"Kemarin aku ngalamin kayak kamu Gus." Tiba-tiba saja Putra mengatakan hal tak jelas saat kliniknya telah tutup, hari telah sangat larut dan keduanya duduk di taman samping dekat klinik Gustav. Keduanya terlihat menikmati minuman ringan yang tersedia di kulkas kecil di dalam ruangan Gustav. "Maksudnya?" "Ya dicium sama ..." "Jenni?" Putra mengangguk dan meneguk lagi minuman ringannya. "Ngeri ya Gus, aku jadi merinding lagi kalo ingat itu, bagaimana ia dengan rakus menciumi aku, menekan miliknya pada milikku dan bergerak maju mundur, apa aku nggak melayang kalo kayak gitu, untung aku segera sadar Gus dan aku dorong dia, aku dudukkan lagi dengan benar lah tiba-tiba dia duduk di pangkuanku menghadap ke wajah aku, Gus, kalo nggak istighfar bolak-balik jadi pengen beneran aku Gus." Gustav

