“Iya, Adinda Sayangku! Ini Aku!”
Andai dalam situasi normal, mungkin Alma akan terbahak-bahak dirinya dipanggil dengan lisan roman pujangga itu. Namun, saat ini ia hanya mampu membeliakkan matanya.
“Ma, Mas Adjie,” ulang Alma lagi. Terbitlah manik-manik haru di matanya.
“Iya, Sayangku! Ini aku? Kenapa? Apa aku terlihat begitu tampan, sampai kamu bengong begitu?”
“Ka, kamu, yang menyelamatkan aku dengan ilmu peringan tubuh itu?”
“Siapa lagi? Kamu menanti siapa?” tanya Adjie dengan alis dinaikkan.
Alma menangis tersedu-sedu. Dia terharu, bahwa pintanya didengar oleh-Nya. Dia masih bisa mengabdi pada suaminya.
“Jangan menangis,” kata Adjie.
Namun, Alma menggeleng dan menangis semakin kencang.
Setelah dirasa stabil, Adjie hendak menurunkan Alma dari pohon. Tangan istrinya merengkuh dengan kuat. Pertanda dia masih ketakutan, membuat Adjie mengurungkan niatnya.
Dan mata Adjie nyalang ke atas. Dia melihat sosok yang mencelakai istrinya masih berdiri tegak. Sepertinya, sosok itu kaget karena dia berhasil menyelamatkan Alma.
Sosok itu menunjuk pada Adjie, lalu kemudian telapak tangannya membentuk bentukan pisau, lalu menggerakkan hilir mudik di lehernya. Kode sosok itu ingin menghabisi Adjie.
“Kurang ajar!” geram Adjie.
“Kamu kenapa, Mas?”
Adjie menunjuk rooptof. “Lihat! Sosok itu yang mencelakaimu!”
Alma melihat. Namun, sosok itu tidak jelas, karena memakai topeng dan jaket hoodie, yang memiliki penutup kepala.
“Kamu tunggu di sini! Aku akan memberinya pelajaran!”
Adjie berusaha untuk menggunakan ilmu peringan tubuh supaya bisa terbang ke rooftop untuk melihat siapa yang berani mencelakai istrinya. Adjie tidak akan terima dengan hal itu. Ia akan membuat orang yang mencelakai Alma membayar akibatnya!
Lihat saja, Adjie akan menangkap orang itu!
Namun, sayang sekali. Ilmu peringan tubuhnya sama sekali tidak bisa digunakan. Hal itu hanya bisa digunakan sesekali, tidak bisa sesukanya seperti sekarang.
Mungkin karena pengaruh dimensi dunia yang sudah berbeda, makanya menjadi seperti ini.
“Sialan!” maki Adjie kesal. Hampir saja ia meluapkan kemarahannya dengan mengeluarkan tenaga dalam yang bisa membuat bangunan hotel itu hancur.
Saat ia marah atau pada kondisi tertentu, kekuatannya bisa menjadi muncul. Akan tetapi, tidak bisa selalu muncul.
Tiba-tiba, Adjie merasa tubuhnya direngkuh dari belakang. Tangan mungil yang melingkar di pinggangnya membuat Adjis sadar kalau itu dilakukan oleh Alma, istri yang hampir saja menghadapi bahaya.
Adjie membalikkan badannya. Ia menatap Alma yang masih menangis karena ketakutan.
“Jangan, Mas! Jangan tinggalkan aku! Tetaplah di sini. Aku takut, hiks hiks!” tangis Alma semakin mengharukan.
Adjie merasa kasihan dengan Alma. Pasti sangat menyeramkan terjatuh dari atas sana. Andai ia hanya orang biasa yang tidak punya kekuatan seperti itu, apa yang akan terjadi pada Alma?
Adjie tidak bisa membayangkannya.
Alma menatap dalam kedua bola mata Adjie. Perlahan, ia menjijitkan kakinya, lalu mengecup dahi Adjie.
Tidak ada kata-kata yang terucap lagi. Hanya satu kecupan yang mendarat dengan cukup lama di kening Adjie. Begitu pun dengan Adjie, ia terdiam begitu sang istri memberikan kecupan di dahinya.
Adjie merapatkan rengkuhannya. Dan entah kenapa, matanya berkaca-kaca.
Kali pertama, dia merasakan dirinya benar-benar dicintai istrinya yang suka marah-marah dan menganggap dia amnesia ini.
Tangisan Alma tidak berhenti. Ia sebenarnya masih takut, tetapi ia merasa lega karena suaminya yang menjadi penyelamat dalam hidupnya.
Semua hal buruk yang menimpa Alma, setelah keberadaan Adjie, semuanya menjadi berbeda. Adjie adalah penyelamat untuk segala hal-hal buruk yang membahayakan hidupnya. Adjie memang dikirim semesta untuk menjadi penyelamatnya.
Adjie kemudian memeluk Alma dan mengusap-usap punggung wanita itu. Ia berusaha menenangkannya.
“Jangan takut, ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan bahaya menyentuhmu sedikit pun, Alma,” ucap Adjie berbisik ke telinga Alma.
Tangis Alma semakin terdengar begitu Adjie berkata demikian padanya. Alma tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada Adjie yang menyelamatkan.
Barangkali, hidupnya sudah berakhir dengan mengenaskan. Bisa saja kepalanya hancur hingga tak berbentuk atau tulang-tulangnya patah.
“Jangan pikirkan sesuatu yang membuatmu takut. Bayangkan hal yang indah-indah saja, ya.”
“Tidak bisa,” cicit Alma.
Adjie lalu melepaskan pelukannya. Ia menatap Alma dengan senyum yang lebar. Namun, wajah Alma cemberut menatap Adjie yang malah tersenyum menatapnya.
Adjie seperti meledek dirinya karena takut. Padahal, hal ini bukanlah hal yang sepele. Alma tidak suka karena Adjie bertingkah seolah kejadian yang menimpa dirinya ini adalah sesuatu yang berbahaya.
“Aku yang lebih takut kau kenapa-napa, Alma,” ujar Adjie.
Tatapan tulus dari kedua manik Adjie membuat Alma jadi tersadar. Adjie bukan tidak peduli, tetapi hanya ingin menunjukkan bahwa ia tidak ingin Alma terus terkungkung pada rasa takut tersebut.
Alma menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Adjie.
“Aku sangat takut …,” rintih Alma.
“Sekarang sudah tidak apa-apa. Kita turun ke bawah dulu, ya,” ucap Adjie.
“Turun?” Alma kaget mendengar kata-kata itu.
Alma melihat ke bawah dan ia baru ingat kalau dirinya berada di atas dahan pohon. Astaga! Alma seketika kembali takut, meski ketinggian pohon ini tidaklah setinggi gedung hotel.
“A-a-a-ku takut turun ke bawah,” ungkap Alma tidak mau melepaskan pelukannya dengan Adjie.
Adjie mengulas senyum. Ia sudah menduga Alma akan menjadi seperti ini.
“Peluk aku dengan erat supaya tidak terjatuh,” kata Adjie kepada Alma.
“Lalu, bagaimana kita turun?” tanya Alma.
Adjie berpikir untuk menggunakan ilmu peringan tubuhnya kembali. Namun, ia teringat dengan kejadian dimana dirinya tak bisa menggunakan ilmu itu untuk mengejar penjahat yang mencelakai istrinya.
“Kita akan melompat dari atas sini,” ucap Adjie membuat Alma membulatkan matanya.
“Kau yakin?”
“Iya, percaya padaku. Aku akan menjagamu dengan baik. Pejamkan saja matamu,” kata Adjie mencoba meyakinkan Alma.
Alma ragu, tetapi Adjie menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Alma menghela napas. Lalu, ia menuruti apa yang Adjie katakan.
Bagi Adjie, pohon setinggi ini untuk melompat turun bukanlah apa-apa. Hanya saja, kalau bagi Alma tentu tetap menyeramkan. Apa lagi ia baru saja selamat dari kejadian yang begitu berbahaya. Jatuh dari lantai atas hotel, mana mungkin bisa berakhir selamat?
Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin. Adjie berhasil menyelamatkan Alma sehingga Alma tidak mengalami luka atau hal lainnya.
Dengan mudah, Adjie melompat ke bawah pohon. Alma masih melingkarkan tangannya memeluk Adjie dengan mata terpejam.
Adjie senyum-senyum karena Alma lama sekali memeluk dirinya, bahkan tadi Alma juga mengecup dahinya.
“Kita sudah turun?” tanya Alma masih belum membuka matanya.
“Hmm.”
“Aku bertanya, cepat katakan! Aku takut membuka mataku,” ketus Alma membuat Adjie tertawa.
“Tidak bisakah kau biarkan aku merasa senang karena dipeluk lama seperti ini?” tanya Adjie membuat Alma langsung membuka matanya. Ia menatap tajam Adjie dengan wajah yang kesal.
Bisa-bisanya Adjie menggoda dirinya di dalam keadaan yang sekarang. Hal ini bukanlah untuk lucu-lucuan!
***