Kerasukan

1074 Kata
  “Mungkin dia sangat gugup,” balas penghulu, yang masih berusaha memanggil nama Agam, kali ini sembari menepuk lengannya yang tetap dalam posisi bersalaman padahal Indro Kusumo sudah melepaskan jabat tangannya.   Kedua kakak Alma mendekat ke panggung tempat akad nikah diselenggarakan. Suasana menjadi menegangkan dan mulai sedikit heboh. Panitia berlarian menuju panggung, mengikuti kedua kayak Alma.    “Pengantinnya mati.” Terdengar ucapan salah seorang kerabat, yang disambut gumaman tak percaya. Tapi melihat posisi duduk Agam yang semakin menyungkur kepala di atas meja akad, membuat spekulasi itu menular ke semua hadirin.   Bahkan beberapa kerabat yang sejak awal mulai merekam momen akad nikah dengan ponsel mulai menghentikan proses rekaman dan mengirim video ke grup-grup keluarga, dengan caption : saat akad nikah, maut menjemput.   Panitia berlarian memanggil tenaga medis Hotel Maripot. Tak ada yang bisa dilakukan Indro, penghulu dan kedua anaknya, juga Alma. Selain diam menatap Agam yang masih menunduk di atas meja.   Alma menatap punggung Agam, yang digoyang-goyang kakaknya--berusaha untuk membangunkan. Tapi lelaki itu hanya terdiam.   “Apa dia mati, Pak?” tanya Penghulu pada Indro.   Indro tidak bisa menjawab, karena dia pun tak tahu apa-apa, selain tangan Agam yang sedingin es. Dalam hatinya menduga demikian, tapi dia tak berani mempertaruhkan muka di hadapan kerabatnya.    Hotel ini sudah disewanya, dan undangan sudah siap menghadiri pesta. Membatalkannya karena calon pengantin lelaki mati, sungguh berita buruk yang dia tak pernah memimpikannya.   “Tadi dia bilang …” desis Alma dengan wajah pucat.   Apakah ucapan Agam tadi adalah firasat bahwa dia akan mati. Bahwa mereka tidak akan berlama-lama menikah, cukup sebentar saja.   “Apa? Dia bilang apa?” tanya Indro panik melihat wajah putrinya yang pias, bukan lagi karena make up. Tapi karena ketakutan, kecemasan dan perasaan lain yang bercampur aduk.   “Brrrrr! Grouhhdkd! Wkdaljjddd!”   Tiba-tiba tubuh Agam kelonjotan seperti orang kerasukan, tangan dan kakinya bergerak tidak terkoordinasi. Menendang meja akad nikah hingga membuat Indro yang diseberangnya terjengkang.   Lalu kedua tangannya mengibas meja seperti boneka angin di depan Hotel Maripot, hingga berkas-berkas di meja berhamburan.   Dia menegak, rebah ke depan. Menegak lagi, rebah ke belakang. Berdiri, lalu duduk lagi. Orang-orang di sekelilingnya sampai ketakutan melihatnya.   “Dia kerasukan!” ucap kayak Alma, lalu menarik pundak Agam untuk duduk.   Tak disangkat Agam pun duduk tegak dengan tenang. Indro menatapnya, memastikan bahwa Agam tidak lagi kerasukan. Kakak Alma menarik napas lega, lalu merapikan kopiah dan jas calon adik iparnya.   Suasana kembali tenang, membuat penghulu yang semula masih shock melihat kejadian absurd di depannya, mulai merapikan berkas dan memulai kembali akad nikah.   “Baiklah, semua siap?” tanya penghulu sekali lagi sembari memindai setiap wajah di depannya.   Agam mengangkat kepala dan menatap penghulu yang berusaha tersenyum ke arahnya. Lalu menatap calon mertuanya yang masih menelan ludah berkali-kali. Menoleh ke arah Alma yang masih mendelik padanya dengan muka pucat.   “Aku ada di mana?” tanyanya tanpa dosa.   Sontak teriakan dari belakang Agam membahana di Ballroom Hotel Maripot.   “Kamu sedang kawin, Agaaam!”   “Lupa diri dia habis kerasukan!”   “Pengantin kesurupan!”   Agam kebingungan, membalik badan ke belakang dan mendapati semua orang menatapnya dengan ejekan. Ada apa dengan orang-orang berpakaian aneh itu? Agam kembali membalik badan, menghadap tiga orang yang menatapnya tak berkedip.   “Kalian siapa?” tanyanya tanpa merasa berdosa.   Penghulu yang yakin Agam telah kesurupan, berusaha dengan bijak memegang tangan Agam.   “Agam, kamu akan menikahi Alma. Wanita cantik di sebelahmu ini. Bila kau sedang kacau,  istighfar dulu. Bila kau belum siap, kami akan menunggu. Bagaimana Agam?”   Agam mengernyit kening. “Agam? Siapa Agam?”   Indro mendelik geram. “Kamu itu Agam!”   “Aku bukan Agam. Aku Adjie.”   “A, Agam, kamu ...,” Alma benar-benar kaget.   Dia sama sekali tak menyangka, jika Agam pura-pura amnesia, untuk mempermalukan dirinya pada ijab kabul.   “Kamu sudah minta maaf sama aku, tadi! Aku pikir, masalah kita selesai!” teriak Alma kesal.   Namun, dia tak mau repot-repot. Bodo amat! Setidaknya, Agam yang bau ikan ini menolak menikah dengannya.   Jadi, dia rasa tidak perlu repot-repot mencari penjepit hidung hanya karena ingin terhindar dari amisnya fillet ikan setiap hari. Bukankah itu menyenangngkan.   Namun, dia tiba-tiba merasa masygul. Bagaimana pun, terlalu banyak yang merekam kejadian Agam yang mengaku-ngaku Adjie ini.   Bagaimana jika setelah itu viral, dia malah ditertawakan? Dan pada akhirnya olok-olok gadis pincang tak laku semakin melebah di telinganya.   “Agam, dengarkanlah dulu. Aku ...,”   “Jangan mendekat Nisanak! Tetep di situ, atau jurus Kancil Mencuri Ketimun milikku akan melibasmu!” peringat Adjie.   Kolega-kolega Indra Kusumo, yang diundang ke sana, tertawa terpingkal-pingkal. Sementara Adjie, dia malah terbengong.   Apa yang lucu dengan jurusnya? Setahunya, itu adalah jurus mematikan yang ia punya.   Tentu saja, Adjie tidak tahu, bahwa pada era sekarang, ‘Kancil Mencuri Ketimun’ adalah dongeng, yang kerap didendangkan pada anak taman kanak-kanak. Dia bukanlah sebuah jurus sakti mandraguna.   Adjie sendiri merasa aneh, kenapa dia mengenakan pakaian yang belum pernah ia lihat. Rasanya panas, sehingga dia membuka beberapa kancing baju tersebut.   Membuat tubuhnya yang indah mengundang decak kagum beberapa tamu wanita.   “Wuih, calonnya Alma. Dadanya bidang banget. Kayaknya enak buat sandaran!”   “Astaganaga! Boo’, bulu dadanya seksi banget!”   Adjie masih tak sadar dengan tingkahnya yang membuat heboh. Malahan, dia lepaskan lagi satu kancingnya.   “Hei, hei, Nak Agam!”   “Saya Adjie, Kisanak,” tolak Adjie pada penghulu.   Penghulu itu melongo sejenak, namun dia masih sanggup berkata. “Jangan buka-bukaan di sini, Nak Agam. Malu! Itu kado rahasiamu untuk Nak Alma!”   “Siapa itu Alma? Apa itu kado?”   “Gam! Kamu jangan kelewatan!” kata Alma.   “Diam kamu, Nisanak bermata indah!”   Ballroom Hotel Maripot benar-benar heboh. Panitia acara akad nikah Alma dan Agam benar-benar panik, berusaha menenangkan keluarga besar Indro Kusumo yang mulai bangkit dari kursi masing-masing, hendak menuju panggung akad nikah.   “Dasar lelaki sinting, sudah mau kawin, eh ngaku orang lain!”   “Pura-pura itu, mau mengeruk hartamu itu, Ndro!”   “Orang melarat memang begitu!”   “Pasti ini ulah ibu asuhnya dulu di panti. Sudah! Penjarakan saja, Ndro, lelaki sok amnesia itu!”   Bu Asih, pengasuh Panti Asuhan, tak percaya Agam yang selalu menjaga sopan santun, selalu menghormati dan menghargai siapapun, tiba-tiba nekad berulah yang membuat Indro Kusumo jelas kehilangan muka.   Akibatnya, tuduhan-tuduhan buruk dari keluarga besar Alma benar-benar memerahkan telinga.   Bu Asih bangkit dari duduknya, meski ditahan oleh ketiga anak asuhnya. Dia berusaha mencapai panggung, meski semua mata memandangnya dengan tuduhan bahwa dia telah berkonspirasi dengan Agam, membuat skenario yang akan mempermalukan Indro Kusomo dan keluarga besarnya.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN