“Aku kangen,” kata Adjie.
Alma mematung. Rasanya, seperti kemarau satu bulan, lalu tiba-tiba ada hujan es. Berhari-hari Alma marah luar biasa pada Adjie, tiba-tiba merasa adem luar biasa.
Alma mundur satu langkah. Dia shock, terlalu shock malah.
Bagaimana Adjie yang membuatnya selalu naik roller coaster, sungguh ia tidak mengerti. Tadi, dia katakan tidak mau dipijat orang yang tak mencintainya. Sekarang, lelaki ini bilang kangen seraya mengesun jidatnya.
Alma kembali mundur. Sementara manik mata Adjie terus memandanginya, dan Alma bisa menangkap, bahwa lelaki itu benar-benar kangen pada dirinya.
Yeah, mereka memang seharian tidak berjumpa kecuali saat pagi hari Alma menurunkannya di pasar. Setelah itu, Adjie naik taksi pulang ke rumah. Waktu ia keluar bersama pak sopir, istrinya belum balik dari kegiatannya di luar rumah.
Alma berbalik. Tanpa Adjie ketahui, dia pegangi dadanya. Bagaimanapun, dia perlu menenangkan diri.
Jantungnya terus berpacu cepat, setelah dikecup lelaki, lelakinya ganteng sekali lagi dan sah sebagai suaminya.
“Mau ke mana, Dek,” kata Adjie.
Dia merasa sudah melakukan kesalahan dengan mengecup Alma, meskipun dia juga tidak mengerti kenapa itu bisa salah. Memangnya haram mengecup istri sahnya.
“Bikin teh,” kata Alma pendek.
“Dek ...,”
Alma menghentikan diri. “Kenapa?” tanyanya ketus.
“Aku juga mau, Dek, dibikinin,” kata Adjie merayu.
“BIKIN SENDIRI!” kata Alma. Gak ada manis-manisnya.
Adjie mempoutkan bibirnya. Mendadak malam terasa lama. Dia yang biasanya sudah tidur nyenyak di sofa, kini terus memandangi Alma. Entah kenapa, dia ingin terus-terusan berdua dengan perempuan ini, sekalipun Alma terus-terusan mengardiknya, karena menganggap dia lupa ingatan.
“Aku dibikinin, ya, Dek” teriak Adjie lagi, berharap Alma berubah pikiran.
“Bikin sendiri!”
Masih saja itu yang Adjie dengar. Adjie diam saja.
Biasanya, dia akan balik marah-marah dan mengungkit statusnya sebagai pangeran. Kini, beberapa lama bersama Alma membuatnya terbiasa ditolak, terbiasa dianggap gila, dan terbiasa diacuhkan.
Bukan hanya Alma, semua warga yang ada di kerajaannya Alma juga berlaku cuek, dan kadangkala sinis. Hanya para cabe-cabean, demikian yang Adjie tahu orang di kerajaan ini menyebut anak dara yang over tingkah, mama muda, dan nenek lincah yang sering sekali bersuit-suit padanya.
Mereka tak malu. Padahal, di kerajaannya, hal itu jelas-jelas terlarang. Sekalipun sangat menyukai lelaki, sungguh tabu jika sampai perempuan bersiul, seraya berkata : “Hai cowooook, godain kita, dong!”
Aroma teh menggugah Adjie. Membuat lelaki ini mempoutkan bibirnya kembali. ‘Apa dia benar-benar tak mau membuatkanku teh? Terlalu!’
Alma terlihat melangkah ke hadapannya. Wajah Adjie terlihat berseri-seri, karena Alma membawa dua gelas teh.
Trek!
Alma letakkan saja satu cangkir di hadapannya. Tanpa ada kata-kata romantis, macam: minum dong, Beb atau ... Kakanda, terimalah teh ini sebagai penghangat perutmu.
[Niat mau ngasih atau tidak, sih, istriku ini?]
Sementara Alma masih menyeruput teh dengan anggunnya. Perhatian Adjie menyasar pada bibir Alma yang s*****l.
Dan ... dia masih menunggu, Alma untuk menawari teh di hadapannya. Bagaimanapun, dia gengsi meminumnya, jika tidak ditawari.
Sruput-sruput itu masih mengusik Adjie. Dia sampai menelan salivanya, karena pengen.
“Dek, sini! Duduk sini, di sampingku.” Adjie yang semula berbaring di sofa kesayangannya, kini sudah duduk.
Alma hanya diam.
“Dek ....” tekan Adjie.
Dengan bersungut-sungut, Alma pun menuruti. Dia duduk di sebelah Adjie, tanpa terganggu, terus saja menyeruput teh dengan santainya.
“Kamu marah, karena tadi aku bilang, aku gak mau dipijat oleh perempuan yang tidak mencintaiku, gitu ya? Kamu tersinggung?” kata Adjie.
