Wajah Mareta yang terlihat kaget sebelumnya ketika Alma mengancam, tetapi beberapa detik kemudian ia terlihat santai saja. Ia seolah tidak merasa ada melakukan salah apa pun.
Alma mengerutkan keningnya melihat reaksi Mareta yang seperti itu. Wanita tersebut sudah tertangkap basah, tetapi mengapa memasang ekspresi begitu?
Tidak bisa dimengerti dengan ekspresi yang Mareta tunjukkan. Wanita itu terlalu jago bermain akting. Sayangnya saja ia tidak masuk ke sekolah akting atau tidak ia mungkin sudah menjadi salah satu pemain di sinetron yang berperan sebagai tokoh antagonis yang paling dibenci oleh para penonton.
Ya, tampang seperti Mareta memang cocoknya seperti itu. Ia pasti akan menjiwainya dengan sangat sempurna karena dirinya juga mirip dengan sikap tersebut.
“Kau tidak takut aku laporkan?” tanya Alma.
Mareta menggelengkan kepalanya. Ia kemudian berdiri dan mendekati Alma.
“Ifan sangat mencintaiku. Dia sangat percaya denganku, jadi kamu mengadu pada dia pun dia tidak akan percaya. Dia sama sekali tidak menyukai kamu, Alma. Bagaimana bisa dia percaya dengan aduan kamu?” Mareta menatap Alma dengan tatapan merendahkan.
“Tapi aku punya bukti-bukti yang kuat. Secinta-cintanya orang, kalau dikhianati pasti juga bisa berubah pikiran,” tutur Alma.
Mareta tertawa mendengar hal tersebut. Bahkan tawanya itu semakin keras hingga membuat telinga Alma terasa sakit dengan tawa Mareta. Yang jadi pertanyaan, apa yang Mareta tertawakan?
Alma sedang tidak melucu atau mengucapkan lelucon yang bisa membuat perut menjadi geli hingga tertawa sampai selama itu.
“Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?”
“Ya, ada yang lucu. Sangat lucu!” seru Mareta lalu menghentikan tawanya. Tatapan matanya berubah menukik tajam menusuk tepat ke tengah bola matanya Alma.
Alma menggelengkan kepala tidak mengerti. Ia merasa kakaknya itu ada kelainan atau apa. Entahlah, tetapi memang sikap Mareta semakin lama bertambah aneh. Ada-ada saja yang diperbuatnya.
“Kau sekarang ini hanyalah berhalusinasi Alma. Semua yang kau tuduhkan padaku sampai ingin mengancam untuk melaporkan pada kakak iparmu kalau aku mengajak suamimu berselingkuh, semuanya itu hanya halusinasi kamu, Alma!”
“Halusinasi?” Alma menjadi sewot karena Mareta mengatakan bahwa Alma hanya berhalusinasi. Bagaimana bisa dikatakan dirinya hanya berhalusinasi sementara bukti-bukti nyata benar adanya!
Alma bukan orang bodoh. Alma juga bukan orang yang buta huruf, sehingga tidak bisa membaca. Alma juga bukan orang yang tidak bersekolah, ia punya ilmu dan pemahaman yang baik. Mengapa dikatakan bahwa Alma berhalusinasi oleh Mareta?
“Iya, kau hanya berhalusinasi. Kau tahu bukan kalau Agam adalah adik iparku, bagaimana mungkin aku mengajaknya berselingkuh? Meski aku tidak menyukai adik seperti kau ini, tetapi aku masih punya harga diri,” ujar Mareta menyebut bahwa dirinya masih punya harga diri.
Jika waktu diputar mundur, Mareta bisa dikatakan sama sekali tidak punya harga diri karena mengajak iparnya berselingkuh. Mareta dengan tidak tahu malunya menggoda suami adiknya sendiri.
Memang begitu ‘kan kelakuannya Mareta? Namun apa? Ia dengan mudahnya membalikkan kenyataan dan mengatakan bahwa Alma hanya berhalusinasi.
“Asal kau tahu, aku dari awal tidak menyukai Agam. Bagaimana mungkin aku mengajaknya berselingkuh? Itu adalah suatu pembodohan.”
Pada saat berkata begitu, Mareta mengalihkan pandangannya ke pintu. Ia berharap di pintu sana akan muncul pria yang dinanti-nantikannya sejak tadi. Akan tetapi, batang hidung pria itu sama sekali tidak kelihatan.
“Kemana Agam sebenarnya? Apakah dia sengaja ingin membuat Alma tahu kalau aku mengajaknya berselingkuh? Kenapa dia melakukan hal itu? Bukankah aku sudah mengatakan supaya dia merahasiakannya dari Alma? Atau jangan-jangan Agam yang polos ketahuan dan dicegah Alma untuk ke sini?”
Mareta memikirkan Agam dan khawatir dengan pria itu. Ia tidak memedulikan masalah dirinya yang bisa saja jika Alma melapor pada suaminya dan ini akan membuat hubungan rumah tangganya menjadi bermasalah.
Akan tetapi, Mareta yang sudah dibutakan oleh cinta yang sesat tidak memikirkan akibat lain yang ditimbulkan atas perbuatannya. Ia hanya terpikir dengan apa yang membuat pikirannya senang. Ia hanya teringat dengan Agam, dan semua elemen di otaknya dipenuhi oleh Agam.
“Kenapa kau masih di sini? Keluar sana!” usir Mareta sambil mendorong Alma.
Alma masih tidak percaya dan ingin sekali memarahi Mareta yang sudah jelas-jelas salah mengajak suaminya berselingkuh. Ketika mendengar perkataan Agam yang berbicara tentang Mareta mengajak berselingkuh, sama sekali Alma sulit mempercayainya. Namun, dengan datang ke lokasi ini membuatnya semakin yakin.
Meski Mareta membantah, tetapi Alma yakin kalau ada yang tidak beres dengan saudaranya itu. Sungguh, sikap Mareta terhadap dirinya kali ini begitu keterlaluan.
Alma menatap lekat Mareta. Matanya berkaca-kaca tetapi bibirnya diam karena masih menahan kata-kata untuk menyemprot wanita yang berstatus sebagai saudaranya tersebut.
Tidak mengapa jika selama ini Mareta tidak menyayangi bahkan tidak menganggap dirinya sebagai seorang adik. Namun, tidakkah ada sedikit perasaan di dalam hati Mareta kalau Alma adalah saudaranya? Bagaimana bisa setega dan sejahat itu kepada dirinya?
Keterlaluan bukan?
“Kenapa menatapku begitu? Aku sudah mengatakan kalau aku tidak tertarik sama sekali dengan suamimu itu! Mau menunggu apa lagi di sini?” bentak Mareta.
“Kau benar-benar keterlaluan,” ucap Alma.
“Alma, kita tidak sedekat itu sehingga aku harus berbuat baik padamu, ya!”
“Kau saudaraku, Mareta! Mengapa kau begitu tega berbuat seperti ini, hah?”
“Saudara? Kau bilang aku adalah saudaramu? Jangan mimpi!” Mareta mendorong bahu sebelah kanan Alma.
“Asal kau tahu, dari kita kecil sampai sekarang aku tidak pernah menyukaimu. Meski kau terlahir di dalam keluarga yang sama denganku, tetapi karena kau tidak sempurna alias pincang, aku merasa malu, tahu tidak?”
“Malu?” beo Alma pelan.
“Iya, aku merasa malu. Sampai kapan pun bagiku kau bukanlah saudaraku! Aku tidak sudi punya saudara yang pincang seperti dirimu ini! Aku tidak mau dikatakan sebagai Kakak dari wanita pincang! Aku sempurna dan cantik, kalau sampai dikaitkan dengan wanita seperti dirimu ini, tentu namaku yang sudah dikenal oleh banyak orang pun menjadi tercoreng.”
Alma semakin tidak kuasa menahan tangisnya. Begitu tega Mareta menghina fisik yang dialaminya. Meski dirinya pincang, bukan berarti ia memalukan bukan?
Memangnya hal ini adalah keinginan Alma? Memangnya menjadi pincang sehina itu? Serendah itu?
“Cepat kau keluar dari sini wanita pincang!” teriak Mareta menunjuk pintu keluar.
Alma dengan bergegas berjalan keluar meninggalkan Mareta. Ia memang tidak menyukai saudaranya itu, tetapi pengakuan Mareta sungguh membuatnya sakit hati. Tidak habis pikir bagaimana ia punya saudara yang tidak mengerti keadaan dirinya.
Jauh berbeda dengan Agam, suaminya. Pria itu bahkan berusaha menyembuhkan kaki Alma dan sekarang sudah jauh lebih membaik dari sebelumnya.
Hanya Mareta saja yang tidak suka dan selalu menjadikan alasan Alma pincang sebagai suatu kelemahan yang akan membuatnya malu kalau sampai ketahuan.
Alma berlari hingga sampai ke taman rooftop hotel. Ia tidak sadar juga mengapa sampai berlari hingga ke sana dari kamarnya Mareta.
Sesampai di sana, Alma berteriak melepaskan semua beban yang mengganjal di hatinya. Sungguh, kata-kata jujur sang kakak melukai hatinya yang paling dalam. Berharap mendapat kasih sayang dari seorang saudara sebagaimana orang-orang lain di luar sana yang menyayangi saudaranya apakah itu salah?
Alma juga manusia. Alma adalah seorang adik yang butuh kasih sayang dan perhatian dari kakaknya. Akan tetapi, ia sama sekali tidak pernah mendapatkan hal itu. Bahkan, senyum yang tulus pun tidak pernah Alma dapatkan.
Ketika Alma sedang berteriak seperti itu, tiba-tiba ada yang mendorongnya dari belakang. Alma yang berada di dalam kondisi tidak stabil pun langsung terlempar jatuh dari pinggir taman rooftop hotel tersebut.
***
Bersambung