“Agam!” panggil Bu Asih ketika dia sudah mendekat di panggung akad nikah, tempat Alma, ayah dan ibunya serta kedua kakaknya berada.
Dilihatnya Juga penghulu dan saksi yang tampak putus asa melihat Agam berdiri menjauh dari meja akad nikah. Mereka menatap lirih.
Suara panggilan Bu Asih membuat suasana hening seketika. Tatapan mata semua orang mengarah padanya, selaku ibu asuh Agam. Hanya dia yang bisa memahami tingkah laku anak asuhnya, karena dia yang membesarkan sejak kecil.
Agam menoleh pada Bu Asih, bukan karena panggilan yang asing di telinganya. Tapi karena semua orang menatap wanita sepuh dengan kebaya putih dan kerudung lebar yang diremasnya.
“Agam, jangan bertingkah seperti anak kecil!” ucap Bu Asih lembut. “Kau sudah mengambil keputusan terbaik dalam hidupnya. Duduklah, dan kita lanjutkan akad nikahnya.”
Agam menggeleng. “Saya bukan Agam. Aku Adjie. Kalian semua siapa? Dari kerajaan mana kalian? Kenapa pakaiannya aneh, seperti kekurangan bahan begitu,” kata Adjie garang.
“Kami dari kerajaan biqini batem! Sodaranya spongbob,” celetuk seorang panitia bertubuu cungkring, yang serta dijulidi oleh Inge, ibunya Alma.
Wajah Agam yang tampak kebingungan. Dia seperti orang asing yang tiba-tiba turun dari langit di tengah akad nikah yang belum sukses dilaksanakan--membuat kebingungan semua orang, apalagi Indro dan Inge, istrinya.
“Tuhan, kupikir tukang filet ikan itu orang yang penurut, tidak akan membuat masalah pada pernikahan,” desis Inge lirih.
Inge merasa kepalanya berputar-putar. Selain konde besarnya, dan masa merias berjam-jam untuk acara akad nikah ini sudah membuatnya sakit kepala, tingkah calon menantunya membuatnya nyaris putus harapan.
Dia tak ingin menanggung malu untuk entah keberapa kali. Sudah lebih dari hitungan jemari di kedua tangannya, Alma gagal menikah.
Jangankan gagal menikah, gagal dilamar pun tak terhitung oleh semua jemari di tubuhnya. Dia menyadari, anak gadisnya pincang, meski itu tidak mengurangi kecantikannya.
Tapi semua lelaki manapun di dunia ini pasti menginginkan gadis yang sempurna. Termasuk Agam, meski dia hanya penjual ikan filet.
Inge bangkit dari duduknya, mendekati Agam. Indro mengikuti istrinya.
Agam yang didekati kedua orang yang tampak asing di matanya itu, melangkah mundur hingga ke backdrop, membuat beberapa buhul bunga lepas dari ikatannya.
“Mau apa kalian?” tanya Agam tak mengerti.
Dennis, si sulung Indro yang mendapat warisan sebuah pabrik sepatu, hanya cengar cengir melihat tingkah Agam. Dia sudah menduga, anak yatim piatu itu memang tidak siap untuk menjadi bagian dari keluarga kaya, Kusumo.
Sekali miskin, tetap miskin. Sekali jualan ikan, mana mungkin bisa merambah komputer--sebuah perusahaan milik Indro yang kelak akan diwariskan pada Alma.
Mareta, kakak kedua Alma, melirik kakaknya. Sejak awal, dia tak pernah setuju Alma dinikahkan dengan Agam.
Meski dia sudah bersuami, tapi matanya tak bisa berkedip bila melihat Agam mengantar ikan ke rumah ibunya. Sempurna, menurutnya.
Badan yang jangkung, tubuh bidang, dengan bisep trisep yang proporsional,. Lelaki itu benar-benar perfecto fisiknya, tidak seperti suaminya yang kerempeng dan berkacamata tebal.
Dia kerap mencandai Agam, berharap lelaki itu mau sedikit tersenyum padanya. Dan biasanya memang demikian.
Lesung pipit Agam, benar-benar memukau Mareta. Dia tak rela si pincang Alma mendapatkannya.
Karena Alma tak tahu cara menghargai lelaki tampan. Sudah puluhan lelaki kabur darinya, hanya karena lidahnya yang setajam silet.
Mareta bahkan berencana menjadikan Agam sebagai pria simpanannya. Dia akan membayar untuk jasa kehangatan Agam, dan dia yakin Agam tak akan menolak.
