Lelaki Norak

1111 Kata
  “Ayo!” ajak Indro pada menantunya, sengaja dibaik-baikkan agar Adjie tidak kabur berlarian, yang akan membuat dia malu lagi.   Indro tahu, para kerabatnya yang melihat dari kejauhan sedang menanti aksi Adjie. Setelah berpura-pura mengaku bukan Agam, ogah menikah, lalu apa lagi?   Pikir mereka, pasti Adjie akan kabur. Dan mereka akan menahan tawa, lalu berakting menghibur Indro. Padahal, dalam hati mereka bersorak: Kasihan! Sudah anaknya pincang, sombong, kini menantu barunya dibuat amnesia oleh anaknya!   “Bye, Indro!”   Indro menoleh ke belakang, melihat beberapa kerabat melambaikan tangan sok manis. Lelaki itu hanya tersenyum kecut.   Dia lirik Adjie. Sumpah demi apa, wajah lelaki muda itu menegang. Indro makin khawatir.   “Ayo, Nak! Sudahlah, jangan dianggap hati kata-kata Alma. Yang sudah, ya sudah ya!” bujuk Indro.   “Tidak!” kata Adjie laksana pangeran bertitah.   Indro mengernyitkan dahi. Apalagi drama yang akan disajikan oleh menantunya ini?   “Tidak kenapa?”   “Aku tidak akan masuk ke dalam kotak besi pencuci otak! Aku tahu, kalian akan memantraiku, supaya menerima Alma apa adanya. Bukan begitu?”   “Hah?” Indro melongo. Agaknya, Adjie ini penggemar filsafat, agak sulit untuk Indro mencerna maksud ocehan Adjie ini.   “Agam ...,”   “Aku Adjie, bukan Agam! Ingat, Orangtua!” perintah Adjie pongah.   “I, iya, Agam. Aku mengerti, maaf. Itu bukan kotak besi pencuci otak! Tenanglah!”   Adjie tertegun tanpa henti melihat sebuah benda berwarna putih mengkilat dengan empat bulatan di sekelilingnya, seperti roda tapi tampak lebih tebal. Adjie mengintip ke balik dindingnya yang terbuat dari benda tembus pandang.    Ada tempat yang bisa dibuat duduk di dalamnya. Benda putih itu berhias pita dan bunga di bagian luarnya. Mertuanya, Indro Kusumo membukakan pintu untuknya di tempat duduk bagian belakang.   “Apa ini?” tanya Adjie sembari menunjuk benda yang tampak ajaib di matanya.   “Mobil, naiklah,” ucap Indro sembari menyilakan dengan tangannya.   Adjie menyurut langkah. Tampak waspada sama seperti ketika Indro dan Inge memohon padanya untuk menikahi Alma.   Semua di depannya terasa begitu asing di matanya. Dan sepertinya benda di depannya ini berbahaya. Tertutup dan tampak pengap.   “Tidak!” kata Adjie. “Kalian ingin menyekapku?”   “Demi Tuhan, Agam!”   “Adjie! Saya bukan Agam!”   “Iya, iyaa, Adjie, Agam apa bedanya?”   “Orangtua! Jaga bicara Anda. Anda sangat merendahkan nama saya. Apa perlu saya titahkan Anda memanggil saya Pangeran Adjie Angger Tinarbuka Nilamcahya?”   Indro mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia melepas sepatu, lalu menghadiahkannya ke bibir Adjie. Seumur hidup, belum pernah dia direndahkan seperti ini.   “Saya ini mertua kamu. Apa perlu saya memanggil begitu?” kata Indro dengan suara bergetar.   Adjie terdiam sesaat. Sebagai pangaren yang punya tata krama, dia pikir dia memang sedikit berlebihan.   “Maafkan saya,” kata Adjie.   “Ba, baiklah Adjie, ayo naik ke mobil!” kata Indro membujuk.   Adjie masih berdiri mematung. Benda itu benar-benar menakutkan baginya. Bahkan, di depannya dia punya mata, seperti terbuat dari kristal atau berlian mungkin. Adjie tak tahu, jika itu adalah lampu mobil.   “Tidak!”   Inge yang sedari tadi memilih diam, akhirnya jengah. Dia berbisik pada Indro, “kamu urus dulu menantu luar biasa kamu itu. Aku mau masuk duluan!”   “Ini menantu yang kamu carikan, Inge! Siapa suruh cari menantu tukang ikan yang gampang geger otak, sok gila begitu!” Indro tak terima.   “Bodo amat! Kamu kepala keluarganya, yang paling malu kalau dia kabur, pastinya kamu kan?” bisik Inge kesal.   Adjie masih menunjukkan sikap waspadanya. Dan gilanya, dia malah dalam posisi kuda-kuda beladiri.   “Seraaang! Dia monster kuda besi, Agam!” terdengar seorang kerabat meneriakkan itu dari kejauhan. Jangan tanyakan, betapa malunya Indro.   Adjie tetap dalam posisi siaga. Tapi Inge, ibu mertuanya sudah lebih dulu membuka pintu bagian depan, masuk dan duduk di dalamnya.   Dia lalu menutup pintu dan tidak menoleh lagi. Tampak sekali riasan dan bajunya yang sekusut isi hatinya.   Hari ini benar-benar kacau. Para kerabat menggunjingnya di belakang, tapi tertangkap juga oleh telinganya.   Padahal semua juga sudah tahu bagaimana drama akad nikah itu terjadi, bahkan ada yang sudah ngeshare video lengkapnya di grup keluarga. Hal menyedihkan seperti itu tentu saja menjadi santapan menyenangkan yang ditambah bumbu-bumbu penyedap dan siap diedarkan ke seluruh penjuru dunia.   Indro tentu akan mengambil langkah taktis untuk menghentikan peredaran video memalukan itu. Bagaimana mereka bertiga memohon pada Agam alias Adjie untuk tidak meninggalkan Alma saat akad nikah. Benar-benar muka yang dicoret-coret spidol lalu dibanting ke tanah, masih diinjak-injak kuda lagi. Malu tak terhingga.   “Mas, cepat!” sergah Inge kesal, sembari menurunkan kaca mobil.   Suaminya masih saja berusaha menjelaskan tentang mobil berhias bunga yang akan mengantar anak dan menantu mereka ke rumah baru sang pengantin pada Adjie. Bahwa Adjie tidak perlu takut benda mewah itu akan menelannya dan membuatnya terkurung di dalamnya.   Setelah agak memaksa, mendorong-dorong bahu Adjie untuk masuk ke dalam mobil, Indro pun menyilahkan Alma yang sejak tadi menatap adegan menyedihkan di depannya sembari melipat tangan.    Kenapa Agam bisa menjadi setolol itu, melihat mobil saja seperti orang i***t. Pasti ada sandiwara yang sedang dia perankan, gara-gara Alma sudah membullynya saat sebelum akad.   Dan kini dia membalas dengan membuat dirinya menjadi lebih menyedihkan dari yang dibully-kan Alma padanya. Bukankah akan lebih membuat Alma menderita bila punya suami yang super i***t seperti Agam saat ini?   Para kerabat masih berbisik di belakang, bukannya mengantar sang pengantin pergi dengan lambaian tangan.   Akhirnya Inge menarik napas lega ketika mobil “Just Married” itu melaju meninggalkan halaman Hotel Maripot. Indro memang sengaja menggantikan sopir untuk mengantar anak dan menantunya menuju rumah mereka, karena dia juga ingin segera hengkang dari Hotel Maripot.   Tak tahan dengan pertanyaan dan sindiran kerabat tentang bagaimana bisa Indro menikahkan satu-satunya anak gadisnya dengan lelaki i***t macam Agam.   “Jangan sampai besok berita ini muncul di koran,” keluh Inge kesal sembari memijit pelipisnya.   Dia bahkan tak bisa menumpahkan air mata meski kesedihan membelitnya. Omongan para kerabat di belakang punggungnya benar-benar membuatnya serasa dikemplang berkali-kali.   Indro melirik ke kaca tengah yang menampilkan pemandangan di bangku belakang. Alma yang menempel ke kaca, berusaha menjauhi Adjie. Nyata sekali dia tampak tidak nyaman berada di dekat suami anehnya.   Sementara Adjie, semakin aneh saja sikapnya. Seperti orang yang tidak pernah duduk di mobil. Oke dia memang tak punya mobil, tapi masa tidak pernah naik angkot?   Adjie berubah posisi duduk puluhan kali. Miring ke kiri, kanan, selonjor, jongkok, menekuk kaki dan tangan. Pendeknya semua posisi seperti monyet kepanasan.   “Norak!” celoteh Alma, kesal melihat tingkah katrok Adjie.   “Apa itu Norak, hah! Aku tahu, norak itu pasti makian buatku. Betul begitu, Nisanak?” titah Adjie ketus.   “Norak itu ....”   “Alma, diamlah! Jangan memperburuk keadaan!” Indro memotong omongan Alma.   Alma diam. Dan Alma akhirnya membuang pandangannya ke luar mobil selama perjalanan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN