"Ini pilihan saya dan Dik Tika mau Pak, nanti tinggal ngepaskan saja, saya Carikan yang warna putih kan hanya akad, biar sakral pake putih saja." Putra hanya mengangguk dan menatap baju pilihan Dira. Kembali ia embuskan napas. "Kenapa Pak? Pasti bapak resah ya? Mikir Bu Jenni lagi?" "Banyak hal yang aku pikir, sahabatku yang Alhamdulillah sudah nikah, lalu mama yang ingin aku juga segera nikah, mungkin dikira gampang sama mama menyatukan dua pikiran yang tidak saling kenal." Dira tahu semua yang dialami Putra karena Palupi sudah bercerita. "Dengan yang sudah kenalpun ya rumit Pak, apa lagi kayak kasus Bapak, ibu banyak bercerita pada saya." "Iya aku tahu, aku sudah mengira jika mama berlama-lama denganmu saat kau istirahat pasti ngomongin aku." "Nggak juga Pak, lebih sering curhat i

