Sosoran Suami Tercinta

1033 Kata
Adjie meletakkan tangannya di kedua pipi Alma. Wajahnya mendekat ke kening Alma. “Kamu tadi sudah mengecupku, kan? Sekarang, aku mau bales!” kata Adjie. Rona wajahnya yang tadi sedikit pecicilan meraut menjadi serius sekali.  “Ba, bales apa?” tanya Alma kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.  Sejatinya, dia sangat gugup. Jantungnya berdegup bak genderang bertabuh saat hendak perang. Dia tahu, Adjie hendak balas mengecupnya. “Jangan main-main Adjie!” peringat Alma sok-sokan marah.  Lisan boleh berkata tidak, namun Alma sudah menjijitkan kakinya, agar posisi bibir Adjie, sang suami, bisa lepas landas di jidatnya atau mungkin ... meleset ke arah bibirnya pula. Ini akan menjadi pertautan yang mungkin menghabiskan oksigen Alma. Volume bibir Adjie yang tegas, dia yakin akan menenggelamkan miliknya, menguncinya hingga sulit bernapas.  Alma salah. Tidak jidat, tidak bibir, melainkan pipinya yang menjadi sasaran Adjie. Embusan karbon dioksida yang keluar dari rongga hidung Adjie terasa hangat begitu mengenai permukaan kulit wajahnya Alma. Alma yang sedang memejam mata itu langsung merasa sesuatu yang tidak beres. “Kamu!” Mata Alma melotot besar begitu Adjie hendak mendaratkan kecupan di keningnya. Tubuh Alma seketika menegang. Jantungnya jadi berpacu cepat. Hal ini terasa de javu bagi Alma. Namun, bedanya adalah Alma yang melakukan kepada Adjie sebelumnya.  Alma terdiam cukup lama. Ia seperti orang yang tidak mempunyai jiwa dan yang berdiri di depan Adjie yang tertinggalnya hanyalah raganya saja. Cup!  Dua detik saja. Tapi, membuat raganya bagai menari di taman bunga.  Mata Alma menyorotkan binar haru pada lelaki, yang selama ini membuatnya darah tinggi, karena ketololan Si Jangkung ini. Namun, berhasil menjadi candunya, hingga akhirnya mengaku jatuh cinta pada Adjie. “Ayo kita balik pulang,” ucap Adjie sambil menggandeng tangan Alma pergi menuju mobil. Mendengar kata pulang, baru Alma tersadar. Ia memerhatikan sekitar dan ternyata dirinya sudah berada di tempat yang aman, bukan di atas puncak gedung hotel ataupun atas dahan pohon. Lagian, kenapa Adjie saat menyelamatkannya tidak membawanya langsung ke bawah, tetapi malah ke atas pohon? Ada-ada saja. Hal ini tentu menambah rasa takut Alma, karena bagaimanapun jatuh dari tempat setinggi itu, bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Hidup dan mati menjadi taruhannya. “Kenapa?” tanya Adjie karena Alma tidak bergerak saat ia ajak untuk pergi menuju mobil. Alma menggeleng pelan. Ia memandangi wajah Adjie lekat. Senyum tipis seketika tergambar di bibirnya. Bertepatan saat Alma tersenyum, saat itu cahaya matahari juga jatuh menyinari wajahnya, disertai angin yang membuat rambutnya bergoyang. Wanita itu terlihat sangat manis, hingga membuat Adjie terpana tanpa bisa berucap kata-kata. Di tempat yang lain, tepatnya di ambang pintu hotel, ada seseorang yang memerhatikan kedua pasangan suami istri yang tengah berdiri sambil bertatapan tersebut. Tangan orang itu mengepal dengan tatapan mata tajam menyorot ke arah Alma. Ia terlihat begitu kesal dengan kedua orang yang terlihat mesra di luar sana. Orang itu merasa heran bagaimana bisa Alma baik-baik saja setelah jatuh dari atas gedung hotel?  “Perempuan itu kenapa bisa selamat? Harusnya dia sudah metong, meninggoy,” orang itu bergumam, menggunakan kata-kata ajaib.  Otaknya masih mencari kemungkinan Alma selamat. Dia setengah tidak yakin, apa Adjie yang menyelamatkannya, seperti dalam film-film kolosal silat? Ya, orang yang menatap tidak suka ke arah Alma dan juga Adjie adalah orang yang mendorong Alma sehingga wanita itu terjatuh. Jika saja tidak ada Adjie, mungkin hidup Alma sudah berakhir beberapa waktu yang lalu dengan sebuah berita besar yaitu seorang wanita jatuh dari rooftop hotel. Pasti akan muncul dugaan kalau Alma terjatuh karena stress atau masalah dengan suaminya. Makanya memilih cara dengan mengakhiri hidup dengan melompat dari tempat yang tinggi. Awalnya, tidak ada rencana dari orang yang mendorong Alma sehingga membuat terjatuh dari rooftop tersebut. Namun, begitu melihat Alma berada di sana, tebersitlah di pikirannya untuk mencelakai. Benar-benar, kalau hati dan pikiran sudah dipenuhi oleh hal yang tidak baik, pasti segala cara menjadi solusi. Tidak peduli itu berbahaya untuk dirinya, apa lagi bagi orang lain.  Orang itu menghela napas kasar, lalu kembali masuk ke dalam hotel. Urung dirinya keluar karena tidak ingin berpapasan dengan sepasang suami istri yang sedang bermesraan tersebut. Dia sudah melepas hoodie dan topengnya. Sosok ini kembali berpakaian biasa. Namun, nalarnya masih saja ketakutan, jika kepergok Adjie dan Alma. Bagaimana jika mereka mengenali dia?  ‘Ah, tidak mungkin! Aku sudah memakai topeng, hoodie, bahkan jubah, saking lebaynya. Dua idioot itu mana mungkin mengenaliku!’ kata sosok ini dalam hati. Kembali pada sepasang suami istri yang tengah memandangi wajah satu sama lain, keduanya terlihat seperti orang yang baru pertama jatuh cinta. Di mata Adjie, Alma bagaikan bidadari yang kecantikannya tidak ada yang menandingi. Rupa Alma yang memang sudah diciptakan cantik, tetapi semakin bertambah kecantikannya saat ia tersenyum.  Sementara di mata Alma, Adjie adalah pria yang tidak terduga dalam hidupnya. Ia tidak pernah membayangkan hal-hal seperti ini sebelumnya, bahkan debaran jantung yang berpacu cepat saat berada di dekat Adjie pun tidak pernah terlintas di benaknya. Sepanjang perjalanan hidup Alma, baru kali ini ada seseorang yang memedulikannya melebihi apa pun. Bahkan, Adjie juga menyelamatkan hidupnya.  Dalam keluarga, masyarakat, bahkan semua orang yang selalu berada di sekelilingnya, hanya tahu cara untuk merendahkan dan mencemooh kekurangan yang ia punya. Alma kekurangan kasih sayang dan cinta yang tulus. Bukan kekurangan lagi, tetapi lebih tepatnya tidak pernah mendapatkan perlakuan tersebut. Tiba-tiba, mata Alma berkaca-kaca. Raut Adjie langsung berubah cemas begitu mendapati Alma yang hampir menangis. “Kau kenapa?” tanya pria itu sembari menggerakkan ibu jarinya mengusap pipi Alma. Alma menggelengkan kepala sebagai bentuk jawaban. Ia tidak mengerti mengapa sampai ingin menangis. Namun, sesuatu dalam hatinya terasa aneh ketika membayangkan jika tidak ada Adjie di dalam hidupnya. Bagaimana ia menjalani kehidupannya? “Aku masih penasaran dengan siapa yang membuatku sampai jatuh,” ucap Alma. “Aku melihat orangnya dari belakang, tetapi tidak bisa mengejarnya,” tukas Adjie mengingat kejadian saat dirinya menyelamatkan Alma. “Kau melihat orangnya?” tanya Alma sambil mengerutkan kening. Adjie mengangguk. Lalu, ia menggandeng tangan Alma.  Arah mata Alma langsung menuju tangan Adjie yang menggandengnya. Kemudian, ia menatap wajah suaminya itu cukup lama. “Ayo kita pulang,” ujar Adjie lagi. Di pikiran Alma saat ini sedang memikirkan bagaimana cara Adjie bisa menyelamatkannya dan juga siapa yang begitu tega mendorongnya hingga jatuh dari atas sana? Karena Alma tidak merespons, Adjie menarik Alma untuk pergi menuju tempat mobil mereka berada. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN