“Jangan lari, Adinda! Kamu harus mencicip makananku!”
Suara Adjie lantang, membuat Alma semakin ketakutan. Dia tak menyangka, Adjie akan meracuninya dengan makanan.
Kalau bukan meracuni, apalagi namanya? Bukankah warna ungu identik dengan warna bukan makanan?
Alma bisa mengerti, jika Adjie memasak kue, lalu memakai pewarna berwarna ungu. Namun, ini tumis-tumisan sayur, dan warnanya ungu!
‘Apa salahku, Adjie? Apa kamu benar-benar tersinggung dengan kata-kataku, sehingga kamu meracuniku?’
Alma masih berlarian. Dan sesaat lagi, dia akan mencapai pintu luar.
“Satpaaam!” teriaknya panik.
Adjie yang tertinggal menjadi bingung. ‘Lho, kok, dia lari sih. Panggil-panggil satpam segala!’
Tidak bisa dibiarkan, kata Adjie dalam hati. “Jurus Angsa Terbang!”
Wuusss, Adjie menggunakan ilmu peringan tubuh dengan metode Angsa Terbang.
Alma melongo melihat suaminya terbang begitu cepat, lalu tubuh lelaki jangkung ini memutar, dan tangannya sigap memasukkan sendok pada Alma!
Hap!
“Kunyah!” perintah Adjie dengan tegas.
Alma yang ketakutan spontan mengunyah dengan mata terpejam. Lalu, dua detik kemudian matanya memancarkan lophe-lophe. Dia suka sekali dengan masakan Adjie.
“Enak?” kata Adjie dengan alis naik.
“Enak! Enak banget! Tapi ... kenapa tumisan sayur ini berwarna ungu! Itu ... tampak seperti racun,” kata Alma curiga.
“Tapi, warnanya indah kan?” pancing Adjie.
“Iya, indah! Tapi tetap saja menakutkan!”
Bruuk!
Tiba-tiba Alma merasa tubuhnya dirangkul erat. Tahu-tahu, dia merasa kepalanya sudah membenam di d**a hangat Adjie.
“Mana mungkin, Dek! Tega sekali kamu mengatakan itu racun. Aku menggunakan racikan rahasia, sehingga warnanya tampak indah seperti itu!”
Alma diam. Apa ini? Kenapa Adjie sekarang begitu sangat manis. Dikit-dikit merangkul, dikit-dikit memeluk!
“Apa di kerajaanmu, para pangeran terbiasa memeluk istrinya?” tanya Alma, sedikit sesak, karena dekapan Adjie yang terlampau erat.
“Tidak! Maksudku, aku tidak tahu. Ayahku ... sepertinya biasa-biasa saja pada ibuku dan juga selirnya!”
Alma mendorong tubuh Adjie. “Katamu, di kerajaanmu pantang seorang pangeran punya istri lebih dari satu. Nyatanya, ayahmu punya selir,” sentil Alma.
Adjie tersipu malu. Kemarin-kemarin, dia memang berbohong, mengatakan pada Alma bahwa di kerajaannya pangeran hanya beristri satu.
Namun, dia tidak jahat. Itu semata-mata agar dirinya tidak dimarahi Alma terus.
“A, aku ...,”
“Bohong kamu! Emang begitu, ya, mulut lelaki! Jangan-jangan, kamu sok-sokan menolak Mareta, itu akal-akalan kamu saja, karena ada gebetan yang lebih cantik dari Mareta, iya kan!” Alma mulai ngobrol ngalor ngidul.
“Serem sekali perempuan di kerajaanmu! Kalau marah, topiknya bisa melebar ke mana-mana, cemburuan lagi!” sindir Adjie.
“Daripada kamu, pembohong!”
“Aku tidak bohong, dek. Maksudku, bohongku dikit aja,” Adjie cengengesan.
“Aku takut kamu marah. Jadi, aku berbohong. Tapi, kamu boleh percaya lisanku, Dek! Aku akan setia padamu,” tambah Adjie.
Alma terdiam. Dia menimbang-nimbang kata-kata Adjie.
“Baiklah, kalau begitu!” kata Alma melunak.
“Kalau begitu kita makan? Aku sudah menyiapkan makan malam yang banyak untukmu!” kekeh Adjie.
Dan Alma dibuat terpesona. Ternyata, sudah ada empat jenis makanan yang ada di meja makan.
Alma mencicip. Dan rasanya membuat dia seperti sedang menyantap masakan koki ternama.
“Enak?” kata Adjie.
“Biasa aja! Jangan pikir makananmu enak banget, ya! Aku makan banyak, biar kuat menghadapi kenyataan besok!” seloroh Alma.
“Memangnya, kenapa dengan besok?” Adjie mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Besok jualan, Adjie! Kamu pikir, darimana kita bisa dapat tambahan uang,” ketus Alma.
Dan keesokan harinya, Adjie dan Alma berangkat pagi-pagi sekali. Mereka tidak mau kesiangan, seperti kemarin-kemarin.
Keduanya melangkah ke lapak, diiringi dengan kicauan para penjual lainnya.
“Anjiirrr, kok, couple itu hari ini kece banget!”
“Terutama cowoknya. Gila Si Agam makin karismatik saja! Perasaan, dulu dia hanya lelaki ganteng yang pendiam.”’
“Bininya juga cakep! Si Alma itu kok gak kelihata begitu pincang, ya? Apa dia terapi, sekarang?”
“Ho oh, kayaknya iya! Hutang masih banyak, bininya bisa terapi pincang! b*****h lah, Si Agam!”
“Halo Pak Jek!”
“Halo Kang Trisna!”
“Halo Pak Maiun!”
Suara Adjie menggelegar!
“Gak usah sok akrab!” celeteuk Pak Maiun, yang malah sibuk menambahkan balok es pada kerang-kerangnya.
“Ikan enak! Ikan enak!” teriakan provokatif itu menggelegar.
“A, Adjie!” Alma melongo! Dia tak percaya, jika suara itu adalah suara Adjie.
“A, apa yang kau lakukan?” tambah Alma panik.
“Dagang ikan lah, masak dagang panci!” kata Adjie kalem.
“Tapi, kenapa mesti teriak-teriak gaduh begitu?”
“Kenapa, bagus ya?” Adjie masih cengengesan.
“Bagus, sih! Tapi kan malu, teriak-teriak begitu!”
“Kata Joni, satpam kita, kalau mau jualan ikan, harus teriak-teriak, biar pembeli tertarik.
Alma tersentak. Adjie sepertinya percaya banget dengan kata-kata Joni satpam.
“Trus, katanya, aku harus pakai pantun segala, dek! Apa kamu mau dengar?” seloroh Adjie seraya menopang dagunya dengan jempol dan telunjuk yang membentuk pistol.
“Narsis!” sentil Alma.
Dan Adjie hanya tertawa-tawa saja!
“Buah mangga, buah kedondong! Beli ikan saya dong!”
“Males, ikannya busuk,” celetuk pedagang ikan sungai, letaknya tak jauh dari lapak Adjie.
Adjie hanya tersenyums sumringah. Memperlihatkan lesung pipinya yang sedalam palung.
“Gak usah senyum-senyum, sok manis kali kau!” sentak Pak Jek.
Bohong kalau Pak Jek tidak mengakui jika saingannya itu memang manis sekali. Terbukti, belasan pembeli sudah terjerat oleh pantunnya Adjie.
“Ikan gurami, Bang! Sekilo. Boleh minta difillet, gak?”
“Oh, bisa-bisa!” kata Adjie.
Lelaki itu dengan cekatan membuat fillet.
“Mas, darimana kamu tahu?”
“Joni, satpam kita, punya benda ajaib juga, seperti punya Mareta dan Dennis,” kata Adjie.
“Ponsel?” tanya Alma.
“Ya, ponselnya lalu mengeluarkan gambar-gambar di yutub, tutorial membuat fillet,”
Alma melongo. Tenyata, Adjie memang pembelajar sejati. Dia mampu belajar menyetir mobil dengan cepat. Dan kini, Adjie juga tahu bagaimana caranya memilet ikan.
“Ini, Mbak, filletnya!” kata Adjie.
Perempuan itu memberi uang, namun seraya sedikit mencolek telapak tangan Adjie. “Jangan lupa kembaliannya, ya, Say!”
“In, Bu, kembaliannya!” Malah Alma yang memberikan kembaliannya, yang dengan segera disambut rengutan pembeli fillet itu.
Selepas pembeli fillet, Adjie kembali berteriak.
“Ikan ... ikan gemuk! Beli sekilo, dapat senyuman! Beli dua kilo, bonus ikan kecil dua ekor!” kata Adjie, membuat Alma senyum-senyum.
“Ikan patinnya, Mas, dua kilo!”
“Belutnya serenteng berapa, ya?”
Dan semesta seolah mendukung Adjie dan Alma. Hari ini mereka mendapatkan banyak pembeli.
Kejadian ini membuat jengkel Mak Momon Sirih. Selain karena dagangannya tidak laku, dia masih menyimpan dendam pada Alma, karena permintaannya pada Alma agar melunasi hutang dengan cara Adjie menjadi gundiknya, ditolak mentah-mentah oleh Alma.
Mak Momon Sirih sejenak mencuci tangannya pada air bersih di ember, sehabis menyisiki ikan emas. Lalu, dia pandangi dagangannya.
Masih terhampar penuh ikan. Gara-garanya, dagangan Adjie dan Alma terlalu cepat laris.
Dia menghela napas sejenak. Lalu, mendekati Trisna!
“Kang Trisna,” bisik Mak Momon Sirih.
“Kenapa Mon, jangan bilang kamu mau minta kapur sirih ke sini, ya! Aku tidak punya!”
“Bukan! bukan begitu! Tapi, kamu masih punya piutang kan sama Agam.”
“Iya, dia masih punya hutang padaku lima juta!”
Mak Momon Sirih tersenyum. Rencananya dimulai.
“Tris, tagih, gih! Mumpung dia laris! Soalnya, denger-denger nih, kalau udah laris beberapa minggu, mereka mau berhenti jualan dan kabur!” fitnah Mak Momon Sirih.
“Masak!” Trisna terlonjak kaget.
“Iya, makanya TAGIH SEKARANG!”