“Oh, ini gerbang istana kalian? Tampak seperti jeruji penjara!” seloroh Adjie tanpa dosa.
Wajahnya yang semula santai, kini menegang kembali. “A, apa kalian hendak memenjarakan aku! Oh, oh, kalian sudah macam-macam dengan pewaris tahta Nilamsuryo!”
“Noraaaaak!” teriak Alma benar-benar lepas kontrol. Dia tak peduli, jika Indro akan menegurnya kembali.
“Heh, Nisanak! Kenapa Anda menjadi tidak sopan, meneriaki begitu? Nisanak lupa, jika Nisanak sudah bersujud-bersimpuh memohon saya menjadi suami Nisanak,” ejek Adjie.
Alma terdiam. Kejadian memalukan itu diungkit lagi oleh Adjie.
“Heh, kamu tahu itu aku terpak ...,”
“Ehem!”
Indro sudah lelah berkata-kata. Hanya dehemannya saja terdengar kuat, berharap Alma sadar dengan kode itu.
Alma meraup Oksigen serakusnya, lalu dia alihkan pandangannya ke samping lagi, menatapi taman mediteranian rumahnya yang mulai terlihat.
“Tanaman apa itu?” tanya Adjie melihat beberapa tanaman impor mediterania yang merimbun di tamannya.
“Hm ... itu ada palem, zaitun, rerimbunan rosemarry dan lavender,”
“Oh, obat nyamuk! Bahkan kalian menjadikan obat nyamuk sebagai taman? Luar biasa!” kata Adjie antusias.
Inge dan Indro hanya saling melirik, tak bisa membayangkan bagaimana malam pertama anak gadis mereka dengan lelaki macam Adjie yang seolah tiba-tiba kehilangan ingatannya sebagai manusia. Seperti ponsel yang direset ke setelan pabrik, benar-benar ori tidak tahu apa-apa.
Akhirnya, mobil “Just Married” itu pun sampai ke ujung halaman rumah Alma dan Adjie. Sebuah teras berpilar seakan tua, namun kokoh, dengan desain selayak teras Eropa Yunani menyambut mereka.
Indro sengaja menghadiahkan rumah besar itu untuk Alma dan suaminya, agar mereka bisa menjalankan kehidupan rumah tangga tanpa bergantung pada orang tua. Setiap anaknya menikah, Indro selalu menghadiahi rumah.
Mobil berhenti tepat di depan rumah. Alma keluar dari mobil dengan malas. Namun langkahnya menjadi bergegas ketika lengannya ditarik ibunya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Tentu saja Adjie harus dibantu Indro untuk keluar dari mobil. Dia panik ketika semua orang sudah keluar dan dia masih di dalam. Memukul-mukul jendela mobil sembari mendelik cemas.
“Norak kan, Yah!” kata Alma kesal.
“Katakan saja itu terus, jika mau berita kamu diceraikan Agam dalam sehari membuatmu malu seumur hidup!” titah Indro.
Alma akhirnya memilih pergi duluan, menyusul Inge yang terburu-buru masuk ke rumah Alma. Dia butuh minum dingin, menenangkan hatinya sejenak.
Untunglah, bagi Inge, dirinya hanya sekedar mengantar, untuk selanjutnya pulang saja. Tidak terbayang, jika dirinya sampai harus menginap di rumah Alma ini. Bisa gila dalam semalam, dia!
“Adjie, sini aku mau bicara,” kata Indro.
Adjie masih memindai sekeliling, tapi Indro menepuk bahunya dan mencengkeram lembut. Meski lelaki separuh baya itu sangat ingin mencengkeram kuat, tapi dia harus menjaga wibawa.
Masih teringat jelas bagaimana tadi dia bersimpuh di depan Adjie, memohonnya untuk tidak meninggalkan Alma begitu saja. Sungguh membuatnya seperti dilumuri taik sapi.
Meski tampak aneh dan mungkin pura-pura t***l, Adjie tetaplah lelaki berharga yang sudah berjasa mengubah status Alma. Dari perawan tua, menjadi seorang nyonya.
“Adjie, aku berjanji akan memberikan pengelolaan perusahaan padamu,” ucap Indro sembari merapikan jasnya, berusaha tampak berwibawa di depan menantunya.
“Tapi, aku ada syarat yang harus kau penuhi. Karena perusahaan sebesar itu tidak mungkin aku berikan begitu saja. Kamu harus menunjukkan kemampuanmu dalam mengelolanya,” tukasnya lagi.
“Per-us … apa?” tanya Adjie bingung.
“Perusahaan. Pabrik komputer. “
Adjie menggeleng tak mengerti.
