Chat itu terasa menggemparkan. Kunang-kunang yang tadi menjauh, kini mendekati Alma lagi.
Mareta : Hai, Adjie! Rencana kita besok jadi, kan?
Alma terdiam. Tidak ada kata Dek pada sapaan itu. Langsung Adjie, seolah Adjie bukanlah adik ipar bagi Mareta.
Alma pun membiarkan kunang-kunang mengerubunginya. Ditingkahi deru bayu sepoi-sepoi.
“Biar kuusir kunang-kunang itu, hush-hush!”
Adjie berusaha menghalau. “Atau ... perlukah aku mengeluarkan jurus gelembung angin kecil, agar mereka terpental beberapa belas meter? Jurus ini kadang dipakai untuk melarikan diri dalam kondisi darurat, dengan membuat lawan terpental!”
Panjang dikali lebar dikali tinggi usulan Adjie. Sayangnya, Alma masih mematung.
“Alma ....”
Adjie menghentikan langkahnya, manakala Alma merentangkan telapak tangannya, mengkode Adjie untuk diam.
“Aku tidak mengadu domba kalian, Dek, jika kamu masih berpikir begitu!”
Alma kembali mengayunkan telapak tangannya, menyuruh Adjie diam sejenak. Perempuan ini ingin merasakana sejenak luka hati. Bagaimanapun, dia tahu lelaki amnesianya ini ganteng minta ampun.
Dia juga berpikir, Adjie mungkin saja akan tertarik dengan paha-paha mulus berstocking kuning glowing, yang membuat tampilan jenjang kaki mereka semakin manis. Namun, tidak pernah terlintas, bahwa sebelum Adjie mungkin bersama pelakor, maka kakaknya lah yang menjadi pelakor.
Pelakor pertama dalam biduk rumah tangga Alma itu bernama Mareta Indro. Membuat denyut jantungnya berdetak begitu kencang, bagai diterpa angin topan yang nyaris melayangkan separuh napasnya.
Bliip! Sebuah pesan pelakor lagi.
Mareta : Kamu hanya membaca, kulihat centang biru saja. Kenapa, Sayang? Apa ada Alma di sampingmu? Aha ... aku jadi takut, nih!
Adjie : Ya, ada Alma di sampingku. Tapi, dia sudah tidur.
Mareta : [emoticon emoji dengan mata lophe-lophe!] Yeaaah, pesanku dibales, nih. Aku kok jadi deg-degan, ya!
Adjie : Tenang saja!
Mareta : Padahal, aku hendak video call denganmu. Barangkali, kita bisa memberitahu lekuk kita satu sama lain. Anggap saja itu pemanasan. Bagaimana?
“b*****h!” teriak Alma gusar. Sedari tadi, yang membalas Mareta itu adalah dirinya.
Lelaki berstatus suaminya, yang jangkung dengan badan indah itu masih menuruti perintah Alma. Adjie mematung berjarak sekitar lima langkah dari Alma.
“Dek,” Adjie melirih lagi.
“Diam di sana! Jadi batu dulu!” perintah Alma gemas.
[Astaganya, teganya kamu dek!]
“Ke, kenapa aku harus jadi batu?”
“Diamlah! Atau aku mengeluarkan jurus penguin mematuk ikan, agar kamu rasakan betapanya sakit dikhianati dirimu, yang enak-enak dengan kakakku!” Alma berang bukan kepalang.
Dia pikir, Adjie akan tertawa, karena nama jurus ngawurnya. Dengan begitu, Alma akan tahu bahwa selama ini Adjie hanya berpura-pura saja.
Namun, lelaki ini nampak terdiam, dengan raut cemas.
“Ju, jurus pe, penguin? Pinguin? Apa itu sejenis bunga atau hewan?”
Alma terlongo. Sejenak, dia pindai seksama lelaki ini. Namun, dia tidak menemukan sedikit pun unsur pura-pura dalam wajah lelaki ini.
“Kamu tidak tahu pinguin?” tanya Alma.
Adjie menggeleng cepat. Aku tidak tahu dia. Siapa dia? Seperti apa rupanya?
Sadarlah Alma, bahwa Adjie ini ternyata tidak mengetahui mahluk kutub itu. Dan ... itu wajar saja, karena kejadian Adjie mungkin berada di hutan tropis, yang tidak ada pinguinnya.
“Kalau begitu, diamlah! Tunggu di sana!”
Blip! Blip! Bliip!
Sudah seperti minum obat saja, tiga kali berturut-turut ponsel Mareta mengusik ponsel suaminya.
Mareta : Sayang, aku sudah gak sabar menunggu esok hari, aku terlanjur horrnii!
Mareta : Bolehkah kamu kirim foto contoh barangmu, sekedar buat fantasiku. Dan sebagai gantinya, aku akan kirim contoh barangku. Bagaimana?
Mareta : Jangan malu! Mareta pasti tidak akan tahu, deh! Dia kan kalau tidur ngorok dan kayak mumi orang mati! Tidak kenal dunia manapun, ha ha.
Adjie : Kamu sering merhatiin Alma?
Mareta : Ih, malas banget. Dia benalu, maaf ya, Adjie. Pilihanmu buruk sekali. Untung kamu cepat sadar dan menyukai aku!”
Alma menangis kembali setelah membaca pesan tersebut. Yang suaminya katakan sama sekali bukanlah adu domba antara dia dengan saudaranya.
Alma menatap Adjie lekat. Tetesan yang jatuh dari kelopak matanya itu tidak berhenti mengalir.
Hal ini membuat Adjie resah. Ia merasa sangat terluka dengan tatapan sedih istrinya itu.
“Alma,” panggilnya lembut.
Tangan Adjie hendak mengusap air matanya Alma, tetapi Alma menepisnya.
Alma tidak berkata apa-apa lagi. Ia berjalan menuju mobil dan memilih mendudukkan diri di dalamnya.
Adjie menyusul. Ia juga masuk ke mobil dan terus menatap ke arah Alma. Ia tidak mengerti mengapa perasaannya menjadi begitu hancur melihat keadaan Alma yang seperti ini?
Alma marah-marah dan memakinya tidak menjadi masalah, tetapi ketika Alma hanya menangis dalam diam, tanpa bereaksi apa-apa membuatnya tidak tahu harus melakukan apa supaya Alma mengacuhkannya.
Pesan yang Alma baca menguatkan kalau memang ada yang tidak beres dari saudaranya itu.
***
Di rumahnya Mareta, wanita itu senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya berkali-kali. Ia begitu lama berada di kamar mandi hanya untuk memikirkan isi pesan yang akan ia kirimkan pada seseorang.
Mareta seperti wanita yang sedang dimabuk cinta untuk pertama kalinya. Ia baru kali ini merasakan sesuatu yang membuatnya sangat-sangat berambisi untuk mendapatkan cinta seorang pria. Biasanya, para pria yang akan mengejar-ngejar dirinya. Meski itu hanyalah pendapat sepihak Mareta karena merasa ia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Kecantikan, kekayaan dan juga status yang dimiliki oleh keluarga membuat Mareta merasa dirinya diidam-idamkan oleh banyak orang. Namun, sekarang ia sudah terikat hubungan dengan Ifan yang menjadi suaminya.
Di tempat tidur, Ifan menunggu Mareta sambil membaca buku untuk mengisi waktu sebagai penghilang rasa bosannya.
“Kenapa lama sekali ya di kamar mandi?” pikir Ifan merasa ada yang aneh dengan Mareta.
Ifan mengenyahkan pikiran anehnya itu. “Ahh, mungkin saja dia sedang mempersiapkan diri,” gumam Ifan dengan senyum manis menghiasi bibirnya. Membayangkan istrinya itu keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang selalu membuatnya terpesona, sudah membuat Ifan senyum-senyum sendiri.
Akan tetapi, memang agak aneh karena Mareta terlalu lama di kamar mandi.
Ifan beranjak menuju pintu kamar mandi. Ia mendekatkan telinganya ke pintu untuk mendengar apa yang terjadi di dalam sana. Perasaan Ifan semakin tak tensng. Ia cemas terjadi sesuatu pada Mareta.
Suara keran air yang menyala di dalam sana terdengar jelas di telinga Ifan.
“Sayang, kau tidak apa-apa di dalam?” teriak Ifan.
Mareta yang sedang melamunkan hal-hal indah yang akan ia lalui bersama Adjie pun seketika buyar pada saat mendengar suara suaminya. Mareta menggerutu kesal karena suaminya itu membuat hayalan indahnya hilang begitu saja.
“Ipan jelek! Hish, menyebalkan! Khayalan enak-enakku dengan Adjie hilang, deh!”