Menuduh Kakak Durhaka

1097 Kata
“Sayang, kamu tidak mau pulang. Jalannya kok pelan banget.” kata Adjie. “Darimana kamu dapat nada selembut itu?” Alma malah merespon diluar jalur.  Adjie mempoutkan bibirnya. Lalu, ia menegapkan tulang belakangnya.  “Aku ini pangeran, Dek! Jelas, tutur kata lembut begitu!”  “Bohong! Biasanya tutur katamu tidak seromantis begitu. Lembut, tapi masih angkuh-angkuh selayak sok pangeran,” kata Alma.  Adjie tertawa. Dan tawa Adjie mendadak menjadi candu bagi Alma.  Dia suka dengan tone-nya, renyahnya tawa itu. Ingin rasanya dia ikut tertawa bersama, namun dia gengsi. “Yeah, aku harus jujur lagi. Si Joni, satpam kita, yang bilang kalau seorang suami harus lebih romantis sama istrinya.” “Pro banget dia, sampai ngajarin kamu begitu,” gerutu Alma cepat, sehingga Adjie tidak begitu jelas mendengarnya.  “A, apa katamu, Dek?” tanya Adjie. “Lupakan!” “Kalau begitu, mari kita pulang!”  Tap! Telapak tangan Adjie menangkup telapak mungil Alma. Lalu mengayunnya pelan.  Dia terus melangkah, seraya memandang istrinya.  [Sok jual mahal!] Adjie sejatinya kesal, karena sudah diselamatkan, Alma yang tadi kecap-kecup padanya, sekarang malah sok cuek padanya. Mata belok perempuan itu kembali dingin, macam es kutub.  Adjie tidak tahu saja, bahwasanya Alma sekarang jedak-jeduk jantungnya, macam musik EDM. Perlakuan Adjie yang heroik dan tiba-tiba menyosornya barusan membuatnya terasa lemah. Jadi, dia harus menutupi itu dengan pura-pura dingin. “Silahkan, Adinda!” kata Adjie sigap membukakan pintu mobil, di sebelah kursi kemudi.  Alma terbengong. Itu artinya .... “Biar aku yang nyetir,” bisik Adjie, menggelitik di telinga Alma. Meremang kuduk Alma mendengarnya.  Napasnya memburu cepat. Membuat Alma mengutuk diri sendiri. Napas memburu seperti itu pertanda ... NAPSUNYA sedang naik.  [Adjie, kenapa kamu begitu romantis hari ini? Aku lumer!] “Baiklah, jika kamu mengingkan itu,” kata Alma sok datar. Hap! Surai rambut Alma dibelai sang suami. Lagi, ingin rasanya Alma kejang-kejang macam penderita epilepsi. Karena sudah merasa lebih mahir menyetir mobil, Adjie memilih untuk menyetirnya ketimbang Alma yang kelihatannya sedang dalam kondisi yang tidak baik. Lagi pula, ia senang membiarkan Alma duduk di samping dirinya saat ia menyetir.  Ketika sedang fokus menatap jalanan di depan sana, Adjie sesekali bisa mencuri pandang menatap Alma. Terkadang, Adjie tak sengaja mendapati Alma yang diam-diam memandanginya.  Meski tak pernah terucap di bibir Alma kata-kata yang menyatakan perasaannya, tetapi Adjie cukup merasa senang pada saat Alma memerhatikan dirinya. Setelah Adjie membukakan pintu untuk Alma duduk, pria itu kemudian memasangkan sabuk pengaman. Jarak Adjie dan Alma menjadi begitu dekat.  Jika ada orang yang melihat, mungkin mereka mengira kalau Adjie tengah mencium Alma. Padahal, hanya membantu memasangkan sabuk pengaman. Alma teringat akan sesuatu. Ia mendorong tubuh Adjie begitu pria itu sudah selesai memasangkan sabuk pengaman. Tangan Alma merogoh tasnya, kemudian mengeluarkan sebuah benda pipih berukuran segi empat. Wanita itu mencari kontak seseorang untuk dihubunginya. Begitu panggilan tersambung, Alma langsung berbicara tanpa menunggu orang yang mengangkat itu berbicara sepatah kata pun. “Kau benar-benar begitu tega, ya! Setelah ingin merebut suamiku, kau bahkan mendorongku dari rooftop hotel!” Mareta yang mendengar kemarahan adiknya itu pun kaget. “Kau jangan menuduhku sembarangan!” bentak Mareta. “Jangan beralasan lagi! Aku sudah tahu sebusuk apa dirimu. Meski kau Kakakku, tetapi kau tidak pernah menganggapku sebagai adik. Sampai ingin mencelakai nyawa diriku, sungguh kau begitu tega! Lihat saja, aku tidak akan memaafkan perbuatanmu ini.” “Kau bilang apa, Alma? Aku ….” Panggilan langsung diputus oleh Alma. Wanita itu menyimpan gawainya kembali ke dalam tas. Mareta belum selesai mengucapkan sanggahan atas apa yang Alma tuduhkan padanya, tetapi adiknya itu sudah memutus sambungan telepon duluan. Mareta tidak mengerti, mengapa Alma sampai menuduhnya telah melakukan hal tersebut. Bukannya berarti Mareta membenci Alma sehingga sampai begitu tega mencelakai nyawa. Sebejat-bejatnya Mareta, ia tidak akan melakukan sesuatu yang membuat seseorang kehilangan nyawa! Mareta bukanlah psikopat! Adjie yang masih berdiri di luar itu memandangi Alma dengan bingung. “Kenapa melihatku seperti itu?” Dengan nada ketus, Alma bertanya pada suaminya. Ia masih terbawa suasana marah kepada Mareta. Begitu Adjie ingin menjawab, Alma melarang Adjie untuk berucap. “Cepat masuk ke dalam mobil dan lajukan mobilnya,” ujar Alma. Adjie menganggukkan kepala dan berjalan dengan patuh untuk masuk ke dalam mobil. Entah bagaimana, seorang pangeran bisa menjadi begitu tunduk dengan seorang wanita. Apalagi, wanitanya seperti Alma, yang lebih banyak berbicara ketus serta suka marah-marah kepada Adjie.  Begitu Adjie sudah duduk di kursi kemudi, ia menatap Alma yang terlihat masih kesal. “Kita langsung pulang ke rumah?” tanya Adjie. Ia ingin memastikan kalau Alma ingin pulang atau ada tujuan lain yang ingin didatangi. Adjie tidak mau langsung jalan saja sementara hati istrinya itu sekarang sedang dalam kondisi tidak baik. Bisa-bisa ia menjadi sasaran empuk pelampiasan kemarahan. “Iya,” sahut Alma. Adjie menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya dengan pelan keluar dari area parkiran. Hingga tiba di jalan raya, baru Adjie melajukannya dengan kecepatan normal. Meski belum terlalu lama menyetir mobil alias baru belajar, Adjie merasa dirinya sudah cukup mampu jika mengendarai mobil dengan kecepatan yang lebih dari saat ia belajar di awalnya. Sedang di perjalanan seperti itu, Alma tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepada Adjie. “Kamu … benar makhluk dari kerajaan? Yang punya kekuatan sakti gitu?” tanya Alma pada Adjie. Adjie menoleh ke samping beberapa detik untuk menatap Alma, lalu ia kembali fokus pada jalanan di depan. “Iya.” “Jadi … saat kamu menyelamatkanku tadi itu—” “Aku memiliki kesaktian yaitu bisa meringankan tubuh. Makanya aku bisa terbang dan menyelamatkanmu.” “Ooohhh.” “Di kerajaan, aku adalah seorang pangeran. Kerajaanku bernama Nilamsuryo.” Mata Alma membulat begitu mendengar nama Nilamsuryo. ‘Itu nama kerajaan apa? Kenapa aku baru mendengarnya? Apa tidak ada di dalam pelajaran sejarah yang kupelajari?’  Alma berpikir tentang nama kerajaan yang suaminya sebutkan.  Selama mengikuti pelajaran sejarah semasa sekolah, Alma tidak pernah mendengar nama kerajaan tersebut. Alma sampai berpikir kalau suaminya adalah pangeran masa lalu yang datang ke masa depan.  Akan tetapi, begitu mendengar nama kerajaan yang Adjie sebutkan membuat Alma ragu apakah ia suaminya itu adalah seorang pangeran dari kerajaan yang tidak terkenal itu? Astaga! Alma menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa bodoh sampai bisa terpikir hal seperti itu.  Bisa saja kan Adjie hanya membual kalau dirinya adalah pangeran. Namun, bukti-bukti lain yang Adjie tunjukkan dan ketidaktahuan Adjie mengenai kehidupan dunia modern membuat kemungkinan kalau Adjie berasal bukan dari kehidupan sekarang tambah meyakinkan. “Selain bisa menggunakan ilmu peringan tubuh, kamu bisa apa lagi?” tanya Alma. Alma penasaran. Ia ingin tahu lebih jauh tentang suaminya itu untuk membuatnya percaya dengan kesombongan Adjie yang menyatakan dirinya seorang pangeran. Kalau benar seorang pangeran, mengapa hidupnya susah dan juga terlibat banyak utang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN