Sayang

1618 Kata
  “Sayaaaang!”   Suara Adjie yang tadi memanggilnya, ketika masih dalam buaian tidur, membuat Alma senyum-senyum sendiri.   Dia tangkupkan kedua tangannya, seraya bercermin di kaca wastafel. Jika ada strawberry di sana, maka akan kalah merahnya dengan wajah Alma sekarang.   Alma mengibaskan rambutnya yang lembut, kemudian memindahkan poninya ke samping. “Apa aku tampak cantik? Kenapa dia memanggil seperti itu?”   Perempuan ini mendecap-decapkan bibirnya, kemudian dimonyongkan secara seksi. Setelah itu, ia berputar-putar.   Bukan sombong, sekalipun dia adalah perempuan pincang, sekalipun dia perawan tua, ada puluhan lelaki yang mengatakan sayang padanya. Mengajaknya candle light dinner, lalu mengungkapkan kata itu.   Dan Alma tahu itu palsu. Ya, mereka semua tentu saja hendak mengincar hartanya. Atau sekedar menjadikannya cinta satu malam.   Lantas, kenapa dia menerima Agam sebagai suaminya? Tidak! Dia tidak menerimanya. Adalah Inge, ibunya yang memaksanya.   Perempuan itu mengatakan Agam berbeda. Dan ternyata ... Inge benar. Semalam, Agam yang mengaku Adjie ini berujar sayang secara romantis.   Alma diam-diam keluar dari kamar mandi. Lalu, dia mengintip kondisi kamarnya.   Masih ada Adjie yang berbaring tanpa atasan, dengan celana training olahraga. Dan ... Alma menutup kedua matanya, lalu membukanya kembali. Seperti malu-malu kucing saja.   Pose Adjie terlalu seksi. Pada bagian bawah pusarnya ditumbuhi bulu lebat, yang menjalar hingga menyentuh karet training. Entahlah, apakah jalarannya masih berlanjut ke bawah atau tidak. Alma belum pernah melihat milik suaminya ini.   Namun, dia mengerem ludahnya yang terlanjur berproduksi demikian banyak, manakala melihat ada yang menjulang pada bagian bawah Adjie.   “Astaga!” Alma mengipas-ngipaskan telapak tangannya. “Kok, aku merasa panas, ya? Sepertinya, aku perlu mandi sekarang!”   “Adinda, apakah itu kamu? Kamu mengintipku, ya?” kata Adjie ketika mendengar suara Alma.   Setengah tunggang langgang, Alma masuk ke dalam kamar mandi lagi, lalu menguncinya dengan perlahan.   “Apaaa, Adjie? Aku lagi di kamar mandi nih,” Alma memulai playing victim.   “Oh, aku mendengar suaramu, sepertinya dekat tadi. Ah, belum apa-apa aku sudah kangen,” kata Adjie setengah berteriak.   “Gak usah gombal kamu, Adjie!”   “Lho, lho, Adjie lagi Adjie lagi. Apa tidak bisa kamu memanggilku dengan Kakanda saja atau cukup Mas?”   “MALESSS!”   “Alma, aku masuk ya, ke kamar mandi itu!”   “Maleees!”   “Kalau kamu males, biar Kanda yang bersihin tubuhmu. Tangan Kanda besar dan kuat, pasti cepat untuk membersihkannya!”   “Maleeeees!” Kali ketiga Alma mengeluarkan ujaran itu. Dan Adjie sepertinya tidak merespon lagi.   [Alah, cemen! Segitu doang kamu usahanya? Coba rayu aku sedikit lagi, biar aku luluh!]   Alma menepuk dahinya. Dia rasa, pikirannya mulai kemana-mana. Kok, dia mulai kegatelan banget, pengen dirayu Adjie.   Pfuh! Perempuan ini menghela napas.   Satu demi satu mulai melucuti yang ada di tubuhnya. Dan ketika menatap cermin wastefel kembali, senyumnya kembali terbit seperti bunga di pagi hari.   Alma menggigit bibir bagian bawahnya. Napasnya tiba-tiba terengah dengan sendirinya.   Bayangan tubuh Adjie yang begitu bidang, dengan roti-roti sobek terpampang. Lalu, semalam dia berada setipis kulit bawang dengan tubuh indah itu, di bawah dekapan sebuah tangan berotot yang mengikatnya erat.   Sejatinya ia agak terpesona juga dengan tubuh suaminya, tapi mana dia mau mengakuinya.   Tiba-tiba, terdengar suara bel.   Adjie yang masih menutup matanya, membuka matanya dan memasang telinga tapi penuh kebingungan, suara apa yang baru saja ia dengar.   “Agam, tolong bukakan pintu. Itu bunyi bel, pintu kamar. Ada yang ingin bertamu.”   “Aku bukan Agam!”   Terdengar suara cekikikan Alma di kamar mandi. Kali pertama, Alma merasa senang karena salah menyebut nama Adjie. Biasanya, dia selalu merengut kesal, jika Adjie protes karena dia salah memanggil.   “Mas Adjie ...”   “Iya, Dinda,” Suara Adjie menjadi auto lembut.   “Aku bukan Dinda, tapi Alma,” Alma menahan tawanya. Dari kamar mandi, ia dapat mendengar Adjie juga cekikikan. Sama sepertinya.   “Kamu balas dendam, ya?”   Alma sengaja tidak menjawab. Tetapi, dia hidupkan shower pura-pura bahwa dia memulai mandi.   “Tolong, Mas! Ke depan dulu! Lihat! Siapa yang datang!”   Adjie mendengus kesal. Ia masih ngantuk dan siapa pula yang pagi-pagi sudah mengganggu mereka.   Seharusnya, ini bukan jam yang tepat untuk bertamu ke kamar mereka.   Tetapi, Adjie tidak membantah dan membukakan pintu.   “Pagi Kak Mareta. Kami pikir, siapa?”   Kesalahan Adjie adalah dia lupa, bahwa dia masih belum memakai atasan. Tubuhnya yang bidang, ala-ala pendekar itu, dapat beracun bagi semua insan yang melihatnya.   Ya, yang datang ternyata Mareta, yang matanya langsung lophe-lophe melihat tubuh Adjie yang kekar.   [Astaga, pria yang tidak mengerti ponsel ini, kenapa cetakannya sama seperti koleksi foto-foto cowok di folder galeriku?]   “Ka, kamu, Adjie kan?” tanya Mareta, yang tak bisa menahan binalnya. Dadanya kembang kempis, dan bibirnya sengaja ia gigit, berharap Adjie akan tersenyum genit padanya.   Sayangnya, zonk! Adjie hanya memandang dingin, lalu pandangannya mengarah kepada taman mediterania.   [Sialan! Pagi-pagi, dingin-dingin begini, rasanya nyaman kalau ada yang mendekap!]   Tiba-tiba Mareta menutup matanya dan langsung terhuyung menuju ambruk begitu saja.   Adjie dengan sigap langsung menangkap tubuh kakak iparnya itu agar jangan sampai terbentur di lantai.   Adjie tidak sadar kalau Mareta sebenarnya hanya berpikir jahil. Ia pura-pura pingsan, agar disambut oleh Adjie segera.   “Eh, datang-datang malah pingsan.” Adjie berbicara sendiri.   Ia bingung harus meletakkan tubuh wanita itu di mana dan membuatnya berteriak,   “Istriku, kakakmu Mareta yang datang. Dia tiba-tiba saja pingsan.”   Suara Adjie yang menggelegar membuat kelopak mata Mareta bergerak tapi pria itu tidak sadar sama sekali.   Teriakan itu tentu saja membuat Mareta kaget, tapi ia tidak bisa membuka kedoknya.   Ia tetap menikmati kenyamanan dalam dekapan, di area bidang milik adik iparnya.   Tak lupa rangkulan di leher Adjie a.k.a Agam.   Bertepatan dengan Alma yang sudah keluar dari kamar mandi.   Teriakan Adjie membuatnya semakin cepat ke ruang depan.   Alma terperangah melihat Mareta yang merangkul leher Adjie dengan mesra.   Seketika sadarlah Alma bahwa kakaknya ini hanya pura-pura.   “Suamiku, tolong turunkan saja dia. Matanya tidak menutup dengan rapat. Masih ada gerakan. Sepertinya ia hanya berpura-pura.”   “Di, dia tadi lunglai di depan pintu. Entahlah, apa mungkin karena aku bau, karena belum mandi,” kata Adjie polos, yang membuat Mareta mati menahan tawa, agar tidak ketahuan.   ‘Kamu mau bau kayak gimana juga, badanmu itu bagus banget, sayang untuk dilewatkan!’ kata Mareta dalam hati.   “Turunkan dia! Sekarang juga! Bila perlu, jatuhkan saja, ketika kamu masih berdiri!” titah Alma geram.   Mendengar perkataan Alma, Adjie segera melepaskan tubuh Mareta dan juga rangkulan di lehernya.   Kakak dari Alma itu mengumpat dalam hatinya dan terpaksa membuka matanya dan menjaga keseimbangan tubuhnya, agar tidak jatuh percuma karena tumpuannya bergeser.   “Ada apa Kak, mengganggu kami pagi-pagi begini.”   Alma melangkah melewati tubuh Adjie sehingga menjadi penghalang antara Mareta dan suaminya.   Adjie sendiri baru sadar kalau ia tidak memakai baju sehingga ia segera masuk ke dalam kamar untuk menutupi roti sobeknya.   Ia jadi malu sendiri di depan iparnya tanpa tahu niat dari Mareta yang sesungguhnya.   Mareta bukannya langsung menjawab pertanyaan adiknya, ia malah sibuk melongok mencari Adjie yang sudah menghilang.   Wanita itu masih belum puas mengagumi tubuh atletis milik adik iparnya.   “Woi, cari apa? Itu suamiku, Kak!” seru Alma sambil menoel jidat kakaknya.   Mareta tentu saja malu bukan kepalang. Tapi, dia tidak ingin kehilangan muka.   “Alah, hanya dilihat saja sampai segitunya.”   “Nah, Kakak juga kenapa harus pura-pura pingsan di depan Agam? Biar bisa dipeluk?”   “Selagi gratis, mengapa harus malu.”   Alma mengepalkan tangan. Dia memang tahu jejak Mareta, yang desas-desusnya adalah perempuan gak bener, suka numpang ke rumah lelaki lain. Tapi, dia sangat murka, ketika Mareta menabuh genderang suka pada Adjie. Bagaimanapun, Adjie itu adalah adik iparnya.   “Kakak mau bicara atau silakan tinggalkan rumah kami.”   “Aku sebenarnya bawa pesan penting, tetapi aku ingin Agam juga ikut dengar apa yang akan aku sampaikan.”   “Emang sepenting apa sih, berita yang hendak disampaikan? Dia masih lama, mungkin sedang bersihkan diri.”   Alma agak malas meladeni Mareta yang terkadang otaknya mesti dicuci dengan rinso karena suka seenaknya saja bertindak.   Contohnya tadi, ia pura-pura pingsan karena hanya ingin merasakan didekap oleh  Adjie.   “Aku akan tunggu sampai ia selesai mandi kalau begitu,” balas Mareta dengan cueknya duduk di sofa ruang tamu yang jadi bagian dari kamar adiknya itu.   Alma menggerutu dalam diam. Ia bergegas ke dalam kamar untuk mengecek aktivitas Adjie.   Suaminya itu ternyata sedang lakukan olah tubuh di pagi hari sehingga tubuhnya sedang berkeringat sekarang.   Wajah Alma memerah melihat otot kekar Adjie yang sudah berminyak terkena pantulan sinar matahari pagi, karena keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya.   “Agam, pakai dulu bajunya. Nanti baru dilanjutkan push up-nya. Mareta tidak akan bicara kalau tidak ada kamu.”   Adjie berhenti bergerak dan berdiri.   Ia mengambil bajunya dan langsung dipakai saja tanpa perlu ia keringkan lagi tubuhnya.   “Tapi, jangan berdiri dekat-dekat dengannya, kamu belum mandi soalnya,” bisik Alma agar tidak didengar oleh Mareta.   Padahal, Alma tidak ingin Mareta menatap penuh minat pada suaminya.   Sampai pada titik ini, Alma baru sadar kalau memang ketampanan Adjie tak tertandingi. Wajah Agam terlalu tampan, membuat ia semakin yakin bahwa lelaki ini memiliki darah biru bergelar pangeran.   “Agam sudah ada di sini. Ada berita penting apa?” kata Alma sambil berdiri menyandar ke tembok. Ia tidak ikut duduk dekat Mareta.   Sedang Mareta lebih tertarik melihat ke Adjie yang sudah tidak lagi memamerkan roti sobeknya.   Tapi, peluh di dahi Adjie masih tersisa, belum sempat dibersihkan sehingga Mareta panas dingin sendiri di tempatnya duduk, hanya karena melihat Adjie dari jauh.   Adik iparnya itu juga hanya berdiri, tanpa bersandar di mana pun. Ia bersedekap untuk menyimak apa yang diinginkan oleh Mareta, sebenarnya.   Mareta pun ikut berdiri.   “Aku mampir untuk sampaikan undangan kalau akan ada gala dinner di sebuah perusahaan yang merupakan kolega dari usaha bisnis ayah. Kita semua diundang termasuk kalian berdua.”   “Apakah tidak bisa mewakili salah satu saja dari kami?” tanya Alma hanya ingin tahu.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN