Mareta memakaikan lip tint di bibirnya dengan sedikit pelan. Warnanya merah cabe.
Untuk urusan bibir, dia sengaja intens, dan membuat volumenya besar. Barangkali Mareta ingin terlihat seperti Angelina Jolie.
“Sumpah demi apa, aku ini seksi banget! Adjie tidak normal kalau sampai menolak aku,” kata Mareta seraya tertawa pongah.
Beberapa kali dia berdecap-decap. Kosmetik berbau peach wangi itu menguar di hidungnya sendiri.
Mareta tertawa sendiri. Dia sudah bayangkan, bibirnya yang wangi akan dikecap-kecap oleh Adjie yang garang.
Fantasinya mulai membayang. Adjie yang datang dengan gagah. Lalu dia mulai merengkuh lehernya Adjie, menundukkan kepala lelaki jangkung itu. Sementara itu, dia akan menjinjit untuk agar bibir berlipstik wanginya ini dapa menjejak di bibir lelaki itu.
“Argh!” Mareta melenguh sendiri, membayangkan fantasi itu. Sejenak, dia menutup mulutnya.
Belum ada sosok Adjie di sana, dia juga belum melakukan apapun dengan Adjie. Namun, aliran darahnya sudah terasa hangat.
“Binalnya, aku!” Mareta tertawa.
Lalu, dia berlenggak-lenggok di hadapan cermin.
“Aduh, body-ku emang bagus banget. Si Alma jelek pincang itu mana bisa nandingin aku. Aku keren banget, dah!” Lagi, Mareta memuji-muji dirinya sendiri. Dan dirinya sangat menyukai kondisi ini.
“Hei, lakiknya Alma yang tidak tahu hape, ha ha. Sini sayang! Datanglah secepatnya. Aku bantu amnesiamu hilang, dengan kecup-kecup manjahhh, argh!”
Mareta merasakan semua yang ada pada dirinya sudah cenat-cenut. Dia merebah ke springbed, lalu menggelinjang nakal di atasnya, ke kanan, lalu ke kiri. Persis, seperti ulat bulu.
“Aduh, kenapa aku jadi begitu berhasrat begini, ya?” Mareta menerawang, melihat plavon estetis hotel di atasnya.
Semburan angin sejuk AC yang dingin semakin membinalkannya. Dia benar-benar berharap bisa bertemu Adjie.
Dia lihat, jam digital berwarna abu-abu di samping kasur ukuran king size. Dia ambilnya dengan tangan malas.
Lalu, jam itu kini berada tepat dua puluh centimeter dari matanya.
“Jam sembilan lewat lima belas. Dari waktu kubooking jam tujuh, berarti dua jam lima belas menit sudah aku di sini. Apa dia akan datang?” tanya Mareta.
Dan sekarang, cemas mulai menjalarinya. Bagaimana jika Adjie tidak datang, sementara dia dalam posisi butuh menyalurkan hasratnya? Tidak! Dia harus salurkan ke mana, jika tidak ke Adjie!
Apa dia harus mengundang Ipan, suaminya yang bulet dan tulang lunak itu. Membayangkannya, sudah membuat Mareta jijai sendiri.
Tidak! Dia sudah bayar mahal-mahal untuk reservasi hotel bintang tujuh ini, dan Adjie tidak datang!
“Mustahil! Disuruh tidur saja denganku di hotel mewah ini dia tidak mau, ah tidak mungkin! Sumpah demi apa, gak ada ceritanya Mareta ditolak!” sungut Mareta.
“Agam alias pria yang mengaku-ngaku bernama Adjie, DATANGLAH!”
Sebuah pesan.
Agam : Aku sudah di depan kamarmu!
Mata Mareta membeliak senang.
Ting tong!
Begitu ada yang membunyikan bel di luar, Mareta langsung terkesiap. Ia padahal sudah memberitahukan pada Agam lewat pesan untuk mengatakan pada resepsionis untuk langsung masuk ke dalam kamar tanpa membunyikan bel. Akan tetapi, dengan seperti ini, Mareta bisa bersiap-siap untuk menyambut kedatangannya.
Senyum Mareta mengembang lebar. Ia berpindah duduk dengan membelakangi pintu.
Mareta mengirimkan pesan lagi kepada Agam.
“Sudah kau minta kunci pada resepsionis, bukan?” Mareta mengirimkan pesan suara kepada kontaknya Agam.
Mareta senyum-senyum karena Agam termakan rayuannya. Pikirannya yang mengatakan bahwa Agam hanya berpura-pura setia ketika acara Gala Dinner, terbuktikan. Tidak ada pria yang bisa menolak pesona wanita cantik seperti dirinya.
Kesombongan Mareta pun jadi meningkat berkali-kali lipat.
Tak lama setelah mengirimkan pesan suara tersebut, pintu pun terbuka. Mareta semakin merasa jantungnya bertambah cepat detaknya. Ia sampai memegangi bagian sebelah kiri dadanya.
“Sebentar lagi, kau akan menjadi milikku. Alma, lihatlah suamimu akan kurebut dan kau akan menjadi wanita yang menyedihkan.”
Sebegitunya Mareta membenci adiknya itu. Sampai segitu tega mengkhianati saudara sendiri. Kira-kira, hatinya Mareta ini masih ada atau sudah dibuang ke dasar laut dan dimakan oleh hiu hingga tak bersisa sedikit pun?
Dengan menghirup udara pelan, Mareta mencoba merilekskan diri. Ia harus terlihat tenang di depan Agam meski keadaan sebenarnya tidak seperti itu. Ia juga menyempatkan diri berkaca pada layar ponselnya untuk memastikan apakah riasannya masih cantik atau ada yang kurang.
Mareta tidak ingin terlihat buruk di depan Agam. Ia ingin Agam semakin jatuh dalam jeratnya dan hanya tergila-gila kepadanya.
Derap langkah yang terdengar di telinga Mareta membuat wanita itu secara spontan mengeluarkan kata-kata dengan suara yang lembut dan mendayu.
“Welcome Agam. Akhirnya kau datang ke sini. Aku tahu waktu itu kau pura-pura setia dengan Alma yang tidak sempurna. Nyatanya kau datang ke sini dan mau berselingkuh denganku. Pilihanmu ini tidak salah, Agam.”
Mareta dengan lantang mengatakan kalimat tersebut. Ia tidak melihat orang yang diajaknya berbicara.
Begitu ada yang mencoleknya dari belakang, Mareta merasakan sesuatu yang aneh dan ia sempat tersenyum untuk beberapa detik.
Akan tetapi, segera rasa bahagia itu tersingkir. Ia merasa jari telunjuk yang begitu kecil dan lembut mengenai permukaan kulitnya. Otaknya merespons kalau itu bukan seperti jarinya seorang pria.
Segera Mareta membalikkan badan dan ….
Mata Mareta membulat besar begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Ia tentu saja tidak menyangka kalau yang datang bukanlah orang yang diharapkannya, melainkan Alma, saudara yang ingin ia khianati.
Mareta tidak bisa berkata apa-apa begitu melihat wajah marahnya Alma. Beberapa waktu setelah itu, ia memasang wajah biasa-biasa saja seolah tidak melakukan dosa apa pun. Dirinya malah tersenyum dengan mata yang menantang menatap Alma.
“Kau benar-benar keterlaluan ya!” bentak Alma.
“Apa? Aku keterlaluan?” Mareta dengan tenang menanggapi Alma.
“Kau pikir aku akan tinggal diam dengan apa yang sudah kau lakukan? Kau pikir aku akan merelakan suamiku jatuh ke tangan wanita licik seperti kau ini?” Alma menunjuk saudaranya itu dan matanya menatap tajam dengan berapi-api.
Kecemburuan, kekecewaan, semuanya bercampur dalam diri Alma. Alma tidak menyangka kalau ia punya saudara yang begitu tega mengusik hubungan rumah tangganya.
Tidak hanya tidak menyukai dirinya tetapi Mareta juga ingin menghancurkan satu-satunya kebahagiaan yang Alma rasakan setelah sekian lama hidupnya selalu direndahkan. Alma tidak tahu berkata apa lagi, tetapi kemarahannya sungguh memuncak.
“Aku akan melaporkan kelakuanmu ini kepada Ifan,” ucap Alma sambil mengeluarkan ponselnya Agam dari sakunya.
Mareta langsung terkesiap begitu mendengar apa yang Alma tunjukkan. Ponsel itu adalah bukti nyata kalau dirinya mengajak Agam yang merupakan adik iparnya tersebut untuk berselingkuh.
Kelakuan Mareta tidak bisa ditoleransi. Sikapnya itu tidak bisa menunjukkan kalau dirinya adalah seorang kakak yang baik. Ya, Mareta akan mengakui dengan sangat jujur kalau dirinya bukanlah kakak yang baik apalagi adiknya seperti Alma.