6

1055 Kata
"Apa yang kau bawa? Mau kau bawa ke mana?" Teriakan Julia terdengar sangat keras saat melihat Angkasa membawa beberapa map. "Ini tak akan ada artinya bagi Mama, hanya ijazah serta surat-surat berharga milik Tika." Julia tersenyum sinis. "Bawa semua rongsokan milik perempuan itu, ia tak akan mendapatkan apapun selain itu." Angkasa mengembuskan napas, ia tak mengerti bagaimana bisa mamanya menjadi wanita yang sangat rakus. "Mama lupa jika kita numpang di sini, ini semua milik Tika." "Tutup mulutmu! Kalau bukan karena mama dari anak itu, ini semua menjadi milikku sejak lama!" "Cepat atau lambat semua ini akan lepas dari kita, ini bukan milik kita." "Kau tak akan mendapatkan bagian apapun ingat itu!" Julia berteriak dengan wajah marah. "Nggak masalah, ngapain juga dapat bagian dari harta rampasan, aku sudah dapat penghasilan dari kerjaku Ma, bahkan jika suatu saat Mama jatuh miskin dan nggak punya tempat tinggal, Mama akan tetap aku terima." Julia tertawa mengejek. "Pergi kau! Bawa semua barang wanita itu aku nggak mau melihat kau mondar-mandir, di rumah ini hanya karena wanita itu, cinta membuatmu jadi kelihatan bodoh." . . . "Eh Putra! Ayo masuk, mana adikmu?" Seorang laki-laki ramah, senyum yang teduh segera menyambut Putra dan Atikah yang hari itu mendatangi klinik seorang psikolog untuk terapi pengobatan Atikah. Tika terlihat takut, ia mundur dan berada di belakang Putra. Putra menatap dan mengangguk pada Atikah hingga keduanya masuk. "Ini adikku, Atikah, dan Atikah, ini Gustav temanku, yang akan membantumu agar sembuh." "Ayo masuk silakan duduk." Saat ketiganya telah duduk, Putra baru menyadari jika dari wajah Atikah masih terlihat asing serta canggung pada Gustav. "Nggak usah takut, kamu ingin sembuh kan? Ingin segera berkuliah lagi? Jadi kamu harus sembuh dulu, kalo sampai kamu ketakutan di kampus maka kamu akan semakin sulit, teman kamu akan merasakan jika ada sesuatu yang terjadi sama kamu, anggap aku, Putra, atau siapa pun teman dekat kamu akan bisa memberikan rasa aman, jangan punya pikiran semua orang jahat, nggak, masih banyak orang baik di sekitar kita, contohnya ini kakak kamu si Putra." Gustav yang telah tahu latar belakang kisah hidup Atikah dari Putra, mencoba memberikan pemahaman pada Tika yang mulai mengangguk dengan pelan. "Harusnya Putra nggak boleh masuk Tika ke ruangan ini saat kau menjalani serangkaian terapi tapi nggak masalah awal-awal boleh kok agar Tika merasa aman." Lagi-lagi Atikah mengangguk pelan. Awal pertemuan Gustav gunakan untuk berbicara banyak pada Atikah, mengenalkan dirinya, menceritakan bagaimana dirinya juga mengalami pelecehan dan perundungan saat kecil hingga remaja namun bisa mengatasi dengan berbagai macam terapi. Atikah mendengarkan dan beberapa kali terlihat mengangguk. Gustav melihat awal yang baik karena lama kelamaan Atikah mulai fokus pada apa yang ia ceritakan dan mulai menjawab dengan lancar saat ia bertanya. Dua jam kemudian Atikah dan Putra meninggalkan klinik Gustav lalu membuat janji agar bertemu Minggu depan. "Gimana? Kamu merasa nyaman kan tadi? Nggak takut?" Putra bertanya saat mereka telah menyusuri keramaian jalan. Sopir pribadi Putra mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. "Iya tapi Minggu depan Bapak antar saya lagi ya? Saya masih belum kenal betul pada Pak Gustav." "Ok, akan aku antar, yang penting kamu merasa nyaman, dan kalau bisa coba kamu jangan panggil aku Pak atau Bapak, aku kelihatan tua beneran, panggil kakaklah kan masih pantas." Atikah hanya sedikit menarik bibirnya meski belum membentuk senyuman. "Nggak enak Pak, Bapak kan bos saya." "Alaaah sudahlah panggil aku Kakak." "Iya akan saya usahakan." . . . "Gimana tadi Non? Nggak takut kan?" Bi Minah bertanya saat Atikah telah berganti baju dan berdiri di dekatnya membantu apa saja yang bisa ia kerjakan di dapur. "Non, sudah sana nggak usah di sini, kata Tuan Putra Non Tika nggak usah bantu-bantu." Bi Siti menghentikan gerakan Atikah yang sedang mencuci perabot masak. Atikah hanya tersenyum dan terus melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai baru mendekati Bi Minah dan duduk di dekat wanita bertubuh gempal itu yang sedang asik memisahkan daun-daung kangkung dari tangkainya. Tiba-tiba Atikah memeluk bahu lebar Bi Minah dan merebahkan kepalanya di bahu penuh daging itu. "Kenapa? Tadi takut nggak?" "Iya, kan nggak kenal Bi, untung Pak Putra nungguin, trus aku diajak bicara sama orang itu, bicara banyak dia, ya aku dengarkan aja Bi, aku mengangguk aja kalo itu benar dan sesuai sama kejadian yang pernah aku alami, lalu waktu pulang tadi Pak Putra nyuru aku panggil Kakak, nggak papa yang Bi? Masa sama bos sendiri panggil kakak, kayak kurangajar kan?" Bi Minah menghentikan gerakannya, menoleh pada Tika yang masih menempelkan kepalanya di bahunya. "Ya nggak papa, yang minta kan Tuan Putra sendiri, lagian biar akrab, kita serumah sudah kayak keluarga gini Non, Pak Putra kan pantas juga jadi kakaknya Non Tika, tampan sama cantik." "Agak sulit Bi, kan bukan kakak beneran." "Tapi sama Den Angkasa Non juga panggil kakak, kan bukan kakak Non juga." "Udahlah Bi jangan nyebut nama dia lagi, aku ... aku jadi ..." "Sssttttt ... ingat semua kebaikannya, dia bukan laki-laki jahat Non, kan Non sudah dengar cerita Bibi kalo kata Tuan Putra itu karena obat yang dicampurkan ke minuman Den Angkasa hingga akhirnya terjadi itu." Air mata kembali mengalir di pipi Atikah, ia mengusapnya pelan. "Kok aku yang jadi sasaran? Apa nggak ada cara lain kok sampai aku yang dia rusak, kan aku jadinya kotor Bi? Nggak akan ada laki-laki mau menikahi korban p*******n, nggak akan ada yang mau sama sisa orang lain." "Non masih cinta tapi kan sama Den Angkasa?" "Cinta itu sudah hilang bersamaan dengan hilangnya kesucianku Bi, meski kadang ada ingatan tentang beberapa kenangan manis tapi segera tertutupi dengan kenangan buruk itu, kenangan yang sering datang lewat mimpi burukku Bi, sampai sekarang pun masih sering datang, ia tak tahu bagaimana aku mengatasi itu dengan sudah payah, setahun berlalu dan aku masih ketakutan, sulit makan hingga takut bertemu dan bersentuhan dengan lawan jenis, apa dia merasakan yang aku rasakan? Nggak kan Bi, dia pasti enak tidur dan nyaman melanjutkan hidup, sementara aku terseok-seok sendiri." Isak Atikah semakin terdengar. Bi Minah merengkuh Atikah, ia biarkan Atikah menangis di dadanya. "Semakin Non mikir itu semua maka Non akan semakin sedih, semakin nggak bisa lupa dan nggak bisa melanjutkan hidup, kalo Den Angkasa nggak mikir Non, dia nggak akan cari Non Atikah, dia kan bilang ke Tuan Putra kalo nyariin Non." "Iya paling mau merkosa lagi." "Ssstttt ... nggak boleh su'udzon, kan sudah tau to kisahnya Non, dia nggak niat nyakitin Non." "Tapi aku terlanjur rusak Bi dan nggak mungkin bisa utuh lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN