"Halah kamu sama kayak aku ternyata Gus." Putra yang masuk ke ruang kerja Gustav terkekeh melihat ada foto manta Gustav di sana.
"Sorry ya, beda."
"Beda apa? Kamu hanya tahu ngatain aku, ternyata kamu nggak bisa buang mantan kamu."
"Dia bukan istri orang, dia janda."
"Tapi ya tetap mantan, lah kamu bilangnya kan gak akan balikan sama mantan."
"Dia gak mau sama aku lagi kok Put, jangan khawatir, hanya aku yang ingin balik tapi dia nggak, jadi nggak akan pernah ada cerita, titik."
"Ah kamu ini sok-sok an bilang gak ada cerita sama mantan ternyata." Putra terkekeh dan duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Gustav.
"Nggak lah Put, nggak akan ada cerita lagi, kayanya Yustisia malu juga balikan sama aku, dia ninggalin aku dan kalo tiba-tiba mau diajak balikan kan kayaknya gimana gitu ..."
"Trus Tante yang ngejar-ngejar kamu gimana? Siapa namanya Gus?"
"Oh Julia, ya nggak papa, aku nggak minat Put, nggak suka tante-tante, dia main ke rumah ya aku temui, ke sini juga silakan, itu pun kami hanya ngomongin kerjaan."
"Tapi kamu kesannya ngasi harapan ke dia, eh namanya Julia? Hahaha kayak ibu tiri si Atikah aja, semoga bukan, nama Julia kan pasaran."
"Eh iya kah? Kok ya kebeneran sama ya? Bener juga kata kamu, nama Julia banyak yang make, eh jangan lupa, besok terapi lagi ya Put, Atikah suka kalo terapi pernapasan, dia kayak lega katanya, dia yang minta sendiri."
"Wah besok aku nggak bisa antar, semoga dia mau diantar Pak Sukri atau Bi Minah pembantu keluarga dia yang sekarang kerja di rumah."
"Ya gak papa, yang penting dia merasa nyaman dan aman."
.
.
.
"Tika, besok terapinya sama Pak Sukri atau Bi Minah nggak papa ya? Besok aku sibuk banget nggak bisa antar kamu."
Atikah mengangguk, lalu melihat Putra yang meletakkan beberapa barang miliknya.
"Aku lupa jika kepunyaanmu ini diantar oleh kakakmu beberapa hari yang lalu, trus ada itu travel bag yang isinya baju-baju kamu, masih ada sisa katanya, nanti akan dibawakan lagi, ini yang dalam map surat-surat penting kamu."
Atikah meletakkan novelnya dan mulai membuka map tebal, semacam file kabinet, yang saat ia buka mau tak mau air matanya mulai penuh tanpa ia minta. Di sana ada banyak kenangan dirinya dan Angkasa, laki-laki lembut namun kini membuat hari-harinya menjadi kelam. Ada beberapa puisi juga foto-foto dalam polaroid yang tersimpan rapi. Atikah menghapus air matanya, mencoba mengembuskan napas agar emosinya tidak meledak-ledak. Terapi yang diajarkan Gustav banyak membantunya saat ia sulit menerima kenyataan yang kini harus ia hadapi.
Putra mengusap kepala Atikah berulang, ia tahu semua yang ada di depannya mengingatkan Atikah pada hal manis dan pahit.
"Memang sulit tapi belajarlah menerima semua yang terjadi, masih beruntung kamu bisa melanjutkan hidup, bertemu dengan orang-orang yang mau merima keadannmu dan bisa menjadi penyemangat bagimu."
Atikah lagi-lagi mengangguk. Ia bangkit dan ia dekap file kabinet yang tebal ke dadanya.
"Aku bawa ke kamar dulu ya Kak?"
"Yah aku antar, ini bajumu juga, lumayan banyak, aku bawakan travel bagnya, di dalam juga ada foto-foto papa, mamamu juga."
Berdua mereka menuju kamar Atikah di belakang. Putra menatap punggung ringkih itu dengan perasaan iba, bukan hal mudah bagi anak seperti Atikah yang sejak kecil terbiasa hidup mewah dan nyaman, lalu hadir ibu tiri yang menyiksanya secara batin. Juga tak kalah hebat penderitaan Atikah saat mengalami trauma secara seksual juga hari-hari berat selama setahun berusaha bertahan hidup di warung bersama wanita yang entah siapa itu tapi paling tidak menyelamatkan Atikah dari kelaparan. Cobaan hidup yang sangat berat dan jika masih tersisa trauma adalah hal yang wajar.
Di kamar Atikah meletakkan file kabinet di meja lalu travel bag diletakkan di dekat lemari oleh Putra.
"Jika sekiranya itu akan membuat kamu sedih berkepanjangan tidak usah dibuka dulu, ingat kata-kata Gustav, buat diri kamu bahagia, tidak semua orang jahat seperti mereka yang telah menyakiti kamu, lebih banyak yang sayang sama kamu, jadi jangan pernah berpikir semua orang akan mencelakakan kamu, ada Bi Minah, Bi Siti, aku, Gustav, wanita yang menyelamatkan kamu dulu, lebih banyak kan yang sayang sama kamu, jadi hadapi hidup yang berat ini dengan pikiran positif, semakin kamu berpikir negatif maka semua seolah jadi beban bagi kamu dan akan semakin sulit sembuh, jika ada hal yang mau kamu katakan ya katakan saja, cari siapa yang bisa membuat kamu nyaman untuk curhat, bisa aku, Bi Minah atau siapapun terserah kamu."
"Sebenarnya aku nyaman berada di dekat Kak Angkasa dulu, tapi aku jadi takut sekarang, takut pada siapapun karena sekali lagi, sifat baik seseorang belum tentu membuat hidup kita juga berakhir baik."
"Jangan gitu Tika, aku kan sudah berkali-kali bilang jangan beranggapan semua orang jahat."
"Iya Kak, tapi pengalaman hidup akan berpengaruh juga pada cara pandang kita kan akhirnya?"
.
.
.
Tika bersama Bi Minah turun dari mobil yang dikemudikan Pak Sukri. Lalu berjalan menuju ruangan Gustav, namun saat akan sampai, pintu ruang kerja itu terbuka dan Atikah langsung terkesiap, ia mencengkeram kuat lengan Bi Minah, dan Bi Minah menarik lengan Atikah untuk bersembunyi di sebuah belokan menuju ruangan lain, dari tempat itu terlihat bagaimana Gustav dan wanita itu terlihat dekat, tertawa bersama dan wanita itu melambaikan tangan, berjalan tergesa menuju tempat parkir.
Badan Atikah masih bergetar, ia dipeluk oleh Bi Minah yang menyarankan Atikah lebih baik pulang saja. Bi Minah yakin Atikah ingat bagaimana mulut pedas Julia menyiksanya tiap hari, meski tak pernah menyakiti secara fisik tapi bagaimana ia dicaci maki cukup membuat Atika tersiksa selama tinggal di rumah besarnya bersama wanita itu.
Selama perjalanan pulang Atikah memeluk Bi Minah, air matanya mengalir deras, ia kembali mengingat semua kesedihan dan penderitaannya setelah papanya meninggal.
Sesampainya di rumah Putra, Atikah segera masuk ke kamarnya, Bi Minah menemani hingga Tika tertidur karena lelah setelah menangis agak lama. Baru saja melangkah keluar kamar ia mendengar ponsel berbunyi dari tas Atikah, segera diambil oleh Bi Minah dan bergegas keluar kamar Atikah. Di ponsel itu ia lihat Putra yang melakukan panggilan.
Ya Tuan
Kok nggak terapi sih Atikah Bi, ini teman saya telepon nunggu dari tadi
Aduuuh Tuaaan saya kasihan sama Non Atikah, lah pas mau masuk ke tempat dokternya ...
Psikolog Bi
Iyalah pokoknya gitu itu, ternyata ada mama tiri Non Atikah keluar dari ruangan Pak Dokternya, jadi kami mundur dan Non Atikah kayak ketakutan, dan bilang nggak mau lagi terapi ke sana
Loh masa sih Bi, kata teman saya itu Atikah dicarikan hari yang memang khusus untuk Atikah, gak ada yang lain
Lah buktinya itu ada Bu Julia, coba tanya ke teman Tuan, masa Bu Julia berobat juga? Apa berobat biar tobat apa gimana?