Lain Mareta, lain pula Angkie. Lelaki jangkung dengan mata mencuat tajam ini masih menyimpan rasa penasaran, terkait keberadaan Adjie.
“Di mana kamu, Adjie? Apa kamu begitu lihai menyembunyikan dirimu, sampai-sampai aku tak tahu keberadaanmu?”
Tiba-tiba saja, Angkie merasa pakaiannya menjadi serba emas. Dan dia berada di sebuah hutan belantara. Tidak sendiri, melainkan ditemani satu lusin pasukan elit miliknya.
“Apa aku sedang mencari Adjie? Kenapa bajuku emas semua? Baju emas ini adalah baju pengukuhan menjadi raja dan baju ... pernikahan,” Angkie bergumam dalam hati.
Dia diam sejenak. Mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Kenapa dia bisa dalam kondisi seperti ini?
“Kangmas Mangkudepatih, apakah kamu tahu kenapa aku begini?” tanya Angkie pada kepalat elit pasukannya yang bernama Mangkudepatih ini.
“Ampun pangeran! Kita sedang mencari Pangeran Adjie sekaligus calon istri dari pangeran!” kata Mangkudepatih.
Angkie memacu kuda hitamnya, hingga berjalan lebih cepat. Mereka melalui jalanan padang rumput, dimana Angkie merasa de javu.
“Bukankah ini tempat aku dan Adjie bertarung?”
Angkie menatap sekeliling. Sebuah padang rumput yang luas, dengan kawanan rusa, yang dengan cuek merumput.
“Rusa itu!” teriak Angkie.
Angkie menunjuk sebuah rusa jantan muda dengan tanduk yang belum terukir sempurna. Namun, sekalipun demikian, rusa itu terlihat sangat gagah.
Rusa itu asyik merumput. Tak mempedulikan Angkie yang menunjuknya dengan gahar. Dia juga tidak peduli dengan Angkie yang bergelar pangeran.
Pluk pluk, pluuuk!
Butiran-butiran kotoran rusa dengan santainya dibuang hajat oleh rusa jantan muda ini. Membuat Angkie geram.
“Rusa kurang ajar!” geramnya Angkie. “Rusa itu kan yang menanduk Adjie, namun tak ditemukan jasad Adjie!”
“Benar, Paduka Pangeran! Sepertinya dia adalah rusa yang menanduk pangeran Adjie. Saya ingat betul, ada seserpih tanduk yang patah pada ujung tanduk rusa muda ini!” lapor seorang prajurit.
“Perlukah saya memanahnya, Pangeran? Apakah Anda ingin menjadikan kepalanya sebagai hiasan dinding?” tambah yang lain.
Bergegas Angkie menyorongkan tangannya ke udara, pertanda bahwa tidak boleh ada satu pun prajurit yang memanah rusa ini.
“Tidak!” Suara Angkie menggelegar membelah hutan. Beberapa burung liar yang tengah bertengger di pohon pinus yang menjadi border depan padang rumput ini, tampak beterbangan ketakutan.
“Tidak boleh ada yang memanah ataupun memenggal kepala rusa ini tanpa sepersetujuanku!” kata Adjie.
“Baik, Paduka Pangeran!”
Adjie mengamati lagi tampilan rusa jantan muda itu dengan seksama. ‘Di mana kamu sembunyikan Adjie, wahai rusa jantan muda?”
Para prajurit elit tersebut tampak berpandangan. Mengira Angkie kelewat frustasi, karena tak kunjung menemui jasad Adjie, sehingga raja Srijayanaga menganggap Angkie hanya bisa dinobatkan sekian puluh purnama, jika jasad Adjie tak ditemukan.
“Gila, dia! Pangeran kita gila,” kata seorang prajurit berbisik.
“Diam saja kau! Atau kepalanmu bisa dipenggal, bila pangeran tak berkenan kau gunjingkan!”
Sesaat, pandangan Angkie memindai satu persatu anak buahnya. Lalu, sorot culas itu memindai rusa muda jantan, yang menyeruduk Adjie, yang terus saja tenang menyantap rumput.
“Aku minta dia ditangkap hidup-hidup!” seru Angkie, yang membuat para prajurit terhenyak, tak terkecuali Mangkudepatih.
“Ampun Paduka Pangeran. Tapi ... buat apa? Bukankah kita bisa memburunya saja, untuk dagingnya dijadikan santapan.
“Tidak! Apa yang kutitahkan, jangan banyak bertanya. Aku ingin dia ditangkap hidup-hidup, agar barangkali ada petunjuk dari rusa ini!” lantang Angkie ungkapkan komando.
“Maaf, Paduka Pangeran, kalau boleh tahu, petunjuk apa, hingga kita harus menangkap rusa ini hidup-hidup?” Mangkudepatih bertanya.
Angkie melesakkan binar tajam, hingga ketua prajuritnya ini sedikit gentar. Luruh pandangannya menghujam rerumputan.
“Kangmas Mangkudepatih, sudah aku bilang, jangan bertanya!” sergahnya. “turuti saja kata-kataku!”
Mangkudepatih tak mampu menyembunyikan wajahnya yang pucat. ‘Dasar pemarah!’ gerutunya kesal.
“Baik, Yang Mulia Pangeran, kami akan segera menangkap rusa itu hidup-hidup! Prajurit! Ayo kita tangkap rusa itu!”
Angkie tersenyum puas. Dia senang, karena kehendaknya dituruti oleh para prajuritnya. ‘Baru jadi pangeran saja, aku sudah disegani sedemikian rupa. Apalagi jika aku menjadi raja.’
Sebenarnya, bukan tanpa alasan Angkie hendak menangkap rusa itu hidup-hidup. Rusa itulah yang menjadi petunjuk baginya untuk mencari Adjie.
Dia menjadi yakin tidak yakin, jika Adjie ini sudah meninggal. Setelah satu purnama berlalu, belum ada tanda-tanda jasad dari Adjie.
Dan yang ingat, rusa ini menanduk Adjie, lalu tiba-tiba terlihat sinar menyilaukan. Lalu ... pangeran kemayu itu HILANG.
“Huhahaha, ha ha, lucu sekali!” Angkie tertawa pongah, melihat para prajuritnya pontang-panting terjatuh belingsatan mengejar rusa, yang ternyata lincah ini.
Rusa itu memandang Angkie dengan tajam.
“Kena kau!” Rupanya ada seorang prajurit yang berusaha meloncat ke arah Rusa. Namun, Rusa ini dengan santai menghindar, sehingga sang prajurit hanya terjerembab membentur akar rumput.
Tatapan Rusa itu kembali gahar kepada Angkie. Tak mau kalah, Angkie yang di atas kuda menatapnya dengan tatapan tajam wibawa, selayak pangeran.
“Mau apa kamu makhluk lemah? Bisa-bisanya kamu menatapku seperti itu!”
Tak disangka, rusa itu berlari berderap menuju Angkie. Sejenak, Angkie terpesona dengan kecepatan rusa ini menujunya.
Namun, sadarlah ia, begitu rusa ini menyorongkan tanduknya ke arah Angkie, rusa ini hendak mencelakainya. Terlambat bagi Angkie untuk memacu kudanya, guna menghindari tandukan rusa ini.
‘Ah, kenapa aku harus khawatir? Rusa ini kan hanya rusa muda, yang lompatannya tak akan setinggi tubuh kuda!’
Angkie salah! Rusa itu melompat melebihi tubuh kuda!
Gedebuk!
Tanduk Rusa itu seperti menyeruduknya. Dan ... Angkie terlempar terpental, hingga ia berada di sebuah lembah bunga, yang ia tidak mengerti kenapa berada di situ. Tidak ada padang rumput, tidak ada prajuritnya, tidak ada pohon pinus pembatas padang rumput.
“Di, di mana aku?” Angkie bertanya-tanya dalam hati. “Apa rusa itu membuatku terlempar hingga puluhan kilometer? Di mana prajuritku?”
Tiba-tiba menyembul kepala dari gerombolan bunga itu, diiringi tubuh jenjang yang berdiri. Sosok itu berhasil memikat Angkie dari sejak pandangan pertama.
“Ca, cantik sekali! Aku tidak tahu, jika rakyatku ada yang secantik ini. Tapi ... pakaian apa itu? Dia rakyatku, kenapa berpakaian seindah itu?”
Perempuan itu mengenakan dress kekikinian berwarna merah marun dengan pola love-love berwarna putih, dress itu memiliki tali pemanis, diikatkan ke samping, sehingga membentuk sedikit lekuk perempuan ini.
“Kuperintahkan kamu menikah denganku!” kata Angkie pongah. Tiba-tiba, dia sudah ada di hadapan wanita yang muncul dari gerombolan bunga-bunga.
Dalam bayangan Angkie, perempuan ini akan membentuk mata lophe-lophe. Ditawari menikah oleh seorang pangeran tampan gagah, sepertinya, masak iya tidak mau?
“Kamu siapa?” tanya perempuan ini datar. Tak ada unsur lophe-lophe itu.
“Aku Pangeranmu, duhai rakyatku! Apa kamu tidak mengetahuiku!”
“Tidak! Yang kuketahui pangeranku adalah Adjie. Dan aku miliknya!”
“Tidaaaaak!”
Bersamaan teriakkan itu, Angkie terbangun dari mimpinya. Napasnya menderu.
Mungkinkah ini petunjuk bahwa Adjie masih hidup dan dia sedang bersama perempuan yang ia sukai?
“TERKUTUK KAU, ADJIE. TERKUTUUUUK!”