muda daripada gadis tua ini.   Terbit penyesalan dalam dadanya, kenapa dia menerima tawaran Indro dan bujukan Bu Asih. Dia pikir, itu adalah hal yang baik.   Alma memang cantik. Agam sudah berkali-kali melihatnya dari kejauhan, tapi belum begitu mengenal sifatnya.   Permintaan Indro dinilainya wajar, karena dia mendengar Alma berkali-kali gagal dijodohkan, mungkin karena kakinya pincang. Namun Agam tidak melihat kaki pincang itu sebagai cacat, maka dia menerima perjodohan yang kini berlanjut ke pernikahan.   Perlahan Alma menoleh. Melihat wajah Agam yang memucat.   Tanpa diketahuinya bahwa Agam sebenarnya menahan lisannya untuk tidak berucap tajam, tapi Alma malah tersenyum mengejeknya. Rasanya, ingin ia ludahi Agam, lelaki yang dianggapnya akan menjadi benalu dalam keluarganya.   “Kau masih hidup?” tanya Alma sembari mengangkat sudut bibirnya, sinis.   “A, apa maksudmu?” Agam mencoba tidak menopang dadanya, yang sepertinya makin terasa sakit. Dia harus jaga image di hadapan Alma.    “Wajahmu pucat seperti mayat. Apa karena bau ikan asin itu begitu hebat hingga membuatmu ingin mati saja?”   Agam memukul meja kecil di hadapan mereka. Dia sudah tidak tahan dengan wanita pencaci berlidah tajam seperti Alma. Sepertinya, menikah dengan wanita ini sama saja dengan menggali kuburnya sendiri.   “Alma Naila, dengar …,” desis Agam dengan menahan napasnya. “Kau pikir aku tidak terpaksa menikah denganmu. Aku bisa menikah dengan wanita mana saja di kota ini, yang tidak suka mencaci maki dan … PINCANG seperti kamu!”   Alma terperangah. Tidak mengira Agam akan menyebutkan cacat dirinya.   Cacat yang selama ini membuatnya minder, tapi berusaha ditutupinya dengan kearoganannya sebagai anak orang kaya yang bisa berbuat sekendak hatinya.   Dua kakak laki-laki Alma di belakang mereka berdua mendengar suara meja yang dipukul Agam. Mereka mulai merasa bahwa dalam masa tunggu penghulu yang mendebarkan, telah terjadi sesuatu yang tidak beres di antara kedua calon pengantin.   “Lihat saja, kau akan menyesal selama menikah denganku nanti,” ancam Agam.   “Kau pikir aku menikahimu karena kau cantik dan lulusan luar negeri. Jangan mimpi. Aku menikahimu karena Tuan Indro Kusumo menjanjikan perusahaan jatah warisanmu menjadi milikku.”   Alma terkesiap. Sekarang, ganti wajahnya yang memucat.   ‘Aku salah apa? Aku hanya bilang badannya bau ikan asin! Kenapa dia jadi emosi selebay itu?’ Alma tak tahu diri ini masih saja merasa angkuh.   Dia masih memandang Agam yang murka, karena mulutnya yang lemas dengan tatapan merendahkan.   Jantung di ragaya seperti akrobatik, hendak meledak, begitu mendengar Agam hanya ingin menikahinya hanya karena tahta yang dijanjikan ayahnya.   [Terkutuklah kau, Agam! Dasar lelaki miskin tukang ikan. Benar kataku, tidak ada lelaki miskin yang mecintaiku dengan sejati. Ujung-ujungnya harta!]   “Kamu kelewatan sekali! Hanya kusebut bau ikan, mulutmu sudah mengeluarkan hati busukmu! Oalah, menikah hanya karena tahta! Emang sih tikus got bisanya begitu: cari-cari kesempatan!”   Alma mencecar. Dan Agam rasanya semakin sesak. Seperti ada yang mencabut ruhnya pelan-pelan.   “Apalagi yang bisa kudapat selain tahta? Apa aku akan mendapatkan wanita yang baik? Kurasa tidak! Aku akan berdua bersama dengan Si Pincang Bermulut Hina,” cecar Agam tak mau kalah.   Alma mengepalkan tangannya. Dia hendak menangis.   Namun, tentu saja gengsinya sebesar planet Bumi. Mana mau dia terpuruk, hanya gara-gara cacian mahluk hina marginal, seperti Agam.   “Halah, banyak omong kamu tukang ikan, dasar busuk!”   “Sebusuk-busuknya bau aku, lebih busuk omonganmu. Dasar pengangguran pincang berstatus perempuan kaya!”   Jleb! Satu lagu balasan Agam yang sangat menyakitkan Alma.   Kali ini, dia tak sanggup lagi. Manik kaca-kaca mulai melimpah, menghiasi netranya.   Agam yang melihat, menjadi sedikit iba. Dia juga tidak menyangka, kenapa dia bisa seemosional ini.   Mungkin karena badannya semakin tidak enak, napasnya yang terasa seperti ditarik perlahan. Dan dalam kondisi setidaknyaman begitu, mulutnya Alma malah beraksi. Bicara sampah yang tidak-tidak.   “Kamu ...!” Alma tersendat. Mendadak perbendaharaan katanya menguap. Rasanya sakit, dibalas lelaki berbau ikan asin seperti itu!        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN