Lelaki Semilyar Pesona

1596 Kata
  Usai Gala Dinner, Adji dan Alma keluar beriringan menuju mobil mereka. Di wajah Adjie terlihat kalau dia tengah memikirkan sesuatu.   “Kau kenapa?” tanya Alma merasa ada yang aneh dengan suaminya semenjak selesai berdansa dengan Mareta.   Apa mungkin Mareta mengatakan sesuatu pada Agam? Tapi, biasanya Agam akan menceritakannya padaku. Kenapa dia cuma diam saja?   Alma menghentikan langkah kakinya membuat Adjie tersadar kalau istrinya tidak berbarengan dengan dirinya menuju mobil. Ia menolehkan kepalanya ke belakang dan mengajak Alma untuk segera masuk ke dalam mobil.   “Ayo Alma,” ajak pria itu dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.   Alma hendak menanyakan apa yang terjadi, tetapi ketika ia memerhatikan sekitar yang masih ramai oleh orang-orang membuatnya urung untuk bertanya. Apalagi dirinya memang merasa aneh dengan Mareta yang mengajak Adjie berdansa.   Setahu Alma, Mareta sangat tidak suka dengan Adjie dan dulu malah mengolok-oloknya. Lantas, mengapa sekarang berubah menjadi seperti itu, sampai mengajak berdansa segala?   Jujur saja, Alma sedikit merasa tidak senang dengan ajakan Mareta terhadap suaminya. Namun, karena ia tidak ingin berdebat dengan Mareta di tempat pesta untuk menjaga nama baik keluarga, makanya Alma lebih memilih mengalah.   Anggap saja Mareta benar-benar terbuka hatinya hingga menganggap Adjie benar-benar adik ipar. Padahal, hubungannya dengan Alma juga tidak terlalu baik.   Ahh, kepala Alma rasanya akan dibuat pecah dengan memikirkan hal ini. Sementara Adjie yang sudah menunggu sejak tadi merasa bingung mengapa Alma bengong di sana.   Adjie menghampiri Alma dan berbisik, “Kamu kenapa?”   Suaranya yang berbisik pelan dengan sedikit serak itu mengejutkan Alma. Alma tersadar dan kembali ke dunia nyata. Pikiran yang menyeretnya dari dunia nyata langsung dalam sekejap buyar begitu mendengar suara suaminya.   “A-a-a-ku ….” Alma tergagap. Ia pandangi lekat wajah suaminya itu.   Dia manis sekali.   Astaga! Alma sudah tak terhitung sudah berapa kali terpesona dengan tampilan suaminya malam ini. Tiap kali Adjie memandanginya lekat dengan penuh cinta, membuat wanita itu merasa melayang ke udara.   Jantungnya malah berpacu cepat padahal ia hanya berdiri diam, tidak melakukan gerakan atau bahkan berlari sekali pun.   “Ayo,” ajak Adjie.   Adjie menyentuh bahunya Alma. Ia merasakan kulit istrinya itu dingin karena berada di dalam ruangan ber-AC dan juga kena angin malam. Segera Adjie melepaskan jasnya lalu memakaikannya pada Alma.   Alma terbengong karena perlakuan Adjie. Sosok Adjie yang sekarang malah membuatnya semakin tidak bisa mengontrol hatinya. Pipinya langsung merona merah karena diperlakukan begitu oleh Adjie.   “Nanti bisa masuk angin karena dingin,” ujar Adjie lalu membawa Alma untuk pergi menuju mobil. Ia bukakan pintu untuk istrinya dan mempersilakannya duduk secara romantis.   Entah dari mana Adjie belajar memperlakukan wanita seperti itu. Saat pergi menuju tempat ini Adjie sama sekali tidak bersikap seperti itu. Kemudian, Adjie berpindah membuka pintu mobil sebelahnya untuk duduk di kursi kemudi.   Meski Adjie belum terlalu mahir dalam menyetir, akan tetapi ia sudah jauh lebih baik dan bisa menyetir dengan hati-hati. Kalau ia tidak bisa menyetir, bagaimana mungkin bisa tiba di lokasi acara?   Saat sedang di perjalanan, Alma bertanya mengapa Adjie sampai membukakan pintu dan mempersilakannya duduk?   “Kenapa kau memperlakukan aku seperti tadi?” tanya Alma sambil menatap sekilas ke samping.   Adjie tetap fokus menatap ke arah jalanan tanpa menoleh sedikit pun pada Alma. Kalau ia menolehkan kepalanya menatap Alma, pasti ia akan mendapatkan wajah istrinya yang masih merona karena merasa sesuatu yang spesial dari suaminya.   “Aku melihat orang-orang yang datang ke sini membukakan pintu untuk pasangannya duduk dan juga keluar,” jawab Adjie.   Mata Alma membulat.   Jadi, Agam melakukan itu karena dia melihat orang-orang yang membukakan pintu untuk pasangannya? Ya, tidak salah juga jika dia menirunya seperti itu. Hmm, ternyata dia bisa memperhatikan sekitar dan langsung menerapkannya.   Alma senyum-senyum sendiri karena hal tersebut.   Lalu, tiba-tiba Adjie teringat dengan sesuatu. Ia memperlambat laju mobil dan menepi.   “Kenapa?” tanya Alma karena merasa heran dengan apa yang Adjie lakukan.   “Aku … ingin belajar menyetir supaya lebih mahir dari ini,” jelas Adjie kepada Alma.   “Sekarang ‘kan sudah bisa.”   “Ya, aku ingin lebih mahir daripada ini,” kata Adjie, “aku tidak mungkin mengendarainya pelan-pelan terus, sementara aku lihat di jalanan mobil lain melaju dengan cepat. Bisa kalah aku dari orang lain.”   Alma tampak berpikir sebentar. “Oke, kita bisa latihan lagi ke lapangan. Ayo, pergi ke lapangan untuk latihan.”   Adjie tersenyum lebar. Ia menatap Alma lekat membuat wanita itu menjadi salah tingkah. Senyuman yang terukir indah di bibir itu benar-benar nyaman di pandang oleh mata. Sampai berapa lama pun tidak akan membuat bosan.   Adjie kembali melajukan mobil hingga sampai di lapangan.   Adjie memulai seperti apa yang selama ini sudah ia pelajari, lalu Alma menginstruksikan Adjie supaya menambah kecepatan dari sebelumnya.   Dengan mengikuti instruksi dari Alma, Adjie ternyata bisa melakukannya lebih baik dari saat awal pertama kali ia menyetir.   Adjie merasa bangga karena ia akhirnya bisa mengendarai kendaraan perang alias mobil tersebut. Ia merasa bangga dan terus menambah kecepatan.   “Hei, jangan terlalu mengebut!” ingat Alma.   “Apa?” Adjie tidak mengerti.   “Turunkan kecepatan laju mobilnya,” jelas Alma. Ia lupa kalau suaminya terkadang tidak paham dengan apa yang dikatakannya. Jadilah Alma harus menjelaskan segala sesuatu secara detail.   Meski begitu, satu hal yang menurut Alma sangat menarik dari diri suaminya tersebut adalah, Adjie dengan cepat mempelajari hal-hal yang tidak ia mengerti sebelumnya. Pria itu ketika bertanya terlihat seperti orang bodoh, tetapi setelah mendapat jawaban dan penjelasan, ia dengan cepat mengerti.   Karena sudah merasa jauh lebih pandai dari sebelumnya, Adjie melakukan satu kali putaran lagi di lapangan tersebut. Setelah selesai, Adjie mengajak Alma keluar untuk duduk melihat bintang.   Adjie melarang Alma turun duluan. Ia akan membukakan pintu untuk wanita spesial dalam hidupnya.   Ketika Adjie membukakan pintu, Alma pun mengucapkan terima kasih pada pria tersebut.   “Terima kasih,” ucap Alma lalu menurunkan satu persatu kakinya ke lapangan dan turun dari mobil.   Saat menurunkan kaki yang sebelahnya lagi, Alma malah hampir saja terjatuh karena tidak hati menurunkan kakinya. Untung Adjie berada di depannya sehingga pria itu langsung menangkap tubuh Alma.   “Kau tidak apa-apa?” tanya Adjie panik.   Adjie membimbing Alma keluar. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia masih mencemaskan keadaan dari istrinya tersebut.   “Aku nggak apa-apa,” jawab Alma sambil melayangkan senyum tipis kepada Adjie.   Kemudian, Alma dan Adjie mendudukan diri di lapangan tersebut. Saat duduk, jas Adjie yang dipakaikan pada tubuh wanita itu sedikit turun, sehingga Adjie membantu memperbaikinya.   “Lain kali jangan ceroboh seperti tadi. Bagaimana kalau aku tidak ada di depan kamu?” Adjie menasihati istrinya supaya lebih hati-hati.   Tatapan mata Alma seperti tatapan orang yang akan marah. Adjie langsung menundukkan pandangannya karena mungkin Alma akan memaki dirinya yang sudah berani menasihati seperti itu. Namun, sebagai seorang suami tidak ada salahnya sama sekali ia menasihati istrinya tersebut, iya, ‘kan?   “Selama ada kamu, aku yakin tidak akan terjadi bahaya apa pun,” ucap Alma membuat Adjie langsung mengangkat wajahnya.   Senyum indah yang tergambar di bibir Alma membuat Adjie merasa tenang. Semua pikiran buruk karena kemungkinan Alma akan marah pun sirna seketika.   Adjie bergumam dalam hatinya bahwa Alma jika tersenyum dan berbicara dengan nada lembut seperti itu terlihat seperti wanita-wanita kerajaan yang ayu. Namun, kalau sudah marah begitu menyeramkan!   Adjie kemudian menengadahkan kepalanya menatap langit. Alma juga mengikuti aksi yang suaminya lakukan.   “Langitnya indah,” ucap Alma.   “Iya, bintang-bintangnya bersinar seperti kamu yang berkilau malam ini.”   Adjie tanpa sadar mengatakan sesuatu yang membuat pipi Alma menjadi memanas. Begitu Adjie menolehkan kepala menatap Alma, ia mendapati kalau wajah istrinya memerah.   “Kamu demam?” tanya Adjie spontan. Ia meletakkan tangannya ke kening Alma untuk memastikan apakah Alma baik-baik saja atau tidak.   “Iya, kamu panas,” ujar pria itu dengan polosnya.   “Aku tidak demam,” sanggah Alma menyingkirkan tangan Adjie.   “Tapi kening kamu panas.”   Ini semua karena ucapanmu yang membuatku jadi seperti ini, gerutu Alma dalam hati.   “Tidak apa-apa. Ini karena … aku mengenakan jas kamu makanya jadi seperti ini.” Alma tidak ingin memberitahu Adjie kalau dirinya menjadi seperti ini karena kata-kata gombal yang terlontar secara tidak sengaja dari bibir pria itu.   Bagaimanapun, Alma tidak mau Adjie tahu kalau dirinya perlahan mulai tertarik.   Adjie mendekatkan wajahnya ke wajah Alma. “Kalau kamu merasa tidak nyaman, katakan padaku. Aku tidak mau istriku ini sampai sakit.”   Alma menganggukkan kepalanya. “Iya.”   Tangan Alma pun bergerak untuk meraih tangannya Adjie. Tangan pria itu lebih besar ukurannya dibanding tangannya Alma.   “Terima kasih sudah mengajariku menyetir. Aku tidak akan menjadi suami yang mengecewakan kamu, Alma.”   Alma tersenyum. Perlahan, kepala Alma pun menyandar pada lengan Adjie.   Saat sedang seperti itu, Adjie tiba-tiba teringat sesuatu. Ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh kakak iparnya saat mereka sedang berdansa. Hanya saja, kakak iparnya itu mengatakan kalau itu adalah sebuah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Alma terutama.   Namun, Adjie merasa istrinya perlu tahu. Ia tidak ingin membohongi Alma. Ia juga merasa ada sesuatu yang aneh dengan apa yang Mareta katakan.   “Aku ingin mengatakan sebuah rahasia,” ucap Adjie, tetapi Alma tidak terlalu mendengarkan apa yang suaminya katakan. Ia terlalu larut dengan suasana malam yang sepi sambil bersandar pada lengan kekar suaminya.   “Rahasia yang terjadi di pesta tadi,” tambah Adjie.   “Rahasia apa?” Alma langsung bangkit. Ia menatap Adjie serius. Tadi ia berpikir kalau Adjie berbicara itu hanyalah mimpi. Ternyata bukan, melainkan ini adalah kenyataan!   “Rahasia antara aku dan juga Mareta.”   “Apa?” Kedua mata Alma membulat. Bisa-bisanya Adjie mempunyai rahasia dengan saudaranya Mareta? Rahasia apa itu? Kenapa bisa mereka sampai mempunyai rahasia?   “Jadi seperti ini, saat aku dan juga Mareta sedang berdansa, dia mengatakan sesuatu padaku.”   “Sesuatu? Apa yang dikatakakannya?”   ***   Bersambung—      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN