“Ibu keterlaluan!” teriak Alma tertahan. Bagaimanapun, dia tahu ini khalayak, tak patut berteriak barbar seperti di hutan.
“Kamu yang keterlaluan. Sudah pincang, masih belagu pula. Kamu sudah aku pilihkan yang ganteng, lho, macam Nak Agam ini,” kata Inge murka.
Dan rasanya ini sebuah pecutan bagi Alma. Sungguh, dia tak menyangka ibunya sendiri merendahkannya seperti itu.
“Kenapa memangnya kalau saya pincang? Ibu dan Ayah tidak mau mengurus Alma lagi, kalau Alma jadi perawan tua, karena pincang!”
“Iya, aku tidak mau mengurus lagi. Aku tidak mau mengurus anak tak tahu diri, yang tingkahnya macam anak TK, sekehendak hatinya!” kata Inge berapi-api.
Sekali lagi, Alma terluka. Sungguh, dia tak menyangka jawaban Inge akan begitu.
“Ibu jahat!” desis Alma.
“Kamu tuh, yang jahat!” sangkal Inge sudah gelap mata.
“Bu, sabar, Bu! Jangan begitu!” tegur Indro pada istrinya ini.
“Oh, tidak bisa! Aku ya emosi, Pak. Anak kita sudah bertingkah kurang ajar, macam kakinya normal saja!”
Mareta yang melihat drama epik lebay ini terjadi hanya tertawa sinis. Dia geleng-geleng kepala.
Mareta mendekati Dennis. Mereka berdua mengamati saja dari kejauhan bagaimana kedua orang tua mereka memaksa si ketus Alma untuk membungkuk-bungkuk di depan Ajie.
“Banting harga dia sekarang,” celetuk Mareta, sementara matanya tak lepas dari d**a bidang Agam yang kedua kancing baju dalam jasnya sudah terbuka. Lelaki itu kegerahan, dan membuat Mareta menikmati pemandangan indah itu dari kejauahan.
“Biarkan, sekalian saja tidak usah kawin gadis pincang itu. Cukup jadi sampah saja,” bisik Dennis. “Aku tak rela perusahaan Kusumo berada dalam genggamannya. Bisa hancur bangkrut tak bersisa. Aku yakin tak ada keluarga Kusumo yang bersedia. Lihat saja.”
Dennis dan Mareta memindai ruangan yang mulai kisruh. Para kerabat tak lagi duduk rapi dan khidmat di tempat semula. Semua sudah berseliweran dan riasan mereka mulai berantakan. Agam benar-benar sukses membuat semua menjadi kacau hanya dalam hitungan menit.
Inge dan Indro mendorong bahu Alma hingga wanita itu hanya berjarak selangkah saja dari Agam yang menatapnya seolah tak pernah bertemu sebelumnya. Asing dan aneh.
“Minta maaf, Alma!” desak Inge.
Alma menghela napas panjang, meredakan gemuruh marah di dadanya. Dia tak berkutik, selain harus memenuhi keinginan orang tuanya.
“Agam, aku …”
“Adjie.” Agam yang mengaku Adjie, berkacak pinggang di depan Alma. Dia mulai merasa bahwa ketiga orang di hadapannya benar-benar membutuhkannya untuk tidak pergi dari sini.
“Baik, Adjie. Aku minta maaf atas semua kata-kataku tadi. Kamu harum, kamu wangi. Kamu tidak pernah bau minyak asin. Hidungku yang salah selama ini. Kamu juga tampan, ganteng, mempesona dan membuatku tersanjung. Kamu tidak pucat seperti mayat. Mataku yang salah selama ini.”
“Saya?” tanya Adjie pada Alma. “Bau ikan asin dan seperti mayat? Hm, kalau begitu tempat saya bukan di sini.”
“Tidak Adjie, jangan pergi!”
Alma tahu-tahu memeluk kaki Adjie, membuat langkah Adjie terhenti. Indro dan Inge juga melakukan hal yang sama padanya.
Membuat Adjie tiba-tiba menyadari bahwa dia tidak berada di dunianya. Dunia di mana dia menjadi Pangeran dan pengawal serta dayang kerap membungkuk padanya.
Dia berada di dunia yang tidak dikenalnya. Dan orang-orang ini, menyadari bahwa dia adalah seorang Pangeran yang patut disembah.
“Adjie, menikahlah denganku. Jangan lari dariku, jangan pergi dari pernikahan ini. Kau tahu, aku adalah wanita yang tak akan sanggup menanggung malu. Jangan pergi dariku, menikahlah denganku. Jadilah suamiku.”
Adjie menunduk, menatap sepasang mata lentik milik Alma yang memohon padanya, sembari memeluk kakinya. Juga orang tua Alma yang bersimpuh di belakang anaknya, menangkup kedua tangan, memohon dengan kalimat yang sama.
