Saat Alma hendak maju, Adjie menghalangi wanita itu. “Kang, hati-hati dengan mulutmu itu! Saya berutang pasti akan membayar. Makanya saya sekarang berjualan untuk bisa melunasi hutangnya Agam ini,” ujar Adjie.
“Cih! Banyak kata-kata. Kamu akan kabur ‘kan setelah dapat banyak uang dan melupakan utangmu.” Trisna tak mau kalah. Ia menoleh sedikit pada Mak Momon Sirih yang menjadi penonton dari jauh saja.
Orang-orang pun jadi mulai berbisik.
“Orang yang berutang memang begitu. Saat meminjam, bisa bersikap baik-baik. Namun, ketika ditagih susah memintanya.”
“Eh, nggak nyangka kalau penjual itu ternyata orang yang punya utang tapi susah membayarnya.”
“Iya, kelihatannya orang baik, tapi sangat pandai menyembunyikan belangnya.”
Orang-orang begitu pintar menilai akan kesalahan yang terlihat secara sepintas, tetapi tidak tahu kebenaran dari keadaan yang sebenarnya terjadi. Menilai sesuatu dengan sangat mudah, lalu ucapan yang terlontar dengan gampangnya menghakimi.
“Bukankah utang suami saya masih belum sekarang jatuh temponya? Kan masih dua bulan lagi. Kenapa Anda meminta sekarang?” tanya Alma.
“Saya meminta sekarang karena tidak ingin kalian kabur!”
“Kami kabur? Kabur ke mana?” tanya Adjie kepada Trisna. Adjie tidak tahu kalau dirinya punya rencana kabur. Untuk apa kabur? Mau kabur kemana?
“Ya, mana saya tahu. Kalau saya tahu kalian kabur kemana, saya tidak akan menagihnya sekarang. Karena saya bisa menemui kalian ‘kan kalau kalian beri tahu kabur kemana,” ucap Trisna juga menanggapi dengan polos.
Penjual-penjual lain di sekitar itu seketika tertawa mendengar ucapan Trisna. Ya, masa orang kabur akan bilang-bilang. Ada-ada saja.
“Saya tidak akan kabur!” tegas Adjie.
“Saya tidak percaya. Lekas lunasi utangmu. Saya tidak mau menunggu lama lagi, saya takut kamu akan menghilang dan membuat uang lima juta saya raib begitu saja.”
“Hutaaaang! Aish! Si Agam ini ....”
Alma mencubit lengan Adjie. Adjie menolehkan kepalanya menatap Alma.
Kedua bola mata perempuan itu menyiratkan sesuatu. Lebih tepatnya menyimpan rasa khawatir.
“Sembunyikan identitasmu, jika kamu memang pangeran,” bisik Alma.
Lalu pandangannya beralih lirih ke Trisna.
“Kita sekarang masih belum punya uang yang cukup untuk melunasi semua utang tersebut,” bisik Alma pelan.
“Aku akan meminta dia mengerti,” kata Adjie menenangkan Alma. Diusapnya puncak kepala Alma pelan, lalu Adjie menghadapkan wajahnya kembali menatap Trisna.
“Alah, kalian malah main bisik-bisik. Bikin orang makin curiga saja.” Trisna sepertinya menghayati sekali dengan peran sebagai penagih utang. Bisa-bisa, ia akan beralih profesi dari sebagai penjual menjadi penagih utang sesungguhnya.
Apalagi jika menggunakan jaket kulit hitam, lalu memakai kalung rantai yang besar, dan rambut yang sedikit acak-acakan, sudah pas sekali. Kang Trisna seorang penagih utang, bukan penjual.
Alma melarang Adjie yang berbicara. Ia memilih maju untuk menghadapi Trisna.
Tentu saja Adjie tidak terima. Bagaimanapun, wanitanya tidak mungkin ia biarkan menghadapi bahaya.
Namun, kalau bukan keras kepala, bukan Alma namanya. Adjie tidak bisa melawan keras kepala istrinya itu.
“Saya akan menjamin kalau kami tidak akan kabur sebelum melunasi utang. Kami pasti akan membayarnya, jadi tenang saja,” kata Alma dengan nada yang tenang.
“Dek,” panggil Adjie pelan.
“Udah, kamu diam aja. Biar aku yang urus masalah ini,” ujar Alma tidak memedulikan panggilan Adjie.
“Anda tenang saja. Suami saya adalah orang yang bertanggung jawab. Dia tidak akan lari dari utangnya. Saya bisa menjamin hal itu,” ucap Alma kembali berusaha meyakinkan Trisna.
Selengkung senyum pun terbit di bibir Adjie. Mendengar Alma mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang bertanggung jawab, Adjie merasa senang.
“Alah, kalian suami istri mah sudah sekongkol. Mana mungkin orang yang sudah ketahuan rencana busuk—”
“Cukup, ya! Saya tidak suka Anda melebih-lebihkan masalah ini. Lagi pula jatuh tempo utang suami saya bukan sekarang, Anda kenapa malah menagihnya pada saat kami sedang berusaha mengumpulkan uang untuk melunasi? Seharusnya kami sudah berjualan banyak, tapi karena Anda membuat keributan, pelanggan kami jadi pergi! Kalau begitu, di sini siapa yang bertanggung jawab?” Amarah Alma memuncak. Wanita itu berubah seperti macan yang sedang melindungi wilayah berharganya dari musuh.
Trisna hampir saja dibuat jantungan dengan bentakan Alma yang keras. Kalimat beruntun dari wanita itu seperti anak panah yang melesat tepat mengenai tubuhnya hingga ia menjadi mundur beberapa langkah menjauh dari tempat berdiri semula.
“Pokoknya kalian harus bayar utang kalian! Kenapa saya yang harus bertanggung jawab? Cih, kalau memang hidup kalian susah, jangan membuat utang. Kalau sampai kalian kabur, saya akan laporkan ke polisi!” ujar Trisna tidak terima, tetapi ia tidak sanggup menatap mata Alma sekarang.
“Ya sudah, biarkan kami berjualan. Kalau tidak, Anda yang berjualan untuk membantu kami melunasi utang,” tukas Alma. Entah dari mana keberanian melawan Trisna muncul dalam dirinya Alma.
“Lah, seenak jidatmu saja menyuruh saya berjualan untuk melunasi utang suamimu. Hei, yang jadi suamimu itu saya atau dia?” tanya Trisna menunjuk Adjie.
Adjie langsung meraih tangan Alma dan menggenggamnya erat. “Dia istri saya! Mana mungkin Adinda tersayangku menjadi istri dari orang seperti Kang Trisna?”
Adjie tidak terima. Alma tersenyum sekilas, tetapi kembali memasang wajah biasa-biasa saja.
Dalam hatinya ada ribuan bunga yang bertaburan. Membuat Alma sangat senang apalagi ketika Adjie mengatakan dengan lantang kalau dirinya sebagai istri. Entah mengapa, kalimat itu seperti mantera sihir yang membuatnya melayang.
“Tunggu saja, kami akan melunasi utang tepat waktu. Kalau kami memang kabur, Anda bisa laporkan pada polisi untuk mencari kami,” ujar Alma kemudian. Karena tidak mungkin dirinya dan juga Adjie kabur. Mau pergi kemana mereka berdua di dalam situasi yang seperti sekarang?
***
Alma menghubungi ibunya, Inge. Alma tidak punya cara lain lagi selain menghubungi sang ibu. Bagaimanapun, dirinya berasal dari keluarga yang ternama dan juga mempunyai uang yang cukup banyak.
Masa meminjam uang sebanyak lima juta untuk melunasi utang suaminya saja tidak bisa? Apa itu tidak keterlaluan?
Pada saat Alma menghubungi sang ibu, ibunya mengatakan kalau dirinya sedang berada di tempat pacuan kuda. Jika Alma ingin bertemu dengan dirinya, maka Alma datang saja ke sana untuk bertemu.
Alma yang tidak punya pilihan, mau tidak mau pun memutuskan pergi.
“Ayo kita pergi,” ajak Alma pada Adjie.
“Kemana?”
“Ke tempat olahraga berkuda,” jawab Alma datar.
“Berkuda?” ulang Adjie dengan nada bertanya.
“Iya, aku ingin bertemu dengan Ibu di sana.”
“Ibumu sedang mengurus kuda? Wah, tidak disangka ibu mertua ternyata penyayang binatang,” tutur Adjie merasa takjub dengan ibunya Alma.
“Apaan sih! Sejak kapan juga Ibu jadi orang yang mengurus kuda? Jangan bicara aneh-aneh, deh. Nanti di sana juga jangan asal bicara, ya!” tegas Alma memperingati Adjie.
***
Bersambung—