Jika ada yang ingin Alma lahap sekarang, maka jawabannya bukan martabak, kue lupis, ataupun hamburger dengan double beef. Yang ingin dia lahap adalah Mareta.
Sejatinya, dia sudah curiga, karena beberapa kali Mareta menyentuh bagian tabu suaminya dengan alasan berdansa bersama. Pada pembicaraan terakhir mereka, saat Mareta pura-pura pingsan, perempuan sok syantik itu jelas-jelas bilang menyukai lelakinya ini.
“Dia mengajak kamu em el?” Kata-kata Alma terlalu sembrono dan ceroboh. Padahal, yang dia bahas adalah hal terkait suaminya dan kakaknya.
“Jawab, Adjie!” Suara Alma melambung tinggi, membuat tubuh Adjie tegak berdiri, hingga kepala Alma yang bersandar di lengannya terlempar ke sudut luar.
Kini, keduanya dapat sama-sama melihat dengan jelas. Wajah Adjie yang benar-benar polos dan wajah Alma yang terlihat murka bukan kepalang.
“Iya kan, dia ngajakkin kamu tidur bersama?”
“Tidak! Dia tidak bilang begitu!” sangkal Adjie.
“Lalu apa? Seperti yang kukatakan pertama, iya kan? Kamu diajakkin em el?” Suara Alma begitu mencecar, sampai-sampai ludahnya berhamburan ke wajah Adjie.
“Kamu kenapa marah begitu?” Adjie yang tadinya ingin jujur, mengatakan kelakuan Mareta, sekarang malah menciut.
“Kamu gak perlu tanya aku marah atau tidak, Adjie! Simpel, kamu jawab saja, apa Mareta mengajak em el?”
“Em el? Apa itu?” kata Adjie. “Setahuku, dia tidak mengajakku em el em,” Adjie kepleset, karena asing dengan istilah yang dilempar oleh Alma.
Wajah Alma sejenak meraut lega. Bagaimanapun, lelakinya ini sepertinya terlalu polos, belum mengenal dunia, jadi dia yakin Adjie tidak berbohong.
“Jadi, apa yang dia katakan, Adjie?”
“Dia mengatakan kalau ….”
“Kalau apa?” Alma jadi tidak sabar untuk mendengar Adjie mengatakan apa yang dikatakan oleh Mareta. Sungguh, Alma sangat penasaran kenapa sampai menjadi rahasia.
“Katakan, cepet. Ahhh, sukanya bikin orang darah tinggi, deh!” kata Alma gusar,
Adjie menerawang sejenak. Haruskah dia katakan, padahal dia sudah berjanji pada Mareta.
“Tapi dia bilang aku tidak boleh mengatakannya padamu,” ucap pria itu dengan memasang tampang polos.
“Kau sudah telanjur mengatakannya padaku. Ayo, katakan! Kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu!” Alma mengancam Adjie.
Alma pura-pura mengeser duduknya dua lancang kanan, membuatnya dia dan Adjie kini berongga.
“Dek, jangan gitu, dong! Sini, duduknya sini, dekat-dekat sama Kakanda!”
Alma menoleh bengis. ‘Kakanda-kakanda palak lu peyang, gigi lu benjut!’ sungut Alma dalam hati.
“Dek ...,”
“Ngomong aja, kok! Aku gak marah,” kata Alma. Tentu saja itu dusta. Sekecil apapun perhatian Adjie pada Mareta akan membuat Alma gemas.
Tentunya Adjie tidak mau membuat Alma marah. Akhirnya, ia pun mulai menceritakan rahasia antara dirinya dan juga Mareta.
“Kakakmu memintaku untuk menemuinya di hotel besok. Hanya aku sendiri saja dan kamu tidak boleh tahu. Tapi, aku tidak tahu apa itu hotel,” ujar Adjie berkata apa adanya. Ia memang tidak tahu apa itu hotel.
Sebagai orang yang datang dari masa lalu, mana pernah Adjie mendengar nama tempat itu. Di otaknya memang merupakan suatu tempat, tetapi tempat apa? Ada dimana? Lalu, untuk apa tujuan pergi ke hotel?
“Ho, hotel?” Mata Alma membeliak.
“Iya, hotel!”
Alma kaget bukan main mendengar penuturannya Adjie. Matanya membulat besar dan jantungnya menjadi berpacu cepat. Sesuatu dalam diri Alma rasanya seperti terbakar.
