Alma mendengarnya tetapi memilih untuk tidak meladeninya. Membuat perempuan itu merasa dicueki.
“Anak muda jaman now, memang tidak tahu sopan santun! Terlalu, sungguh terlalu!”
Perempuan itu pun berlalu meninggalkan Alma. Dengan hentakkan stiletto merahnya, Alma tahu, bahwa perempuan itu marah besar padanya.
Bodo amat!
“Kenapa tidak kau jawab?” bisik Adjie pada istrinya.
Alma berdehem. Dia mengatur pola napasnya terlebih dahulu.
“Karena mereka tipe kenalan yang suka campuri urusan orang lain.”
Alma menuntun Adjie untuk bisa mendekati tuan pesta yang kebetulan sedang bicara dengan Indro.
“Akhirnya kalian datang juga,” seru Indro melihat anak dan mantunya.
“Maaf, kami agar terlambat, Yah.”
Alma mengucapkan selamat pada pemilik pesta sebelum mereka berpindah ke meja bundar yang masih kosong.
“Kamu terlihat berbeda, sekarang. Lebih menarik dan kakimu sepertinya sudah sembuh,” kata istri dari pemilik perusahaan, kolega Indro.
Ia sambil melirik ke kaki Alma yang ia sudah perhatikan sejak awal, tidak lagi pincang seperti yang ia ketahui, meskipun masih tertatih-tatih.
“Terima kasih, Bu.”
“Apa kalian melakukan pengobatan tertentu? Karena seingatku, bahwa kondisi kaki Alma itu bawaan sejak lahir.” Lagi wanita itu terus bertanya sambil menatap orang tua Alma.
“Tidak ada yang kami lakukan. Tapi, Alma bisa jelaskan penyebabnya tentu saja,” balas Indro sambil menatap putrinya.
Mendengar percakapan di sekitarnya, Alma mulai meragu, jangan-jangan Adjie memang bukan Agam.
Dia ingat-ingat. Saat lelaki ini menolongnya, ada sinar biru yang keluar dari tangannya Adjie.
Dia yang melihatnya tak fokus, mengira itu hanya efek lampu akuarium saja.
[Adjie, siapa kamu? Kamu bahkan menolak keras bahwa kamu adalah Agam.]
Alma terdiam. Sejenak, dia lirik Adjie di sampingnya. Masih saja para perempuan meliriknya, sekalipun sudah ada dirinya di sana.
Aura itu ... ya, aura Adjie terlalu memancar. Bagaimana, jika suaminya memang seorang pangeran, seperti yang sering diumbar oleh pria itu.
Namun, Alma tidak bisa langsung mengatakan apa yang ia pikirkan.
Ia menutupi kesaktian Adjie, yang memang masih belum ia yakini kebenarannya.
“Sebenarnya, kaki istri saya …”
“Cukup, Agam. Biar aku yang jelaskan karena ayah ingin dengar penjelasanku.”
Beberapa orang yang ada di sekitar tuan pesta ikut memandang Alma untuk dengar alasannya.
Alma balas mengamati orang-orang yang kepo dengan kakinya yang mulai normal.
“Aku telah bertemu dengan seorang ahli akupuntur sakti dari Korea yang membuat kakiku jadi normal. Dia kebetulan sedang berkunjung ke kota ini dalam rangka mengobati banyak orang.”
Adjie tak terima, dan hendak membantah perkataan Alma tetapi istrinya itu mengetahui gelagat Adjie dan membungkamnya dengan melanjutkan ucapannya,
“Suami saya yang memperkenalkan saya dengan ahli tersebut. Untung saja, kami tepat waktu sehingga bisa diobati sebelum tabib keliling itu melanjutkan perjalanannya ke negeri tetangga lainnya.”
Adjie hanya bisa pasrah mendengar cerita karangan dari istrinya.
Setelah selesai bicara, Alma langsung pamit untuk bisa menghindar dari tuan pesta yang kepo dengan tampilan Alma.
Sambil berjalan di samping Adjie, Alma bahagia karena sepertinya semua orang iri padanya.
Ditambah kakinya memang sebentar lagi akan mulai sembuh. Sekarang saja, semua orang sudah melihat perubahan kecil itu, apalagi nanti kalau suaminya sudah benar-benar buktikan kalau ia sudah bukan seorang wanita pincang lagi.
“Kenapa kamu berbohong?” bisik Adjie saat mereka sudah duduk berdampingan.
“Karena aku tidak mau mereka semua mendekatimu dan meminta banyak hal aneh. Jangan pernah berpikir untuk memamerkan kesaktianmu di depan semua orang.”
“Jadi, kamu sudah akui kalau aku sakti?”
“Ya, meski kakiku belum sembuh total tapi kamu memang punya kemampuan memijat yang baik dan manjur meluruskan tulang yang sempat bengkok atau ada selisih.”
“Harusnya kamu tidak berbohong,” sahut Adjie masih tidak puas.
“Berbohong tentang apa?” sanggah sebuah suara yang tidak asing lagi bagi keduanya.
Alma dan Adjie sama-sama menoleh dan tampaklah Mareta sudah ada di dekat meja mereka.
“Tidak ada. Hanya sedang mengomentari acara televisi yang kami tonton tadi,” sahut Alma berbohong.
Ia kesal melihat kakaknya Mareta yang mendekat dengan tampilan yang s*****l.
Matanya juga menatap tajam pada Adjie yang buat Alma jadi tidak suka.
“Boleh aku berdansa dengan Adjie?” kata Mareta tiba-tiba, membuat Alma terkesiap.
