5

1132 Kata
"Bapak tidak perlu membelikan baju sebanyak itu, baju saya banyak tapi ..." "Ada di rumahmu? Iya kan? Jadi ya percuma, sudahlah pakai saja, nggak papa kok, aku nggak akan meminta kamu membayar atau membalas apapun, duduklah, berdiri bikin kamu semakin terlihat lelah, kamu makan yang banyak biar terlihat sehat, kamu sebenarnya cantik hanya terlihat pucat." Tika masih berdiri tak jauh dari Putra yang masih duduk di ruang kerjanya yang nyaman di rumah besar itu. Akhirnya Putra mengalihkan pandangannya dari komputer yang sejak ia sampai tadi masih ia tekuni. Tak lama ia melihat Atikah akhirnya duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. "Kamu pasti mikir gimana ngembalikan uang dari baju itu kan? Nanti bayar setelah kamu kerja atau setelah harta kamu yang masih ada di mama tirimu aku kembalikan." Atikah menunduk dan mengangguk. "Saya ingin kembali berkuliah Pak." "Baik, akan aku bantu mengurus lagi apapun yang kamu butuhkan, masalahnya sudah dua semester kamu ketinggalan, aku pikir lebih baik kamu daftar lagi dari awal, cari jurusan yang sesuai dengan keinginanmu, yang cocok buat kamu." "Iya tapi Pak, surat-surat penting dan lain-lain ada di rumah itu." "Gampang, aku yakin kakak tirimu pasti akan menemui aku lagi, akan aku suruh dia membawa apa saja yang kamu butuhkan, aku yakin dia pasti mau." Mata Atikah berkaca-kaca dan Putra mengerti apa yang dirasakan gadis yang duduk tak jauh dari meja kerjanya. "Kau pasti masih sakit hati, besok ikut aku ya? Menemui psikolog agar kamu bisa sembuh, kau bisa menceritakan apa yang kamu rasakan, aku yakin traumamu akan hilang, meski butuh waktu yang tidak bisa dibilang sebentar." "Saya ... saya hanya tak habis pikir kok dia tega menyakiti saya." "Kan aku sudah bilang, dia nggak sengaja, yang ada di pikirannya cuma kamu ya kamu yang jadi sasaran, aku yakin dalam pikiran kamu berhubungan seperti itu menyakitkan, suatu saat nanti saat kau menemukan laki-laki yang kau cintai akan merasakan bahwa hubungan seperti itu sangat indah." Atikah menggeleng. "Saya tidak akan berhubungan dengan siapapun lagi, saya nggak akan menikah, laki-laki mana yang mau sisa orang lain?" Putra tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan duduk di sofa yang tak jauh dari Atikah. "Nggak usah mikir yang aneh-aneh dulu tidak semua laki-laki berpikiran picik apalagi kasusmu ini bukan kemauanmu." "Iyaaa tapi kan tetap saya sudah kotor, dan ...." "Sssttt ... sudahlah nanti kamu nangis lagi." Putra hendak mengusap kepala Atikah namun Atikah memundurkan kepalanya, dan Putra segera tersadar tak mudah bagi Atikah menerima sentuhan fisik laki-laki setelah kejadian itu. "Ah maaf, aku lupa jika kau tak mau disentuh, jangan mikir aneh-aneh, nanti aku dikira aku mau nyakitin kamu, kamu masih sangat belia, sedang usiaku sudah lebih dari kepala tiga, kamu paling masih 19 atau 20 tahun iya kan?" Atikah menunduk dan mengangguk. "Aku akan mencari wanita yang seumuran, kamu terlalu muda dan yang pasti ...." "Iya Pak saya sadar saya kotor dan nggak akan pernah berharap menikah atau apapun." "Heeei jangan pesimis, aku yakin akan ada laki-laki yang tulus mencintaimu." "Bapak sendiri kenapa nggak nikah? Kan sudah tua?" Putra tertawa, ia merasa miris dengan kata-kata tua yang diucapkan Atikah. "Usiaku lebih dari tiga puluh tahun, tapi belum sampai tiga puluh lima juga sih, masa tua, sedanglah?" "Bagi saya tua, Pak, itu Bapak nggak berani nyebut berapa usia Bapak, pasti malu." Putra tertawa pelan, ia menggeleng perlahan lalu wajahnya terlihat sedih. "Wanitaku menikah dengan laki-laki lain, karena ia kecewa padaku, aku kurang hot katanya hahaha miris banget, ngerti kan maksudku? Tiga tahun lalu dia meninggalkan aku karena selama pacaran kami hanya sebatas berciuman saja, dia ingin lebih dan dengan laki-laki lain dia mendapatkan kepuasan itu, aku memergoki mereka masuk ke sebuah hotel, awalnya aku tak percaya saat ia mulai menampakkan gelagat aneh, mulai menjauh dariku dan seolah menghindariku ternyata dia mendapatkan kenyamanan yang dia inginkan, kini mereka sudah menikah dan aku jadi malas memulai hubungan lagi." "Bapak kok cerita sama saya?" "Lah kamu nanya." "Tapi itu cerita vulgar." Putra tertawa lagi, ia benar-benar merasa jika Atikah sangat lugu untuk hal yang satu itu. "v****r apanya? Nggak ada adegan apa-apa hanya narasi tipis-tipis." "Itu tadi ke hotel trus Bapak ciuman juga kan itu nggak boleh." Putra terkekeh lagi, ia baru sadar jika Atikah kurang wawasan untuk hal yang satu itu, entah karena kurang gaul atau orang tuanya yang terlalu mengekang hingga ia terlihat sangat polos untuk masalah hubungan laki-laki dan wanita. "Kamu punya banyak teman cewek kan? Masa nggak pernah gosipin yang aneh-aneh?" "Saya home schooling sejak SMP Pak, SD di sekolah seperti biasa tapi saya sering di bully, anak Mama lah atau apalah, SMP makin parah sampe saya takut mau ke sekolah akhirnya SMP dan SMA saya home schooling dan berkuliah ini baru saya merasakan bisa berkomunikasi dan beradaptasi dengan beberapa teman meski saya tak bisa dekat, mungkin karena anak tunggal papa dan mama benar-benar menjaga saya, makanya saya merasa aneh Pak untuk berbicara hal-hal seperti itu, apalagi trus saya digituin sama ...." Suara Atikah mulai terdengar serak dan menahan tangis. "Sssttt ... nggak usah diingat, kamu dari tadi ngomong sama aku gini udah mulai bagus, belajar curhat biar kamu lega." "Iya saya mulai nggak takut sama Bapak, meski tua tapi baik." Putra menggelengkan kepalanya sambil tertawa. "Kamu ini menggemaskan bolak-balik bilang aku tua, mau aku cubit kamu takutnya kamu malah lari." Samar-samar Atikah mulai tersenyum, cukup menarik bibirnya ke samping sedikit lalu terlihat datar lagi. Sementara dari luar ruang kerja Putra, Bi Minah dan Bi Siti menguping pembicaraan keduanya. Lalu beranjak meninggalkan pintu depan ruangan kerja Putra menuju ke arah belakang dengan berjalan berjingkat. Setelah sampai di dapur Bi Siti menepuk pundak adiknya hingga Bi Minah menoleh. "Opo, Mbak Yu?" "Moga-moga jadian dua orang itu." "Aamiiiiiin, tapi kayaknya sulit, wong ketakutan gitu kalo liat orang lakik, cuman ke Pak Put saja dia lumayan, lagian Pak Put terlalu tua untuk Non Tika." "Ck kamu ini, Pak Put, Pak Put, Tuan Putra, gak ngeregani juragane (nggak menghargai juragannya)." "Iya Mbak Yu, nanti kalo ada orangnya ya manggil tuan." Keduanya duduk di luar dapur di lantai yang menghadap ke taman belakang, angin semilir membuat sejuk dan nyaman untuk melanjutkan obrolan. "Kamu tadi bilang Tuan Putra terlalu tua untuk Non Tika ya nggak juga, juraganku itu masih gagah ganteng wong umurnya belum tiga puluh tiga kalo gak salah ya cocoklah sama Non Tika." Bi Siti terlihat tidak terima saat Putra dikatakan tua, Bi Minah tertawa melihat saudaranya melirik dengan judes ke arahnya. "Mbak Yu, Non Tika itu kalo tidak salah usianya baru dua puluh, ya jelas terlalu tua Tua Mbak Yu kalo Pak Put dipasangkan ke Non Tika." "Yo nggak lah mereka cocok coba aja lihat pas mereka duduk berdua, cantik sama ganteng, lihat lagi piye? Balik ke sana lagi?" "Siapa yang mau dipasangkan? Kok para bibi ini tengkar nggak selesai-selesai?" Keduanya menoleh kaget karena tiba-tiba suara Putra sudah ada di belakang mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN