Tuan Muda Katrok

1069 Kata
Kedua satpam penjaga rumah Alma masih berpandangan. Kehabisan kata-kata. Tuan baru mereka seperti makhluk yang baru keluar dari gua saja, sampai tidak tahu Jujitsu.   “Hei, anak muda! Anda tidak sopan sekali, darimana asal beladiri itu?” ata Adjie.   Satpam yunior masih terdiam. Dia bengong. Lebih-lebih lagi, Adjie memanggilnya sebagai anak muda. Perasaan, mereka seumuran, kenapa Adjie bisa bertitah macam orang tua saja?   “Dari Jepang, Tuan,” kata satpam senior.   Adjie berpikir sejenak. Jepang? Dia memeras otak, berusaha mencari ingatan apa dia tahu ‘kerajaan’ ini?   Tapi, dia gengsi untuk bertanya lebih lanjut, khas pangeran yang harus menjaga wibawa.   “Baiklah, kapan-kapan aku akan mengecek juju ...,”   “Jujitsu, Tuan,” Satpam yunior angkat bicara.   “Iya, itu! Aku akan mengecek, apakah jujuju ... jujitsu itu! Apakah dia bisa sama hebatnya dengan jurus Rusa Menanduk milikku,” Adjie sok-sokan.   Di kerajaannya, semua tahu jika Adjie tidak begitu pandai beladiri. Namun, sebagai pangeran, dia harus menjaga citranya. Lagipula, bukan aib jika pengawal pangeran terkadang lebih handal beladiri, ketimbang pangerannya.   “Ru, rusa?” Satpam yunior shock.   Satpam senior segera menepuk bahu yuniornya. “Baik, Tuan Agam. Kami siap kapan saja, untuk dicek!” kata Satpam senior.   Adjie berdehem. Dia pandangi satpam senior, yang sepertinya memiliki ilmu padi: Semakin berilmu, semakin merunduk.   “Aku hanya akan mengecek pengawal muda ini, tidak untuk Kisanak,” kata Adjie. Dia takut mukanya bengkak-bengkak, akibat bogem satpam senior.   “Baik, Tuan Agam!” kata satpam senior patuh.   “Satu lagi! Aku bukan Agam. Nama saya Adjie Angger Tinarbuka Pangestu Nilamsuryo! Ah, aku bahkan lupa menambahkan Pangestu saat berkenalan dengan Ayahanda Mertua tadi,” sungut Adjie yang membuat kedua satpam ini terbengong.   Adjie masuk ke dalam rumah, membuka dua daun pintu besar, seperti biasa kalau dia masuk ke dalam istananya. Dia sedikit heran dengan pegangan pintu yang terbuat dari besi mengkilat dan panjang.   Belum hilang herannya, di hadapannya terbentang ruang tamu dengan perabotan mewah. Kursi tamu berukir dengan tempat duduk tebal dan bermotif. Adjie perlahan duduk di atasnya, begitu empuk seolah hendak melontarkannya ketika menempelkan p****t.   Ukiran kursi itu dielusnya, berusaha mengingat dari daerah mana ukiran seperti ini. Tidak pernah ada yang dilihatnya seperti di istananya. Alma tahu-tahu datang dan menutup pintu rapat.   “Buka pintu jangan kayak buka kandang. AC-nya boros tahu,” sungut Alma.   Adjie masih terpukau, bagaimana ketusnya perempuan ini pada seorang pangeran. Dan lagi-lagi, dia menemukan istilah baru.   “Ase?” tanya Adjie tak mengerti. Alma lalu menunjuk ke sebuah kotak di atas dinding. Dia menunjuk dengan sebuah benda kecil di tangannya. Lalu dia melempar benda itu ke atas kursi dan masuk ke dalam.   Adjie meraih benda itu, lalu meniru perbuatan Alma. Ada tulisan-tulisan di satu dan bisa dipencet. Adjie memencetnya, dan merasakan kotak di dinding itu mengeluarkan angin dingin yang menderu.   Adjie menurunkan sampai suhu terendah. Adjie sedikit menggigil. Dia hirup udara sejuk itu. Terpukau, seraya bermimpi jika dia bisa pulang ke kerajaan Nilamsuryo, maka dia harus membawa benda ini ke sana.   Dipencetnya lagi bagian yang lain, kotak itu menutup.   “Wah, ini benar-benar benda ajaib. Bisa menciptakan angin yang begitu dingin.”   Adjie kembali memencet tombol, bagian bawah kotak itu terbuka lagi. Beberapa kali memencet, kotak itu pun menutup dan tidak ada lagi angin menderu keluar.   