"Agak berat trauma Atikah, mungkin karena tidak langsung ditangani, lihat saja gerak-geriknya? Dia merasa tidak aman kan? Dia seolah menganggap semua laki-laki monster, ah dia tidak tahu jika laki-laki tampan dan sabar seperti kita malah ditinggalkan secara semena-mena oleh wanita yang kita cintai dan yang bikin pusing aku Putra, dikejar tante-tante."
"Kan bertubuh aduhai kata kamu tantenya."
"Ah nggak minat lah, hanya teman saja, nggak ada niatan aku nikahin ngeri liat perabotannya, nggak doyan sama tante-tante aku."
Gustav dan Putra tertawa, mereka berdua berada di sebuah cafe, malam itu lepas Isyak mereka sengaja bertemu sambil membahas proses terapi Atikah.
"Dia mengalami trauma yang berkepanjangan atau di dunia kami menyebutnya post-traumatic stress disorder, dia kan bilang sejak peristiwa itu selalu ketakutan, sulit tidur, kalo tidur jadi mimpi buruk hingga terbawa jadi sulit makan yang jelas emosinya jadi terganggu, nanti aku mulai terapi ringan dan nyaman untuk dia, kayak relaksasi dan olah napas." Gustav menjelaskan pada Putra yang mendengarkan dengan serius. "Udah lupa sama mantan rupanya ya, sampe kamu ngurus Atikah kayak adik kamu beneran?"
Putra hanya dia saja, tiba-tiba wajahnya berubah, terlihat sedih dan menghela napas berulang.
"Aku urus Atikah karena ingat aku punya sodara cewek, kakak aku kan cewek, mikir aja gimana kalo orang-orang terdekat aku mengalami hal seperti Atikah, orang seperti itu kan perlu dukungan biar cepat pulih trauma dan nggak PDnya, kalo kamu tanya Jenni nggak mungkin aku lupa, kami lama pacaran kan, hanya dia gak suka gaya pacaran kami yang gitu-gitu aja nggak ada gereget katanya, dia dah nikah sama pacar yang dia inginkan hehe tapi tahu nggak beberapa hari ini dia mulai menghubungi aku lagi, mungkin tanya sama teman-teman kuliah dulu nomor hpku dan mulai chat, curhat juga lalu ngajak ketemuan tapi aku belum mau, dia curhat kalo nggak bahagia sama suaminya, dulu dia seolah pamer kalo bisa Nemu pacar yang hot kan dia pikir aku loyo, gak normal, masa pacaran gak ngapa-ngapain? Dia selalu bilang gitu, aku udik kata dia gaya pacarannya karena hanya duduk, makan, jalan-jalan udah, sama pacar baru dia waktu itu kan rutin ke hotel dan beneran akhirnya Jenni hamil lalu mereka buru-buru nikah, kini dia merasa nggak bahagia, suaminya kaya tapi dia harus rela kalo suaminya punya banyak wanita lain, kasihan dia Gus."
Gustav terkekeh, ia berusaha sabar saat Putra menumpahkan isi hatinya.
"Kamu masih ada rasa cinta sama dia Put, makanya kamu tetap aja kasihan padahal jelas-jelas waktu itu kamu kesakitan dan kesulitan melupakan dia karena tiba-tiba saja kamu ditinggal."
"Dia harus menahan sakit hati Gus tiap kali menemukan chat mesra suaminya sama wanita lain bahkan menemukan tanda-tanda perselingkuhan di baju dan tubuh suaminya tapi dia nggak bisa berbuat apa-apa."
Gustav menggeleng pelan. Dan menepuk bahu sahabatnya.
"Kamu jangan terjebak, ingat, dia istri orang, kamu nggak usah sok peduli, bisa-bisa dianggap pebinor, kalo dia merasa tersakiti ya minta cerai kan selesai, aku juga mengalami nasib kayak kamu, mantan ninggal aku eh begitu tahu suaminya b******k minta balikan ya aku nggak mau, enak aja dia ninggal aku begitu hidupnya gak enak mau balikan sama aku, bagiku nggak ada istilah balikan sama mantan apalagi dia masih terikat pernikahan yang sah, kita salah kalo ikut campur rumah tangga orang lain."
Putra mengangguk meski ia terus merasa iba pada wanita yang pernah mengisi hari-harinya.
"Apa aku salah kalau hanya kasihan?"
"Salah karena dia masih istri orang lain!"
.
.
.
Julia menggerakkan badannya perlahan, terasa lelah setelah hampir semalaman ia habiskan waktu bersama Fuadi, pengacara keluarga Pranowo, yang sejak awal langsung jatuh ke dalam pelukannya. Semua jalan dan strategi sudah Julia perhitungkan agar warisan Pranowo bisa sepenuhnya jatuh ke tangannya. Terkadang ia benci seolah Fuadi memanfaatkan tubuhnya untuk memenuhi napsunya. Fuadi sudah mempunyai seorang istri dan anak yang baru saja dilahirkan. Ada saja alasan Fuadi untuk membuatnya datang ke apartemen yang hanya mereka berdua yang tahu, jika dirinya menolak Julia khawatir Fuadi tak akan menuruti keinginannya untuk mengubah isi surat warisan itu, ia tak ingin Atikah juga dapat bagian.
Julia menggeser tubuhnya perlahan, lalu menyibak selimut hingga terlihat tubuh keduanya yang tanpa menggunakan apapun. Sebenarnya ia sangat membenci laki-laki yang hanya menjadikannya b***k napsu tapi tak ada cara lain bagi Julia. Tiba-tiba saja tangan besar Fuadi merengkuh pinggangnya lagi, lalu menariknya hingga ia kembali didekap erat oleh laki-laki tinggi besar itu. Ia merasakan lagi milik Fuadi yang mengeras, menempel di bokongnya.
"Mau ke mana?" Suara serak Fuadi terdengar karena ia baru saja bangun tidur.
"Mau mandi, lengket semua nggak enak, capek aku, jangan lagi ya, kan sudah semalam, aku lelah."
"Tidak ada penolakan bagi Fuadi karena kau akan tahu resikonya kan?"
Dan Julia memejamkan matanya menahan perih dan sakit saat tanpa aba-aba Fuadi melessakkan miliknya lalu bergerak kasar di belakang tubuhnya. Sakit di d**a yang diremas kasar juga dipangkal pahanya membuat kebencian Julia pada Fuadi semakin besar.
Tunggu saja, setelah semua selesai kau tak akan bisa menemukan aku lagi manusia laknat ...
Satu jam kemudian Julia segera membersihkan badan, ia akan segera menemui laki-laki yang sangat ia cintai, sejak dulu ia kejar dan baru beberapa bulan ini dekat dengannya, hanya dekat saja tapi Julia bertekad hanya dengan laki-laki yang usianya lebih muda sepuluh tahun itu ia berencana akan menikah lagi. Ia sudah berhenti menghubungi laki-laki muda lainnya yang menjadi langganannya. Bagi Julia kedekatannya kali ini dengan laki-laki yang sangat ia cintai akan menghentikan semua petualangan cintanya.
Julia berhenti di sebuah rumah nan asri, laki-laki ini hanya tinggal dengan ibunya, saudara-saudaranya telah menikah dan bapaknya sudah meninggal. Julia merasakan kedamaian di rumah nan mungil ini. Selalu saja ia merasa nyaman jika mendatangi rumah ini. Selain laki-laki itu ramah, ibunya pun selalu menyambutnya dengan baik, meski mereka tahu Julia adalah janda yang mempunyai anak laki-laki yang berusia dewasa.
"Eh Nak Julia, mari masuk." Ibu yang ramah itu menyilakannya masuk dan duduk di ruang tamu.
"Tunggu dulu ya Ibu panggilkan, orangnya sedang sibuk, ada pasien baru yang harus ia utamakan, sejak kemarin dia sudah bolak-balik bahas itu."
"Wah saya mengganggu ya Ibu?"
"Tidaaak, tidak, sudah kok kayaknya, hanya terlihat masih ngetik entah apa di kamarnya, sebentar ya Ibu panggilkan."
"Iya Ibu terima kasih." Julia menjawab dengan ramah.
Alangkah damainya seandainya kelak aku tinggal di sini, diantara orang-orang baik ini, aku yakin akupun akan jadi orang baik.
"Hai, sudah lama?" Laki-laki yang ia rindukan muncul, laki-laki yang secara tak sengaja bertemu dengannya saat mobilnya bermasalah dan ia dibantu sampai ke bengkel, dan sejak itu pula Julia gigih mendekati laki-laki yang kini duduk di depannya dengan senyum ramah yang selalu membuat jantung Julia berdetak kencang.
"Nggak barusan kok, maaf kalo ganggu, katanya kamu sibuk?"
"Ah nggak hanya aku bikin agenda terapi karena punya pasien baru, korban p*******n yang traumanya sudah menahun, orang-orang seperti ini akan mengalami siksaan seumur hidup, ini yang nggak disadari sama si p*******a, enak saja dia melenggang nyaman sementara ada orang lain yang jiwanya cacat seumur hidup kalo nggak diobati dia akan terus hidup dalam kegelapan."
Julia melihat kemarahan yang tak biasa di wajah laki-laki yang ia cintai namun sampai saat ini belum juga membalas cintanya.
"Masih muda?"
"Yah, masih sekitar 20 tahun, akan aku sembuhkan dia, kalau perlu akan aku bantu dia agar pemerkosanya masuk penjara!"