“Saaaaaah!” seru kedua saksi, diikuti oleh semua hadirin.
Indro mengucap Aamiin begitu keras pada setiap kalimat doa yang diucapkan oleh penghulu. Dia begitu lega, akhirnya Alma menikah, meski terlebih dulu ada drama yang membuatnya nyaris kehilangan muka.
Dan mimpi buruk bagi Alma itu dimulai. Dia tak bisa bayangkan, bagaimana suramnya harinya bersama lelaki bernama Agam, yang sekarang pura-pura b**o, dan merasa namanya Adhie ini.
Alma melirik suaminya yang kini bernama Adjie. Dia merutuk dalam hati, atas itikad Agam alias Adjie tadi hendak meninggalkannya di depan penghulu, dengan aksi drama-nya yang sama sekali tidak lucu. Pura-pura amnesia atau kesurupan entahlah.
Dan kenapa baru sekarang dia mengaku bernama Adjie? Apa karena nama Agam lebih keren dari Adjie? Sedangkan saat akad nikah harus memakai nama asli.
Sementara itu, Bu Asih menyusut sudut matanya yang menitik air. Sedikit. Padahal dia sudah membawa segebok tissue, bersiap-siap untuk menumpahkan air mata.
Terharu, karena akhirnya Agam menikah dengan seorang wanita terhormat dari keluarga kaya. Hidupnya akan lebih baik dari sebelumnya. Dia akan bekerja di perusahaan Indro Kusumo, donatur utama Panti Asuhan mereka. Tidak lagi berjualan filet ikan berdasarkan pesanan.
“Bu, memang nama Mas Agam dulunya siapa?” tanya salah seorang anak asunya.
Bu Asih menggeleng. “Entahlah. Mungkin itu nama yang dia ingat saat sebelum masuk Panti Asuhan. Ibu yang memberinya nama Agam.”
Jadi, tidak ada lagi yang mempermasalahkan nama Agam atau Adjie, yang penting dua insan di panggung akad itu sudah sah menjadi suami istri.
Saatnya penyerahan mahar. Anak asuh Bu Asih mendekat, membawa kotak cincin dan seperangkat alat sholat yang dihias di sebuah keranjang cantik. Dia menyerahkan kotak cincin pada Adjie.
Adjie menerimanya, tak mengerti. Kotak itu dibolak baliknya, dan perbuatannya dihentikan oleh penghulu. Penghulu mengeluarkan cincin dari dalam kotak dan menyuruh Adjie memasangnya di jemari Alma.
Adjie menganguk-angguk mengerti. Dia meraih tangan Alma dan memasukkan cincin itu ke jempolnya. Alma mendelik, tapi malas mau protes. Adjie mencobakan ke semua jari, dan akhirnya cincin itu masuk ke jari manis Alma.
Indro dan Inge geleng-geleng kepala melihat Adjie. Tapi ketika Adjie menoleh, mereka mengembang senyum terpaksa.
“Sekarang, Alma silakan mencium tangan Adjie.”
Alma terdiam, merasa berat hati melakukannya. Namun Inge bergegas mengangkat tangan Alma dan menyatukannya dengan tangan Adjie. Lalu mendorong kepala bagian belakang anak gadisnya dan menahannya selama mencium tangan suaminya.
Kilatan blitz dan bunyi kamera merajai keheningan.
“Saya akan membahagiakan kamu, Alma Naila. Dan akan memberimu banyak anak.” ucap Adjie sembari senyum-senyum. Banyak anak banyak rejeki, dia ingat betul pesan ibunya. Sayang sekali, ayah dan ibunya tidak menyaksikan pernikahannya.
Alma meringis dalam hati. Banyak anak? Lihat saja nanti, kau tak akan bisa menyentuhku satu centi pun.
Rupanya ucapan Adjie didengar oleh salah seorang kerabat yang mengambil gambar di dekat pengantin. Lelaki yang membawa kamera itu kembali ke tempat duduk para kerabat dan menunjukkan video saat Alma mencium tangan Adjie.
“Tidak usah sok romantis, mas kawin saja dari mengutang!” teriak seseorang dari deretan kerabat Alma.
Suasana menjadi ricuh, gumaman dan tawa cekikikan. Dennis dan Mareta saling melirik dan tersenyum sinis.
Akhirnya ada juga kerabat mereka yang berani bicara. Indro Kusumo dan Inge Kusumo selama ini seolah tak melihat strata sosial Agam yang jauh di bawah mereka. Adalah Alma ada yang mengawini, maka tidak ada masalah.
“Kalau mau, Alma mending jadi istri kedua kolegaku. Lebih terhormat karena pasti dikasih mahar salah satu villa milik dia,” gumam Dennis.
Mareta hanya melengos. Dennis tak pernah tahu, kadang wanita tak butuh harta untuk ukuran kebahagiaan.
Para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan. MC mengarahkan beberapa untuk pengambilan gambar di panggung akad nikah. Tapi lebih banyak yang tak peduli, langsung menuju meja prasmanan.
Bu Asih merasa tidak nyaman dengan celetukan salah seorang kerabat Alma. Dia berhasil menemukan orangnya, sedang tertawa-tawa dengan beberapa kerabat yang lain, memperlihatkan hasil bidikan kameranya. Rupanya sejak tadi dia mengambil semua momen drama pernikahan Alma dan Agam alias Adjie.
“Mohon maaf, bapak. Ucapan bapak tadi kami merasa kurang pantas, sebagai pihak keluarga Agam.”
Bapak berkalung kamera itu melirik Bu Asih sinis. “Memang dia ngutang ke saya beli cincin emas itu. Saya gak salah.”
“Iya, tapi bapak tidak perlu mengumbar kata-kata itu di sini,” tegur Bu Asih lembut. “Bapak bisa menagihnya nanti bila sudah selesai acara.”
“Halah, iya kalau bayar kontan. Kalau nyicil sampai lima tahun?” seru bapak itu sembari mengencangkan suaranya.
Bu Asih berusaha menahan emosi. Dia tak terima anak asuhnya direndahkan. Namun belum sempat dia membalas ucapan bapak itu, tiba-tiba Mareta menggamit lengannya.
“Sudahlah, Bu. Agam itu memang melarat. Kawin dengan Alma biar naik mobil saja kan?” ucap Mareta sembari mencibir. “Kasihan tidak pernah naik mobil.”
“Bu Asih, anda itu ya … kok bisa betah dengan bau amis si Agam. Bau ikan asiiin!” seru Dennis yang disambut tawa beberapa kerabat.
Bu Asih merasa matanya memanas. Anak asuhnya benar-benar direndahkan di hadapan manusia-manusia berduit di hadapannya.
Padahal Indro dan Inge yang memohon-mohon padanya untuk menikahkan Agam dengan anaknya, sama sekali tidak pernah menyinggung masalah harta dan kekayaan.
Alma yang sedang berfoto bersama suaminya merasa mukanya terbakar karena malu. Dennis dan Mareta benar. Mereka yang paling menentang keputusan Indro dan Inge untuk menikahkan Alma dengan Agam. Seperti menyatukan langit dengan tanah, kata mereka. Mustahil.
Tanpa diduga Alma, Agam alias Adjie, tiba-tiba turun dari panggung pemotretan dan menuju Bu Asih yang sedang diolok-olok oleh Dennis, Mareta dan kerabat Alma. Wanita sepuh itu hanya bisa mengusap air mata dengan ujung kerudungnya.
“Mohon maaf, anda berdua. Anda sudah membuat ibu ini bersedih.” Adjie merengkuh bahu Bu Asih lembut. “Anda sebaiknya tidak melakukannya pada orang yang lebih tua. Orang yang lebih tua harus dihormati dan dihargai.”
Dennis dan Mareta menatap Adjie, lalu terpingkal-pingkal. Membuat Adjie semakin heran dibuatnya.
“Dasar pedagang ikan!” celetuk kerabat yang lain.
“Mohon maaf, anda berdua. Anda sudah membuat ibu ini bersedih.” Dennis menirukan gaya bicara Adjie yang lembut sembari menambahkan gerakan gemulai dengan tangannya. Sontak lawakannya membuat beberapa kerabat terpingkal-pingkal.
Adjie mengerut kening tak mengerti. Kenapa lelaki di depannya meniru gayanya tapi lebih mirip perempuan.
“Mohon maaf, anda sudah berlaku tidak sopan pada ibu ini.”
Dennis kembali menirukan ucapan Adjie dan memeragakannya lebih gemulai lagi. Bu Asih tak tahan untuk menumpahkan tangis di bahu anak asuhnya. Dia tak habis pikir, kenapa Agam bisa menjadi selembut ini, hingga dijadikan bulan-bulanan kakak iparnya.