“Tidak usah minta yang aneh-aneh. Adjie tidak bisa dansa.”
Namun, Mareta mengitari meja untuk bisa dekat dengan Alma dan berbisik, “Aku sangat paham kalau orang kampung macam ‘Agam’ tidak bisa berdansa, jadi aku hendak mengajarinya.”
“Tapi, Mareta. Akan buat malu kalau sampai kalian jatuh di depan sana.”
“Aku tidak akan menggigitnya. Aku kembalikan utuh suamimu, nantinya.”
“Ayo, Agam. Kita berdansa!” lanjut Mareta menarik lengan Adjie.
“Tapi, benar kata istriku kalau aku tidak mahir bergoyang di depan,” elak Adjie masih belum mau berdiri.
Laki-laki itu melirik istrinya yang hanya bisa mengangguk pelan karena tidak ingin bertengkar dengan Mareta saat itu. Pasti akan sangat memalukan keluarga mereka.
“Aku akan ajari. Alma sudah memberi tanda ijin. Ayo, sebelum lagunya selesai.”
Adjie terpaksa bangun dan mengekori Mareta.
Saat berdansa, Mareta tak hentinya memandangi Adjie yang ternyata sangat memesona.
“Agam, apakah aku terlihat cantik di matamu?”
“Kakak, itu pertanyaan yang tidak sopan untuk adik iparnya. Di kera ...”
“Di kera? Apa tuh, honey!”
Adjie nyaris saja mengatakan bahwa di kerajaannya hal itu adalah tabu. Namun, dia ingat kata-kata Alma, yang melarang dia cerita tentang kerajaan.
“Argh! Adjie, kamu tidak menjawab. Aku ini, cantik nggak, sih?”
Mareta mengatakan dengan sedikit mendesah untuk menarik perhatian Adjie. Apalagi posisi Mareta sekarang, kepalanya ia sandarkan di bahu Adjie.
“Semua wanita itu cantik. Tidak bisa dibandingkan,” jawab Adjie apa adanya.
Mareta tersenyum. Tapi, ia belum selesai.
Kebetulan lagu sudah berhenti, tetapi Mareta tetap saja melingkarkan tangan Adjie di pinggangnya dan masih berdiri menunggu sampai musik berikutnya diputar.
Para pedansa yang lain sudah kembali ke tempat duduk sehingga terlihat hanya mereka berdua yang ada di area dansa.
Musik pun mengalun lagi dan Mareta semakin merapatkan tubuhnya pada Adjie.
“Agam, bagaimana kalau kita selingkuh? Aku jatuh cinta padamu,” ujar Mareta tanpa rasa sungkan.
Mareta kira, Adjie adalah pria kebanyakan yang mudah tergoda.
“Saya bukan pria seperti yang Kakak pikirkan. Saya sudah menikah dan saya setia pada istri saya.”
Adjie terang-terangan menolak permintaan Mareta, namun disambut dengan tawa panjang dari Mareta.
Dia mengejek dengan berkata, “Aku tahu, sebagai pasangan baru menikah, kadang memang harus pura-pura setia. Aku tidak ada masalah sama sekali. Kita akan lakukan ini diam-diam dan istrimu tidak akan tahu.”
Rayuan Mareta ia lancarkan lagi. Ia sambil membusungkan bagian depan tubuhnya sehingga bisa menggoda Adjie.
Apalagi, gaun yang ia pakai memang dari modelnya sudah terbuka dengan potongan sabrina yang sangat rendah.
“Ini bukan ide yang baik. Saya tidak ingin berselingkuh di belakang istri saya.”
Adjie menegaskan pada Mareta.
“Jangan cemas. Aku akan atur agar semuanya terlihat sangat alamiah. Besok, aku tunggu kamu di sebuah hotel. Akan aku kirimkan alamatnya.”
“Tidak, Mareta. Aku tidak bisa penuhi permintaanmu.” Adjie masih berkelit.
“Jangan kecewakan aku. Kita hanya akan saling mengenal saja, tidak lebih. Tapi, jangan bawa istrimu. Kalau kamu tidak datang, maka aku akan sampaikan pada kedua orang tuaku kalau kamu merayu.”
“Itu tidak benar,” sanggah Adjie.
“Aku bisa lakukan apa saja, Agam. Aku bisa buktikan kalau kamu masuk ke kamarku tanpa ijin di malam hari. Aku tidak main-main. Jangan remehkan aku.”
Mareta mengakhiri perkataannya dengan sebuah sentuhan sekilas di leher Adjie dengan bibirnya, bertepatan dengan ia mengangkat kepalanya dan melepaskan rangkulan lengan Adjie di pinggangnya.
Lagu juga sudah selesai sehingga tak ada alasan lagi bagi mereka untuk saling bertautan.
“Kembalilah pada istrimu. Jangan lupa apa yang aku katakan tadi. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu. Rahasia di antara kita berdua saja. Jangan sampai Alma tahu.”
Mareta masih belum menyerah. Ia memang berniat untuk berdua saja dengan Adjie. Adik iparnya yang tampan mempesona.
Mareta tidak akan berhenti sebelum bisa merasakan tubuh Adjie.
Adjie sendiri segara berbalik untuk menemui Alma.
Ia bingung dengan permintaan Mareta. Lebih pusing lagi dengan ancaman tanpa alasan yang kakak iparnya lontarkan.
Adjie resah. Entahlah apa yang akan dia sampaikan pada Alma. Tapi, kalau ia juga tidak ikut perintah Mareta, ia akan difitnah juga.