“Siapa yang tersinggung?” bantah Alma setelah terpaksa duduk di samping Adjie.
Adjie kembali menunjukkan kenarsisannya. Ia tidak mau kalah dari Alma. Dia berkata, “Istriku, kamu itu beruntung bisa mendapat pangeran sepertiku. Kalau kita di kerajaan, maka aku akan memanggilmu adinda.”
“Gak harus ke kerajaanmu. Di sini saja, kamu terus-terusan memanggilku Adinda. Padahal, aku sudah memintamu memanggilku Alma,” ketus Alma.
“Itu tandanya, aku suami perhatian!” bela Adjie.
“Itu tandanya egois. Giliran kamu, marah minta ampun kalau dipanggil Agam,” sengit Alma.
“Itu karena aku bukan Agam,” kata Adjie.
“Dan aku juga bukan Adinda, tapi Alma!”
Alma mendengus pelan. Ia tidak masalah dengan semua kekurangan Agam, suaminya. Tetapi, soal khayalan kerajaan yang selalu dilontarkan Agam yang buat dirinya sangat terganggu.
“Agam, sampai kapan kamu mau berpura-pura tidak ingat apa pun dan mempermainkan perasaanku?”
Alma bertanya begitu karena ia merasa, kadang diberi perhatian, kadang pula dikerjai dengan keadaan seolah-olah Agam amnesia itu.
Adjie membalas, “Berapa kali sudah aku katakan kalau aku bukan Agam. Aku tidak mau dipanggil dengan nama Agam, karena aku memang bukan Agam.”
“Apalah itu identitasmu. Aku hanya ingin tahu sampai kapan, kamu ingin seperti ini terus. Kamu seperti tidak kenal dirimu sendiri,” kata Alma.
“Siapa bilang? Aku sangat mengenal diriku Adinda! Aku ini pangeran paling tampan, memang tidak begitu pandai beladiri, ahli terapi pijat, dan pintar memasak!”
Hadehhh, Alma menahan dongkol di tenggorokannya. Sejatinya, dia meragukan kata-kata Adjie yang terakhir. Pintar memasak? Heh, dia pikir dia Chef Juna atau Arnold!
“Sudahlah, Gam. Aku akan memaafkanmu! Aku tidak akan marah, jika kamu selama ini berpura-pura. Aku hanya minta kamu kembali ke sosok aslimu!”
“Aku tidak berpura-pura. Aku ingin kamu tahu kalau aku lakukan semua hal ini dengan tulus. Aku bukan Agam, makanya aku tidak tahu dengan siapa saja Agam berinteraksi dan meminjam uang.”
HUTANG? Adjie membangkitkan kerisauan Alma, yang tadinya sempat terlupa beberapa saat.
Hutang Agam juga salah satu faktor yang buat Alma jadi memendam kekesalan.
Alma pun melengos, berniat meninggalkannya. Ia sudah bangkit dari duduknya, namun Adjie menariknya lagi seraya berkata, “Kuperintahkan kamu untuk tidur bersamaku malam ini!”
Mendengar perintah ala pangeran yang disampaikan Agam, membuat Alma terbeliak.
Ia tidak menyangka kalau malam ini, suaminya menuntut terlalu banyak hal.
Mulai dari memijat punggungnya dan sekarang lebih gila lagi, malah ingin tidur bersama.
“Kenapa kamu diam saja? Aku berhak meminta sebagai seorang suami. Kita sudah menikah, bukan?”
Alam tak mampu berkata-kata. Kalau pun mereka akan berdebat, sudah larut malam untuk lakukan itu.
Lagi pula, ia jadi ingat jasa Adjie yang memang berhasil mengobati kakinya. Meski masih terasa pincangnya, tetapi banyak orang yang ia temui belakangan ini sampaikan kalau cara berjalannya mengalami perubahan.
Ibarat kata, ia sedang berusaha membalas budi baik dari suaminya.
Dengan rasa tak tega yang masih tersemat dalam dirinya, Alma pun mengangguk. Menyisakan senyum lega pada Adjie yang akhirnya bisa bebas dari kerasnya bantalan spons sofa yang sudah ia tiduri hampir belasan bulan belakangan.
“Minumlah tehnya dulu,” kata Alma.
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu Adjie tiba. Alma menawarinya teh, seperti kehendaknya.
“Pasti sudah dingin,” Adjie pura-pura tidak tertarik.
Tahu-tahu, gelas teh itu sudah ada di hadapan wajah Adjie. Aroma tehnya mengejek, seolah Adjie takkan mampu menolak godaannya.
“Minumlah, Mas. Ini masih hangat,” kata Alma lembut.
Adjie berdehem sejenak. Dia ... terharu.
Dan teh itu tandas ia minum. “Enak,” kata Adjie menjaga wibawa.
[Enak banget, padahal.]
“Ini teh apa?” tanya Adjie sok-sokan cool.
“Enak banget, ya, Mas, sampai kamu tanya ini teh apa,” goda Alma.
Adjie mengangguk malu.
“Ini teh vanilla mas. Asli dari Malang, wanginya khas!”
Adjie mencatat dalam ingatannya. Suatu saat, jika ia berhasil pulang ke kerajaannya, dia akan membawa teh ini dua karung karena enaknya.
“Baiklah, Alma. Aku sudah tandas meminum teh. Bolehkah aku tidur sekarang?” tanya Adjie.
“Baik, Adjie!”
“Tadi kamu panggil Mas. Kenapa mengalami kemunduran lagi?”
“Olrait, Dude! Ayoooo Mas! Puas, puas?”
Adjie mengangguk senang, karena dipanggil Mas.
“Tidurnya di kamar kan?” Adjie memastikan.
“Bukan, di toilet, ya di kamar lah!”
Alma ikut membawa selimut yang tadi ia gunakan untuk menutupi tubuh suaminya dan masuk ke kamar terlebih dahulu.
Adjie menyusulnya dari belakang dan mereka akhirnya bisa tidur di ranjang yang sama.
“Jangan pernah berpikir untuk dekat-dekat denganku. Aku beri pembatas di tengah agar kamu tidak sembarangan melewatinya.”
Alma memberi peringatan dan tidak dibalas oleh Adjie. Toh, sebagai pangeran, baginya sah-sah saja jika ia melanggar.
Pangeran itu sudah mulai mengantuk dan pesona kasur empuk di hadapannya jauh lebih menarik dari meladeni perkataan istrinya.
Alma memilih untuk tidur dekat tembok dan Adjie yang di sisi sebaliknya. Apa yang Alma bilang memang ia lakukan.
Jadi, ada pembatas di antara mereka berdua.
Tanpa ada kata-kata lagi, pasangan tersebut akhirnya terlelap juga.
Seiring menit bergulir, guling pembatas di antara mereka tak berarti lagi.
Beberapa jam kemudian, Adjie mulai merasakan panas.
Dengan setengah mengantuk, ia terjaga dan mendapati kalau sebagian lengan Alma sudah ada dalam dekapannya.
Entah dari kapan. Adjie lalu bangun dan membuka bajunya.
Lalu ia tertidur lagi. Tapi, tanpa sepengetahuan Alma yang terlelap, Adjie kali ini mendekap Alma lebih rapat lagi. Ia jadikan seperti guling.
Dalam posisi terjaga, dia tarik kepala Alma ke dalam dekapan dadanya. Dia kecup dahi Alma hingga lama-lama, sampai dalam lelapnya, dia tersenyum.
Keesokan paginya.
Cahaya matahari yang baru mau terbit menerobos masuk melalui kaca jendela kamar mereka.
Alma membuka matanya terlebih dahulu dan merasakan hembusan napas pelan yang begitu dekat dengan pipinya.
Hal ini membuat Alma semakin sadar karena tubuhnya seperti terjepit dan tidak bisa bergerak bebas.
Dia tersenyum. Sepertinya dia bermimpi ada lelaki ganteng yang mendekapnya. Tanpa sadar, ia eratka lagi rengkuhan lelaki di sampingnya, sehingga pinggang dibelit sempurna.
“Sayangg ....”
Terdengar suara bariton yang menenangkan.
“Kenapa suaranya begitu nyata? Sejak kapan mimpi ini terasa real. Aku bahkan mengendus bau lelaki yang begitu berferomon (hormon perangsang).
“Aku mencintaimu, Adinda!”
Suara itu bagai alarm bagi Alma. “Kok ... suaranya aku kenal, ya?”
Begitu ia sudah benar-benar awas, Alma berteriak kaget karena ia sedang didekap oleh lelaki kekar setengah telanjang.
“Adjieee! Cabulll kamu! Mesuumm!” teriak Alma histeris.
Suara parau pagi hari yang melengking tinggi itu tidak hanya membuat ayam jago tetangga malu, tapi tentu saja memekakkan telinga Adjie yang hanya berjarak sekian senti dari sumber suara.
Adjie membuka matanya dengan malas sambil bergumam, “Tidak usah kaget melihat tubuhku yang indah. Kamu senang kan?” kata Adjie dengan santainya.
Lalu Adjie kembali menutup matanya, dan sedikit melonggarkan dekapannya karena istrinya sudah menggeliat seperti cacing kena panas agar bisa lepas dari kungkungan lengan kekar Adjie.
“Dasar narsis!” tegas Alma berhasil menyingkirkan salah satu lengan Adjie dan merosot turun dari pembaringan mereka.
“Hush! Hush! Minggir!”