Istri Kesayangan

1095 Kata
Alma mengepalkan tangannya. Duduknya bergeser, menjauh dari lelaki ini. Padahal saja, dia sudah bisa bayangkan malam ini berakhir dengan indah. Bintang-bintang berkerlap-kerlip, Alma pun dengan berani menaruh kepalanya kali pertama di bahu lelaki ini dengan sengaja. Ya. Dia mulai bisa menerima Adjie. Namun, seolah lelaki jahat sejahatnya, Adjie merenggut semuanya dengan sebuah kalimat singkat: Mareta, kakaknya, mengajak lelaki ini ke hotel. Dan itu diterusterangkan pada Alma oleh dengan Adjie dengan polosnya. Tanpa sehelai dosa pun. Sungguh, Alma muak dengan lelaki ini. Lelaki yang pandai berakting bahwa dia amnesia. Dan Adjie membawanya ke dalam berbagai istilah anak di jaman ini: Kerajaan, Nisanak, Kisanak, Adinda, apaaaa semua itu? “Ka, kamu ...!” Alma menghentikan kata-katanya, karena tersedak. Dia sejatinya marah besar, sehingga suaranya begitu parau. “Kamu kalau mau selingkuh, ya, selingkuh aja! Gak usah sampai woro-woro ke aku, bahkan mengarang cerita mau ke hotel segala dengan kakakku,” “Aku tidak mau selingkuh! Kamu salah duga, Dek!”  Adjie berusaha mendekat. Namun, tangan Alma mengipas-ngipas, kode bahwa Adjie harus menjauh darinya. “Dek, percayalah ...,” “Gila kamu! Aku harus percaya dengan lelaki yang mau ke hotel besok! Kenapa? Kenapa kamu harus fitnah kakakku?” teriak Alma.  Dengan beringas, ia mencabuti rerumputan liar. Lalu, melemparinya kepada Adjie seraya berteriak, “Bajingaann!” Adjie diam saja. Dia rasa-rasanya hendak mendekap Alma, menenangkannya. Tapi, perempuan ini kadung emosi, tak mau mendengarkannya barang sejenak.  “Adinda, aku sudah pernah berjanji, tidak akan mengkhianatimu!” “Halah, mulutmu busuk! Palsu!” teriak Alma begitu garang.  Dia pandangi langit. Masih begitu cerah, seolah malam terang itu tidak ikut larut dalam kedukaannya. Kunang-kunang satu dua, lalu bergerombolan datang mendekati Alma. Perempuan yang sedang marah ini dengan segera mengibas-ngibaskan tangannya, seolah hendak meluapkan gundahnya pada kunang-kunang ini. “Pergi! Pergi kalian! Kunang-kunang resek! Kamu gak tahu, kalau kamu tuh menyebalkan! Sudah sok manis dengan pijarmu, sok kepedean lagi! “ Entahlah, kritikan itu untuk kunang-kunang atau untuk orang yang berada di sekitarnya sekarang. Ya, untuk Adjie, karena tidak ada lagi manusia di sana, selain dirinya dan lelaki jangkung ini. Kunang-kunang itu pun merasa terusik. Lalu, mereka kompak meninggalkan Alma.  “Dek,” Suara lembut Adjie membelai. Tidak ada jawaban. Hening saja. Alma bungkam. “Aku mengatakan itu, karena aku percaya padamu. Aku ingin kau tahu, apa yang dikatakan kakakmu, agar diantara kita tidak ada kesalahpahaman!” Alma masih terisak. Ia mendengarkan apa yang Adjie katakan, tetapi enggan untuk menanggapinya. “Kau adalah orang yang paling bisa aku percaya untuk bertanya. Bahkan, kau juga mengajariku menyetir. Kendaraan perang itu bisa aku kuasai dengan cepat karena kau, Alma. Tapi, kalau kau marah seperti ini, aku tidak paham. Bantu aku, jelaskan padaku.”  Adjie menyerah. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia hanya merasa nyaman bertanya pada istrinya, terlebih Alma itu tidak suka mengumbar hal-hal aneh yang ada pada Adjie. Malahan ia sering menutupi keanehan pada diri Adjie dari orang lain. “Apa yang perlu dijelaskan? Kau diminta olehnya pergi ke hotel, ya pergi saja sendiri!” “Tapi aku tidak tahu apa itu hotel?” Alma menghela napas. “Tanya saja pada Mareta itu,” ketus Alma. “Alma, aku benar-benar tidak mengerti kau sampai semarah ini. Selama ini kau marah-marah padaku tidak begini, Alma.” “Kau membuatku kesal, marah, sakit hati, semuanya! Kau pembohong, bahkan mengadu domba aku dan saudaraku. Meski aku dan dia tidak terlalu akur, tetapi tidak sepantasnya kau mengatakan bahwa dia mengajakmu pergi ke hotel!”  “Aku tidak berbohong! Semua itu dikatakan dengan sangat jelas oleh Mareta ketika sedang berdansa,” jelas Adjie. “Apa?” Sebelah alisnya Alma jadi terangkat. “Iya, dia mengatakannya padaku saat berdansa. Dia bahkan memintaku untuk selingkuh dengan dia,” ucap Adjie. Alma terdiam.  “Alma, aku tidak akan mungkin berselingkuh.” Adjie berusaha menjelaskan. Meski Adjie itu terlihat seperti orang yang polos, tetapi ia adalah orang yang setia. Pantang baginya untuk menyakiti Alma karena Alma adalah istrinya. Alma tertawa mendengar kata-kata Adjie. Astaga! Bagaimana bisa seseorang seperti Adjie menuduh Mareta mengajaknya berselingkuh? Bukankah Mareta suka mengolok-olok Adjie? Melihat reaksi Alma yang tertawa Adjie menjadi bingung. Awalnya ia juga ikut tertawa tetapi setelah melihat tatapan sinis Alma membuatnya langsung menghentikan tawanya juga. Alma kemudian berbalik meninggalkan Adjie, membuat Adjie semakin heran dibuatnya. Pria itu sama sekali tidak paham mengapa Alma bersikap demikian kepadanya. Apa dirinya salah lagi? Dalam hati, Alma merutuki suaminya itu. Mengapa dengan sangat mudah mengatakan bahwa ada wanita lain yang mengajaknya berselingkuh dan itu adalah saudaranya sendiri? “Alma, apa aku salah lagi?” tanya Adjie. “Iya! Kau salah, kenapa sampai menuduh Mareta mengajakmu berselingkuh, hah? Mana mungkin orang seperti dia itu mau mengajakmu berselingkuh, dia itu ‘kan sangat benci denganmu! Kau pembohong! Kau seperti ini supaya aku minta kita berpisah, ‘kan?” Alma meluapkan emosinya kepada Adjie. “Tidak, Alma. Aku tidak berbohong. Aku juga tidak ingin kita berpisah. Mana mungkin aku menceraikan istriku hanya demi wanita lain seperti dia,” bela Adjie tidak terima dengan perkataan Alma. Adjie mendekati Alma. Ia pandangi lekat wajah lelah Alma. Air mata yang tadinya menggenang di pelupuk mata wanita itu pun berhasil tumpah begitu Adjie menyentuh kedua pundak Alma. Alma melawan. Ia memukuli dadanya Adjie dan terus memaki Adjie. “Kamu pembohong! Kamu membohongiku! Kamu jahat!” Adjie membiarkan Alma memukuli dadanya. Ia terima semua kemarahan istrinya itu sampai Alma merasa lelah karena tidak punya tenaga lagi untuk meluapkan emosinya.  Setelah itu, Adjie pun membawa Alma ke dalam pelukannya. Ia peluk erat Alma dan diusapnya lembut punggung wanita itu. Tangis Alma yang semula hanya air mata tanpa suara, langsung berganti menjadi tangis yang disertai suara. Semakin Adjie mengusap punggungnya, tangisnya menjadi semakin keras. Meski Alma marah dan kesal dengan Adjie, tetapi saat pria itu memeluk dan berusaha menenangkannya, ia menjadi luluh. Semua rasa sakitnya menjadi luruh begitu saja. Saat sedang berpelukan seperti itu, ada notifikasi pesan masuk pada ponselnya Adjie. Adjie pun melepaskan pelukannya dengan Alma.  “Maaf, ada pesan masuk. Aku lihat dulu,” kata Adjie kepada Alma. Tidak ada sahutan dari Alma. Wanita itu hanya diam dengan sisa isak tangisnya.  Adjie merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel yang mengeluarkan nada pesan masuk tersebut. Begitu ia membaca nama yang tertera, tanpa sengaja ketika membaca itu ia membacanya dengan keras. “Pesan dari Mareta?” Mendengar hal itu, Alma langsung merebut ponsel di tangan Adjie. Dengan sangat jelas, di sana tertulis nama Mareta.  Sudah larut seperti ini, tetapi saudaranya itu dengan berani atau mungkin tidak tahu malu menghubungi suami adiknya sendiri. Alma menatap Adjie sekilas lalu membuka isi pesannya. Sontak hening menyelimuti Alma maupun Adjie. *** Bersambung—
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN