Titisan Pelakor

1243 Kata
  ‘Datang sendiri? Oh, tidak! Aku punya rencana buat Agam. Mana mungkin kulewatkan begitu saja. Kalian harus datang berdua.’   Mareta melirik Agam dengan penuh atensi. Dia tersenyum semanis pabrik madu, namun lelaki itu malah asyik melihati akuarium, dimana mas koki hilir mudik di sana.   “Kakak!” teriak Alma gusar.   “Apaan, sih!” Mareta tak menggubris. Dia menganggap remeh Alma.   Perempuan pincang itu bukan levelnya. Bagaimanapun, Agam itu lelaki, dan sepertinya bukan kaleng-kaleng. Cepat atau lambat, Agam pasti akan jatuh ke dalam dekapannya.   “Kamu belum menjawab pertanyaanku! Namun, jika tidak ada kepentingan lagi, sebaiknya kamu segera pergi dari sini!”   “Oh, perihal datang itu,” kata Mareta mendongakkan dagu. Dia ingin, Alma tahu, bahwa antara dirinya dan Alma jelas berbeda kasta.   “Iya,”   “Sepertinya wajib datang berdua. Setidaknya, Agam tetap harus hadir sebagai mantu laki-laki dari ayah. Sebagai bentuk kebanggaan juga,” pungkas Mareta dengan matanya tidak berkedip sedikit pun, saat menyebut dan memandang adik iparnya itu.   “Tapi, kalau kamu berhalangan hadir, misalnya kakimu yang pincang itu tiba-tiba encok, misalnya lho ya, jangan baper! Ya ... kamu bisa wakilkan dengan Agam saja. itu sudah cukup,” kata Mareta.   Alma melengos. Sungguh, dia tidak mengira titisan pelakor pertama itu adalah kakak kandungnya yang genit.   Kakak? Entahlah! Seingatnya, Mareta tidak pernah mau mengakui bahwa dirinya adalah saudaranya, karena kelainan fisik yang ia sandang!   “Baiklah. Terima kasih untuk pesannya. Kami akan datang.”   “Ya tapi, kalau kamu nggak bisa, gak usah dipaksa lho, ya!”   “Tidak kami akan datang. BERDUA!” tegas Alma.   “Oke kalau begitu, aku tunggu di gala dinner itu,” kata Mareta.   “Tidak perlu ditunggu. Biasanya, aku hanya di pojokan, sementara kamu dan Denis menemani ayah berbincang dengan kolega,” kata Alma.   “Nah, tuh tahu,” kata Mareta mengejek.   Tidak tahan dengan tatapan lapar Mareta pada Adjie, dengan cepat Alma memegang pundak kakaknya dan mendorongnya perlahan untuk segera keluar dari kamarnya.   Sedang Adjie sendiri langsung menghilang kembali ke kamar. Ia ingin lanjutkan senam tubuhnya.   Mareta masih sempat menelengkan kepalanya ke belakang mesti tubuhnya sudah setengah bagian di luar ambang pintu rumah Alma.   “Sampai jumpa, Kak!” kata Alma menutup dengan keras daun pintu rumahnya.   Alma menenangkan dirinya. Ia sama sekali tidak mengira kalau pagi ini, Mareta bersikap sangat memuakkan.   “Lain kali, kalau ada tamu tidak usah pamer udel,” omel Alma masuk ke dalam kamar.   Adjie masih terus bergerak untuk melenturkan semua otot tubuhnya.   Ia tidak menanggapi kata-kata dari Alma.   “Apa kamu tidak punya telinga, Agam? Aku bicara padamu!” teriak Alma marah.   “Ada apa istriku? Bisakah kamu tidak berteriak dalam satu hari saja?” balas Adjie menghentikan lompatannya. Ia mengambil bajunya dan melap semua cairan yang melingkupi tubuhnya.   Kalau keringatnya sudah kering dan juga detak jantungnya sudah kembali normal denyutnya, barulah biasanya Adjie mandi.   “Jadi, apa kita akan penuhi undangan yang disampaikan Kakak Mareta tadi?” tanya Adjie.   “Aku malas tetapi sepertinya ayah akan meminta alasan yang jelas jika kita tidak muncul di sana.”   “Aku ikut saja apa yang kamu rencanakan. Tidak ada masalah bagiku sama sekali.”   “Oke. Tapi, aku masih ada satu masalah yang harus kusampaikan padamu.”   Adjie mengangguk setelah berkata, “Aku dengar.”   “Kamu itu sudah beristri. Berhenti memamerkan tubuh telanjangmu!” sahut Alma.   “Apa kubilang, memang tubuhku indah. Kamu ingin lihat keseluruhannya?” tantang Adjie dengan tampang serius.   Ia sudah melempar bajunya yang kotor ke dalam keranjang di sudut kamar dan berencana untuk melorotkan celananya.   “Eh, kamu mau buat apa. Jangan kurang ajar!” tambah Alma mulai bersiap untuk angkat kaki dari kamarnya.   Ia tidak ingin melihat kalau memang suaminya itu nekad untuk lakukan apa yang ia ucapkan.   Hari berganti begitu cepat. Selepas Mareta pergi, Adjie dan Alma berjualan ikan di pasar. Lalu, sorenya mereka pulang, untuk persiapan gala dinner.   Dan saat malam jelang gala dinner itu tiba.   Alma melihat suaminya tanpa berkedip. Setelah Adjie berpakaian resmi untuk gala dinner yang akan mereka hadiri, pria itu memang berkali lipat lebih memesona dari tampang aslinya   “Agam!” panggil Alma.   “Berapa kali aku bilang kalau aku bukan Agam.”   Adjie sedang mematut wajahnya di cermin sekaligus memperbaiki kerah kemejanya. Sedang Alma sudah selesai dandan dan juga merapikan gaunnya. Ia siap untuk berangkat bersama suaminya.   “Ehm, suamiku!”   Adjie mendelik. Alma dengan sadar mengucapkan kata suamiku. Wwuah, ini kemajuan, kalau begitu!   “Ya, istriku,” sahut Adjie menatap raut wajah Alma.   “Nanti selama acara, tolong jangan jauh-jauh dariku. Siapa pun yang memanggilmu, ajak aku. Jangan pernah berpikir untuk tinggalkan aku selama di sana.”   [Terutama Mareta. Sungguh, aku tidak siap kamu meninggalkanku, karena kakakku itu. Pasti, itu sangat menyakitkan sekali!]   “Kamu takut aku hilang? Aku tidak mungkin melupakanmu di tempat pesta.”   “Terlalu kepedean kamu. Agar kamu tidak tersesat dan jadinya menyusahkanku saat ingin tinggalkan acara. Aku males, kalau harus mencari kamu yang tidak ada dalam jangkauan pandanganku.”   “Kamu itu pemalu sekali. Harusnya, kamu akui kalau takut kehilangan aku. Jelas saja, aku ini pasti pria tertampan saat kita tiba nanti. Pesona pangeran pewaris tahta dari kerajaan Nilam Suryo, tidak pernah terkalahkan seantero jagad raya.”    “Jangan berpikir untuk menyebut-nyebut tentang kerajaan selama di tempat pesta. Aku akan sangat bahagia jika kamu setia berada di sampingku, menutup mulutmu rapat-rapat kecuali saat makan dan minum, atau diajak bicara oleh tetangga yang duduk di sebelah kiri atau kanan kita.”   “Apa pun akan aku lakukan untukmu.”   Sore ini Adjie tidak begitu menjengkelkan sehingga Alma merasa lebih santai.   Kabar baiknya lagi, Adjie yang akan menyetir nanti. Ia sudah selesai belajar menyetir dan sudah semakin lancar.   Alma juga sudah cek ke sopir keluarga yang membenarkan perubahan ke arah positif.   Latihan lebih banyak dan mulai berani menyetir, jadi modal bagi Adjie untuk semakin lancar dan menguasai mobil yang ia anggap sebagai kendaraan perang.   “Kamu hari ini akan semakin kagum padaku karena aku sudah lancar menyetir.”   “Hati-hati suamiku. Selamat karena kamu akhirnya sudah bisa dapat keterampilan baru.”   “Kita pasti akan sampai dengan selamat. Tapi, tunjukkan aku rutenya supaya kita tidak tersesat.”   Alma memang menyemangati suaminya Adjie, tetapi dalam hatinya, ia sangat amat cemas.   Khawatir jika mereka bisa tiba di tempat hajatan, tetapi tidak akan bisa kembali ke kota kalau terjadi sesuatu pada suaminya.   Adjie sendiri sangat berhati-hati dalam membawa mobil milik Alma untuk buktikan kalau ia tidak asal sesumbar dengan keterampilan barunya yang sudah bisa ia kuasai.   Tepat seperti pepatah yang mengatakan, biar lambat asal selamat.   Keduanya tiba juga di parkiran balai yang super luas itu.   Begitu mereka melangkah masuk, hampir semua mata memandang mereka.   “I, itu suaminya Alma yang kemarin pura-pura gila itu ya? Kok, ganteng banget, ya! Wajahnya glowing, kayak baru dari skincare.”   “Almanya juga, kok, dia jadi cantik banget ya. Dan ... kakinya agak mendingan sekarang,”   “Dia terapi, bo! Suami ganteng begitu, mana boleh dilepas.”   Para nyinyir berkomentar, seraya memakan hidangan pembuka gala diner, yang biasanya hanya roti-roti mungil, yang mau dimakan dua puluh pun gak akan kenyan.   Mereka segera jadi pusat perhatian. Apalagi, banyak yang kaget, ternyata Alma mulai bisa berjalan dengan normal.   “Kamu Alma, ‘kan, anaknya Indro?” tanya seorang ibu yang memakai perhiasan emas sangat banyak.   Alma mengangguk sambil tersenyum saat mereka berpapasan dengan wanita tersebut.   “Bukannya kamu pincang?” imbuh wanita dengan kemilau emas tadi.   Alma memegang dadanya. ‘Pertanyaan macam apa ini? Kok, ibunya tidak sopan, sih?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN