“Maaf, a ...,” Agam hendak melisan, namun lidahnya juga terasa kelu.
“Ada apa ini?” sebuah suara dari belakang Agam dan Alma, membuat kedua calon pengantin itu kembali menegak punggung dan menghadap lurus ke depan.
Sebuah tepukan di punggung Agam dan Alma, membuat keduanya sepakat tanpa harus diucapkan, bahwa pertengkaran pra nikah ini akan menjadi rahasia mereka berdua.
“Sabar, sebentar lagi penghulunya datang. Naik helikopter biar cepet. Ah, harusnya kamu menyambutnya di landasan mendarat helikopter, Gam,” kata kerabat Alma ini terkekeh.
Dia mendelikkan mata sinis pada Agam. “Lelaki penjual ikan sepertimu pasti belum pernah melihat landasan helikopter, kan?”
Agam mendecih tanpa suara. Sepertinya, darah Kusumo memang semuanya arogan. Karena mereka terlalu lama menjadi orang kaya. Lupa rasanya makan ikan asin.
Suasana hening di antara kedua calon pengantin. Agam dirayapi rasa bersalah telah berhasil membungkam mulut pedas Alma.
Bagaimanapun juga, dia merasa iba pada Alma yang pincang. Karena takut anaknya menjadi perawan tua-lah, Indro memohon pada Bu Asih agar Agam mau menikahi putri semata wayangnya.
“Maaf,” ucap Agam tegas, menunjukkan sikap gentleman. “Aku khilaf.”
“Aku sejatinya tidak menginginkan tahta, yang diberi ayahmu!” lirih Agam.
[Pembohong, taiklah!]
Alma bersungut-sungut. Tidak mempercayai kata-kata Agam.
“Aku hanya ingin menikah dengan baik-baik, membina keluarga bersama, Alma!”
Masih hening. Alma sibuk dengan penolakan terhadap kejujuran Agam.
“Sekali lagi, maafkan aku, Alma,” sesal Agam.
Jreb! Jantungnya seperti tersengat listrik. Agam merasakan tubuhnya hendak ambruk.
Tidak ada sahutan dari Alma. Agam melirik, khawatir calon istrinya berderai air mata. Bukankah wanita selalu seperti itu bila hatinya tersakiti. Meski dia tak peduli telah menyakiti hati orang lain.
Dan mata Agam terasa mulai tak fokus. Dia mengendus, merasakan wewangian yang tak pernah ia baui selama di dunia ini.
Dia pegangi dadaya. Dia seperti merasa mulai gamang, seperti hendak pergi ke alam lain.
“Maafkan aku, mungkin kau hanya sebentar bersamaku,” ucap Agam sembari menundukkan kepala. Kesadarannya mulai menurun.
Alma sama sekali tidak menoleh, dadanya serasa diiris sembilu. Perih.
Agam benar. Bahwa tak akan ada lelaki yang mau menikah dengan wanita pincang sepertinya. Secantik dan sekaya apapun dia.
Bahkan dengan ketusnya, Alma telah membuat mereka menyadari betapa buruknya Alma bila menjadi seorang istri. Alma akan menjadi istri dengan dismorfik tubuh, tidak percaya diri dengan pincangnya, lalu sibuk menindas pasangannya, sebelum pasangannya mencerca pincangnya.
Akhirnya Pak Penghulu datang dengan tergesa, dikawal oleh kerabat Indro. Suara desah napas lega terdengar memenuhi Ballroom Hotel Maripot.
“Si Pincang Gadis Tua akhirnya bisa tak perawan! Jadi istri juga!”
“Dijodohkan sama tukang ikan amis, haha!”
“Fix, pada malam pertama, Si Alma muntah karena amisnya tukang ikan. Dan Si Agam muntah karena melihat barang usang dari Si Pincang.”
“Muntahnya dari atas berarti, bukan dari bawah!”
Bisik-bisik minor, sedikit riuh terdengar. Terdengar sarkasme, menjurus ke arah sedikit sensitif.
Keluarga besar Alma pun mulai menunjukkan sikap khidmat, menata posisi menghadap ke arah panggung di hadapan mereka. Tempat punggung Alma dan Agam berada, menghadap Pak Penghulu.
Pembawa Acara segera memulai acara, setelah memberikan ucapan terima kasih atas kedatangan kerabat dan keluarga besar Alma. Beberapa nama sesepuh disebutkan, dan yang punya nama mengangguk dengan wibawa.
