Angkasa mengelus tangan Atikah, ia memang tak akan menyerang saat ini juga, ia akan membiarkan miliknya tersiksa, ia hanya ingin Atikah merasakan nikmat dengan cara yang lain, Angkasa terus menciumi perut Atikah, turun dan semakin turun menuju tempat yang sejak tadi Tika lindungi dengan tangannya. Angkasa menyingkirkan tangan Atikah, ia julurkan lidahnya, mengusap lembut lembah basah mungil yang lagi-lagi ia kutuki dirinya karena dulu ia memasukinya secara brutal karena pengaruh obat laknat itu. Atikah semakin memejamkan matanya, merasakan elusan lembut lidah Angkasa, masuk lebih dalam lalu kecupan dan gigitan kecil ia rasakan hingga pinggulnya naik turun tanpa sengaja, erangan dan desah halus Atikah kembali terdengar. "Maas, Maaas." Angkasa tak peduli ia yakin Atikah akan sampai, hanya