“Agam, tolong dengarkan aku, please,” pinta Inge ketika jaraknya tinggal lima langkah lagi dari Agam.
Agam tampak sibuk memperhatikan dirinya, seolah baju yang dipakainya sekarang bukan miliknya. Dia tampak tidak nyaman dan berusaha membuka kancing jasnya.
“Kau siapa? Apa Anda ratu penyihir dengan konde aneh? Saya tidak kenal siapapun di sini,” jawab Agam.
Inge terdiam. Sejenak dia memegang konde, yang merupakan custom dari pengerajin luar negeri. Semua orang memuji kondenya, dan Agam malah mempermalukannya dengan konde ini.
“Agam …” panggil Indro dengan wajah tak kalah memelas dari istrinya.
Dia sedikit lemot menangkap kenapa istrinya bergegas mendekati Agam yang seolah akan meninggalkan tempat.
Ya, mereka tidak boleh kehilangan calon menantu. Setelah ini, bisa jadi seumur hidup tak ada yang mau menikah dengan Alma.
“Adjie. Saya Adjie. Bukan Agam.”
Inge membuka kedua telapak tangannya ke atas. “Oke, Adjie. Mungkin kami tidak tahu nama kecilmu. Tapi, kumohon jangan tinggalkan anakku. Please, Agam.”
“Adjie.”
Inge mengangguk-angguk, disertai Indro di belakangnya yang merengkuh bahu istrinya menguatkan. “Oke, Adjie, kami sudah menjanjikan perusahaan buatmu. Jadi, penuhi janjimu untuk menikahi Alma.”
Agam atau Adjie mengikuti arah pandangan Indro pada wanita yang sejak awal duduk di sampingnya. Mata Agam bertatapan dengan mata lentik Alma Naila.
“Hm, cantik juga Nisanak ini,” batinnya, lalu melempar senyum. Namun senyumnya seketika menghilang ketika wanita cantik itu membuang muka kesal.
‘Kurang ajar sekali dia! Berani-beraninya dia membuang muka pada paduka pangeran sepertiku!’ Adjie sedikit kesal, karena dicampakkan oleh Alma.
“Kalian apanya dia?” tanya Agam yang mengaku Adjie sembari menunjuk pada Alma.
“Kami ayah dan ibunya. Kami ingin kamu menikahinya.”
Adjie, yang sekarang berada dalam tubuh Agam, melihat sekeliling. Dekoran bunga-bunga yang begitu semerbak ini mirip dengan rangkaian dekor pada saat momen pernikahan kerajaan.
Adjie menjadi bingung. Setahunya, tubuhnya hampir saja terkena senjata Angkie. Namun, kenapa dia sekarang berada pada sebuah pernikahan, dengan busana yang sudah berganti pula. Bukan lagi busana untuk berburu.
“Anakku cantik, Nak Adjie! Coba pandangi dia! Dia hanya sedikit jutek,” promo Inge.
Adjie tak tahu, apa itu jutek. Namun, dia turuti saja kehendak Inge.
Dia menatap seperti pangeran yang menatap anak dara. Cantik sekali. Di kerajaannya, bahkan tidak ada yang secantik Alma ini.
Namun, Alma lagi-lagi melengos. Juteknya pool, seperti bon cabe terpedas.
Agam mendecih. “Mohon maaf, sepertinya dia tidak suka pada saya. Barusan dia membuang muka, saat melihat saya. Mana mungkin saya menikahi wanita yang tidak suka pada saya.”
Indro membalik badan, lalu menggamit lengan anak gadisnya hingga berdiri di hadapan Agam.
“Aku tahu, kau akan membuat aku malu untuk keseribu kali, Alma,” geram Indro. “Apa yang kau katakan padanya hingga dia berubah pikiran untuk menikahimu?”
“Dia kan memang bau ikan asin. Salah aku apa ayah? Nothing!” ucap Alma tanpa merasa bersalah.
Melihat Agam yang seolah hendak lari dari akad nikah, tak urung terbentik rasa senang di dadanya, karena tidak akan menjadi istri penjual ikan filet. Namun, dia cemas juga, karena olok-olok gadis tua akan semakin menghampirinya.
Inge mendelik, lalu mencekal lengan Alma dan ikut mengancam. “Dia calon suamimu.”
“Baru calon, kan, Bu!”
“Diam! Bahkan kau harus menyembah dia karena dia pemimpinmu. Sekarang juga, minta maaf padanya, minta dia menikahimu. Kau kira ada lelaki yang mau mengawinimu setelah apa yang kau lakukan hari ini?”