“Pabrik. Tempat kerja. Bukan lagi filet ikan seperti pekerjaanmu sebelumnya. Tapi ini di kantor, duduk belakang meja dan ada komputernya.” Indro menjelaskan itu semua dengan gerakan tangannya.
Adjie menatapnya tak mengerti. Indro hanya bisa mengacak-acak rambutnya yang mulai menipis, tak tahu apalagi yang harus dijelaskannya pada Adjie.
“Adjie …”
Adjie dan Indro saling menatap. Adjie dengan mata polosnya dan Indro dengan segala ketidakmengertian pada menantunya ini.
Saat melamar Agam, lelaki ini tidak seperti ini. Dia sopan dan optimis.
Bu Asih, dikenalnya sebagai pengasuh panti yang tak pernah mengobral kata-kata hiperbolis untuk mempromosikan anak asuhnya. Agam adalah dia apa adanya saat dilamar Indro.
Membuat Indro optimis lelaki ini tahan banting dan sanggup mengelola perusahaan yang akan diwariskan pada Alma. Dengan cacat fisik Alma yang pincang, dia perlu suami yang bisa membuatnya percaya diri.
Tapi, kenapa si menantu malah downgrade seperti ini? Seperti orang kuno tempo doeloe yang tak tahu apapun tentang teknologi jaman sekarang.
“Begini saja, besok kau harus ke kantor. Ke perusahaan. Aku menunggumu, bersama Alma.”
Inge keluar dari rumah, lalu masuk ke dalam mobil lagi. Indro yang melihatnya lalu menyuruh Adjie masuk rumah.
“Jangan lupa, jam delapan tepat harus sudah di kantor,” pesannya pada Adjie sebelum meninggalkan halaman rumah Alma.
“Baik, aku akan setel tabung pasir, sehingga aku bisa datang tepat waktu, sesuai Ayahanda inginkan,” kata Adjie.
Indro melongo. Lama-lama dia bisa serangan jantung.
Tabung pasir? Sebenarnya, Adjie ini hidup di jaman apa? Kenapa bisa begitu kolot.
Di rumah Alma, jam digital dan jam analog, banyak terpasang. Bahkan sebuah jam seukuran dua kali tiga meter menjadi hiasan di sebuah dinding.
Indro bergegas menuju mobilnya, sementara di dalam benda itu, Inge sudah tertawa terbahak-bahak. Ya, perempuan itu mendengar dengan jelas apa yang Adjie katakan di luar.
“Tabung pasir katanya? Yeah, besok kamu harus pergi ke toko aksesoris unik, Ndro! Belikan menantu ragilmu tabung pasir! Dia dari zaman Fir’aun, kali!” saran Inge.
“Diamlah kau! Bacotmu! Sedari tadi, hanya diam tanpa membantu,” kesal Indro.
“Aku lelah!”
“Kau pikir aku tidak? Ingat-ingat, lelaki itu kamu yang pungut, gara-gara dia sering memberi bonus seons – dua ons fillet ikan!”
“Kamu yang setuju!” Inge tak mau kalah.
“Diam!” teriak Indro. “Besok, kamu yang belikan jam tabung pasir itu!”
“Lho? Kok aku?”
“Atau aku akan pertimbangkan kepemilikan sahammu di perusahaan sepatu, yang baru kita rintis!” ancam Indro serius, membuat Inge menganga.
“Lebay!” sungutnya.
Setelah mobil mertua idamannya keluar dari gerbang dan ditutup satpam, Adjie masih tertegun.
“Siapa kamu, Kisanak?”
“Sa ... saya satpam, Pak,”
“Pengawalku?” selidik Adjie.
“I, iya, Pak,” kata satpam itu gugup.
[Apa kate lu, dah, Bos! Ntar, aku jawab bukan, aku malah dipecat lagi!]
“Punya ilmu apa kamu, sampai bisa menjadi pengawalku?” tanya Adjie penuh wibawa.
Satpam baru itu keringatan. “Pak de! Tolong,”
Dia memanggil satpam senior. Seorang lelaki berwajah meneduhkan, perawakan sedang, yang tidak terlihat seperti satpam.
“Oh, kalau kamu, aku percaya. Ilmu silatmu cukup mumpuni,” kata Adjie, membuat satpam senior itu kaget. Darimana bos barunya ini tahu.
“Dia ahli jujitsu, Tuan Agam,” kata satpam senior.
“Juji ...? Juji apa?”
“Jujitsu, Tuan.”
“Bela diri kerajaan mana itu?” tanya Adjie membuat kedua satpam keheranan.
‘Tampan-tampan kok oon, sih?’ Demikian pikir mereka.