“Apa kamu bilang? Dia memintamu ke hotel? Apa tidak salah?” tanya Alma dengan nada tinggi.
“Tidak, dia memang mengatakan seperti itu. Katanya nanti dia akan mengirimkan alamatnya padaku,” jelas Adjie masih belum sadar kalau Alma marah karena Adjie diajak pergi ke hotel oleh kakaknya.
Mata Alma menatap Adjie tajam.
Adjie kembali berpikir apakah ia salah mengatakan hal ini kepada Alma? Namun, ia memang tidak tahu apa-apa dan dirinya hanya nyaman bertanya kepada Alma. Meski Alma suka marah-marah, tetapi wanita itu adalah istrinya.
Marah ataupun sikap lembutnya sama-sama disukai oleh Adjie. Baginya Alma bukanlah wanita pemarah, hanya saja wanita itu tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Adjie menganggap Alma begitu karena ia adalah pria yang penting di dalam hidupnya Alma.
Ya, sepercaya diri itu Adjie, padahal kenyataannya belum tentu begitu.
“Kamu keterlaluan! Apa maksudmu dengan mengatakan hal itu padaku, tentang Mareta yang memintamu ke hotel? Hei, apa arti aku untuk kamu, hah? Kamu begini padaku, apakah ingin mengadu domba aku dengan saudaraku?” tanya Alma menggebu. Dadanya sampai naik turun dan napasnya menjadi tidak teratur.
Adjie hanya menganga tidak mengerti. Ia menatap Alma bingung mengapa reaksi Alma menjadi seperti itu.
“Aku tidak bermaksud mengadu domba kamu dengan dia. Aku hanya bertanya padamu tentang apa yang tidak aku ketahui. Pun, aku tidak mengerti apa tujuannya meminta aku datang ke sana. Apa kamu bisa menjelaskan?”
Plak!
Satu tamparan mendarat dengan sempurna di wajah Adjie. “Kau keterlaluan! Kau jahat! Kau b******k! Kau membuatku marah!”
Adjie semakin tidak mengerti. Tanggapan Alma yang seperti ini sungguh membuatnya bingung. Ia sampai mengira apakah Alma kerasukan makhluk gaib makanya menjadi seperti itu?
Adjie mencoba untuk membaca dengan mata batinnya. Namun, tidak ada makhluk gaib yang merasuki istrinya itu.
Lantas, mengapa Alma tiba-tiba marah dan menamparnya? Apakah ia sudah berbuat salah?
Akan tetapi, selama ini jika dirinya berbuat salah, Alma tidak sampai begini memarahinya. Memaki dan juga memberikan tamparan.
“Apa salahku, Alma?” tanya Adjie mengajak Alma berdiri. Ia pegangi pergelangan tangan Alma.
“Lepaskan aku!” bentak Alma. Ia sudah tidak terkendali lagi. Kemarahannya sudah mencapai puncak. Adjie yang polos atau memang pura-pura tidak mengerti, tidak bisa dimengerti oleh Alma sama sekali. Mengapa pria itu dengan mudah mengatakan sesuatu yang mampu membuatnya sakit hati?
Apakah Adjie sengaja melakukan itu semua?
Isak tangis sebisa mungkin Alma tahan. Ia menyembunyikan sakit dengan menyimpannya dalam hati. Hanya air mata yang mengalir dari matanya dan tubuhnya bergetar.
Adjie terkejut karena Alma tiba-tiba menangis. Tadi masih marah-marah bahkan sampai menampar dirinya. Adjie sebenarnya tidak terima, tetapi begitu Alma marah, ia tidak mampu berbuat apa pun.
Tangan Adjie mendekat ke pipi Alma untuk mengusap air matanya.
“Jauhkan tanganmu dariku!” Alma menyingkirkan tangannya Adjie.
Adjie semakin tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi pada Alma?
Alma juga melepaskan jasnya Adjie yang dipakaikan oleh pria itu sebelumnya. Ia melemparnya sembarang lalu berbalik meninggalkan Adjie.
“Alma, tunggu!” tahan Adjie.
Alma tidak dapat melanjutkan langkah kakinya. Adjie menahan pergelangan tangannya.
“Aku tidak tahu kalau hal ini membuatmu sampai marah kepadaku, Alma. Aku sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Aku tidak tahu apa-apa tentang keadaan dunia yang sekarang. Semuanya membingungkan untukku, meski aku masih bisa berkomunikasi dengan kalian. Tetap saja, banyak hal yang tidak aku ketahui.”