Indro sudah tidak lagi cemas dan berkeringat, mendapat sambutan penuh hormat dari setiap anggukan sesepuh keluarga besar Kusumo. Nama Bu Asih disebut dengan penuh penghormatan sebagai wakil dari pihak perempuan.
Alma melirik Agam yang masih saja menunduk. Pasti, mendengar hanya satu nama disebut dari pihak keluarga lelaki sudah menciutkan nyali lelaki di sebelahnya.
[Ya, iyalah! Keluargaku orang sukses semua! Sementara kamu, hanya anak yatim, tidak ada keluarga!]
Alma bukan tidak mengenal Agam sebelumnya. Dia tahu lelaki penjual filet ikan itu memulai usahanya dari nol, karena ibunya kadang bercerita bila menyediakan menu ikan--yang selalu dibelinya dari Agam.
Hanya saja, bau amis yang kerap menguar samar dari badan lelaki itu, tidak menghilangkan justifikasinya bahwa Agam bau ikan asin.
Mungkin Agam benar sebagaimana yang diucapkannya tadi. Bahwa pernikahan mereka tidak akan bisa berlangsung lama.
Cukup sebentar saja, untuk mengubah statusnya menjadi gadis anak orang kaya yang tidak laku karena pincang, menjadi janda kaya rawa pewaris salah satu perusahaan milik Indro.
“Yeah, baiklah. Kita lihat saja nanti, Gam. Jangan berharap kau bisa menyentuhku, menjadi suami ideal bagiku. Kamu hanya sampah!”
Setelah sambutan selesai, Penghulu dipersilahkan untuk memulai akad nikah. Indro Kusumo mengambil posisi di hadapan Agam.
Setelah briefing sejenak mengenai tata cara akad yang akan dilakukan oleh Indro sendiri, maka Indro pun menjabat tangan Agam.
Agam masih saja menunduk. Bukan karena dia masih merasa bersalah kepada Alma atas kata-kata pedasnya tadi, tapi karena dadanya tiba-tiba terasa begitu nyeri.
Seperti ada yang hendak melepas jiwanya, tapi dengan perlahan. Lelaki ini adalah lelaki baik.
Dia menggenggam erat tangan calon mertuanya, sementara dia merasa napasnya begitu sempit dan sesak, membuatnya tak sanggup menegak kepala.
Rasanya napasnya hanya sampai di leher dan … dia tak sanggup menggerakkan bibir hanya untuk mengatakan siap atas pertanyaan penghulu.
Tanpa menunggu lebih lama, penghulu pun mulai prosesi ijab kabul. “Baiklah, Pak Indro Kusumo akan menikahkan Alma Naila binti Kusumo dengan Saudara Agam. Mohon ikuti kata-kata saya.”
Indro tampak gugup, tapi dia berusaha tenang sembari menghela napas panjang.
“Saya nikahkan, Alma Naila binti Kusumo dengan Agam, dengan mas kawin cincin emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.”
Indro Kusumo menirukan ucapan ijab penghulu dengan fasih dan lancar. Lalu dia menggenggam erat tangan Agam, meminta Agam mengucap kabul.
Agam terdiam, menundukkan kepala, tidak bereaksi.
“Agam? Kau dengar ucapan ijabnya?” tanya penghulu.
Agam berkata bahwa dia mendengar. Namun, yang dirasakan orang-orang adalah hening.
Tidak ada jawaban. Indro masih menggenggam tangan Agam, dan menggerakkannya perlahan.
Dia khawatir jika mengucapkan sesuatu di luar akad, akan membatalkan akad yang dia ucapkan. Matanya melirik ke arah Inge, tapi istrinya ini juga tak kalah cemas.
Maka dia pun menunggu sampai Agam menjawab ijabnya, tanda menerima pernikahannya dengan Alma.
“Agam?” tanya penghulu lagi, kali ini sambil menepuk bahu Agam. Agam tetap menunduk bahkan semakin dalam.
Alma melirik sinis pada calon suaminya. Bahkan ketika akad nikah, dia tidak punya keberanian untuk mengucapkannya.
“Dasar, penjual ikan!” maki Alma dalam hati.
Di belakangnya mulai terdengar gumaman dari keluarga besarnya yang menanti Agam menjawab ijab dengan kabulnya. Penghulu sampai mematikan pengeras suara agar usahanya menyadarkan Agam yang tampak tidur tidak terdengar ke seluruh ruangan.
Indro perlahan melepas tangan Agam. Ada yang aneh pada calon menantunya ini.
“Tangannya dingin,” bisiknya pada penghulu.