Adjie lalu meletakkan benda kecil di tangannya karena tidak bisa lagi membuat kotak di dinding itu mengeluarkan hawa dingin. Dia kesal sendiri.   “Ini bagaimana lagi? Apa dia kehilangan kekuatan hawa dingin? Kenapa tidak bisa menyembur angin sejuk lagi?”   Adjie mencari-cari Alma tapi tidak menemukan gadis itu. Maka dia pun mulai menelusuri rumah. Saat di mobil, mertuanya itu mengatakan kalau rumah ini akan menjadi tempat tinggal Alma dan Adjie.   “Jadi ini adalah istanaku, rumahku,” batin Adjie. Terlintas kembali saat Alma mencium tangannya, pertanda bahwa wanita itu akan selalu taat dan patuh padanya sebagai seorang suami.   Adjie tidak menyangka akan mengalami kejadian begitu cepat. Sepertinya baru kemarin dia masih berada di istana, berlari di hutan dan tahu-tahu berada di kerajaan aneh ini dan harus menikah dengan seorang wanita cantik.   Meski wanita itu selalu cemberut, tapi dia dengan penuh keberanian telah bersimpuh di hadapannya, memohon untuk menjadi istrinya. Di istana, hanya wanita pemberani yang berani melakukannya pada seorang Pangeran seperti dia. Menyerahkan diri untuk menjadi milik Pangeran, artinya dia akan mengabdikan seluruh hidupnya pada Pangeran.   Adjie tersenyum-senyum. Ternyata semudah itu memiliki seorang wanita dan menjadikannya istri. Meski dia masih heran, kenapa bisa berada di kerajaan dengan benda-benda asing yang tidak pernah dilihatnya.   Semua orang memakai baju rapat dari leher sampai kaki. Bahkan ada yang menutupi rambutnya hingga hanya kelihatan bagian wajahnya saja. Sedangkan di kerajaannya, baju-baju tidak serapat itu.   Pasti di kerajaan ini, semua orang adalah bangsawan yang punya banyak harta untuk untuk membeli kain berlebih. Mereka juga punya kereta yang tidak ditarik oleh kuda.   Indro menyebutnya dengan mobil. Bergerak sendiri, bahkan lebih cepat dari laju kuda.   “Kerajaan ini benar-benar luar biasa,” puji Adjie, sembari mengitari seluruh rumah.   Menyentuh setiap perabot dan semakin dibuat terkagum-kagum. Dia kini sampai di kamar mandi. Membukanya dan melihat ada bathtub yang kosong.   Adjie masuk ke dalamnya dan berjongkok di situ, tidak paham untuk apa benda ini berada di ruangan kecil yang terasa dingin. Adjie lalu mendekati sebuah pipa panjang dengan ujung melebar yang tergantung di dinding, lalu memegang-megang kran. Dia tidak menyadari bahwa kran itu dengan mudah dapat diputar hanya dengan disentuh.   Tiba-tiba shower mengeluarkan air, membuatnya melompat terkejut. Dia melongo keheranan melihat hujan yang bisa keluar hanya dari satu benda.   “Luar biasa, hujan juga bisa dibuat di sini.”   Adjie menatap plavon kamar mandi, mencari darimana sumber air ini. Nihil, tidak dia temukan.   Adjie lalu memegang-megang lagi kran, dan ternyata dia bisa mengatur hujan dari shower, membuatnya tertawa senang. Bagian atas baju jasnya basah, tapi dia tak peduli. Setelah bosan bermain shower, dia pun keluar dari kamar mandi.   Dia masih belum menemukan Alma di rumah besar ini. Dia ingin menanyakan semua benda ajaib di rumah ini pada Alma.   Semua benda itu asing, bahkan ada sandal yang berwarna hijau dengan tapak putih, yang kenyal-kenyal jika ditekuk. Di kerajaannya, orang hanya memakai sandal kayu, dan yang bangsawan bisa memakai terompah kulit sapi.   “Sandal mereka saja unik. Berapa keping emas, yang harus aku keluarkan, untuk membeli sandal ini?” guman Adjie.   Padahal, itu hanya sendal jepit swellow yang murah meriah, yang memang diletakkan di depan pintu kamar mandi.   “Aku harus cari Alma segera, hendak aku tanyakan padanya nama benda-benda kerajaannya ini!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN