"Sudah dua kali bertemu Gustav, masih takut?" Putra duduk di dekat Atikah yang sore itu duduk sendiri di taman belakang. Membaca sebuah novel yang dibeli setelah dari terapi di klinik Gustav.
"Bukannya takut, tapi lebih ke hati-hati saja, dia yang melukai saya kan sering bertemu, dekat dengan saya, bahkan katanya mencintai saya, saya tidak tahu bagaimana harus mulai percaya pada laki-laki."
"Hmmm ... aku bisa ngerti Tika, tapi berusahalah agar kau tidak selalu merasa ketakutan, kau tahu jika aku dan Gustav ini sama-sama disakiti oleh wanita, ditinggal begitu saja, jadi jangan hanya berpikir jika kaum kami saja yang mampu menyakiti."
"Tapi kan nggak dirusak Pak, mana ada wanita merkosa laki-laki."
"Ya emang nggak sampe gituuu Tikaaa, tapi kamu jangan salah coba baca di berita online ada loh wanita merkosa laki-laki."
"Ya paling wanitanya psikopat atau tante-tante yang merkosa laki-laki muda."
Putra tertawa dan mengacak rambut Atikah. Lalu diam beberapa saat sambil menatap tumbuhan yang asri di taman belakang.
"Kau tak tahu Tika, aku justru saat ini galau, mantanku mulai menghubungi aku lagi, dia sudah punya suami, suaminya memperlakukan dia dengan tidak baik, aku kasihan."
Atikah menatap wajah sedih Putra yang terlihat tak berdaya.
"Bapak lihat sendiri atau itu hanya curhatan dia?"
"Curhat dia."
"Dan Bapak percaya?"
Putra diam saja.
"Bukannya saya su'udzon, tapi kalau hanya cerita dia, Bapak jangan langsung percaya, cari bukti, jangan-jangan dia cuman ingin balikan sama Bapak, biar Bapak kasihan sama dia dan biar bisa diselingkuhin dan itu salah, saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sakitnya diselingkuhin, nggak laki-laki, nggak wanita jelas sakit kalo pasangannya selingkuh, jadi Bapak jangan langsung percaya kalo mantan Bapak bilang gitu, jangan mau kalo diajak ketemuan."
Putra menatap wajah Atikah yang ternyata berubah marah.
"Saya sebenarnya tahu jika papa selingkuh dengan mama tiri saya sejak lama, sebelum mama saya meninggal, mama sering menangis kalo malam, papa kan jadi lebih nyaman berdua sama wanita yang akhirnya jadi mama tiri saya, kalo satu kota cepat Pak ketahuannya, saya pernah lihat papa berdua sama mama tiri saya di toko perhiasan, waktu saya ke mall bareng teman beli mau beli novel, terus terang saya marah, tapi apa yang bisa saya perbuat?"
"Sudahlah Tika, jangan semua kamu pikir, jangan semua kamu ingat hal-hal yang menyakitkan."
"Saya hanya mengingatkan Bapak agar tidak berhubungan dengan wanita yang punya suami, itu salah, suru aja dia cerai sama suaminya dulu kalo emang dia sudah gak cinta baru mulai lagi sama Bapak."
"Iya Tika iya, makasih kamu ngingatkan aku, tapi bisa nggak pake aku saja, jangan saya,
sama jangan panggil Bapak lagi, ayolah belajar panggil Kakak."
"Eemmm ... iya Kak."
"Sip."
Bi Minah dan Bi Siti yang mendengarkan dari arah dapur jadi senyum-senyum.
"Hmmm, coba mereka jadian ya Mbak Yu lak apik."
"Iyaaa, moga-moga ada jalan ke sana."
"Tapi ya sulit sih, Tuan Putra masih galau kalau mikir mantan pacar, Non Tika masih ketakutan sama laki-laki semoga ada cara terbaik dari Allah untuk menyatukan mereka."
"Aamiiiiiin." Suara keras Bi Siti dan Bi Minah yang mengucapkan amin sampai terdengar oleh Tika dan Putra.
"Ngapain dua orang itu ya?"
"Entahlah Kak."
"Naaah itu baru sip, panggil kakak."
.
.
.
"Kau tahu jika wanita itu menyukaimu Gustav?" Elsi menatap anaknya yang baru saja selesai makan malam.
"Iya Ibu aku tahu." Gustav meraih gelas dan meneguknya perlahan.
"Lalu?"
"Maksud Ibu?"
"Kamu gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana, aku nggak minat sama dia, sekadar teman, silakan dia suka aku, gak ada yang larang kan Bu, tapi kalau untuk serius trus mengarah ke pernikahan kayaknya nggak Bu."
"Apa karena dia janda dan usia dia jauh lebih tua hingga kamu nggak mau?"
"Bukan itu alasannya, sejak awal aku nggak merasa ada apa-apa, nggak tertarik sama sekali."
"Tapi kamu kayak baik aja ke dia, kan dia jadinya nganggap kamu mau aja."
"Ya nggak lah Bu, masa aku harus ngusir dia tiap ke sini, toh dia cuman duduk aja, paling hanya cerita-cerita kerjaan masing-masing."
"Nggak gitu maksud Ibu, jika kamu memang nggak ada niatan serius sama dia ya jangan bikin dia berharap, paling nggak kasi sinyal kalo kamu nggak ada niatan ke sana."
"Iya Ibu."
"Ibu yang nggak enak, meski nggak sering kalo ke sini dia bawa ini itu kan jadi gimana, nggak mau diterima lah yang dia bawa masakan siap makan, dan jumlahnya juga nggak banyak kalo ditolak kok ya ah nggak tahulah."
"Iya ibu akan aku cari cara agar dia tahu kalo aku nggak ada rasa apapun sama dia."
"Dan kamu diusia yang segini masa nggak ada calon?"
Gustav menghela napas, ingatannya kembali pada mantannya yang kini juga telah menjanda dengan dua orang anak yang masih kecil. Beberapa kali ia mencoba menghubungi tak ada respon, atau mungkin masih belum bisa melupakan mantan suaminya yang baru saja meninggal.
"Masih mencari yang pas Bu."
"Sampai kapanpun tak akan pernah ada yang pas, jangan terlalu banyak pertimbangan karena usiamu terus berjalan."
"Tapi bukan berarti harus asal kan Bu."
"Iya tahu, karena yang ibu tahu semakin tua usia seseorang maka akan semakin sulit nikah karena semakin banyak yang dia pertimbangkan."
"Aku berpikir ingin kembali pada Yustisia."
Elsi terbelalak, lalu menggeleng pelan.
"Kau tak ingat bagaimana kau sakit karena tiba-tiba saja ia tinggalkan? Aneh kalau kau tiba-tiba ingin kembali pada wanita yang telah menyakitimu, bagiku janda tak masalah asal kau suka dan dia menyukaimu tapi dia?"
"Dia terpaksa meninggalkan aku Bu, dia tak tahu cara menolak, karena tak ada jalan lain, orang tuanya terlilit hutang pada seseorang dan hanya itu jalan keluarnya."
"Heh alasan yang terlalu dibuat-buat, seperti sinetron saja, apa orang tua Yustisia itu seorang pengusaha yang sampai punya hutang milyaran hingga anaknya yang jadi jaminan? Tokonya juga toko kecil kan milik orang tuanya? Ibu tidak melihat hartanya tapi alasan orang tuanya menolakmu dan menerima laki-laki lain yang lebih kaya itu yang tidak bisa Ibu terima, sekarang gimana? Apa dia jadi semakin kaya setelah punya mantu kaya raya? Tidak kan? Tokonya ya tetap kecil, dan anaknya juga tidak kaya-kaya amat, jangan dikira ibu tak tahu, carilah wanita lain, tak usah kau berharap pada keluarga yang jelas-jelas membuangmu hanya karena kita tak punya harta berlebih."
"Tapi Bu."
"Tapi apa?"
"Aku masih ingin kembali pada Yustisia."