Hadir Untukmu

1061 Kata
Sepuluh menit sebelumnya.  Sosok berpakaian formal itu menanti di sebuah siku lorong. Dia tersenyum sinis, ketika Alma menaiki rooftop dengan kaki terpincang-pincang.  Sejenak, lelaki ini menautkan kedua telapak tangannya, lalu jari-jarinya saling bersilangan, dan dia tarik lengannya ke depan, seolah sedang pemanasan saja. Bahkan, lehernya ditekuk, ke kanan dan ke kiri.  “Kena kau!” desisnya.  Alma tak sadar, jika dia sedang menjadi pusat perhatian seorang yang mengancam. Dengan langkah tenang, lelaki itu berjalan.  Tentu saja sasarannya adalah rooftop. Sama seperti tujuan Alma.  “Aku akan katakan! Yeah, aku akan mengadu pada ayah tentang perbuatan Mareta, hiks hiks, teganya dia melakukan itu padaku!” ceracau Alma terpukul. Dia acak-acak rambutnya.  Perempuan itu meluruh, lalu terduduk di dekat ujung rooptop. Lalu berdiri lagi seraya menghentak-hentakkan kakinya.  “Jahat! Jahaaat! Kalian sudah merebut kasih sayang ayah dan ibu, kini mau merebut suamiku pula! Aaa!” teriak Alma sejadinya.  Seseorang yang mengenakan hoodie hitam dan wajah yang tertutup oleh topeng berjalan mengendap-endap mendekati Alma yang sedang menangis berdiri di pinggir rooftop taman hotel. “Kau bahkan menyalahkan kepincanganku! Kenapa Mareta? Apa aku tidak boleh bahagia! Kamu jahat, sumpaaah! Jahat banget!” Tepat saat Alma kehilangan fokus ketika dirinya berteriak, tangan orang itu dengan cepat mendorong tubuh Alma. Alma kehilangan keseimbangan dan langsung terlempar jatuh dari pinggir rooftop tersebut. Alma tidak tahu apa yang terjadi makanya sampai terdorong seperti ini. Pemandangan yang ia lihat adalah langit biru dengan awan tipis yang membentang cantik. Tidak! Alma sadar kalau dirinya sekarang sedang jatuh dari lantai paling atas hotel. Teriakan keras pun keluar dari mulutnya Alma karena tubuhnya sudah melayang hendak jatuh ke bawah. “AAAAAA!”  Teriakan itu menggema. Namun, rasanya tidak ada yang mendengar. Alma tidak yakin, karena posisinya sangat tidak mendukung.  Tidak bisa Alma bayangkan bagaimana dirinya ketika jatuh di bawah. Kepalanya akan terjun lebih dulu dan …. Tangannya gemetar, membayangkan bagaimana darah dengan segera membanjir dan tengkoraknya retak. Sungguh, Alma ngilu sendiri. Alma sangat ketakutan. Ia tidak berhenti berteriak dan memilih memejamkan mata.  [Tuhan, apakah ini hari terakhirku? Ampuni dosaku! Bahkan sebagai istri, aku telah memperlakukan Adjie dengan sangat buruk. Apakah itu sangat berdosa?] Dalam hati, Alma merasa sesuatu yang belum ia wujudkan. Ada hal penting yang ingin ia raih sebelum ajal menjemputnya. Namun, jika ini adalah hari terakhirnya berada di dunia, ia sangat ingin melihat wajah suaminya untuk yang terakhir kali. Namun, apakah itu mungkin? Sudah beberapa lantai terlalui, rasanya hitungan sepersekian detik lagi, dia akan menjejak bumi. Air mata meleleh sudah di wajahnya.  Dalam keadaan takut seperti itu, yang Alma ingat adalah suaminya. Ya, suami yang semula tidak pernah berada di dalam benak dan juga hatinya, tetapi sekarang seseorang yang sangat ingin ia lihat untuk terakhir kali adalah suaminya itu. Di bawah sana, Adjie yang tengah menunggu Alma di parkiran terus merasa tidak enak. Ia bolak-balik berjalan di sekitar mobil menunggu kedatangan Alma. Adjie ingin ikut dengan Alma, tetapi Alma melarang. Katanya, Alma akan sangat marah jika sampai Adjie juga ikut bertemu dengan Mareta.  Ia akan memberi pelajaran pada kakaknya itu, makanya Adjie tidak boleh ikut. Alma juga takut kalau Mareta akan dengan sengaja menggoda Adjie di depan matanya. “Aku akan terbakar, jika melihat Mareta seducing you!” Begitu kata Alma tadi. Dan Adjie celingukan.  “Terbakar pakai apa? Kayu bakar? Rasanya, kamu tidak memiliki jurus api naga melingkar, Dinda? Kenapa harus terbakar segala!” kata Adjie polos. “Aduuh, stop! Jangan melawak deh! Kalau kamu memang hobi stand up comedy, aku bakal daftarin kamu setelah ini,”  “Daftarin ke mana?” tanya Adjie. “Daftari ke kompetisi stand up comedy lah, masak ke tanding gulat!” sewot Alma. Dia lagi marah, kok Adjie bisa-bisanya masih amnesia akut. “Aku gak mau ikut lomba gulat,” kata Adjie serius. “aku maunya gulat sama kamu,”  Alma hendak tersipu, tapi dia sedang mode marah.  [Apa kuduga, lelaki ini cepat sekali belajar genit! Kalau ketemu Mareta, bisa dilahap dengan lezat, si dia!] “Jangan ganjen! Gatel kamu!” sewot Alma. “Aku mau daftar satu saja,” lanjut Adjie lagi. “Daftar apa? Daftar jadi selingkuhan Mareta, begitu?” Alma mendelik. “Kamu cemburu, ya?” [Iyalah, Badak! Aku cemburu sekali, di saat sudah ada bibit cinta padamu!] “Nggak!” “Ya sudah, kalau begitu, aku daftar, deh,” kata Adjie. “daftar ke hatimu,” Bisikan Adjie sejatinya melumerkan emosi Alma. Namun, dia bergeming. Tadi, dia tak ingin mengajak Adjie. “Dari mana kamu tahu gombalan itu?” sengit Alma. “Dari Joni, satpam kita!” kata Adjie. “Boleh, ya, aku ikut menemui Mareta!” “Tidak!”  Mareta adalah wanita nekat dan sangat tidak bisa diprediksi. Meski begitu, Alma masih ingin menyelesaikan masalahnya dengan Mareta secara baik-baik karena memikirkan kalau mereka adalah satu keluarga. Akan tetapi, pada kenyataannya, Mareta sama sekali tidak menganggap Alma sebagai saudara! Dan sekarang, Adjie mendengar teriakan wanita yang suaranya tidak asing. Segera Adjie berlari dan menengadahkan kepalanya ke langit. “Alma! Astaga! Adinda, istriku!” seru Adjie. Spontan dirinya menggunakan ilmu peringan tubuh hingga ia melayang ke udara dan menyambut Alma.  Adjie membuat kabut, agar pandangan orang-orang di sekitar supaya tidak menyadari dirinya yang terbang melayang menyelamatkan Alma.  Alma merasa dirinya sudah semakin dekat dengan lantai depan hotel. Namun, dirinya merasa kalau tubuhnya tidak terbalik seperti tadi dan juga ada tangan kekar yang memeluk tubuhnya. ‘Apa aku diselamatkan malaikat? Atau aku sudah masuk ke alam kematian?’ batin Alma bertanya-tanya. Wanita itu mengira dirinya sudah meninggal dan sekarang sudah berada di alam kematian. [Selamat tinggal dunia!] Dengan mata yang masih terpejam, Alma merasakan hembusan angin karena dirinya dan sang penyelamat bergerak menuju sebuah pohon terdekat dari ketinggian di mana Alma diselamatkan saat jatuh tadi. Seolah terbang dengan menggunakan sayap, tubuh Alma dibawa ke sebuah pohon dan ia didudukkan di atas dahan yang cukup besar. Ketika Alma sadar dirinya menduduki sesuatu yang keras dan besar, Alma merasa kalau dirinya benar-benar sudah diselamatkan seseorang. Namun, ia masih takut untuk membuka matanya. “Alma, ini aku!” “Suaramu indah, Mas! Dari alam lain, aku bisa mendengarnya. Jika kamu bisa mendengarkanku, maka aku hanya berpesan maafkan aku!” kata Alma. “Iya, suaraku memang indah. Kamu suka kan?” Suara itu menggelitik Alma. “Satu lagi, aku sudah memaafkan kamu, karena kamu marah itu pertanda sayang padaku! Maafkan aku yang bodoh!” Alma membeliakkan matanya. Terperanjatlah ia, itu benaran Adjie.  “Ma, Mas Adjie?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN