Angkasa menggeleng dengan keras dengan mata yang berkaca-kaca.
"Itu tidak seperti yang dia dan Anda pikirkan."
Putra tersenyum mengejek.
"Lalu apa? Anda memperkosa dalam khayalan seperti mimpi basah? Hahaha yang benar saja?"
"Bukan-bukan seperti itu, saya tak mungkin akan memperkosanya, dia wanita yang saya cintai dan dia juga mencintai saya."
"Buktinya! Anda bukan hanya menyakiti fisiknya tapi juga psikisnya, Anda lihat sendiri kan? Bagaimanapun dia ketakutan melihat Anda hingga badannya bergetar hebat, bahkan tadi malam dia ketakutan saat hujan dan histeris saat saya dekati, saya yakin ada kenangan tak enak saat hujan hanya menyisakan rintik."
Angkasa menunduk, ia menangis, ia usap air matanya.
"Air mata Anda tak akan menyembuhkan dia dalam sekejap, ini butuh terapi yang tak mudah, jika dibiarkan bisa saja dia jadi tidak waras, bagi kaum laki-laki mudah saja mengatakan saya tak sengaja memperkosa, saya lupa jika memperkosanya, mereka tak tahu atau pura-pura tak tahu jika efek kejiwaannya bisa seumur hidup, belum lagi yang hamil karena p*******n, saat lahir nanti dia akan jadi bahan gunjingan dan lain-lain, itu yang tak dipikir oleh laki-laki yang hanya ingin puas sesaat."
Sekali lagi Angkasa menggeleng.
"Tidak, saya tidak berniat memperkosanya."
"Heheh hanya berniat mencicipinya?"
"Tidaaak, ada yang memasukkan obat perangsang ke minuman saya jadi ..."
"Mengapa memilih Atikah pelampiasan Anda? Mengapa tak memilih orang yang layak Anda perlakukan seperti itu?"
"Hanya Atikah yang ada di pikiran saya." Angkasa menjawab lirih dan tawa Putra pun pecah.
"Pandai juga Anda memilih yang masih gadis."
"Karena saya tak mungkin memperkosa mama."
Mata Putra terbelalak.
"Oh jadi mama Anda yang memasukkan obat perangsang dalam minuman Anda? Wanita yang jahat! Apa salah Atikah hingga disakiti seperti itu? Kalian hanya numpang hidup di sana lalu mencuri semuanya dari Atikah, manusia laknat kalian, semoga semua terbuka dan kalian membusuk di penjara!"
"Apa lagi yang Anda tahu hingga mengatakan seperti itu?"
"Pembantu yang kalian usir sekitar setahun lalu kini bekerja di rumah, dia bertemu dengan Atikah dan mereka menangis berdua, paling tidak Atikah merasa nyaman di rumah."
"Anda bisa menanyakan pada Bi Minah, bagaimana saya, saya bukan laki-laki b******k yang bisa dengan mudah menyakiti wanita, Atikah wanita yang sangat saya cintai dan saya inginkan menjadi istri jadi tak mungkin ada pikiran untuk menyakiti dia."
"Tapi semua telah terjadi dan Anda tak bisa cuci tangan karena Anda pelakunya."
"Yah makanya selama setahun saya mencarinya, karena saya akan bertanggung jawab, akan saya nikahi dia."
"Dia tak akan mau, karena saya yakin tiap melihat Anda, ia akan mengingat bagaimana Anda merusak dan menyakitinya."
"Yah saat sadar itu."
"Jika tak ada yang perlu dibicarakan lagi silakan pulang, saya banyak pekerjaan, dan yang pasti saya tak akan menyerahkan Atikah pada Anda."
.
.
.
Bi Minah menatap Atikah yang makan perlahan dengan mata berkaca-kaca, ia melihat anak majikannya yang ia asuh sejak kecil berubah penampilannya, semakin kurus, dengan mata seolah selalu ketakutan atau murung. Memang pada dasarnya Atikah memang tak banyak bicara tapi saat ini penampilan Atikah sangat jauh berbeda, tidak seperti yang ia lihat setahun lalu.
"Makan yang banyak ya Non, biar sehat dan cepat balik kayak dulu."
Atikah hanya mengangguk, baginya saat ini bagaimana dia harus bersembunyi dari Angkasa, laki-laki yang ia cintai tapi telah meninggalkan luka yang dalam. Kembali air mata Atikah menggenang di matanya.
"Non makam dulu, nggak usah nangis."
"Sakit rasanya Bi." Atikah meraih gelas dan meneguknya sedikit.
"Kadang aku nggak percaya bagaimana bisa Kak Angkasa yang baik dan lembut berubah menjadi beringas dan menyakiti aku."
"Udah Non lanjutkan dulu makannya, masa sudah sedikit masih nggak habis? Tadi pagi juga hanya beberapa sendok, siang nggak mau makan alasannya masih kenyang, udah nggak usah mikir yang nggak perlu dipikir. Meski saya juga nggak percaya Non, dia orang baik, sabar, dermawan, kok sampe kesetanan kayak gitu?"
Tika terisak ia berusaha menelan makanannya meski sulit, remuk dan sakit hatinya karena dirinya menjadi kotor karena ulah laki-laki yang ia cintai, kini tak akan lagi ia mencintai siapapun.
"Tadi pagi dia ke restoranku, menemui aku dan ingin aku menyerahkan kamu padanya karena ia kakakmu, dia bilang gitu."
Tiba-tiba Putra sudah berdiri di samping Bi Minah dan Bi Minah segera berdiri.
"Duduk aja Bi nggak papa." Putra menahan Bi Minah.
Atikah menatap Putra dan terlihat akan menangis lagi.
"Jangan serahkan saya Pak, biar saya tetap di sini dulu sampai saya mampu membayar kos di tempat lain, saya mau kerja di sini dulu ya Pak? Mau jadi pembantu kayak Bi Minah dan Bi Siti, nanti kalau uang mulai terkumpul banyak saya mau melanjutkan kuliah."
"Kamu nggak usah mikir macam-macam dulu, tenangkan hati dan pikiran kamu dulu, setelah itu kita ke psikolog biar kamu sembuh, dan setelahnya mulai berpikir tentang kuliah kamu."
"Saya sebenarnya ingin pulang Pak, mau mengambil beberapa hal penting yang berhubungan dengan perkuliahan saya, juga baju-baju saya yang tidak sempat saya bawa karena waktu itu pikiran saya kalut, ingin segera pergi karena takut saya diperkosa lagi."
Akhirnya Putra duduk di ruang makan juga, meraih piring dan ikut makan malam.
"Mungkin memang benar dia orang baik Bu Minah, tadi dia menangis saat saya bercerita bagaimana Atikah, dia bilang tak ada niatan memperkosa Tika, ia merasa ibunya yang memberi obat perangsang pada minumannya, niat banget ibunya ingin Tika menderita."
"Nah bener kan apa kata saya? Nggak mungkin Den Angkasa sampe punya niat gak baik, ibunya itu yang kayak setan."
Atikah menangis lagi lalu memutuskan menyudahi makan malamnya.
"Tapi aku tetap nggak mau sama dua lagi Bi."
Bj Minah memeluk Tika yang terus menangis.
"Iya, iya Non, biar Non tenang menjalani hidup memang lebih baik nggak usah mikir dia lagi, di sini banyak orang yang mencintai Non Tika."
Atikah melepaskan pelukan Bi Minah dan menatap wajah Putra dengan tatapan memelas.
"Pak."
"Iya?"
"Saya mau kerja di sini ya Pak?"
"Iya nggak papa."
"Tapi saya maunya saya digaji Pak."
"Lalu mau kamu gunakan untuk apa gajinya?"
"Untuk biaya kuliah Pak."
Putra tersenyum.
"Akan aku uruskan semuanya Tika, termasuk harta warisanmu, pengacaraku masih mempelajari kasusmu, dia akan memastikan kamu mendapatkan hak kamu, tetap di sini dulu, kalau kau butuh uang bilang padaku."
Atikah menggeleng.
"Saya tidak mampu membayar pengacara."
"Aku yang akan membayarnya."
"Hutang dulu ya Pak nanti saya bayar, kalau uangnya ada."
"Ck kamu ini!"