Adjie berpikir sejenak. Dia seorang Pangeran. Menikah bukan hal yang sulit baginya, bahkan bisa beberapa perempuan sekaligus.
Mengawali dengan satu perempuan cantik yang memohon menjadi istrinya, sepertinya akan menguntungkan baginya. Setidaknya dia akan mengetahui di mana dia berada sekarang.
“Baiklah, jika memang itu permohonanmu, aku kabulkan.”
Ketika orang itu seketika bersujud di depan Adjie. Adjie hanya mengendik bahu melihatnya, meski di istananya dia kurang suka bila pelayan melakukannya di hadapan Raja atau Pangeran.
“Terima kasih Agam. Kau sungguh murah hati,” ucap Inge dengan air mata berderai dan merusak riasannya.
“Tapi dengan satu syarat. Namaku Adjie. Bukan Agam.”
Pembawa Acara berusaha membuat suasana menjadi kondusif kembali, ketika Agam mau digamit lengannya oleh Indro menuju meja akad nikah. Sementara Inge yang sudah kacau balau wajah dan riasannya, dirapikan oleh perias pengantin. Demikian juga Alma.
Beberapa panitia sibuk mengatur kembali tempat, meminta semua tamu undangan untuk duduk kembali. MC sudah memastikan bahwa akad nikah akan dilanjutkan, setelah Indro memberi tanda jempol ke arahnya--menunjukkan bahwa dia sudah membereskan masalah genting ini.
Keluarga Kusumo, tak pernah gagal menghadapi dan menyelesaikan masalah. Kalau tidak, mana mungkin bisa memiliki beberapa jenis perusahaan yang dikelola oleh beberapa kerabat mereka. Pernikahan ini akan meramaikan media cetak dan elektronik besok pagi, Indro tak ingin mempertaruhkan reputasinya hanya karena kekonyolan Alma dan Agam.
Dua orang itu memang menikah bukan atas dasar cinta, apalagi suka. Tapi perjodohan itu harus terlaksana, karena Indro tak mau lagi menanggung malu berkepanjangan.
Cinta bisa tumbuh setelah menikah, sebagaimana Indro dan Inge dulu. Juga Dennis dan Mareta. Buktinya anak-anak terlahir dari pernikahan mereka.
Penghulu menatap Agam yang kini mulai memudah kebingungannya. Dia masih kurang yakin dengan Agam yang sekarang mengaku Adjie.
Sepertinya isi kepala calon pengantin pria itu telah berubah sejak dia kerasukan tadi. Untuk itu dia ingin memastikan.
“Kita harus latihan dulu sebelum ijab kabul. Bagaimana Agam, kau siap?” tanya penghulu menatap Agam penuh harap, sembari memanjatkan doa agar kali ini lelaki ini tidak kabur darinya lagi.
Agam mengangkat dagu ke arah Indro dan mengarahkannya ke penghulu. Kesepakatan pernikahan ini adalah …
“Namanya Adjie, Pak Penghulu,” ucap Indro mengkoreksi sembari menunjuk berkas di hadapan penghulu. “Tolong diganti namanya. Adjie.”
Penghulu meski terheran-heran, kenapa nama bisa berganti seperti membalik tangan dengan mudah saja. Padahal ganti nama panjang urusannya di KUA dan sertifikat ganti nama tidak bisa keluar dalam hitungan detik.
Tapi, bukan Indro namanya bila tidak bisa membereskan itu semua dengan uang. Penghulu merasakan cubitan di dengkulnya ketika Indro menatap ke arahnya, memerintah dengan mata keriputnya, untuk membereskan semuanya.
Penghulu mengangguk. “Oke, kita latihan dulu.”
Denis dan Mareta kembali duduk di tempatnya semula. Tiba-tiba saja p****t mereka yang menjadi panas, melihat akad itu akan tetap terlaksana.
Mareta melirik suaminya yang sedang memangku anak pertama mereka. Lelaki bermuka bulat dan berkaca mata itu, semakin gendut saja setiap hari, segendut dompetnya.
Tapi, dia tidak membuat dadanya bergetar seperti melihat Agam. Mareta mengibas rambutnya.
Ah, sudahlah, batinnya kesal. Toh setelah ini aku bisa melihat Agam lebih sering dari biasanya. Lumayan buat cuci mata gratis.
Prosesi pernikahan belum dimulai, karena Adjie harus mengulang beberapa kali kalimat yang ditirukannya dari penghulu. Akhirnya akad nikah pun berhasil dilaksanakan setelah lebih dari lima kali latihan.
“Bagaimana? Sah?” tanya penghulu.