Alma menatap Adjie lekat menunggu pria itu menceritakan tentang keahliannya. Jika Adjie memang berasal dari dunia yang berbeda dengannya, tentu ada bukti lain untuk menguatkan hal tersebut.
Meski Alma sendiri ragu, tetapi ia ingin mendengar penuturan Adjie secara langsung. Ia ingin tahu lebih jauh tentang Adjie.
“Aku bisa menerapi dan juga memasak,” tutur Adjie.
“Menerapi? Memasak?” beo Alma.
“Iya. Makanya aku bisa menerapi kakimu itu,” tukas Adjie sambil menoleh sekilas pada Alma.
“Kalau memasak? Pangeran memangnya bisa memasak?” tanya Alma.
“Iya, aku bisa memasak. Sangat jago malahan. Tukang masak di kerajaan saja masih kalah jauh dengan keahlianku memasak,” ucap Adjie membanggakan dirinya.
Alma tertawa mendengar Adjie yang mengatakan bahwa dirinya jago memasak.
Wajah Adjie langsung berubah. Ia melirik Alma yang tengah menertawai dirinya. Kening Adjie berkerut karena tidak mengerti. Mengapa Alma malah tertawa? Apa ada yang salah dengan keahlian yang ia miliki?
Ya, memang kalau di kerajaannya, Adjie dikatakan memalukan karena lebih suka memasak. Sebab, pekerjaan memasak itu lebih banyak dilakukan oleh laki-laki.
“Kau kenapa ketawa? Apa aku begitu aneh karena bisa memasak? Apa di zamanmu ini pria yang bisa memasak juga aneh?” tanya Adjie beruntun.
Tawa Alma seketika langsung berhenti.
Alma menggelengkan kepalanya. “Enggak kok.”
“Lantas?” tanya Adjie.
Alma terdiam untuk beberapa detik. Otaknya berpikir untuk menyusun kata-kata.
“Hmm, kamu tidak aneh. Pria yang bisa memasak itu malah keren. Terlihat romantis saat seorang pria memasak untuk wanitanya.”
“Keren? Romantis? Apa itu?”
Alma membulatkan matanya. Adjie kembali menanyakan kata-kata yang ia ucapkan.
“Keren itu … unik, menarik, spesial,” ujar Alma.
“Benar seperti itu?” tanya adjie bersemangat. Senyumnya mekar dengan lebar. Sungguh, mendengar kata-kata Alma, Adjie merasa bangga dengan keahlian yang ia punya.
“Kalau romantis?” tanya Adjie lagi.
Alma seperti mengajari anak TK yang baru mengenal dunia luar dan sedang aktif-aktifnya.
Meskipun di kehidupan dirinya yang sebelumnya memasak bagi pria itu dianggap sebagai suatu bentuk hal yang tidak lazim, maka di kehidupan sekarang sepertinya punya pemikiran yang berbeda.
“Iya, kami menyebut orang yang ahli memasak itu dengan sebutan chef,” ujar Alma.
Alma tidak menjelaskan makna romantis kepada Adjie. Malahan, pipi Alma bersemu merah begitu membayangkan Adjie menyiapkan makanan untuknya dengan cara yang romantis.
Namun, segera Alma tersadar.
Di kepala Adjie timbul tanda tanya begitu mendengar kata chef. Kata tersebut sangat asing di telinganya. Ia tidak tahu apakah orang yang ahli memasak memang disebut dengan nama yang seperti itu?
Aneh sekali, begitu pikirnya Adjie.
“Apa itu chef?” Adjie dengan polosnya bertanya pada Alma.
Alma mengerutkan kening mendengar pertanyaan suaminya yang kelewatan polos. Ia tidak tahu harus bagaimana mengatakan padahal sudah ia bilang sebelumnya kalau chef itu sebutan untuk orang yang ahli memasak alias tukang masak.
Alma jadi meragukan kalau Adjie adalah seorang pangeran dari kerajaan masa lalu. Masa iya pangeran dari kerajaan masa lalu bertingkah sebodoh ini?
“Aku ‘kan sudah mengatakannya,” gerutu Alma sebal.
“Tapi istilah yang kau sebut itu tidak biasa terdengar olehku,” jelas Adjie sungguh-sungguh.
“Mulai sekarang, kamu akan sering mendengarnya. Tolong, biasakan hidup dengan istilah-istilah yang tidak pernah kamu dengar dan pelajari sebelumnya!”
“Kau mau membantuku, ‘kan?” tanya Adjie menatap Alma ke samping dengan kedua manik mata yang berbinar.
Alma menghela napas kasar. “Iya!”
Senyum indah kembali mekar di bibirnya Adjie. Ia merasa begitu senang meski hanya dengan hal sederhana seperti ini.
Jika kehidupannya memang di dunia ini, maka ia juga mesti menyesuaikan kehidupan yang sekarang ia jalani. Ia juga tidak ingin membuat Alma merasa malu akan ketidaktahuannya tersebut.
Sungguh, ketika Alma dihina hati Adjie terasa seperti diiris-iris. Ia tidak tega melihat wanita yang menjadi istrinya itu diperlakukan secara tidak adil oleh semua orang. Terutama dalam keluarganya, Adjie melihat bagaimana Alma seperti bukan anak kandung saja di dalam keluarga tersebut.
***
Keesokan paginya, Adjie membuktikan diri bahwa ia memang jago memasak. Pria itu bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan.
Alma masih tertidur pulas. Ia tidak tahu kalau Adjie sedang bekerja di dapur menyiapkan masakan. Entah bagaimana lelaki itu memasak, tetapi sepertinya naluri dirinya yang memang sudah ahli di bidang memasak, membuatnya dengan mudah menyesuaikan diri untuk memasak.
Adjie karena saking polosnya, ia mencari info di benda pipih yang menurutnya adalah benda ajaib masa kini. Ia menggunakan benda tersebut untuk mencari informasi tentang chef.
Ketika sedang mencari tentang hal itu, Adjie menemukan video yang menampilkan seorang chef sedang memasak.
Dari sana Adjie paham dengan apa yang istrinya maksud sebelumnya. Ternyata, Alma menyukai hal-hal seperti ini. Jadilah, Adjie akan melakukan sesuatu supaya istrinya itu merasa senang. Sekaligus ia ingin membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar jago memasak.
Tidur nyenyak Alma jadi terganggu begitu ada aroma yang tidak biasa menyebar sampai ke dalam kamar. Wanita itu langsung terduduk dari tidurnya.
“Aroma apa ini?” tanya Alma heran. Seperti aroma masakan, tetapi siapa yang memasak di rumahnya?
Alma merasa kalau dirinya pasti bermimpi. Ia hendak lanjut tidur kembali, tetapi begitu melihat ke samping sudah tidak ada Adjie, Alma merasa ada yang janggal.
Tanpa berlama-lama, Alma pun segera turun dari tempat tidur dan berlari menuju dapur.
Dan ternyata ….
“Kamu ngapain?” tanya Alma syok.
Adjie yang tengah fokus memasak kaget dengan kedatangan Alma. Ia berharap dirinya bisa membangunkan Alma ketika masakan itu sudah matang. Akan tetapi, Alma malah bangun terlebih dahulu.
Tidak masalah, setidaknya tujuan awalnya adalah untuk membuktikan diri pada Alma bahwa dirinya memang ahli dalam memasak. Ia akan tunjukkan keahlian yang selama tinggal di kerajaan, tidak ada yang memuji keahliannya itu. Berbeda dengan tanggapan Alma, wanita itu memuji keahliannya.
“Aku sedang memasak,” jawab Adjie dengan keadaan dan fakta yang sebenarnya. Sudah jelas-jelas Adjie di dapur sedang memasak, masih saja bertanya sedang melakukan apa. Hadeuh.
“Ya, aku tahu kamu memasak. Tapi … kamu benar-benar bisa memasak?” tanya Alma mendekat.
“Iya. Tunggu sebentar lagi, ini akan matang.”
Alma mendekat untuk melihat apa yang dimasak oleh Adjie.
Mata Alma nyaris meloncat karena melihat masakan yang Adjie buat. Ia seperti akan muntah melihat warna ungu dari cairan aneh seperti kuah kari tersebut.
‘Masakan apa ini yang berwarna ungu?’ tanya Alma membatin.
Alma seumur-umur belum pernah melihat masakan yang aneh seperti ini. Masakan ini terlihat seperti racun-racun yang ada di film penyihir. Apa jangan-jangan Adjie adalah seorang peracik racun di zaman kerajaan?
Adjie merasa kekagetan Alma merupakan suatu bentuk kagum. Ia menjadi semakin percaya diri.
Begitu matang, Adjie menuangkannya ke dalam mangkok kecil supaya lekas dingin dan Alma bisa segera mencicipi.
“Ayo, kau pasti akan menyukainya,” ucap Adjie menyendokkan sesendok kari yang berwarna ungu tersebut.
Alma mengernyit takut. “Tidak, aku tidak mau!” tolak Alma berlari menjauhi Adjie.
“Cobalah, ini sangat enak. Kau akan menyesal jika tidak mencobanya,” ujar Adjie berusaha mengejar Alma.
***
Bersambung—