Adik Ipar Lebih Menggoda

1060 Kata
“Menyebalkan,” gerutu Mareta dengan wajah tidak senang. Ia pura-pura membasuh tangan padahal tidak ada kamera CCTV di dalam kamar mandi tersebut. Kalaupun Ifan mendengar suara dari luar, yang terdengar hanyalah suara air mengalir dari keran. “Sayang, kamu lagi ngapain, sih! Kok suaranya mendesah-desah begitu? Hayooo, kamu mikiran apa sih, Sayang!” Mareta membasuh wajahnya sekalian, air-airnya berjatuhan di wastafel. Bayangan Adjie yang aduhai bodinya, tengah menggendongnya, lalu kedua kakinya menjepit pinggang Adjie sudah terfantasi. Dan itu hancur karena panggilan suami gendutnya ini. Mareta baca sekali chat Adjie, yang tak ia sangka membalasnya dengan begitu liar. Membuat Mareta menggigit bibir bagian bawahnya.  Mareta : Sayang, vi ci es, yuk! Sebentar aja! Kamu keluar mandi, sana! Aku juga ada di sana, lho! Adjie : Nanti, tidak rahasia lagi dong! Tidak! Aku tidak mau memperlihatkannya padamu! Mareta : Hish, Adjie pelit! Bilang saja, kamu itu termasuk dalam ikatan suami takut istri. Cemen! Sama Alma pincang aja takutnya minta ampun. Heh, dia bukan singa! Adjie : Kalau aku masuk dalam ikatan suami takut istri, apa kamu akan membatalkan janji kita ke hotel besok? Mareta : Ya, nggak, dong! Malah aku suka! Kamu menantangku untuk mengambilmu dari adikku yang cemburuan itu! Adjie : Kalau begitu, sampai jumpa di hotel, ya, besok! Mareta : Ciyus, miapa (Serius? Demi apa?) Adjie : Demi kamu, Sayang! “Maretaa! Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Aku cemas!” Suara Ipan membuyarkan Mareta yang lagi asyik membaca ulang chat WA. “Iya Sayang, tidak terjadi apa-apa. Sebentar lagi aku keluar!” sahut Mareta dengan suaranya yang tetap terdengar manis. Mareta masih memanggil dengan panggilan yang mesra dengan suaminya itu, meski di pikirannya sekarang dipenuhi oleh adik ipar yang membuatnya serasa mau gila! Apa sebenarnya yang Mareta lakukan? Ia tetap bersikap seperti biasa dengan suaminya, tetapi juga mengajak iparnya untuk menjalin hubungan secara diam-diam.  Tak lama setelah itu, Mareta keluar.  Terlihat Ifan tengah duduk di tempat tidur menunggui dirinya keluar dari kamar mandi. Namun, yang Ifan lihat Mareta tidak mengubah penampilan seperti biasanya kalau ia berada lama di dalam kamar mandi. Wajah Mareta yang biasanya dirias cantik oleh make up, sekarang hanya wajah polos tanpa apa-apa. Meski begitu, di mata Ifan Mareta tetap saja cantik karena ia terlalu bucin dengan istrinya itu. Sama sekali Ifan tidak mempermasalahkan. Ia terus tersenyum menatap Mareta dan duduk manis menunggu wanita itu menghampirinya. “Sayang,” panggil Ifan begitu Mareta mendudukan diri di sampingnya Ifan. “Hmm,” sahut Mareta dengan ekspresi yang datar-datar saja. “Kamu kenapa tidak berdandan seperti biasanya?” tanya Ifan sambil memeluk tubuh Mareta dari samping. Mareta mengerutkan dahi mendengar pertanyaan suaminya itu. “Hmm, aku sudah memakai make up sejak pagi dan sampai acara tadi. Aku ingin membuat kulit wajahku tetap sehat,” tutur Mareta. Padahal, ia memang tidak berniat untuk bersolek di depan suaminya.  “Iya juga. Kau tetap cantik kok meski tidak berdandan pun,” ujar Ifan dan mendaratkan sebuah kecupan singkat ke leher Mareta, Biasanya Mareta akan merasa berbunga-bunga saat sang suami memuji kecantikannya. Ia menjadi terbang ke langit yang tinggi karena begitu dipuja oleh Ifan. Akan tetapi, Mareta malah merasa risih dengan ucapan Ifan dan juga hal yang Ifan lakukan membuatnya merasa tidak nyaman. Ia seperti mengelak dan mendorong Ifan menjauh. “Kenapa?” tanya Ifan begitu Mareta mendorongnya. “Aku mau tidur, capek.” Raut Ifan langsung berubah. Ia tidak mengerti dengan sikap Mareta yang mendadak dingin terhadapnya. Apa yang terjadi? Ifan lalu mengangkat pinggang ramping Mareta hingga membuat tubuh wanita itu tersandar dengan tubuhnya. “Kau kenapa?” tanya Ifan. Mareta lama untuk menjawab. Ia kemudian menundukkan kepalanya. “Sayang, sikapmu malam ini sangat aneh, tidak seperti biasanya,” bisik Ifan ke telinga Mareta. Sungguh, suara Ifan membuat indera pendengarannya jadi terganggu. Mareta malah membayangkan suara seraknya Adjie yang begitu menggoda hingga ia lupa sedang bersama siapa dirinya sekarang ini. Mareta memegangi tangan Ifan yang semakin memeluknya erat. “Sayang, aku sedang datang bulan. Maaf ya,” ucap Mareta berusaha melepaskan tangan suaminya itu. “Apa?” Ifan tahu dengan jadwal bulanan istrinya itu. Tidak mungkin ia lupa dengan waktu-waktu yang datang rutin tiap bulan tersebut. Akan tetapi, ini sangat aneh karena seharusnya belum sekarang. “Sayang, akhir-akhir ini aku sedang memikirkan hal yang berat, makanya jadi seperti ini.” Alasan Mareta dengan dalih dirinya yang sedang memikirkan hal yang berat, membuat hormonnya menjadi tidak stabil. Kebingungan Ifan dapat dibaca oleh wanita itu. Ia tidak ingin Ifan sampai menduga-duga lebih jauh. Kalau sampai Ifan tahu semua rencana yang sedang ia susun, bisa kacau semuanya! Mareta tidak ingin hal itu terjadi. Ia harus bisa menutupinya dengan sangat rapat dari suaminya itu. Mareta tidak ingin pria yang bucin seperti Ifan menghilang dari kehidupannya. “Kau tahu, aku merasa cemburu ketika kau berdansa dengan Agam. Seharusnya kita yang berdansa,” ungkap Ifan terus terang dengan perasaannya.  “Sayang, kenapa kau merasa cemburu? Aku berdansa dengan Agam hanya untuk mengajarinya. Alma kakinya pincang, tidak mungkin bisa berdansa dengan leluasa. Aku juga ingin menunjukkan pada orang-orang kalau hubungan dalam keluarga terlihat harmonis,” jelas Mareta dengan begitu lihai mencari alasan. Mareta sangat pandai menyusun kata-kata hingga membuat Ifan tertipu dengan mulutnya yang begitu manis. Meski begitu, tetap saja hati kecilnya Ifan merasa ada yang aneh. Selama ini Mareta selalu mengolok iparnya itu, tetapi tadi Mareta malah mengajak Agam berdansa. Bukankah itu akan menimbulkan tanda tanya? Ada apa sebenarnya? Mareta tiba-tiba teringat dengan sesuatu. “Sayang, sekarang sudah malam. Sebaiknya kita segera tidur,” ucap Mareta sambil beranjak dari tempat tidur dan mematikan lampu utama. Yang tersisa hanyalah lampu tidur saja. Ifan menganggukkan kepala setuju. Ia merebahkan badannya, sementara Mareta mengambil ponsel dan mengirimkan pesan kepada kontak seseorang yang sejak tadi belum jadi-jadi ia kirimkan. Begitu pesan terkirim, Mareta jadi senyum-senyum sendiri. Ia tidak sabar menantikan hari esok yang akan menjadi hari bahagia dalam hidupnya. Tidak, tetapi hari yang paling bahagia karena bisa berduaan dengan pria yang membuatnya gila setengah mati! Tidak Mareta ketahui, ternyata saat pesan itu masuk ke nomor yang ditujukannya, malah terbaca oleh Alma, adik perempuannya. Niat ingin mengirimkan pesan pada iparnya, malah dibaca oleh adiknya sendiri. Kira-kira, apa yang akan terjadi setelah ini? Setelah mengirimkan pesan, Mareta segera beranjak tidur. Ia tidak peduli apakah adik iparnya membalas pesan tersebut, tetapi begitu melihat ada dua centang berwarna biru, itu artinya Agam sudah membaca pesan darinya. Malam ini Mareta akan tidur dengan mimpi yang indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN