Terkena Fitnah

1084 Kata
“Setahuku, Agam orangnya baik, Mak Momon.” Penolakan dari Kang Trisna terjadi, membuat Mak Momon nyaris saja melontarkan u*****n.  [Sialan! Apa-apaan Si Ceking ini, bisa-bisanya tidak percaya dengan apa yang aku katakan! Dih, dikira aku berbohong, apa. Emang aku berbohong, sih, he he.] “Apa hubungannya, Kang Trisna, antara orang baik dengan bayar hutang!” sengit Mak Momon. Matanya menyipit, namun dengan sorot yang tajam. “Ikan, ikannn, Ayo beli ikan pangeran!”  Dari Lapak Trisna, terdengar dengan jelas apa yang dikatakan Adjie. “Pangeran gundulmu! Ikan pangeran dengan ikan rakyat jelata, apa bedanya? Emang, ikan pangeran ada mahkotanya, gitu?” gerutu Mak Momon sentimen. Matanya menyorot Adjie, yang sumpah demi apa, semakin cakep saja. Itu karena Alma memilihkan Adjie pakaian-pakaian yang modis. “Kamu sentimen sama Agam, Mak Momon? Bukannya hutangmu sudah dibayar lunas sama mereka, ya?” kata Kang Trisna menyelidiki. Mak Momon Sirih memasukkan sirih ke mulutnya, lalu mulai menginang.  Kang Trisna sedikit risih. Mak Momon Sirih ini umurnya masih empat puluhan, namun menginang sirihnya melebih mamak-mamak tua di kampungnya.  Dan di jaman now, tentu saja ini sangat langka. Masih ada yang menyirih, setidaknya menjadi pemandangan unik tersendiri di lapak.  Sayangnya, Mak Momon Sirih ini terkenal culas dan ... agak genit dengan brondong muda.  “Apa karena Agam pernah menolakmu?” kata Kang Trisna.  Mak Momon sirih terdiam. Dia menghela napas, lalu mengedarkan pandangan ke Adjie yang berbaju putih, dengan lengan yang seperti tak mampu menyembunyikan otot-otot bisepnya.  Pandangannya beralih ke Alma, yang wajahnya cantik macam boneka. Ini membuat Mak Momon sirih kesal bukan kepalang.  ‘Iya, dia menolakku. Tapi, aku lebih kesal lagi, karena penolakan itu terjadi beberapa kali. Terakhir, istrinya yang menolak, padahal mereka sedang terjepit!’ Mak Momon sirih tertawa. Tawanya ngeselin. Kang Trisna ingin menimpuknya dengan ikan tongkol, namun sedikit takut kalau kuda nil itu mengamuk. “Aku? Ditolak Agam? Mana ada ceritanya, Say! Kang Trisna, aku hanya kasihan sama kamu aja! Cukup aku yang berdarah-darah menagih hutang sama pasutri koplak itu. Jangan akang!” kata Mak Momon Sirih, mulai memasukkan racunnya. “Memangnya, susah ya, menagih hutang dengan Agam? Tapi, istrinya kemarin berjanji akan melunasi dua bulan lagi!” Kang Trisna masih berbaik sangka. Dan tak disangka, Mak Momon malah menghentak-hentakkan kaki di lantai. Lalu, dia tertawa sekerasnya.  “Ikan, ikan pangeran! Rasanya lezat! Sini Bu, Sini Pak!”  Suara Adjie kembali terdengar Mak Momon Sirih. Dan demi dendamnya, dia sebal sekali mendengarnya. Mak Momon Sirih memasuki lapak Trisna. “Sini kuping kamu, biar kamu percaya!”  Kang Trisna setengah tak rela, namun disodorkannya telinganya pada Mak Momon sirih. “Apa sih, Mak?”  “Kamu gak tahu, kan, pas aku nagih hutang dengan pasutri itu, Si Ceweknya mengancam akan menyantetku!” Racun berbisa disebarkan Mak Momon. Kang Trisna menarik telinganya, lalu sorot matanya memindai wajah Mak Momon Sirih, yang terlihat sangat meyakinkan ini. “Benarkah?” “Benar! Tapi, aku gak takut dong, ya! Orang itu duitku, kok. Aku tagih aja! Aku bilang, kalau aku mati karena disantet, maka orang pertama yang aku hantui ya mereka!”  Kang Trisna tampak sedikit meragu. Tinggal sedikit lagi, Mak Momon Sirih percaya Kang Trisna akan terpedaya oleh racunnya. “Tagih, Trisna! Jangan sok gak percaya begitu sama aku! Dia itu mau kabur sebentar lagi!”  “Tapi ...,” “Kamu mau nunggu dua bulan? Aish, Beb, itu kelamaan! Kucing sudah bertanduk, dan kuda sudah bertelur, kalau selama itu!” “Dia sudah janji ....” “d***u! Terus, kamu percaya dengan janji busuk mereka? Oke! Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu, ya, Say, kalau kamu sampai tertipu oleh mereka!” Trisna masih diam. [Stupid buanget, sih, Trisna! Emangnya, jualan kecapku gak berhasil, apa?] “Oke, Tris! Serah, seraaah, terserah kamu deh, ya. Mau percaya, ya syukur. Mau nggak, ya syukurin! Aku udah ingetin, ya! Kan aku gak rugi apa-apa. Toh, hutangku sudah dibayar lunas sama dia!” Trisna yang termakan hasutan Mak Momon Sirih pun berjalan menghampiri ke tempat Adjie dan Alma berjualan. Mak Momon Sirih senyum-senyum penuh kemenangan karena berhasil menghasut Trisna menagih utang. “Agam!” bentak Trisna masih jauh dari tempat Adjie berjualan. Adjie yang dikenal oleh orang-orang dengan nama Agam itu pun menolehkan kepalanya menatap Trisna. Karena merasa dipanggil, Adjie menyahutinya dengan senang hati. “Kang Tris! Mau beli ikan saya juga? Ayo, sini! Saya kasih banyak untuk Kang Tris,” tukas Adjie dengan menebar senyum yang lebar. Wajah Trisna sudah merah seperti kepiting rebus, tetapi Adjie malah memperlakukan dirinya seperti orang yang tidak mempunyai salah sedikit pun. Apakah Adjie ini memang tidak mempunyai otak atau terlalu pandai menyembunyikan tipu daya supaya tidak terlihat rencana liciknya? Trisna geram bukan main. Ia semakin yakin dengan hasutan Mak Momon Sirih. Benar sepertinya kalau Agam akan kabur setelah dagangannya laris manis dan sama sekali tidak berniat membayar utang. Lihat saja dari tingkah lakunya yang sok baik itu, ciri-ciri orang yang bermuka dua. Berdasarkan hasutan Mak Momon Sirih, Trisna tidak salah jika marah terhadap Agam yang berutang kepada dirinya sebanyak 5 juta. Siapa juga yang tak akan marah jika tahu orang yang berutang dengan dirinya bakal kabur setelah punya cukup banyak uang? Langkah kaki Trisna begitu mantap menghampiri tempat berjualannya Agam. Ia tidak membawa senjata apa-apa, tetapi dengan penuh keberanian menagih utang supaya Agam melunasinya sekarang juga. Alma yang sedang mengembalikan uang pembeli tidak terlalu fokus dengan Trisna yang menghampiri ke tempat mereka.  “Terima kasih, Bu,” ucap Alma kepada pembeli terakhir sebelum kedatangan Trisna ke tempat tersebut. “Bayar utangmu sekarang!” Dengan suara yang lantang, Trisna menagih utang kepada Agam. Tanpa ba-bi-bu, langsung saja Trisna menyuruh melunasi utang. “Utang apa?” tanya Adjie dengan polos. Yang berutang bukan dirinya, tetapi Agam. Ya, meski identitas yang dipakainya adalah identitas Agam, tetapi tetap saja ia tidak merasa punya utang. Walau sudah dikatakan berkali-kali pun, dirinya kerap lupa kalau Agam mempunyai utang yang begitu banyak sana sini.  “Dasar! Sekarang pura-pura lupa dengan utangmu! Setelah daganganmu laris manis, tidak mau lagi melunasi utang!” Trisna dengan terang-terangan mengungkit utang Agam di depan semua orang, sehingga semua penjual dan pembeli yang ada di lokasi tersebut tahu dengan Agam yang mempunyai utang.  Sebenarnya kalau para pedagang lain sudah tahu tentang Agam yang punya banyak utang, tetapi berbeda dengan para pembeli. Mereka tidak tahu akan hal itu, bahkan ada yang terkejut karena bisa-bisanya penjual ikan setampan Agam punya utang dan ditagih di pasar saat ramai begitu. Alma tahu dengan utangnya Adjie. Wanita itu pun tidak tinggal diam saat suaminya dibentak oleh Trisna. Apalagi untuk menagih utang, di depan umum pula. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN