“Paduka pangeran, apakah paduka mimpi buruk?” Seorang prajurit penjaga kamar berteriak dari luar pintu.
Dengan mata nyalang dan merah, Angkie yang geram berdehem sejenak. “Panggil dayang, segera!”
Dan tak menunggu lama, dua orang dayang datang tergopoh-gopoh.
“Basuh kedua kakiku dengan air mawar!” perintah Angkie.
Kedua dayang itu mengangguk. Tanpa bertanya lagi, mereka segera mendekatkan wadah kuningan pada kaki Angkie, yang masih duduk di atas ranjangnya. Lalu, dengan sigap keduanya membasuh kaki Angkie.
Mereka tak berani menatap Angkie. Jadi, Angkie bisa leluasa menatap paras kedua perempuan ini.
Menurutnya, dayang-dayang pelayannya sudahlah cantik. Namun, perempuan dalam mimpi yang mengaku-ngaku perempuannya Adjie ini jauh lebih cantik.
“Wajahmu, kenapa berminyak begitu? Apa kamu tidak bisa seperti perempuannya Adjie?” tanya Angkie pada dayangnya.
“Sa, saya, Tuan?” Seorang dayang meminta konfirmasi.
“Bukan! Dua-duannya. Wajah kalian berminyak semua! Parahhh!” geramnya.
Dayang itu bersungut-sungut. Dan mereka hanya bisa menghela napas pelan. Mana Angkie menyebut-nyebut perempuannya Adjie.
Setahu mereka, pangeran yang pintar masak itu tidak dekat dengan perempuan manapun. Dayang-dayang Pangeran Adjie juga rata-rata sudah berumur dan tua. Mana bisa dibandingkan kecantikannya dengan mereka yang masih muda-muda.
“Perempuannya Pangeran Adjie memangnya seperti apa, Pangeran Angkie?” tanya seorang dayang dengan rambut panjang yang disanggul.
“Murtijem, jaga bicaramu! Kamu tidak sopan!” tegur seorang dayang lain.
“Ampun, ampuni hamba, Yang Mulia Pangeran Angkie. Hamba khilaf,” kata dayang bernama Murtijem ini.
“Wajahnya seperti dikerubungi kunang-kunang,” kata Angkie, membuat kedua dayang yang mendengar menggigil ketakutan.
Seram dong, dikerubungi serangga itu.
“Hei, apa yang kalian gigilkan! Apa kalian mengira wajah perempuannya Adjie itu benar-benar dikerubungi kunang-kunang, hah!”
“Ampun, ampun, Paduka Pangeran Angkie. Kami memang tidak pandai, jadi kami mengira hal itu benar adanya!”
“Ya, kalian memang bodoh!” ejek Angkie.
Kedua dayang itu terdiam. Ingin rasanya mereka cakar-cakar kaki Angkie yang sedang mereka basuh. Namun, mereka tentu saja tidak berani.
“Wajahnya perempuan Adjie itu seperti bercahaya. Berkilauan bagai kunang-kunang. Aku belum pernah melihat wajah seindah itu!”
Tentu saja, jamannya kerajaan Angkie, belum ada pusat skincare, dengan berbagai teknologi laser, felling, ataupun treatment perawatan kecantikan lainnya.
“Dia sangat cantik,” desis Angkie seperti terpesona pada Alma.
“Siapa namanya?” tanya Angkie dengan mata memindai kedua dayangnya, yang jelas saja kebingungan. “Kalian tahu, siapa nama perempuannya Adjie itu? Kenapa dia lebih memilih Adjie yang kemayu itu ketimbang aku?”
[Jelas, kamu lelaki arogan sok tampan! Aku aja gak mau]
Kedua dayang tak berani menjawab.
“Hei! Telinga kalian masih berfungsi kan?”
“A, ampun Yang Mulia Pangeran Angkie. Kami tidak tahu perempuan yang pangeran maksud!”
“Kalau begitu cari! Cari di barisan dayang dan kamar Adjie, barangkali dia menyembunyikan perempuan itu di sana!”
“Tapi Tuan ....”
“Kamu mau menentang calon raja, sepertiku?” kata Angkie sombong, yang dengan seketikan mendapat gelengan kepala dari kedua dayangnya.
Mereka pun menuruti Angkie, mencari perempuan paling cantik yang mengaku miliknya Adjie ini. Dan tentu saja mereka tidak akan menemui Alma, karena perempuan ini ada di masa depan.
Jika Angkie menyukai Alma. Maka Mareta, kakaknya Alma, justru menyukai suami Alma: Adjie.
Selepas berdansa dengan Adjie semalam, keesokan paginya, Mareta langsung mem-booking hotel. Ia memilih kamar hotel dengan pelayanan terbaik karena tidak ingin ada yang kurang sedikit pun atau membuatnya tidak nyaman nanti.
Lebih tepatnya, ia ingin Agam merasa senang dengan dirinya memilih kamar hotel yang bisa mereka nikmati untuk bersenang-senang berdua saja.
Otak Mareta sudah dipenuhi oleh adik ipar yang sebelumnya ia olok-olok tersebut. Seperti senjata makan tuan, Mareta terjebak pesona Agam yang makin lama semakin menarik saja.
Entah mengapa, wajah Agam terus terlintas hampir tiap waktu. Mareta tidak mengerti, tetapi memang seperti itulah keadaan yang ia alami.
Mareta memesan kamar hotel tentunya diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya. Wanita itu menyembunyikan dengan rapat agar Ifan tidak tahu apa yang direncanakannya secara diam-diam.
Hampir saja Ifan bertanya mengapa Mareta buru-buru untuk bersiap-siap keluar pagi-pagi sekali, sementara biasanya tidak begitu. Sebagai seorang suami, tentunya Ifan sudah hafal dengan kebiasaan istrinya. Akan tetapi, melihat perubahan sikap Mareta yang tiba-tiba tentu menimbulkan tanda tanya.
Mareta begitu lihai mencari alasan, sehingga ketika suaminya yang mulai berpikir mengapa Mareta tiba-tiba berubah pun jadi tidak terpikirkan hal-hal yang aneh.
Ia berpikiran positif terhadap apa yang istrinya itu lakukan. Pria tersebut malah merasa bangga karena Mareta bisa mengubah kebiasaan yang semula buruk menjadi lebih baik.
Mareta sedang di perjalanan menuju tempat yang membuatnya terus senyam-senyum sambil menyetir. Wanita itu sekilas seperti orang yang tidak waras karena senyum-senyum sendiri.
Untung saja sedang mengendarai mobil dan kaca mobilnya dipasang kaca film yang membuat pengendara lain tidak bisa melihat Mareta yang senyum-senyum karena membayangkan Agam. Astaga, Mareta!
Setiba di hotel, Mareta langsung bergegas menuju kamar yang ia pesan. Sungguh, Mareta tidak sabar lagi. Ia benar-benar sudah dibutakan karena bisikan-bisikan yang menyesatkan pikiran dan hatinya.
Mareta yang memang terbiasa berada di jalan yang salah, tetapi kesalahan kali ini sepertinya terlalu kelewatan. Ia yang tidak pernah berpikir untuk mempunyai lelaki lain di belakang suaminya, malah sekarang ia mempunyai pikiran seperti itu.
Jika dipikir-pikir, Ifan begitu mencintainya. Tidak ada yang kurang dari Ifan. Lantas, mengapa Mareta masih ingin berpaling?
Jawabannya hanya satu. Mareta menemukan sesuatu pada diri Agam yang tidak ia temui pada diri Ifan. Ia merasa sosok Agam yang unik dan juga membuatnya terus kepikiran, di sanalah Mareta merasa kalau Agam memang sosok yang sangat tepat untuk memberikan kepuasan yang tidak ia dapatkan dari suaminya.
Mareta keluar dari toilet kamarnya dengan pakaian yang terbuka dan tentunya bertujuan untuk membuat Agam tergoda begitu masuk ke dalam kamar. Tak lupa, Mareta juga memberikan sentuhan make up yang spesial tentunya.
Di mata Agam, adik ipar yang akan menjadi target incarannya, Mareta haruslah tampil semenarik mungkin. Dirinya merasa lebih dari Alma si wanita pincang yang tidak lain dan bukan adalah saudaranya.
Begitu tega seorang saudara mengkhianati saudaranya hanya demi nafsu!
Mareta tidak peduli dengan hubungan tali darah yang terdapat di antara dirinya dengan Alma. Ia seolah lupa kalau Alma adalah adiknya dan Agam itu iparnya.
Akan tetapi, jika dikatakan lupa, Mareta malah dengan sangat sadar ketika ia berdansa dengan Agam di acara Gala Dinner mengatakan kalau dirinya ingin Agam berselingkuh secara diam-diam tanpa sepengetahuan Alma.
Mareta pergi menuang wine ke dalam gelas. Ia telah membayangkan bagaimana dirinya menuangkan pada gelasnya Agam wine dan mereka menikmatinya bersama. Mareta sudah tidak sabar lagi menunggu pria itu datang, mengatakan cinta dan memuji kecantikan dirinya yang melebihi dari kecantikan biasa yang selama ini terlihat.
Kepercayaan diri Mareta begitu tinggi. Semua hayalannya ia yakin akan menjadi kenyataan. Karena selama ini tidak ada hal yang tidak menjadi kenyataan karena keluarganya punya kekayaan yang membuatnya mudah mendapatkan apa pun hanya dengan menggunakan uang dari orang tuanya.
Jantung Mareta berpacu cepat begitu melihat waktu di arlojinya. Entah mengapa, perasaannya menjadi seperti ini karena menanti kedatangan Agam.